Featured

Gospel and Salvation

Second Sunday of Advent [December 10, 2017] Mark 1:1-8

“The beginning of the Gospel of Jesus Christ. (Mar 1:1)”

francis kissToday, we read the beginning of the Gospel according to Mark. Among the evangelists, only Mark explicitly introduces his work as the “Gospel”. The English word “Gospel” simply means the Good News, or in original Greek, “Evangelion.” Commonly, we understand a gospel as a written account of the life and words of Jesus Christ. The Church has recognized four accounts as canonical or true Gospel. We have Gospel according to Matthew, Mark, Luke, and John.

But, what does the Gospel truly mean? Going back to the time of Jesus, Evangelion is actually a technical term for an oral proclamation of the imperial decree that will significantly affect the life of the many people. The messenger will stand in the middle of the public square and announce that the battle has been won decisively, and the city has been saved. It is a good news, indeed a great and joyful news. St. Paul is the first who adopts the term into the Christian world and it signifies the oral proclamation of the saving effects of Jesus’ death and resurrection (see 1 Cor 15:1-4). Thus, when we read that St. Paul proclaims the Gospel, it does not mean he reads the parts of the Gospel according to Mark or John, but rather orally proclaims that we have been saved. The Gospel has to be proclaimed because only by believing and living through the Gospel, we are saved (See Rom 10:13-15).

Since we are all baptized, we all have the duty to proclaim the Gospel and work for salvation. Yet, we may ask, “How we are going to preach and save souls if we cannot administer sacraments?” While it is true that sacramental works and preaching in the pulpit are reserved to the deacons, priests, and bishops, all of us are called to preach the Gospel. But how? We remember that we preach the Gospel for the sake of salvation, and the salvation is not limited in a spiritual sense, but in a more holistic one. It is the salvation not only from sins that separate us from God, but the salvation of all aspects of humanity. Jesus does not only forgive sins, He heals the sick, teaches the people, empowers the poor and fights against oppressive systems.

Following His Lord and Master, the Church works for salvation that is holistic. We run a great number of hospitals throughout the world to bring healing to the sick. We manage numerous schools around the globe to educate people and form their characters. Numerous Catholic scientists are involved in many breakthrough types of research. Fr. Georges Lemaitre, a Belgian priest, is the astronomer behind the Big Bang theory. Louis Pasteur, the inventor of pasteurization process, is a lay Catholic who has a strong devotion to the rosary. We build and fight also for the just and peaceful societies. Antonio de Montessinos, a Dominican Spanish friar, was one of the first priests who openly preached against the slavery in America. To show its commitment to justice and peace, Dominican Order has placed its permanent delegate at the United Nations in Geneva and is actively engaged in just and peaceful resolutions on various global issues.

 This Advent season is the high time for us to reflect on the meaning of the Gospel, and on how we preach the Gospel in our own particular ways. What are the means we use to preach the Gospel? Do we make preaching the Gospel as our priority? Are we working diligently on our salvation and that of others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP

 

Advertisements
Featured

Injil dan Keselamatan

Minggu Kedua Adven [10 Desember 2017] Markus 1: 1-8

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus (Mar 1:1).”

antonio de montesinosHari ini, kita membaca permulaan dari Injil menurut Markus. Di antara para penginjil, hanya Markus yang secara eksplisit memperkenalkan karyanya sebagai “Injil”. Kata “Injil” berarti “Kabar Baik”, atau dalam bahasa Yunani, “Evangelion”. Biasanya, kita memahami sebuah Injil sebagai karya tertulis tentang hidup dan sabda Yesus Kristus. Gereja telah menetapkan empat karya sebagai Injil kanonik. Kita memiliki Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Tapi, apa arti sebenarnya sebuah Injil? Kembali ke zaman Yesus, “Evangelion” sebenarnya adalah istilah teknis bagi proklamasi lisan dari keputusan kerajaan yang secara signifikan akan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Seorang utusan akan berdiri di tengah alun-alun dan mengumumkan bahwa perang telah dimenangkan, dan kota tersebut telah diselamatkan. Ini adalah kabar baik, sungguh kabar yang besar dan menggembirakan. St. Paulus adalah orang pertama yang mengadopsi istilah Injil ke dalam Gereja, dan ini menandakan sebuah proklamasi lisan tentang buah-buah karya penyelamatan yang dimenangkan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (lih. 1 Kor 15:1-4). Jadi, ketika kita membaca bahwa St .Paulus mewartakan Injil, ini bukan berarti dia membaca bagian dari Injil menurut Markus atau Yohanes, namun ia mewartakan secara lisan bahwa telah kita selamatkan oleh Yesus. Injil harus diproklamasikan karena hanya dengan percaya dan hidup melalui Injil, kita akan diselamatkan (lih. Rom 10:13-15).

Karena kita semua telah dibaptis, kita semua memiliki kewajiban untuk mewartakan Injil dan bekerja untuk keselamatan. Namun, kita mungkin bertanya, “Bagaimana kita akan memberitakan dan menyelamatkan jiwa-jiwa jika kita tidak dapat memberikan sakramen?” Benar bahwa memberikan sakramen dan homili hanya bagi kaum tertahbis, yakni diakon, imam, dan uskup, tetapi kita semua dipanggil untuk mewartakan Injil. Tapi bagaimana caranya? Kita ingat bahwa kita mewartakan Injil demi keselamatan, dan keselamatan yang Yesus berikan tidak terbatas dalam pengertian spiritual, tapi bersifat holistik. Ini adalah keselamatan bukan hanya dari dosa, tapi yang menyentuh semua aspek kemanusiaan kita. Yesus tidak hanya mengampuni dosa, tapi Ia menyembuhkan orang sakit, mengajar orang-orang, memberdayakan orang miskin, dan menentang struktur yang tidak adil dan membuat orang-orang tertindas.

Mengikuti teladan Tuhan dan Gurunya, Gereja bekerja untuk keselamatan yang holistik. Kita mengelola banyak rumah sakit di seluruh dunia untuk menyembuhkan orang sakit. Kita mengelola banyak sekolah di seluruh dunia untuk mendidik manusia dan membangun karakter. Banyak ilmuwan Katolik terlibat dalam banyak jenis penelitian terobosan. Rm. Georges Lemaitre, seorang imam dari Belgia, adalah astronom di balik teori Big Bang. Louis Pasteur, penemu proses pasteurisasi, adalah seorang awam yang rajin berdoa rosario. Kita membangun dan memperjuangkan juga masyarakat yang adil dan damai. Antonio de Montessinos, seorang Dominikan dari Spanyol, adalah salah satu imam pertama yang secara terbuka berkhotbah menentang perbudakan di Amerika. Untuk menunjukkan komitmennya terhadap keadilan dan perdamaian, Ordo Dominikan telah menempatkan delegasi permanennya di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa dan secara aktif terlibat dalam resolusi adil dan damai mengenai berbagai isu-isu global.

 Musim Adven ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan makna Injil, dan bagaimana kita mewartakan Injil. Apa sarana yang kita gunakan untuk memberitakan Injil? Apakah kita menjadikan pewartaan Injil sebagai prioritas kita? Apakah kita bekerja dengan tekun untuk keselamatan kita sendiri dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Advent and Liturgical Year

First Sunday of Advent. December 3, 2017 [Mark 13:33-37]

“Be watchful! Be alert! You do not know when the time will come. (Mrk 13:33)”

watchful servantThe Season of Advent has begun. This season marks the beginning of the new Church’s liturgical year as well as of the four Sundays preparation for Christmas. A curious mind may ask: why the liturgical year has to be opened by the season Advent? Why not Christmas, Lenten or Easter seasons?

It has something to do with the liturgical year itself. Yet, what is the liturgical year? Simply put, liturgy is the official and public worship of the Church. Thus, it is through the liturgical year or calendar, the Church wishes to worship God every single day all around the year, and thus fulfilling St. Paul’s instruction to pray without ceasing (1 The 5:17). There is no single moment in the life of the Church and Christians that is not ordained for worshiping the Lord.

Yet, to worship God every moment of our lives is rather a tall order, if not impossible. For some of us, we just go to the Church on Sundays and perhaps pray privately once in a while. Some of us have freer time and commitment to the Church, so we attend Mass daily and join parish organizations. For Dominican religious brothers like myself, daily Eucharist and the Liturgy of the Hours have been integrated into our life structure in the convent, and thus easier to pray every day. But, for many of us who are working for a living, and studying for the future, more time in the Church is simply not possible. Even for me, without the structure of convent, I am often lost and have a hard time to pray.

From this perspective, the Advent season becomes even more crucial for us in shaping our right attitude and predisposition in entering this liturgical new year. The Catechism of the Catholic Church reminds us, “When the Church celebrates the liturgy of Advent each year, she makes present this ancient expectancy of the Messiah, for by sharing in the long preparation for the Savior’s first coming, the faithful renew their ardent desire for his second coming (CCC 524).” The first Christians possessed this “eschatological fervor” because they believed that Jesus was going to come very soon. They were so eager to welcome Christ as much as they would live as if they were not of this world. As Paul would say, “our citizenship is in heaven (Phil 3:20)”. Many of them sold their belongings so that they may focus on those truly important: the teaching of the apostles, communal life, breaking of the bread, and prayers (Act 2:42). Even the pagans would be so amazed and say, “See how they love one another!” It may be true that Jesus did not come in their lifetime, but their lifestyles have transformed their communities and societies to better places to live. Jesus did not come, but they brought Jesus in the midst of the world.

It is the call of Advent season to rekindle this “eschatological fervor” in us. To see that we are all pilgrims and sojourners on this earth and we walk towards our true home in Christ. Our happiness is not rooted in the things of this earth, money, gadgets, popularity, and success. It is true that we need to work for a living, and often our works leave a little time to worship God, but it is always possible to live as the sign of the Kingdom of God, to make our very lives a worship to God. To be honest in our workplaces or schools, to spend more quality time with our families, and to love the poor are some ways we live this fervor. Advent is not about waiting, but it is about engagingly bringing Jesus in our midst.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Adven dan Tahun Liturgi

Minggu Pertama Adven. 3 Desember 2017 [Markus 13: 33-37]

“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.  (Mar 13:33)”

keep watchingMasa Adven telah dimulai. Masa ini menjadi tanda dimulainya tahun liturgi Gereja dan juga empat hari Minggu persiapan menuju Natal. Kita mungkin bertanya, “Mengapa tahun liturgi harus dibuka oleh masa Adven? Mengapa tidak Natal, Prapaskah atau Paskah?

