Shake the Dust Off Your Feet

The fifteenth Sunday in Ordinary Time [July 15, 2018] Mark 6:7-13

Whatever place does not welcome you or listen to you, leave there and shake the dust off your feet in testimony against them. (Mk. 6:11)

feet and sandOur Gospel today speaks of the mission of the Twelve. They are sent to perform the threefold task: to exorcise the evil spirits, to heal the sick and to preach repentance. This threefold missionary duty reflects Jesus’ mission also in the Gospel according to Mark. To facilitate their preaching ministry, they need to travel light. No extra baggage, no extra burden. They need to travel two by two as a sign of communal and ecclesial dimension of the mission. They shall depend also their sustenance on the generosity of the people. And, when they face rejection, they shall shake the dust off their feet as a symbolic judgment against those who reject them. In ancient time, the Jews shake the dust off their feet when they reenter the Israel soil from the Gentile territories, as a sign of disowning and disapproval of the Gentiles nations.

I am presently having a clinical pastoral education in one of the hospitals in Metro Manila. The program trains me to become a good and compassionate chaplain. One of the basic tasks of a chaplain is to visit the patients, and during our visit, we are to listen to the patients and journey with them as a companion of the sick. To a certain extent, I feel that I am participating in the mission of the twelve Jesus’ disciples, especially in the ministry of healing the sick. However, unlike Jesus’ disciples, I am aware that I do not have the gift of miraculous healing. I often pray for and together with the patients, but so far there is no instantaneous healing, and patients continue to struggle with their sickness. However, the healing is not limited only to physical and biological aspects. It is holistic and includes the emotional and spiritual healing. Our doctors, nurse, and other hospital staffs have done their best to cure their patients’ illness, or at least to help them to bear their illness with dignity. I do believe that they are essentially and primarily Jesus’ co-workers in the ministry of healing. However, with so much load work they carry and limited time and energy, they have to focus on what they are trained for. The chaplains are there to fill in the gaps, to tie the loose ends, to attend to the emotional and spiritual needs.

In my several visits, I am grateful that many are welcoming my presence. However, at times, I feel also unwelcome. At this kind of moment, I am tempted to “shake the dust off my feet” as the testimony against them. After all, the disciples are instructed to do that. However, at the second thought, I try to understand why the patient is not so welcoming. Perhaps, they are in pain. Perhaps, they need rest. Perhaps, the medication affects their emotional disposition. Perhaps, they still have some serious issues that they need to deal with. With this awareness, I cannot simply judge them as “bad guy”. Trying to understand them and empathize with them, I also “shake the dust off my feet”, but this time, it is not the testimony against them, but it is to shake the “dust” of misunderstanding, rash judgment, and apathy. A chaplain is one who carries the mission of Christ to bring healing, and if I address rejection and difficulty with anger and hatred, then I just create more pain and illness.

Whether we are medical professionals or not, all of us are called to participate in this healing ministry of Jesus Christ. All of us are wounded and in pain with so many problems and issues we have in life. Thus, it is our call to bring healing to our family, to our friends, to our society, to our natural environment, and to our Church. This begins with our willingness to “shake the dust off our feet”, the dust of fear and wrong pre-judgment, the dust of rush emotional reactions in the face of challenging situations.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Debu di Kakimu

Minggu kelima belas pada Masa Biasa [15 Juli 2018] Markus 6:7-13

Dan kalau ada suatu tempat yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.”  (Markus 6:11)

feet of jesusInjil hari ini berbicara tentang misi dua belas rasul. Mereka dikirim untuk melakukan tiga tugas pokok: mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit dan memberitakan pertobatan. Misi ini mencerminkan misi Yesus dalam Injil Markus. Untuk memfasilitasi misi mereka, mereka perlu melakukan perjalanan dengan ringan. Mereka perlu melakukan perjalanan berdua-dua yang menandakan dimensi komunal dan eklesial misi Yesus. Mereka akan bergantung juga pada kemurahan hati orang-orang yang mereka layani. Ketika mereka menghadapi penolakan, mereka akan mengebaskan debu dari kaki mereka sebagai peringatan simbolis terhadap mereka yang menolaknya. Pada zaman itu, orang-orang Yahudi mengebaskan debu dari kaki mereka ketika mereka masuk kembali ke tanah Israel dari wilayah non-Yahudi, sebagai tanda penolakan dan ketidaksetujuan mereka terhadap bangsa-bangsa non-Yahudi.