Ini ada kaitannya dengan tahun liturgi itu sendiri. Namun, apakah makna dari itu tahun liturgi? Secara sederhana, liturgi adalah perayaan ibadat Gereja sebagai bentuk pemujaan terhadap Allah yang benar. Jadi, melalui tahun liturgi, Gereja ingin menyembah Tuhan Allah setiap hari tanpa henti, dan dengan demikian memenuhi instruksi Santo Paulus untuk berdoa tanpa henti (1 Tes 5:17). Tidak ada momen dalam kehidupan Gereja dan umat Kristiani yang tidak dipersembahkan untuk menyembah Tuhan.

Namun, untuk menyembah Tuhan setiap saat dalam hidup kita adalah tuntutan yang sangat tinggi, dan bahkan mustahil. Beberapa dari kita, kita hanya pergi ke Gereja pada hari Minggu, dan mungkin berdoa secara pribadi sesekali waktu. Beberapa dari kita memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga kitapun bisa menghadiri misa setiap hari dan menjadi bagian dengan organisasi paroki. Bagi anggota biarawan Dominikan seperti saya, Ekaristi harian dan ibadat harian telah terintegrasi dalam struktur kehidupan kami di biara, dan dengan demikian lebih mudah bagi kami untuk berdoa setiap hari. Tapi, bagi banyak dari kita yang bekerja untuk mencari nafkah, dan belajar untuk masa depan, lebih banyak waktu di Gereja bukanlah hal yang memungkinkan. Bahkan bagi saya pribadi, tanpa struktur biara, saya masih mengalami kesulitan berdoa.

Dari perspektif ini, masa Advent menjadi semakin penting bagi kita dalam membentuk sikap dan disposisi hati kita dalam memasuki tahun baru liturgi ini. Katekismus Gereja Katolik mengingatkan kita, “Ketika Gereja merayakan liturgi Adven setiap tahun, dia membuat harapan kuno tentang Mesias ini, karena dengan berbagi dalam persiapan untuk kedatangan pertama Juruselamat, umat dengan setia memperbarui keinginan mereka yang penuh semangat untuk kedatangannya yang kedua (No. 524).Umat Kristiani perdana memiliki “semangat eskatologis” karena mereka percaya bahwa Yesus akan segera datang. Mereka ingin menjadi layak menyambut Kristus sehingga mereka hidup seolah-olah mereka bukan bagian dari dunia ini. Seperti yang yang Paulus katakan, Karena kewargaan kita adalah di dalam surga (Flp 3:20). Banyak dari mereka menjual harta benda mereka sehingga tidak ada yang miskin di antara mereka (diakonia) dan mereka bisa fokus pada apa yang benar-benar penting: pengajaran para rasul (didake), persekutuan (koinonia), pemecahan roti (eukaristia), dan doa (proseuke) (Kis 2:42; 4:32-36). Bahkan orang-orang yang bukan anggota Gereja takjub dan berkata, “Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi!” Mungkin benar bahwa Yesus tidak datang dalam waktu hidup mereka, namun gaya hidup mereka telah mengubah komunitas dan masyarakat di sekitar mereka menjadi tempat tinggal  yang lebih baik. Yesus tidak datang, tetapi mereka membawa Yesus di tengah dunia.

Ini adalah panggilan masa Adven untuk menghidupkan kembali “semangat eskatologis” ini di dalam diri kita. Semangat yang membuat kita menyadari bahwa kita semua adalah peziarah di bumi ini dan kita berjalan menuju rumah kita yang sejati di dalam Kristus. Dunia ini bukanlah yang tempat tinggal kita yang permanen, dan karenanya, kebahagiaan kita tidak berakar pada hal-hal di bumi ini seperti uang, gadget, popularitas, dan kesuksesan. Memang benar bahwa kita perlu bekerja untuk mencari nafkah, dan seringkali karya-karya kita meninggalkan sedikit waktu untuk beribadah, tapi hidup kita selalu bisa menjadi tanda Kerajaan Allah, menjadi sebuah bentuk menyembah kepada Tuhan yang benar. Kita bisa jujur di tempat kerja atau sekolah, bisa menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga kita, dan bisa mengasihi orang miskin. Masa Adven bukan sekedar tentang penantian, tapi ini bagaimana kita dengan semagat membawa Yesus di tengah kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Bukan Raja Biasa

Hari Raya Kristus Raja. 26 November 2017 [Matius 25: 31-45]

“Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat 25:45).”x-default

Menjadi bagian dari generasi modern, kita hidup pada alam demokrasi dan tidak mengerti secara penuh apa artinya menjadi hamba seorang raja yang berkuasa mutlak. Raja dan ratu masa kini, seperti Kaisar Jepang dan Ratu Inggris, adalah raja dan ratu konstitusional. Kekuasaan mereka tidak lagi mutlak, tapi berdasarkan dan diatur oleh Konstitusi negara. Beberapa negara bahkan memilih untuk menghapus sistem pemerintahan monarki secara total, dan sang raja hanya menjadi simbol budaya masa lalu. Mungkin, salah satu gambaran terbaik dari seorang raja yang berkuasa secara mutlak bisa kita lihat pada acara televisi Game of Thrones. Dalam acara ini, dia yang duduk di Tahta Besi adalah raja yang memiliki kekuatan hampir absolut. Ribuan tentara mematuhinya dan semua penduduk memberi hormat. Dia adalah hukum itu sendiri, dan dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Tak heran jika kisah Game of Thrones berputar pada Tahta Besi, dan bagaimana para karakter saling berlomba untuk mengklaim takhta tersebut.

Injil hari ini memberi gambaran tentang kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman. Yesus akan duduk di atas takhtanya dan memberikan penghakiman-Nya atas segala bangsa. Mendengarkan bagian Injil ini, kita bisa membayangkan bahwa Yesus seperti seorang raja di atas Tahta Besi dengan mahkota emasnya, dikelilingi oleh malaikat yang perkasa. Namun, membaca Injil lebih lanjut, gambaran dahsyat ini segera diimbangi oleh gambaran lain. Yesus memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang dipenjara, seorang pria tuna wisma yang lapar, haus dan telanjang. Dia berubah dari seorang manusia yang berkuasa penuh menjadi manusia yang miskin dan tak berdaya.

Dalam sejarah dunia, kita mungkin mengenal beberapa raja yang jatuh ke dari kekuasaan mereka. Raja Louis XVI dari Prancis adalah raja dengan kekuasaan absolut yang akhirnya dieksekusi dengan guillotine. Pu Yi, kaisar terakhir Tiongkok, dilayani oleh banyak hamba bahkan untuk menyikat giginya, tapi akhirnya dia kehilangan segalanya dan menjadi tukang sapu jalanan di Beijing. Namun, Yesus bukanlah raja-raja yang semacam ini, melainkan Dia memilih dengan bebas untuk menjadi satu dengan kita semua, terutama dengan mereka yang paling miskin dan tidak disukai oleh masyarakat. Kerajaan-Nya bukanlah berdasarkan kekuasaan dan kontrol, melainkan kerajaan orang miskin, lemah, dan terpinggirkan.

Sekarang, apakah kita bersedia masuk ke dalam Kerajaan orang-orang miskin ini? Seperti karakter dalam Game of Throne, kita ingin duduk di Tahta Besi versi kita sendiri. Namun, ini bukanlah Kerajaan Yesus. Sering kali kita merasa sudah menolong orang lain dengan memberi sesuatu kepada para pengemis, tapi ini tidak cukup. Jika Yesus adalah Raja kita, kita diajak melihat saudara dan saudari kita yang kurang beruntung ini sebagai mereka yang adalah empunya kerajaan, mereka yang duduk di tahta. Melayani Yesus Sang Raja berarti kita perlu melayani mereka dengan cara yang lebih signifikan. Ini adalah kerajaan yang didefinisikan oleh keadilan dan kebenaran, bukan kekuasaan dan kesuksesan.

Minggu yang lalu, Paus Fransiskus mendirikan Hari Dunia Kaum Miskin yang pertama, dan dalam homilinya dia berpesan, “Kita mungkin sering menganggap orang miskin hanya sebagai penerima manfaat dari perbuatan murah hati kita. Betapapun baiknya dan berguna tindakan semacam ini, mungkin karena mereka membuat kita peka terhadap kebutuhan mereka dan ketidakadilan yang sering menjadi penyebab kemiskinan, tindakan-tindakan ini seharusnya mengarah pada perjumpaan sejati dengan orang miskin dan berbagi yang menjadi cara hidup kita … Jika kita benar-benar ingin bertemu dengan Kristus, kita harus menyentuh tubuh-Nya di tubuh penderitaan orang miskin, sebagai tanggapan terhadap persekutuan sakramental yang dianugerahkan dalam Ekaristi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Beyond Talent

33rd Sunday in Ordinary Time. November 19, 2017 [Matthew 25:14-30]

“…out of fear I went off and buried your talent in the ground” (Mat 25:25)

talent 2Talent is one of the few biblical words that has become part of our modern language. Talent connotes a God-given ability or a natural unique skill, and yet it has not fully developed. Thus, we are called to use and harness our talents in order to achieve our full potentials and contribute to the progress of society. In fact, talents have become well-sought commodity in our society. Companies only hire the talented employees. Schools are marketed as venues of talents development. Our TV channels and social media outlets are filled by shows where we perform, compete and prove that we possess the best talent in singing, dancing, and the like. How our world is now obsessed with talents!

Going back to our Gospel, we may have a different meaning of talent. The Greek “talanta” in our Gospel’s today means an extreme large sum of money. Perhaps, a talent is worth more than one million US dollar in our currency. From the parable, the man is extremely rich that he can easily entrust his talents to his servants. And those three servants are expected to work on those talents and produce more talents. In no time, the two servants double the talents, and like the master, we instinctively praise them. The third servant does nothing, but buries the talent. This causes the ire of the master and he immediately punishes the servants because of his inability and laziness. We would agree with the judgment of the master, and draw a classic lesson from the parable, that we must also develop our “talents” and avoid laziness.