Saat ini, saya sedang menjalani program pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Program ini melatih saya untuk menjadi seorang pekerja pastoral yang baik dan penuh kasih. Salah satu tugas pokok saya adalah mengunjungi pasien dan selama kunjungan saya akan mendengarkan pasien serta mendampingi mereka dalam masa pemulihan mereka di rumah sakit. Sampai taraf tertentu, saya merasa bahwa saya berpartisipasi dalam misi dua belas murid Yesus, khususnya dalam pelayanan penyembuhan orang sakit. Namun, tidak seperti para murid Yesus, saya sadar bahwa saya tidak memiliki karunia penyembuhan. Saya sering mendoakan pasien, tetapi sejauh ini tidak ada penyembuhan instan, dan pasien terus berjuang sembuh dengan penyakit mereka. Namun, penyembuhan tidak terbatas hanya pada aspek fisik dan biologis. Penyembuhan adalah menyeluruh mencakup penyembuhan emosional dan spiritual. Dokter, perawat, dan staf rumah sakit telah melakukan yang terbaik untuk menyembuhkan penyakit pasien atau setidaknya membantu mereka untuk menanggung penyakit mereka dengan bermartabat. Saya percaya bahwa mereka merupakan rekan kerja utama Yesus dalam pelayanan penyembuhan. Namun, dengan begitu banyaknya beban kerja yang mereka bawa dan waktu serta energi yang terbatas, mereka harus fokus pada penyembuhan fisik dan biologis. Para pekerja pastoral ada di sana untuk mengisi kekosongan yang tidak bisa dipenuhi oleh praktisi medis untuk memenuhi kebutuhan pemulihan secara emosional dan spiritual.


Dalam beberapa kunjungan saya, saya bersyukur bahwa banyak yang menyambut kehadiran saya. Namun, kadang-kadang, saya merasa keberadaan dan kunjungan saya tidak diinginkan. Pada saat seperti ini, saya tergoda untuk “mengebaskan debu dari kaki saya” sebagai peringatan bagi mereka. Seperti halnya, para murid diinstruksikan untuk melakukan itu. Namun, saya mencoba memahami mengapa pasien tidak begitu ramah. Mungkin, mereka merasa sakit. Mungkin, mereka butuh istirahat. Mungkin, obat mempengaruhi disposisi emosional mereka. Mungkin, mereka masih memiliki beberapa masalah serius yang harus mereka hadapi. Dengan kesadaran ini, saya tidak bisa hanya menilai mereka sebagai “orang jahat”. Mencoba untuk memahami mereka dan berempati dengan mereka, saya juga “mengebaskan debu dari kaki saya”, tetapi kali ini, itu bukan sebagai bentuk peringatan, tetapi mengebaskan “debu” kesalahpahaman, terburu-buru menghakimi dan apatis. Seorang pekerja pastoral adalah orang yang menjalankan misi Kristus untuk membawa kesembuhan, dan jika saya menanggapi penolakan dan kesulitan dengan kemarahan dan kebencian, maka saya hanya menciptakan lebih banyak rasa sakit dan perpecahan.


Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Lack of Faith

Fourteenth Sunday in Ordinary Time [July 8, 2018] Mark 6:1-6

He was amazed at their lack of faith.” (Mk. 6:6)

holy family carpentry shopWhen Jesus teaches in the synagogue in Nazareth, the listeners are amazed by his wisdom. Jesus speaks like a mighty prophet. However, the people soon make a background check on Jesus, and they realize Jesus’ identity and his family background.  Nazareth is a small rural town in Galilee, and everyone knows everyone in this kind of setting. The people of Nazareth know Jesus as a son of a carpenter, and himself a carpenter. They are familiar also with Jesus’ family and relatives.