However, unlike the parable of the ten virgins (we listened last Sunday), Jesus does not explicitly mention that we imitate the master or the successful servants. There is something trickier here. Examining closely today’s parable, we may ask whether the third servant is just lazy, or there is something else? If he has so much money in his hands, why would he bury them and wait for the harsh judgment? He could have just run with the money to faraway place and make a fortune out of it? The answer is revealed in the defense of the third servant. The servant is aware that his master is a harsh man who “reaps where he did not sow, and gathers where he did not scatter seed.” This means that he knows that his master gains his wealth through dishonest ways. Surprisingly, instead denying the accusation, the master admits his misdeeds. He is a harsh and corrupt man, and perhaps, he wants his servants to imitate their master’s dishonest methods in doubling their talents. Thus, to silence his deviant servant from spreading the news, he throws him into the darkness.

The third servant says that he is afraid and thus, he buries the talent. He might be afraid of his master, but it may be that he is more afraid of offending God. By dishonest conducts, he commits injustice, makes other people suffers, and creates further poverty. He might be condemned as lazy servant, but he stands with the truth. Despite pervasive culture of lies, he remains steadfast in his honesty.

This may be unusual interpretation of the parable, but this lesson is more radical and profound than simply working hard for our talents. Through the third servant, Jesus invites us to be a sign of the Kingdom in the world. With pervasiveness of fake news and hoaxes around us, we are invited to seek and speak the truth. With so many injustices and poverty, we are called to do what is right and yet be compassionate. May I end this reflection by quoting Archbishop Oscar Romero, “A church that doesn’t provoke any crisis, a gospel that doesn’t unsettle, a Word of God that doesn’t get under anyone’s skin, what kind of gospel is that? Preachers who avoid every thorny matter so as not to be harassed do not light up the world.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Featured

Lebih dari Sekedar Talenta

Minggu Biasa ke-33 [19 November 2017] Matius 25: 14-30

“… Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah…” (Mat 25:25)

talentTalenta adalah satu dari sedikit kata-kata dari Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari bahasa kita sehari-hari. Talenta sering diartikan sebagai bakat yang diberikan Tuhan atau keterampilan yang unik seperti memiliki suara yang indah, kemampuan memecahkan persoalan matematika yang rumit, atau kemampuan berolahraga, namun belum sepenuhnya dikembangkan. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menggunakan dan memanfaatkan talenta kita untuk mencapai potensi maksimal kita dan memberikan kontribusi pada kemajuan masyarakat.

Kembali ke Injil kita, kata talenta memiliki artian yang sedikit berbeda. Bahasa Yunani “talanta” dalam Injil kita hari ini berarti jumlah uang yang luar biasa besar. Mungkin, talenta itu bernilai lebih dari lima belas miliar rupiah dalam perhitungan saat ini. Dari perumpamaan kali ini, kita tahu sang tuan adalah sangat kaya sehingga dia bisa dengan mudah mempercayakan talentanya pada para hambanya. Dan ketiga hamba tersebut diharapkan bisa memanfaatkan talenta yang mereka terima, dan menghasilkan lebih banyak talenta. Dalam waktu singkat, kedua hamba pertama menggandakan talenta, dan sang tuan pun memuji mereka. Hamba ketiga tidak melakukan apapun, dan mengubur talentanya. Hal ini menyulut kemarahan sang tuan dan dia langsung menghukum sang hamba karena ketidakmampuan dan kemalasannya. Kita pun setuju dengan keputusan sang tuan, dan menarik pelajaran dasar dari perumpamaan ini bahwa kita juga harus mengembangkan “talenta” kita dan menghindari kemalasan.

Namun, tidak seperti perumpamaan tentang sepuluh gadis (kita mendengarkan hari Minggu yang lalu), Yesus tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa kita harus meniru sang tuan atau dua hamba yang sukses. Ada sesuatu yang lebih rumit di sini. Dengan membaca perumpamaan hari ini lebih seksama, kita mungkin bertanya apakah sungguh hamba ketiga malas, atau ada hal yang lain? Jika dia memiliki begitu banyak uang di tangannya, mengapa dia menguburkannya dan menunggu penghakiman yang berat? Dia bisa saja lari dengan uang itu ke tempat yang jauh dan mencari keuntungan di tempat lain? Jawabannya terungkap dalam pembelaan hamba ketiga ini. Hamba tersebut sadar bahwa tuannya adalah manusia yang kejam yang “menuai di mana dia tidak menabur, dan mengumpulkan di mana dia tidak menanam.” Ini berarti bahwa dia tahu bahwa tuannya memperoleh kekayaannya melalui cara-cara yang tidak jujur. Anehnya, alih-alih menyangkal tuduhan tersebut, dengan angkuh, sang tuan mengakui kesalahannya. Dia adalah manusia yang kejam dan tidak jujur, dan mungkin, dia ingin para hambanya meniru cara-cara tidak jujurnya dalam melipatgandakan talenta mereka. Dengan demikian, untuk membungkam hambanya yang jujur ini, dia melemparkannya ke dalam kegelapan yang paling gelap.

Hamba ketiga mengatakan bahwa dia takut dan karenanya, dia mengubur talenta tersebut. Dia mungkin takut pada tuannya, tapi mungkin dia lebih takut kepada Tuhannya yang benar. Dengan melakukan perbuatan tidak jujur, dia melakukan ketidakadilan, dan membuat orang lain menderita. Dia mungkin dihakimi sebagai hamba malas, tapi dia berpihak kepada kebenaran. Meski hidup dalam budaya kebohongan, ia tetap teguh dalam kejujurannya dan apa yang benar.

Mungkin interpretasi perumpamaan kali ini tidak biasa, tapi pelajaran yang kita petik lebih radikal dan mendalam daripada hanya sekedar mengembangkan talenta kita. Melalui hamba ketiga, Yesus mengundang kita untuk menjadi tanda Kerajaan Allah di dunia. Dengan merajalelanya hoax dan kebohongan di sekitar kita, kita diajak untuk mencari dan berbicara kebenaran. Dengan begitu banyaknya ketidakadilan dan kemiskinan, kita dipanggil untuk melakukan apa yang benar namun tetap berbelas kasih. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah Gereja yang tidak memprovokasi suatu krisis, sebuah Injil yang tidak meresahkan, sebuah Firman Tuhan yang tidak menantang hati nurani siapa pun, Injil macam apakah itu? Pewarta yang menghindari isu-isu sensitif agar ia selalu aman, dia tidak menerangi dunia.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Be Wise in Small Things

32nd Sunday in Ordinary Time. November 12, 2017 [Matthew 25:1-13]

“The foolish ones, when taking their lamps, brought no oil with them, but the wise brought flasks of oil with their lamps. (Mat 25:3-4)”

In the Jewish patriarchal society, an unmarried woman has to stay with her father. Then, when she gets married, she will move to her husband’s house. This transition from her family of origin to her new family is ritualized by an elaborate wedding procession. The groom will fetch the bride from her father’s house, and together they march back to the groom’s house where usually the wedding celebration is held. For practical reason, the procession takes place after sunset, and thus, men and women who are involved in the procession shall bring their torch or lamp.

Within this context, the presence of the ten virgins have to be understood. They are assigned to welcome the groom and the bride, and join community in the procession of light. Since there are no means communications like cellular phone with GPS, they are not able to track the location of the couple, and yet, they need to be ready with their lamps anytime the procession comes. There is element of surprise and expectation, and the virgins have to prepare themselves well for this.

Jesus compares the five wise virgins and the five foolish virgins. The wisdom of the five virgins manifests in their ability to foresee some practical considerations like the estimated distance between the house of the groom and bride, the possible delay, and the expected slow-pacing procession. Thus, bringing along extra oil for the lamp is something sensible, and in fact, necessary. Extra oil might be just a simple thing compare to the entire wedding celebration, but its absence proves to be costly for the five virgins. It is just “foolish” to miss the entire celebration just because they fail to bring simple thing like an oil. Jesus likens this to the preparation for the Kingdom of Heavens. It begins with practicality of life, to prepare apparently simple things in life and yet proved to be important for those who are welcoming Jesus and His Kingdom.

Many great saints are those who are most humble. What basically Mother Teresa of Calcutta did was to serve the poorest of the poor in India. Sometimes, she and her sisters had something to give, but often they only had themselves to share. Yet, for the lonely, sick and dying, Mo. Teresa’s loving company was what mattered most. Then, she advised us, “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” When sister Breda Carroll, a Dominican nun from Drogheda, Ireland, was asked by a journalist, “Isn’t life in the monastery is completely useless? And how do you become a preacher if you never go out and preach?”  She replied, “The greatest preaching is to make people think of God, and our mere presence and constant prayer cannot but disturb people and make them think of God.” For all we know, their simple ways of life and constant prayer have saved countless souls in purgatory.

We are invited to act like this practical and wise virgins. We prepare ourselves for Jesus by faithfully doing seemingly simple and ordinary things in our lives. Preparing breakfast every morning seems nothing special, but for a mother of five children, that is her share in the Kingdom. Working hard every day looks to be normal for a young man aiming for a bright future, but for a poor and old man who needs to support his family, it is his share in the Kingdom. What are our share in the Kingdom? Are we faithfully doing simple things with love? Are we ready to welcome Christ?

  Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Menjadi Bijak dalam Hal Kecil

Minggu Biasa ke-32 [12 November 2017] Matius 25: 1-13

“Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak (Mat 25:3).”

ten virgins - africaPada zaman Yesus, seorang perempuan yang belum menikah harus tinggal dengan ayah dan keluarganya. Hanya saat dia menikah, dia akan pindah ke rumah suaminya. Peralihan dari keluarga asalnya ke keluarga barunya ini dilambangkan oleh perarakan pernikahan yang melibatkan hampir semua orang di desa. Pengantin laki-laki akan menjemput sang istri dari rumah ayahnya, dan bersama-sama mereka diarak kembali ke rumah pengantin laki-laki di mana biasanya perayaan pernikahan diadakan. Untuk alasan praktis, perarakan berlangsung setelah matahari terbenam, dan dengan demikian, pria dan wanita yang terlibat dalam perarakan harus membawa obor atau pelita mereka.

Dalam konteks inilah kehadiran sepuluh gadis harus dipahami. Mereka ditugaskan untuk menyongsong pengantin pria dan wanita, dan bergabung dengan komunitas dalam perarakan cahaya. Karena belum ada sarana komunikasi seperti handphone dengan GPS, mereka tidak dapat melacak lokasi perarakan, tetapi mereka harus siap dengan pelita mereka kapan pun perarakan datang. Ada unsur kejutan dan penantian, dan para gadis ini harus mempersiapkan diri dengan baik.

Yesus membandingkan lima gadis yang bijaksana dan lima gadis bodoh. Kebijaksanaan kelima gadis tersebut terletak pada kemampuan mereka untuk melihat beberapa pertimbangan praktis seperti perkiraan jarak antara rumah mempelai pria dan wanita, kemungkinan keterlambatan, dan perarakan yang berjalan dengan lambat. Dengan demikian, membawa tambahan minyak untuk lampu adalah sesuatu yang masuk akal dan sebenarnya diharuskan. Minyak tambahan mungkin hanya hal yang sederhana dibandingkan dengan keseluruhan perayaan pernikahan, tetapi kegagalan untuk mempersiapkannya terbukti membawa bencana bagi kelima gadis lain. Tentu saja hal yang “bodoh” tidak bisa mengikuti seluruh perayaan hanya karena mereka gagal membawa hal sederhana seperti minyak. Bagi Yesus, hal ini seperti mempersiapkan Kerajaan Surga. Semua dimulai dengan kemampuan kita untuk menentukan dan mempersiapkan hal-hal yang tampaknya sederhana dalam hidup, tetapi terbukti penting bagi kita yang menyambut Yesus dan Kerajaan-Nya.

Orang-orang kudus yang paling besar adalah mereka yang paling rendah hati dan sederhana. Bunda Teresa dari Kalkuta memberikan hidupnya melayani orang-orang miskin di India. Terkadang, dia dan para susternya memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang miskin, tapi sering kali mereka tidak memiliki apa-apa kecuali belas kasih. Namun, bagi mereka yang sakit, miskin dan menjelang ajal mereka, persahabatan dan kasih Bunda Teresa adalah yang paling penting. Bunda Teresa pun mengatakan, “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” Ketika suster Breda Carroll, seorang rahib Dominikan dari Drogheda, Irlandia, ditanya oleh seorang wartawan, “Bukankah kehidupan di dalam pertapaan sama sekali tidak berguna? Dan bagaimana Anda menjadi seorang pewarta jika Anda tidak pernah pergi keluar dan berkarya?” Dia menerangkan, “Pewartaan terbesar adalah untuk membuat orang-orang merasakan dan berpikir tentang Tuhan, dan kehadiran kami sebagai petapa dan doa-doa kami mengundang mereka untuk melihat sesuatu yang lebih dari mereka, untuk memikirkan Tuhan.”

Kita diundang untuk bertindak seperti gadis-gadis bijaksana ini. Kita mempersiapkan diri kita untuk Yesus dengan kesetiaan melakukan hal-hal yang tampak sederhana dan biasa dalam hidup kita. Mempersiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya setiap hari tampaknya tidak istimewa, tapi bagi ibu dengan lima anak, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Bekerja keras dan jujur setiap hari terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi pria miskin dan tua yang perlu menghidupi keluarganya, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Apakah kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita untuk menyambut Kerajaan? Apakah kita melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar? Apakah kita siap untuk menyambut Kristus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Walk the Talk

30th Sunday in Ordinary Time. November 5, 2017 [Matthew 23:1-12]

“For they preach but they do not practice. (Mat 23:3)”

walk_the_talk_main_logoReading this Sunday’s Gospel, I feel that Jesus is reprimanding His priests and ministers for “preaching and yet not practicing.” Unfortunately, many of us are failing in this matter. We preach forgiveness, but some priests are having prolonged quarrels with other co-priests and some of their parishioners. We teach kindness and friendship of God, yet some of us appear to be aloof and snobbish. We proclaim justice, but sometimes we fail to be just to the simple people working in the parish or convent.

I myself are struggling to walk the talk. Often I speak or write about asking people to do more active parts in the Church or to engage in promoting justice and peace, but I myself find it difficult to follow those invitations. I used to be a member of KADAUPAN in our formation house. It is an apostolic group of the Dominican student-brothers that was inspired by the example of St. Martin de Porres who gave his life for the poor. One of our basic tasks is to welcome and help the indigents coming to our Church. Sometimes, we give money, but often we provide food, water and clothing. I have to admit that every time an indigent comes, I struggle to go out and meet them because I prefer to stay in the library and read books.

However, despite this inconsistency, I do believe that Jesus is merciful to us, His preachers, because He understands that despite our holy intentions, we keep falling due to our human weaknesses. Even St. Paul, the apostle to the gentiles, understood our struggles with our weaknesses, “For the flesh has desires against the Spirit, and the Spirit against the flesh; these are opposed to each other, so that you may not do what you want. (Gal 5:17)”

While it is true that Lord Jesus will be very merciful to those who struggle to practice their preaching, it is also true that He will not tolerate if preaching is just for show off or for personal gains. That is the context of today’s Gospel. Jesus criticizes some Pharisees and scribes who preach the Law and teach its elaborate applications to show off their wisdom, and thus, gain respect and honor. It was their goal to earn the honorific title, “rabbi” or “father”, and to be treated as VIP in the Jewish societies. They do not serve God, but they manipulate the Law of God to serve their interest. This is unacceptable because it is a grave abuse against their sacred vocation to preach and serve the God of Israel.

The same message goes for us, the preachers and servers of the Word of God. Is there any hidden and selfish intention in our services and ministry of the Word? Is it to gain fame and pleasure? Is it to hoard riches and to have a more comfortable life? Are we making our sacred vocation to preach a career of achievements and glory? In a letter, Archbishop Socrates Villegas of Lingayen-Dagupan had a strong point to the Filipino priests, “It is a scandal for a priest to die a rich man…That is our only duty—to be Jesus and to give Jesus who alone is our treasure.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Featured

Pergulatan Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-30 [5 November 2017] Matius 23: 1-12

“Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat 23: 3)”

walktlk1Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.

Saya sendiri bergulat dengan hal ini. Sering kali saya berkhotbah atau menulis meminta umat untuk mengambil bagian yang lebih aktif di Gereja atau terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, namun saya sendiri kesulitan untuk mewujudkan ajakan tersebut. Saya pernah menjadi anggota KADAUPAN di rumah formasi kami di Manila. Ini adalah kelompok kerasulan para frater Dominikan yang terinspirasi oleh St. Martinus de Porres, seorang bruder Dominikan yang mempersembahkan hidupnya untuk melayani kaum miskin. Salah satu tugas dasar kami adalah membantu orang-orang miskin yang datang ke tempat kami. Terkadang, kami membantu secara finansial, tapi sering kali kita menyediakan makanan, air minum dan pakaian. Harus kuakui bahwa setiap kali orang miskin datang, aku bergulat untuk menemui dan membantu mereka karena aku lebih mudah bagi saya untuk tinggal di perpustakaan dan membaca buku.

Namun, terlepas dari ketidakkonsistenan ini, saya percaya bahwa Yesus penuh belas kasihan kepada kita, para pewarta Sabda-Nya dan pekerja di ladang anggur-Nya, karena Dia mengerti bahwa terlepas dari niat kudus kita, kita terus jatuh karena kelemahan manusiawi kita. Bahkan St. Paulus memahami pergulatan kita dengan kelemahan kita, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)”

Tuhan Yesus akan sangat berbelaskasihan kepada kita yang bergulat untuk menghidupi apa yang kita wartakan, tetapi Dia tidak akan mentolerir jika pewartaan hanya untuk pamer atau keuntungan pribadi. Inilah konteks Injil hari ini. Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang berkhotbah tentang Hukum Taurat dan mengajarkan penerapannya yang rumit karena ingin memamerkan kelihaian mereka, dan dengan demikian, mendapatkan kehormatan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gelar kehormatan, “Rabi” atau “Bapa”, dan diperlakukan sebagai VIP di masyarakat Yahudi. Mereka tidak melayani Tuhan, tapi mereka memanipulasi Hukum Allah untuk melayani kepentingan mereka pribadi. Yesus sangat geram karena ini adalah pelecehan serius terhadap panggilan suci mereka untuk mewartakan dan melayani Allah Israel yang telah memilih mereka.

Pesan yang sama berlaku bagi kita, para pewarta dan pelayan Firman Allah. Apakah ada niat tersembunyi dan egois dalam pewartaan dan pelayanan kita? Apakah kerasulan kita hanya mendapatkan ketenaran dan kepuasan? Apakah kita menimbun kekayaan dan mencari kehidupan yang lebih nyaman? Apakah kita menjadikan panggilan suci kita sebagai pewarta sebuah karir untuk mencapai sukses dan kemuliaan? Dalam suratnya kepada para imam Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan memiliki poin kuat untuk kita refleksikan bersama baik sebagai imam maupun para awam pewarta Sabda-Nya, “Merupakan sebuah skandal bagi seorang imam untuk meninggal kaya raya … Inilah satu-satunya tugas kita – untuk menjadi Yesus dan untuk memberi Yesus yang adalah harta kita yang sejati.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

The Greatest Commandments

30th Sunday in Ordinary Time. October 29, 2017 [Matthew 22:34-40]

“You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.  (Mat 22:34)”

love god love neighborsWhat is love? If we ask young couple who are in love, love means more time together and be connected online even up to late hours of the night. For young priests, love may mean patiently listening to confessions for hours, and attending to sick calls. For a couple who have their newly-born baby, love is changing the baby’s diapers even at middle of the night. Love is passion, dedication and sacrifice.

However, love is also one of the most abused and misused words in human history. In the name of love, a young man lures his girlfriend into premarital sex.  For the love of their country and race, some men persecute another ethic group and burn their villages. For the love of God and religion, some men blow themselves up and kill the innocent people, including children whom they consider the enemies of their God.

Surprisingly, the situation is not much different from the time of Jesus. For the love of the Law, the Pharisees keep and observe the Law even to its meticulous details in their daily lives. For the love of God and their country, the Zealots fight and kill the Romans and those who work for them. For the love of God, the Essenes separate themselves from the rest of the corrupted world and build their own exclusive communities. For the love of the Temple, the priestly clan work hard to offer sacrifices daily and is ready to die for the Temple.