It is just impossible for a carpenter, an artisan who spends most of his time doing manual labor to acquire such profound wisdom. The people of Nazareth also recognize that Jesus is a son of Mary and they know His relatives. It seems the people are aware that Jesus’ relatives are just ordinary and poor Jews. None of them seems to possess a notable personality. Jesus should stay where He belongs: an ordinary Jewish and a poor laborer. Thus, to become a charismatic preacher and an admirable rabbi is simply unthinkable. Jesus, recognizes the root cause: lack of faith.

We are living two millennia after Christ, but unfortunately, this debilitating mentality continues to exist and even thrive in our midst. It is a mentality that boxes people in their limitations and suppresses their potential to grow and improve. This is the mentality that fuels fundamentalism, racism, negative stereotypes, and other destructive ideologies that divide people. Once a loser, always a loser; once an Asian, always an Asian; once an addict, always an addict. Yet, this mentality does not only reside the big ideologies, but it also affects our personal lives: when we think we are always right, and others are always wrong; when we believe that we are holier than others; when we only trust ourselves; when we refuse to forgive others; when we cling to our pride.

Dealing with this crippling mentality, Jesus brings to the fore the reality that humans are beings with faith. With faith, that is the spiritual gift from God; we are empowered to go beyond our own cultural, mental, bodily limitations. In the Gospels, faith enable God’s power to do much more in persons’ lives, and the same faith inspires us to see God’s works in us. The paralytic is healed because of the faith of his friends who carry him to Jesus (Mark 2:1-6); the woman with hemorrhage is healed because of her faith (Mark 5:25-34); Jesus tells Jairus, the synagogue official to have faith and Jesus brings his daughter to life (Mark 5:35-43).

I am currently doing my pastoral work as a chaplain in one of the hospitals in Metro Manila. My duty is to visit the patients, to give blessing and minister the Holy Communion, but fundamentally, to be with them and listen to them. I cannot do much in term of physical cure, but I realize that sickness is not only physical. Healing includes psychological and spiritual aspects. I journey with the patients in their joy, sorrow, frustration, and hope. I accompany them as they try to resolve some issues like anger, broken relationship, and painful memories. As I walk with them, I also realize my weaknesses. Yet, despite this brokenness, people with faith have always found strength and courage to heal, to go beyond themselves and live a meaningful life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Minggu Keempat Belas pada Masa Biasa [8 Juli 2018] Markus 6: 1-6

“Dia kagum pada kurangnya iman mereka.” (Markus 6: 6)

jesus at nazarethKetika Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret, para pendengar kagum dengan kebijaksanaan-Nya. Yesus berbicara seperti seorang nabi yang perkasa. Namun, orang-orang segera melakukan pemeriksaan latar belakang pada Yesus, dan mereka menyadari identitas Yesus dan latar belakang keluarganya. Nazaret adalah desa kecil di Galilea, dan semua penduduk saling mengenal satu sama lain di lingkungan seperti ini. Orang-orang Nazaret mengenal Yesus sebagai putra seorang tukang kayu, dan dirinya sendiri adalah tukang kayu. Mereka juga akrab dengan keluarga dan kerabat Yesus.

Tidak mungkin bagi seorang tukang kayu, menghabiskan sebagian besar waktunya melakukan pekerjaan kasar untuk memperoleh kebijaksanaan yang demikian mendalam. Orang-orang Nazaret juga mengenal bahwa Yesus adalah putra Maria dan mengenal sanak keluarga-Nya. Tampaknya orang-orang sadar bahwa kerabat Yesus hanyalah orang Yahudi biasa dan miskin. Tak satu pun dari mereka tampaknya memiliki kepribadian yang menonjol. Yesus harus tinggal di tempatnya: seorang Yahudi biasa dan tukang kayu yang miskin. Jadi, bagi Yesus untuk menjadi pengkhotbah yang karismatik dan seorang rabi yang mengagumkan sungguh tidak layak dan tidak mungkin. Yesus, mengenali akar penyebabnya: ketidakpercayaan.