When the Pharisees ask Jesus what is the greatest law, the law of laws, it is not simply about theological exercise, but it is to reveal Jesus’ fundamental attitude towards God and the Jewish Law. Is He a Pharisee who loves the Law more than anything else, a Zealot who loves the country zealously, or something else? Jesus answers, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind.” Jesus quotes part of the Shema or the basic Jewish Creed that every devout Jews would recite every day (see Deu 6:4-5). Yet, Jesus does not stop there. He completes the first and the greatest law with another one, “You shall love your neighbor as yourself.” It also comes from the Old Testament (see Lev 19:18). To the delight of the Jews, Jesus’ answer is basically an orthodox one, but there is something novel as well.

The connection between first and second turns to be a watershed. For Jesus, true love for God has to be manifested in the love for others, and genuine love for others has to be oriented toward God. Thus, it is unthinkable for Jesus to order His disciples to kill for the love of God. Or, Jesus will not be pleased if His followers are busy with performing rituals, but blind to the injustices that plague their communities.

Once I asked my brother who is studying Canon or Church Law, what is the highest law in the Canon Law? He immediately answered, the suprema lex, all laws are governed and ordained for the salvation of souls. The Code of Canon Law contains more than 2 thousand provisions governing various aspects of Church’s life, and all these will be absurd if not for the love of God and neighbors. In the same manner, do our love for God, our prayers and celebration of sacraments bring us closer to our neighbors, to be more committed in doing justice, to be dedicated in our responsibilities as members of a family and a society? Does our love for others, our affection for our children and friends, our passion for ministry bring them closer to God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Hukum yang Terutama

Minggu Biasa ke-30 [29 Oktober 2017] Matius 22: 34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat 22:37)”

greatest commandment

Apa itu cinta kasih? Jika kita bertanya kepada pasangan muda yang sedang jatuh cinta, cinta berarti lebih banyak waktu bersama dan terhubung online bahkan sampai larut malam. Bagi para imam muda, cinta kasih adalah mendengarkan pengakuan dosa dengan sabar selama berjam-jam. Bagi pasangan yang baru mendapatkan bayi mereka, cinta kasih bisa berarti siap menggantikan popok sang bayi bahkan di tengah malam. Cinta kasih adalah semangat, dedikasi dan pengorbanan.

Namun, cinta juga menjadi salah satu kata yang paling disalahgunakan dalam sejarah manusia. Atas nama cinta, seorang pemuda membawa kekasihnya kepada perbuatan yang tidak pantas. Demi cinta kepada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok etik lain dan membakar desa mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak yang mereka anggap musuh-musuh dari Tuhan mereka.

Anehnya, situasi ini tidak jauh berbeda dengan zaman Yesus. Demi cinta kepada Hukum Taurat, orang-orang Farisi mematuhi Hukum Taurat bahkan dalam segala aspek dalam kehidupan sehari-hari mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan bangsa mereka, orang-orang Zelot melawan dan bahkan membunuh orang-orang Romawi dan mereka yang bekerja untuk penjajah. Demi cinta kepada Tuhan, kelompok Essen memisahkan diri dari dunia yang mereka anggap tidak lagi murni dan membangun komunitas eksklusif mereka sendiri di gurun. Demi cinta kepada Bait Suci, para imam bekerja keras untuk mempersembahkan korban setiap hari dan siap untuk mati bagi Bait Suci.

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus apa hukum yang terbesar, ini bukan hanya tentang sekedar wacana teologis, tetapi ini akan mengungkapkan sikap fundamental Yesus terhadap Allah dan Hukum Yahudi. Apakah Yesus sama seperti orang Farisi yang lebih mengasihi Hukum daripada sesama, atau seperti orang Zelot yang mencintai bangsa mereka sampai mati, atau Yesus adalah lebih dari mereka? Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Pernahkah saya bertanya kepada seorang frater yang sedang belajar Hukum Kanonik atau Hukum Gereja, “apakah hukum tertinggi dalam Hukum Kanonik?” Dia segera menjawab, suprema lex, semua hukum berpedoman dan bermuara pada keselamatan jiwa-jiwa. Kode Hukum Kanonik berisi lebih dari 2 ribu ketentuan yang mengatur berbagai aspek kehidupan Gereja, dan semua ini tidak masuk akal jika bukan karena cinta kasih kepada Tuhan dan sesama.

Sekarang sebagai murid-murid Yesus, apakah cinta kita kepada Tuhan, doa dan perayaan-perayaan sakramen membawa kita lebih dekat ke sesama kita, untuk lebih berkomitmen dalam memperjuangkan keadilan, untuk lebih bertanggung jawab sebagai anggota keluarga dan masyarakat? Apakah cinta kita kepada sesama, kasih sayang bagi anak cucu kita dan teman-teman kita, semangat kita dalam pelayanan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Tax

29th Sunday in Ordinary Time. October 22, 2017 [Matthew 22:15-22]

“…repay to Caesar what belongs to Caesar and to God what belongs to God.” (Mat 22:21)

caesar and god“In this world nothing can be said to be certain, except death and taxes.”  Benjamin Franklin once said. Indeed, tax is an unpleasant and unavoidable fact in our lives as ordinary citizen. A portion of our hard-earned wage is suddenly taken away from us, and only God knows where it goes. In modern society, almost all we have, we gain, and we use are taxed. The practice of taxing people goes back to first known organized human societies. The basic idea is that tax will provide a common resource for the improvement of the community, like building roads, free education and quality health care. Yet, the ideal is often met with abuses. In olden time, the kings and chieftains taxed people so they could build their grand palaces and feed their wives. Unfortunately, the situation does not change much in our time.

In the time of Jesus, taxation is a burning issue. Ordinary Jews like Jesus himself are taxed heavily by the Roman colonizers, and for those who are not able to pay, they are dealt with severity. Their properties are confiscated, they are put to jail and even face capital punishment.  Not only that the Jews need to pay tax to the Romans, but they need also to pay the religious tax to support the Temple. These leave simple Jewish farmers or laborers with almost nothing, and the poor become even poorer. Both Jesus and the Pharisees are also victims of this unjust system.

Any Jew would abhor paying tax to the Romans and lament his obligation to support the Temple, but majority of the Jews will prefer to abide with the rules and pay the tax because they do not want to court problems. The Pharisees and other pious Jews detest using the Roman coins because there is engraved the image of Caesar as god. The entire system is simply idolatrous for them. Yet, even many Pharisees pay their share as to maintain peace and order. The usual impression of this Gospel episode is that wise Jesus outwits a team of Pharisees and Herodians, who plan to trap Him with a tricky yet politically charged question. Yet, going deeper, there are so much at stake. Though the question is directly addressed to Jesus, the same question is applicable to all Jews who are forced to pay tax to the Romans. Thus, condemning Jesus as idolatrous means they also condemn the majority of fellow Jews for paying tax.

Jesus’ answer is not a categorical yes or no, rather he formulates it in such a way that does not only save Him from the trap, but saves everyone who are forced to pay tax from the idolatry charge. Ordinary Jews are working extremely hard for their lives and families, and it is simply a merciless act to condemn them as idol worshipers simply because they need to pay tax and avoid severe punishment. Jesus’ answer removes this guilt from poor Jews struggling to feed their family as the same time enables them to be holy in the sight of the Lord. From here, to give what belongs to God does not simply mean to pay the religious tax or to offer sacrifices in the Temple, but it is primarily to help others getting closer to God. What belongs to God? It is His people.

In our own time and situation, we may pay our taxes to the governments and live as good and law-abiding citizen, but do we give what belongs to God? Do we, like the Pharisees, place unnecessary burdens on others’ shoulders? Do we ridicule other who are not able to go the Church because they need to feed their family? Do feel holy simply because we are active in the Church and donate a big amount of money? What have we done to bring people closer to God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Pajak

Hari Minggu Biasa ke-29 [22 Oktober 2017] Matius 22: 15-22

“… Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

ceasar coinBenjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.

Pada masa Yesus, pajak adalah isu yang sangat sensitif. Orang-orang Yahudi sederhana dikenai pajak oleh penjajah Romawi, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka akan dipenjara, harta-benda mereka akan disita dan bahkan menghadapi hukuman mati. Ini membuat para petani dan pekerja Yahudi sederhana semakin miskin dan tak berdaya. Baik Yesus maupun orang Farisi juga menjadi korban dari sistem perpajakan yang menindas dan tidak adil ini.

Tidak ada yang suka membayar pajak kepada penjajah Romawi, namun sebagian besar orang Yahudi akan memilih untuk mematuhi peraturan dan membayar pajak karena mereka tidak menginginkan masalah datang. Orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi saleh lainnya membenci menggunakan koin Romawi karena di dalamnya, ada gambar Kaisar yang diukir sebagai dewa. Seluruh sistem perpajakan adalah penyembahan berhala. Namun, banyak orang Farisi tetap membayar pajak agar mereka tetap hidup.

Pesan yang biasanya kita dengar dari Injil hari ini adalah Yesus yang cerdik mengalahkan para Farisi dan Herodian yang ingin menjebak Dia dengan pertanyaan yang rumit. Namun, sebenarnya, ada banyak hal yang dipertaruhkan di sini. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada Yesus, pertanyaan yang sama berlaku untuk semua orang Yahudi yang terpaksa membayar pajak kepada bangsa Romawi. Dengan demikian, jika mereka menuduh Yesus sebagai penyembah berhala, mereka juga menuduh mayoritas orang Yahudi untuk membayar pajak.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban kategoris ya atau tidak, tetapi ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak hanya menyelamatkan-Nya dari perangkap, tapi juga menyelamatkan setiap orang yang terpaksa membayar pajak dari tuduhan sebagai penyembah berhala. Orang-orang Yahudi yang sederhana harus bekerja sangat keras bagi keluarga mereka, dan terpaksa membayar pajak demi keselamatan diri mereka. Tidak cukup, para Farisi menuduh mereka sebagai penyembah berhala karena membayar pajak. Ini sungguh kejam karena para Farisi ini yang seharusnya menjadi contoh kekudusan, justru menjauhkan banyak orang jadi Tuhan. Syukurlah, jawaban Yesus menyingkirkan rasa bersalah ini dari orang-orang Yahudi yang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Ini bukanlah sekedar membayar pajak, tetapi sungguh menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin taat membayar pajak kita kepada pemerintah dan hidup sebagai warga negara yang patuh hukum, tetapi sekali lagi Injil hari ini bukanlah sekedar tentang membayar pajak. Apakah kita, seperti orang-orang Farisi, hanya mau menjadi suci sendiri dengan menjadi sangat aktif di Gereja dan memberi kolekte besar, tetapi malah menghalangi sesama yang ingin menjadi kudus? Apakah kita sekedar menghakimi dan mencibir mereka yang tidak bisa aktif di Gereja karena harus bekerja keras menghidupi keluarga mereka? Apakah kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau malah melakukan hal yang sebaliknya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Challenging Our Image of God

28th Sunday in Ordinary Time. October 15, 2017 [Matthew 22:1-14]

“Go out, therefore, into the main roads and invite to the feast whomever you find!” (Mat 22:1)

made-in-the-image-of-godJesus is already in Jerusalem. The confrontations between Jesus and the Jewish authorities have turned bitter, and Jesus is approaching His final days on earth. With this context, the parable may be understood easily. The invited guests stand for some elite Israelites who refuse Jesus, and thus, reject God Himself. The burning of their towns and cities may point to the invasion of the Roman Empire and the destruction of Jerusalem in 70 AD. The commoners who are later invited represent the people from all nations who accept Christ. Yet, some people who are already at the Wedding banquet do not wear the expected wedding garment. This proper dress decorum is a basic sign that the guests are honoring the host, and also becomes the symbol of our faith, our good works and our holy lives. For those who fail to honor the King through their garment are thrown out from the banquet.

At that level, the parable is indeed easy to comprehend. We are called not to imitate the example of some elite Israelites but to receive eagerly God’s invitation. As to the wedding garment, we are also expected to live out our faith to the fullest. However, something continues to bother me within this interpretation. It presents a conflicting image of a king that is authoritarian and vengeful and a king who is exceptionally generous, seen in his persistence to invite his first set of guests, and his openness to accept the ordinary people. As to the first image, he exacts his justice in violent ways. Like any king in ancient times, he will destroy the people who dishonor him, to the point of burning their towns or throwing them into darkness. If we are not careful enough, we may identify this king with our image of God. We may believe that our God is a God who rewards the good and punishes the wrongdoers even with severe and violent ways. He is easily offended by simple mistakes, and is not compassionate enough as to give a second chance.

We remember that we are created in the image of God. Now if we have this kind of vindictive and unforgiving God, then we gradually behave like that image of violent God. In the Philippines, where the majority are Christians, the killings of alleged criminals are in steady rise. Surprisingly, some people seem to approve it and even happy with this bloody happenings. This attitude might be a reflection of our image of God that is vengeful and violent.

This kind of God’s image may manifest also in more subtle ways. Despite their sincere apology, it is difficult to forgive a friend who has hurt us, a husband who has betrayed us, or a boss who has acted unjustly. As husband and father, we act like a supreme leader, and refuse to listen to our wives and other family members. As priests, religious sisters, or lay leaders, we think that we are always right and do not accept any correction. We focus on the weakness of others, rather than their struggles to become better. Instead helping them to rise from their failures, we ridicule them and enjoy gossiping about them. These are some instances that we are influenced by the false image of God. This kind of image is only preventing our growth in faith, but also destroying our healthy relationship with others.

I believe that some asects of the parable remain true and relevant, like God’s radical openness to all people, and our faith that has to be lived fully. Yet, in more profound level, the parable challenges our false image of god, the god who is vindictive and violent. It invites us to rediscover God’s image in the person of Jesus who loves us to the end, and dies so that we may live.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Tidak layak, namun Terpanggil

Minggu Biasa ke-25 [24 September 2017] Matius 20: 1-16a

Kata mereka kepadanya, “Karena tidak ada orang mengupah kami”. Katanya kepada mereka, “Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.” (Mat 20:7)

francis-bruised-woundedYesus adalah seorang pencerita yang luar biasa. Perumpamaan Yesus hari ini tidak hanya mengejutkan kita dengan akhir yang tak terduga, tapi juga membuat kita bertanya-tanya. Kita berharap para pekerja yang bekerja sepanjang hari akan mendapatkan upah yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang terlambat datang. Namun, itu tidak terjadi. Semua mendapat upah yang sama. Pemilik kebun anggur menjelaskan bahwa dia tidak melanggar kesepakatan dengan para pekerja, tapi di dalam lubuk hati kita, kita merasa ada sesuatu yang salah.

Rasa bingung dan mungkin ketidakpuasan ini lahir karena kita dapat dengan mudah mengidentifikasi diri kita dengan pekerja yang datang lebih awal dan bekerja sepanjang hari, mungkin di bawah panas matahari dan membawa beban berat. Banyak dari kita adalah pekerja yang bekerja keras selama 8 jam atau lebih di tempat kerja hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Atau beberapa dari kita adalah siswa yang harus belajar berjam-jam agar bisa lulus. Atau kita kita sangat aktif selama bertahun-tahun membantu di paroki. Tentunya, kita akan marah saat mengetahui bahwa beberapa pekerja dengan jam kerja atau produktivitas rendah, menerima gaji yang lebih tinggi dari kita. Sebagai pelajar, kita akan benar-benar kecewa saat mengetahui beberapa siswa yang malas mendapatkan nilai lebih tinggi dari kita. Kita kecewa saat tidak diperhatikan sementara mereka yang baru datang dipuji oleh Romo paroki Itu melanggar rasa keadilan kita.

Namun, apakah kita benar-benar harus mengidentifikasi diri kita dengan para pekerja yang bekerja sepanjang hari? Di mata Tuhan, kita semua mungkin seperti halnya orang-orang yang menganggur sepanjang hari, mungkin karena sebenarnya kita tidak layak mendapat pekerjaan. Kenyataannya, kita semua adalah orang berdosa yang tidak pantas. Paus Fransiskus bekerja keras untuk Gereja. Dalam kunjungannya ke Kolombia, saat dia menyapa umat di jalanan, dia terjatuh, bagian mata kirinya membentur mobil kepausan, dan alisnya pun mengeluarkan darah. Namun, alih-alih menghentikan aktivitasnya, dia melanjutkan. Setelah menerima perawatan medis yang cepat, dia tak berhenti menyapa umatnya. Meski sakit, ia menemui umat Tuhan bahkan dengan senyuman yang lebih cerah. Paus Fransiskus tampak seperti buruh yang bekerja keras. Namun, suatu ketika dia diwawancara dan dia diminta untuk menjelaskan dirinya dalam satu kata. Dia menjawab bahwa dia adalah seorang berdosa! Jika Paus yang penuh kasih dan kudus ini menganggap dirinya berdosa, siapakah kita untuk berpikir bahwa kita adalah orang paling benar?

Terlalu fokus pada diri kita sendiri, kita sering tidak melihat apa yang sebenarnya sang pemilik kebun anggur lakukan di dalam perumpamaan ini. Dia berusaha untuk mencari pekerja, bukan hanya sekali, tapi empat kali. Ini bertentangan dengan logika bisnis. Mengapa kamu mempekerjakan lebih banyak jika kamu memiliki cukup banyak pekerja untuk hari ini? Mengapa kamu menghamburkan uang bagi mereka yang bekerja hanya selama satu jam? Ini adalah resep sempurna untuk kebangkrutan usahamu! Namun, inti perumpamaan ini bukanlah tentang bisnis dan keuntungan, tapi tentang mencari dengan tekun dan merangkul mereka yang tersesat dan hilang. Ini tentang kita orang berdosa, yang tidak layak untuk Dia, namun Tuhan tetap setia dalam mencari dan memanggil kita.

Sungguh sesuatu yang membahagiakan mengetahui bahwa kita adalah “orang-orang yang menganggur di jalanan”, tetapi Tuhan tetap ingin kita menjadi bagian dari keluarga-Nya. Sekarang, tugas kita untuk menanggapi rahmat-Nya dengan komitmen dan kasih bagi sesama. Seperti pekerja yang datang terakhir, kita hanya memiliki “satu jam”, dan sekarang saatnya untuk membuat yang terbaik bagi Dia yang telah sangat berbelaskasihan kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Leaving Jesus

Ascension Sunday. May 28, 2017 [Matthew 28:16-20]

“Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit (Mat 28:18)”

ascension 2

However, in the Gospel of Matthew, we have a fundamentally different story of Ascension. In fact, Matthew has technically no story of Ascension. In the last part of Matthew’a Gospel, neither Jesus was taken into heaven nor did He leave. What Jesus did was to send the disciples to make disciples of all nations, to baptize them and to teach them. It is actually the disciples who are moving away from Jesus. The Gospel of Matthew ends with Jesus’ promise that He will be with His disciples until the end of time. It is clear that in Matthew, Jesus never left His disciples. As the disciples were moving on with their new lives as apostles, Jesus remained and journey together with them.

I entered the minor seminary as early as 14. As I was leaving my home, it was not easy both for me and my parents. There were psychological anxieties and emotional longings to go home. But, the feelings subsided after some time, and a big factor was that my parents allowed and supported my decision to be away from them. They set me free and allowed me to go as a mature man creating his own destiny. Yet, I also realize that they actually never leave me. Biologically speaking, I have in my body the genes of my parents. Not only that, my actions reflect the upbringing that they provided me. From them, I learn the love for God and the Church, discipline and hard work, and basic leadership skills. What people see is me, but what I give them are coming from my parents.

In Ascension, Jesus does not keep us under His arms, He does not suppress our growth, and He does not want that we remain childish permanently. Jesus sets us, His disciples, free and empowers us to become men and women who forge our own paths. We need to leave Jesus so we may become His mature and free apostles. Yet, He never leaves us. We bring Jesus with us because Jesus has formed us in His image. As we receive Jesus from our parents, teachers, catechists, and priests, and after living with Jesus as His disciples, now it is our turn to preach and share Jesus to others, as we make all nations His disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Inilah Roh Kudus

Minggu Paskah keenam. 21 Mei 2017 [Yohanes 14: 15-21]

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yoh 14:15).

paraclete3Pernahkah kamu melihat roh? Atau, jika anda kata roh disebutkan, gambaran apa yang muncul di benak Anda? Mungkin, hantu-hantu menakutkan dari beberapa cerita-cerita atau film horor Hollywood, atau sesuatu yang diluar kekuatan manusia dan tidak bisa dijelaskan. Kata ‘roh’ seringkali memunculkan gambaran yang mengerikan dan menyeramkan karena selalu berhubungan dengan kematian, dunia akhirat, dan fenomena paranormal yang tidak dapat dijelaskan.