Kita hidup dua milenium setelah Kristus, tetapi sayangnya, mentalitas yang melemahkan ini terus ada dan bahkan berkembang di tengah-tengah kita. Ini adalah mentalitas yang mengurung orang-orang dalam keterbatasan mereka dan mengubur potensi mereka untuk tumbuh dan berkembang. Inilah mentalitas yang mendorong fundamentalisme, rasisme, stereotip-stereotip negatif, dan ideologi destruktif lainnya yang memecah belah umat manusia. Sekali pecundang, selalu pecundang; sekali orang Jawa, selalu orang Jawa; sekali pecandu, selalu seorang pecandu. Namun, mentalitas ini tidak hanya terletak pada ideologi besar, tetapi juga mempengaruhi kehidupan pribadi kita: ketika kita berpikir kita selalu benar, dan yang lain salah; ketika kita percaya bahwa kita lebih suci dari yang lain; ketika kita hanya mempercayai diri kita sendiri; ketika kita menolak untuk memaafkan orang lain; ketika kita berpegang teguh pada keangkuhan kita.

Menghadapi mentalitas yang melumpuhkan ini, Yesus menunjuk pada sebuah kebenaran bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan iman. Dengan iman, yang adalah karunia rohani dari Allah, kita diberdayakan untuk melampaui batasan-batasan budaya, mental, tubuh kita sendiri. Dalam Injil, iman memungkinkan kuasa Allah untuk melakukan lebih banyak lagi dalam kehidupan kita, dan iman yang sama mengilhami kita untuk melihat karya Allah di dalam kita. Orang lumpuh disembuhkan karena iman teman-temannya yang membawanya kepada Yesus (Markus 2:1-6); wanita dengan pendarahan disembuhkan karena imannya (Markus 5:25-34); Yesus memberi tahu Yairus, pejabat sinagoga untuk memiliki iman dan Yesus menghidupkan putrinya (Markus 5: 35-43).

Saat ini saya melakukan tugas pastoral di salah satu rumah sakit di Metro Manila. Tugas saya adalah mengunjungi para pasien, memberi berkat, doa dan Komuni Kudus, tetapi pada dasarnya, adalah untuk bersama mereka dan mendengarkan mereka. Saya tidak dapat melakukan banyak hal dalam hal penyembuhan fisik, tetapi saya menyadari bahwa penyakit tidak hanya bersifat fisik. Kesembuhan mencakup aspek psikologis dan spiritual. Saya melakukan perjalanan bersama para pasien dalam sukacita, kesedihan, frustrasi, dan harapan mereka. Saya menemani mereka saat mereka mencoba menyelesaikan beberapa masalah seperti kemarahan, hubungan yang rusak, dan masa lalu yang menyakitkan. Ketika saya berjalan bersama mereka, saya juga menyadari kelemahan saya. Namun, terlepas dari hal-hal buruk ini, orang-orang dengan iman selalu menemukan kekuatan dan keberanian untuk menyembuhkan, untuk melampaui diri mereka sendiri dan menjalani kehidupan yang bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Woman of Faith

Thirteenth Sunday in Ordinary Time [July 1, 2018] Mark 5:21-43

“Daughter, your faith has saved you. Go in peace and be cured of your affliction.” (Mk. 5:34)

woman with hemorrhage 2Today’s Gospel seems to be just another healing miracles of Jesus, but if we read it closely, the story of the healing of the woman with hemorrhage is extraordinary tale of faith. We are not sure what kind of hemorrhage she suffers, but the fact that she bears the sickness for 12 years, spends a lot for the medication, and does not get any better, means it is pretty serious, if not terminal. During this time, the physicians are extremely rare, and expectedly, the patients need to spend a lot of money. The woman may come from a wealthy family, but she is impoverished because her prolong sickness. The woman is losing her life and facing despair. I am currently assigned as an associate chaplain in one of the hospitals in Metro Manila, and my duty is to make pastoral visit to these patients. I encounter some patients who are suffering from certain health conditions that drain all their resources, and it seems the situation does not get any better. I realize the story of the woman with hemorrhage is not only her story happened in the far past, but it is also our stories here and now.

 We must not forget that our protagonist is also a woman. Being a woman in the time of Jesus means being a second-class citizen in a patriarchal society and often, they are considered as mere properties of the husbands or the fathers. Generally, while the men work outside and socialize, women are expected to stay at home, and function as the housekeepers and babysitters. Normally, they are not allowed to communicate with the outsiders, especially men, except under the supervision of their husbands or fathers. Our protagonist is also having chronic hemorrhage, and this means she is ritually unclean, and those who are in contact with her shall be made unclean as well (Lv. 15:19).