Namun, dalam Alkitab, roh sejatinya tidak menakutkan, dan faktanya, ini adalah konsep dan kenyataan yang mendasar. Dalam bahasa Ibrani, roh adalah ‘ru’ah’. Kata ‘ru’ah’ ini erat kaitannya dengan nafas, udara atau angin. Roh itu seperti udara. Ini tidak berbentuk dan tak terlihat, tapi semua benda terisi dan dikelilingi olehnya. Roh itu seperti angin. Ini tidak bisa dikendalikan, tapi adalah kekuatan dahsyat yang membentuk alam. Dan roh itu seperti nafas. Kita tidak bisa melihat dan menyentuhnya, namun ini memenuhi kita dengan kehidupan. Pada awal kisah penciptaan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (lih. Kej 1: 2). ‘Nafas ilahi’ ini muncul juga dalam kisah penciptaan manusia. Tuhan kemudian menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidungnya dan manusia menjadi hidup (lih. Kej 2:7). Kemudian, ketika pria dan wanita menjadi jahat, Tuhanpun mengambil kembali ‘roh’-Nya dari mereka dan mereka akan kembali menjadi debu (lih. Kej 6: 3). Dari sini, kita bisa mengerti bahwa roh adalah kekuatan di balik ciptaan. Roh adalah sumber kehidupan kita. Selain itu, roh juga menghubungkan kita dengan Yang Ilahi. Namun, karena dosa, roh akan diambil, dan manusia akan kembali menjadi debu.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan bahwa Roh Allah ini bukan hanya sebuah kekuatan alamiah yang tak bernyawa, tapi Roh Allah ini adalah juga pribadi yang hidup. Yesus memperkenalkan Dia sebagai Penolong yang lain. Kata ‘yang lain’ sangat penting, karena Sang Penolong pertama sebenarnya adalah Yesus sendiri (lih. 1 Yoh 2: 1). Ketika Yesus pergi kepada Bapa, Roh Kudus akan melanjutkan misi Yesus dan menjadi saksi-Nya. Sebagai Penolong ilahi, Dia akan membantu, membela, menguatkan, menghibur dan mengajarkan kita yang memiliki iman kepada Yesus. Penting juga untuk dicatat bahwa Roh ini diberikan untuk membantu kita mematuhi perintah Yesus. Apakah perintah Yesus yang baru dan terbesar? “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh 13:34).” Roh Kudus ada untuk membantu kita dalam mengasihi Allah dan sesama. Sesungguhnya, Dia adalah kekuatan dan kemampuan kita untuk mengasihi. Tanpa Dia, tidak mungkin bagi kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Sekarang kita mengerti bahwa kehadiran Roh Kudus tidak hanya selama pertemuan doa karismatik di mana seseorang mulai berbicara dalam bahasa roh, namun kehadiran dan aktivitas-Nya memenuhi kehidupan kita. Saat kita bangun di pagi dan kita diingatkan untuk berdoa, Dia ada di dalam kita. Bila kita dibenci dan dianiaya, namun kita terus menyatakan kebenaran, Dia ada di dalam kita. Saat mencintai menjadi sulit dan menyakitkan, tapi kita terus mencintai, Dia ada di dalam kita. Dia adalah Penolong kita, pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus, Sang Roh Kudus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP.

Featured

Weep

 Fifth Sunday of Lent. April 2, 2017 [John 11:1-45]

Raising-of-Lazarus-2 Today’s Gospel contains my personal favorite verse: Then, Jesus wept. It is the shortest verse in the Bible, yet it is also one of the most powerful. However, its strength does not rest on any superhuman power that can multiply bread or calm the storm, but on the humanity of Jesus.

The death of Lazarus must have been overwhelming for the family. In the ancient Jewish society, man was responsible for the survival of the family. If presumably, Lazarus was the only bread winner, Martha and Mary would have a serious problem in surviving in that troubled and difficult times. But, more than any economic difficulty, a loss of a family member due to sickness and death had always crushed the entire family. Not only Martha and Mary were uncertain of their future, they also had to endure the terrible pain of losing someone they loved dearly, a brother with whom they shared a lot of good memories, and a friend to whom they could trust and rely on. Anyone of us who has lost a beloved family member can easily commensurate with Martha and Family.

When Jesus saw Martha and Mary were grieving and weeping, Jesus was groaned and was troubled. And when He saw the tomb, He began to shed tears as well. He did not pretend that He was Ok, or He did not appear as if nothing happened. He got affected by the overwhelming emotion and suffering, and He wept. We see today Jesus who is truly human and becomes one with our humanity with its all pains, sufferings, and grief. The revelation is that before Jesus does any miracle or sign, He first becomes part of our sorrow, our humanity. This very consoling.

We are living at a time where success and happiness are the determinants of a fulfilled life. No wonder, the books or seminars on ‘positive thinking’, ‘greatness’, ‘self-help’ or ‘success’ are mushrooming. Even we and some other churches follow suit and preach the ‘Gospel of Prosperity’. I guess there is nothing wrong with being successful and rich, all are a blessing of God. It becomes problematic when we tend to focus on the happy only emotions and suppress ‘negative’ emotions by reciting ‘positive thinking mantra’ or attending praise and worship. In the face of sufferings, failures, and loss of someone we love or we are crushed by burden of life, it is but natural to feel sorrow. Many psychologists would agree that suppression of this feeling will do more harm than good. In the animation film ‘Inside Out’, life of Riley, the main protagonist, turns to be a little mess when Sadness is pushed aside, and Joy is always at the helm. But, when Joy gives away to Sadness, things begin to fall in their places. God created Sadness also, and it is for a good purpose.

Certainly Jesus does not teach us to be melancholic, nor to dwell in our grief for eternity. He teaches us what it means to be fully and truly human, with all love, joy, sorrow, hope, fear, and anger. Our faith tells us that Jesus is not only fully divine, but also fully human, and this means that when we strive to know Jesus, not only we know more about God, but also about humanity. The more we love Jesus, the more we become truly human.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Featured

Kapernaum

Minggu ketiga di Masa Biasa. 22 Januari 2017 [Matius 4: 12-23]

“Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali (Mat 4:13).

capernaum

Yesus memulai karya-Nya saat Ia pindah ke kota lain di Galilea. Dari kampung halamannya Nazareth ke Kapernaum yang lebih besar dan lebih padat penduduk. Yesus pun melakukan urbanizasi! Nazaret adalah kecil dan sedikit penghuni, sementara Kapernaum adalah salah satu pusat industri perikanan di Danau Galilea. Di kota ini, orang-orang datang, berkumpul, dan berinteraksi satu sama lain. Jika Yesus memulai misi-Nya di Nazaret, mungkin, Ia akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengembangkan misi-Nya. Kapernaum memberi keuntungan penting bagi Yesus. Di kota ini, Yesus lebih mudah untuk mengumpulkan orang-orang, berkhotbah dan menarik pengikut. Sebagai kota pelabuhan, Kapernaum memberikan mobilitas kepada Yesus untuk pergi ke tempat-tempat lain di sekitar Galilea. Dan, Kapernaum juga menyediakan Yesus tempat tinggal dan sumber daya lain untuk karya-Nya. Alasan Yesus untuk bermigrasi adalah hal praktis namun sangat menentukan.

Ketika St. Dominikus memulai ordonya, salah satu hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim kelompok saudara-saudaranya yang kecil dan rapuh ke kota-kota universitas besar seperti Paris dan Bologna. Keputusannya dikritik sebagai tindakan yang ceroboh dan berbahaya. Tapi, dia berteguh karena ia percaya,  “Biji yang tersimpan akan membusuk!” Dominikus benar-benar mampu berpikir seperti Yesus. Di kota-kota besar inilah, para saudara tidak hanya mampu untuk belajar, tetapi juga untuk berkhotbah dan mengundang orang-orang untuk menjadi bagian dari komunitas. Dominikus pun memberi instruksi yang sangat jelas sebelum ia mengirim saudara-saudaranya: “untuk belajar, berkhotbah dan membangun komunitas.”

Masa kita ditandai dengan mega migrasi. Banyak orang pindah dari satu kota ke kota yang lain, dari satu negara ke negara yang lain, dan dari satu benua ke benua lain dengan kemudahan dan kecepatan. Dan seperti Yesus, kita bermigrasi untuk tujuan praktis dan manusiawi. Kita pergi ke berbagai tempat karena pekerjaan kita, keluarga kita, belajar atau untuk mencapai impian kita. hidup saya sebagai seorang seminaris dan Dominikan juga ditandai dengan gerakan yang konstan. Sejak usia empat belas tahun, saya meninggalkan kota saya Bandung untuk masuk seminari menengah di Magelang. Kemudian, dari Indonesia ke Manila di Filipina. Saat saya adik saya menikah beberapa pekan lalu, saya menyaksikan bahwa dia memutuskan untuk meninggalkan rumah dan pindah bersama istrinya.

Kembali ke Injil hari ini, Matius tidak hanya melihat migrasi Yesus sebagai solusi praktis untuk pelayanan-Nya, tetapi sebagai pemenuhan janji Allah: “orang-orang yang duduk dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ketika Yesus melakukan perjalanan dari satu tempat ke yang lain, Ia membawa cahaya dan mereka dapat melihat Allah yang telah datang. Setelah pindah, Yesus segera memberitakan Kabar Baik dan memanggil Andreas, Petrus, Yakobus dan Yohanes sebagai murid-murid-Nya. Yesus menggunakan hal-hal praktis dan temporal bukan untuk diri-Nya sendiri tetapi untuk misi. Dan Dia setia pada hal ini sampai akhir. Diapun akhirnya menggunakan salib, sebuah sarana praktis penyiksaan dan penghinaan, sebagai sarana untuk  menunjukan kasih dan keselamatan Allah.

Misi yang sama telah diberikan kepada kita. Ketika kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, kita membawa juga terang Kristus. Sebagai pasangan yang baru menikah, kita dipanggil untuk mencerahkan keluarga baru kita. Sebagai pekerja, kita bertugas untuk menolak apa yang jahat di tempat kerja. Sebagai orang yang hidup di bumi ini, kita akan bertanggung jawab terhadap ciptaan di tanah kita berdiri. Kita dipanggil untuk mengunakan sarana yang temporal untuk Tuhan bukan sekedar memuaskan diri kita sendiri.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

John and Our Longing for Truth

 Second Sunday of Advent. December 4, 2016. Matthew 3:1-12

In those days John the Baptist appeared, preaching in the desert of Judea and saying, ‘Repent, for the kingdom of heaven is at hand!”

john-the-baptist-2Why did many people come to John the Baptist and listen to him? I believe that the Jewish people hungered for the truth. It might be an inconvenient and hurtful truth, but they longed to hear it.   They were tired of listening to their leaders, like the Pharisees and the Sadducees, who were not honest but were living in hypocrisy. They were exhausted by numerous religious obligations but did not find any inspiration and a good example from their leaders. John came and preached to them the truth with simplicity and integrity, and the Israelites knew that they had to hear him.

Despite the various advancements in our lives, our society is experiencing also the same hunger for truth. We spend years in schools and we learn a different kind of knowledge and various skills needed to survive the demands of our society, but we fail to discover the truth in our midst. After the presidential election in the US, many experts lamented how social media, especially the internet, has opened the floodgate of lies, hoaxes, and fake, perverted news. In Indonesia, especially Jakarta, the situation is not much different. The election of Jakarta’s governor as well as the case of a Basuki Tjahaja Purnama, an out-going governor involved in blasphemy row, have thrown the nation into deeper fragmentations. In the Philippines, various issues from the war on drug that kills thousands, to former president Ferdinand Marcos’ burial, have divided the nation. Various groups have disseminated myriads of news and reports to support their cause and destroy other opposing groups. People have become more and more confused and distracted, not knowing what the truth is.

In this chaos of overloaded information, Hossein Derakhshan, a researcher from MIT, has predicted that our society will become deeply fragmented, driven by emotions, and radicalized by a lack of contact and challenge from the outside. In short, we will make our decisions based on feelings instead of truth. This will create even more confusion despite instant pleasures here and there. All these will lead eventually to despair and profound unhappiness. Yet, deep inside we long for the truth because we are created for truth and have an innate capacity to seek for the truth.

In the midst of this deluge of information, we are called to be John the Baptist, the preacher of truth. Yet, before we proclaim the truth and go against the tide of news, we have to be rooted in prayer and study. John was spending his time in the desert, and in this deserted place, he could train his mind and heart to discern the truth. Some days ago, I delivered a talk on the death penalty in the Bible. Some fundamentalist Bible interpreters can easily lift some verses and justify the capital punishment. This is an easy and instant answer, but it is simplistic. I need to spend hours in research and study just to understand the truth that in the Scriptures, God does not wish the death of sinners in the first place.

Advent becomes a proper time for us to follow the footsteps of St. John the Baptist. We are called to train ourselves to listen to the truth, and preach it with confidence.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Keselamatan: Rahmat dan Pilihan

Minggu dalam Pekan Biasa ke-21. Lukas 13: 22-30 [21 Agustus 2016]

 “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan? (Luk 13:23)”

narrow gateKeselamatan adalah sebuah rahmat dan juga pilihan. Keselamatan adalah cuma-cuma, tetapi bukan berarti murahan. Keselamatan adalah rahmat karena diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Namun, ini juga adalah pilihan karena kita perlu membuat semua upaya untuk menerimanya dan menghidupinya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus telah membuka pintu anugerah keselamatan bagi semua orang. Tapi, kita perlu berpartisipasi dalam karya keselamatan-Nya dengan menghidupi secara penuh karunia iman ini di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Ada sebuah kisah tentang seorang pastor mengunjungi pembuat sabun guna beli pasokan untuk parokinya. Tiba-tiba, pembuat sabun bertanya, “Apa baiknya agama? Lihatlah semua penderitaan dan kejahatan di dunia! Penderitaan tetap ada, bahkan setelah agama bertahun-tahun mengajar tentang kebaikan dan perdamaian. Kejahatan tetap ada, setelah semua doa dan khotbah. Jika agama yang baik dan benar, mengapa kita harus terus menderita?” Sang pastor diam saja. Kemudian dia melihat seorang anak bermain di selokan depan toko sabun, dan pastor berkata, “Lihatlah anak itu. Kamu mengatakan bahwa sabun membuat orang bersih, tetapi kamu melihat banyak kotoran pada anak itu. Apa baiknya sabun? Dengan semua sabun di dunia, anak itu masih kotor. Aku bertanya-tanya seberapa efektif sabun buatanmu sebenarnya?” Sang pembuat sabun pun protes, “Tapi, Pastor, sabun tidak berguna kecuali saat digunakan dengan benar.” Sang Pastor pun menjawab, “Tepat sekali!”

Untuk menjadikan rahmat keselamatan bagian hidup kita bukan pekerjaan mudah. Yesus sendiri bersabda, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Luk 13:24).” Hal ini sulit karena menuntut transformasi radikal dari hati kita, atau metanoia. Setiap kekuatan eksternal yang dipaksakan kepada kita, seperti aturan, hukum dan perintah, tidak akan bertahan lama. Karunia keselamatan tidak bisa dipaksakan dari luar, tetapi harus tumbuh dari dalam diri kita sehingga efeknya akan stabil dan permanen dalam diri kita.

Panggilan untuk menghidupi karya keselamatan ini sebenarnya adalah panggilan sejak dari nabi-nabi Perjanjian Lama. Para nabi mengingatkan Israel bahwa mereka memang telah dipilih oleh Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, diselamatkan dari Mesir dan tinggal di tanah terjanji. Namun, rahmat yang indah ini tidak akan bertahan kecuali mereka juga mereformasi hati mereka dan benar-benar menjadi umat Allah. Allah, melalui Nabi Yehezkiel, menuntut ini, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat (Yehezkiel 36:26).”

Ini adalah pilihan yang radikal untuk menghidupi keselamatan kita sehari-hari. Ya, kita bisa dibaptis sebagai Katolik atau Kristen, namun kita tidak pernah pergi ke Gereja. Kita beriman kepada Allah yang Esa, tapi kita juga membaca horoskop, konsultasi peramal dan menggunakan jimat pelindung. Kita bisa dengan mudah berteriak, “God is good all the time!” tapi kita memiliki banyak keluhan dalam hidup kita. Kita diperintahkan oleh Yesus sendiri untuk mengasihi musuh kita, namun kita tetap benci dan dendam, bahkan senang ketika musuh kita tertimpa kemalangan.

 Allah akan menghapus hati berbatu dan menempatkan hati alami, jika kita membuka hati kita. Kita diselamatkan jika kita menghidupi rahmat keselamatan. Kita akan masuk ke Kerajaan-Nya, jika bersama-sama dengan Yesus, kita memasuki pintu yang sesak setiap harinya.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Not Just Your Ordinary King

Solemnity of Christ the King. November 26, 2017 [Matthew 25:31-45]

“Amen, I say to you, what you did not do for one of these least ones, you did not do for me (Mat 25:45)”

visit prison

Today we are celebrating the solemnity of Christ the King of Universe. This feast also marks the end of the liturgical year and signals the fast-approaching Advent Session.

Living in the 21st century AD, many of us are no longer subject to a king or a powerful monarch. With very few exceptions, our present-day kings and queens, like the Japanese Emperor and Queen of England, are constitutional monarchs. Their powers are no longer absolute but based and governed by the Constitutions of the country. Some countries even vote to abolish altogether their monarchy, and the king just becomes a cultural symbol of the past. Perhaps, one of the best images of an almighty king may come from the TV-series Game of Thrones. A person sitting on the Iron Throne is a king with almost absolute power. Thousands of soldiers obey him and a myriad of citizens pay him homage. He is the law itself and he is not answerable to anyone. No wonder the TV-series revolves around the Iron Throne and how characters outsmart one another to claim the throne.

Matthew gives as an image of the glorious coming of Son of Man at the end of time. Jesus will sit on his throne and dispense His judgment upon us. Listening to this portion of the Gospel, we may imagine Jesus is like a king on the Iron Throne with His royal robe and golden crown, surrounded by blazing angels. Everyone will be terrified and kiss the ground begging for mercy. Yet, reading further the Gospel, this potent image is immediately counterbalanced by another image. Jesus introduces himself as someone who is imprisoned, a hungry and thirsty homeless guy. In short, he turns to be a man who all societies abhor.

In history, we may know some kings that fell into disgrace. King Louis XVI of France was an absolute monarch before he was executed by the guillotine. Pu Yi, the last emperor of China, used to be served by many servants even to brush his teeth, but he eventually ended up as a street sweeper in Beijing. However, Jesus is not this kind of disgraced kings, but rather He chooses to be one with the poor of the poorest. Doubtless, in heaven, He is almighty King of the universe, but on earth, He decides to walk with all of us, even with those that we detest. His Kingdom is not what we used to imagine. It is not a Kingdom of power, but of the poor, the weak, and the marginalized.

Now, are we willing to enter into this Kingdom of the destitute? Like the characters in the Game of Throne, we want to sit at our own version of the Iron Throne. Yet, this is not the Kingdom of Jesus. It is not enough just to give money to the beggars from time to time, but if we wish to serve our King, we need to serve these unfortunate brothers and sisters in more significant ways. It is the kingdom defined by justice and truth, rather than power and success. Last Sunday, Pope Francis established the first World Day of the Poor, and to end this reflection, may I quote his message, “We may think of the poor simply as the beneficiaries of our occasional volunteer work, or of impromptu acts of generosity that appease our conscience.  However good and useful such acts may be for making us sensitive to people’s needs and the injustices that are often their cause, they ought to lead to a true encounter with the poor and a sharing that becomes a way of life… If we truly wish to encounter Christ, we have to touch his body in the suffering bodies of the poor, as a response to the sacramental communion bestowed in the Eucharist.”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno , OP