The woman with hemorrhage has faith in Jesus and wants to be healed, yet to do that, she has to challenge the cultural norms that bind her. She traverses into greater danger. What if she is not healed? What if she makes Jesus and His disciples unclean? What if she will be branded as a shameless woman by the society? Shame restrains her, but faith propels her. Thus, she takes a ‘win-win’ approach. She tries to reach Jesus’ cloth, and she makes sure that she will not establish any contact with Jesus. Miracle happens, and she is healed. Yet, unfortunately, Jesus finds her. In tremble and fear, she fells down before Jesus and confesses. She is afraid not only because she “snatches” the power from Jesus, but because she has broken the standing cultural norms and the Law of Moses. However, Jesus’ response surprises his disciples and all who witness the event. Instead of castigating her for culturally improper behavior, Jesus praises her faith, “Daughter your faith has saved you.”

Indeed it is her faith that makes her a proactive protagonist of this particular story. She refuses to succumb to despair and makes her way all the way to Jesus. We notice most of the actions in this story is performed by the woman, and Jesus is there to affirm her. Rightly, Jesus calls her “daughter” acknowledging her also as the descendants of Abraham, the father of great faith. The story of a woman of hemorrhage is a journey of a woman of faith. It is a faith that grows even in the midst of hopeless situations of sickness, financial crisis, and uncertain future. It is a faith that thrives in the middle of human limitations, and transcend cultural boundaries. It is a faith that moves a mountain.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Iman Sang Perempuan

Minggu Ketiga Belas pada Masa Biasa [1 Juli 2018] Markus 5: 21-43

“Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu.” (Mrk 5:34)

woman with hemorrhageInjil hari ini tampaknya tidak berbeda dengan kisah-kisah mukjizat penyembuhan Yesus, tetapi jika kita membaca dengan seksama, kisah penyembuhan perempuan dengan pendarahan ini sebenarnya luar biasa. Kita tidak tahu dengan pasti pendarahan apa yang dideritanya, tetapi fakta bahwa ia menderita kondisi ini selama 12 tahun, menghabiskan banyak untuk pengobatan dan kondisinya semakin memburuk, ini berarti sangat serius. Pada zaman itu, tabib sangat jarang, dan berobat perlu mengeluarkan banyak uang. Perempuan ini mungkin berasal dari keluarga kaya, tetapi dia jatuh miskin karena kondisinya tersebut. Perempuan ini mulai kehilangan hidupnya dan menghadapi keputusasaan. Saya saat ini ditugaskan sebagai asisten imam di salah satu rumah sakit di Metro Manila, dan tugas saya adalah melakukan kunjungan pastoral ke pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit tersebut. Tidak jarang saya menjumpai pasien yang menderita kondisi kesehatan yang menguras semua sumber daya mereka, dan tampaknya situasi mereka tidak menjadi lebih baik. Saya menyadari kisah perempuan dengan pendarahan ini bukan hanya kisahnya yang terjadi di masa lalu, tetapi juga kisah umat manusia di zaman ini.

 Kita tidak boleh lupa bahwa protagonis kita juga seorang perempuan. Menjadi seorang perempuan di zaman Yesus berarti menjadi warga kelas dua dalam masyarakat patriarkal Yahudi dan sering kali, mereka dianggap hanya sebagai barang milik suami atau kepala keluarga. Sementara pria bekerja di luar dan bersosialisasi, kaum perempuan tinggal di rumah, dan berfungsi sebagai pengurus rumah tangga dan pengasuh anak. Biasanya, mereka tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan orang asing apalagi laki-laki, kecuali di bawah pengawasan suami atau ayah mereka. Ini bukan waktu yang mudah bagi perempuan untuk hidup. Sang perempuan juga mengalami pendarahan, ini berarti dia menjadi najis di Hukum Taurat, dan siapa pun yang menyentuh dia akan menjadi najis juga (Im 15:19).

Perempuan dengan pendarahan memiliki iman pada Yesus dan ingin disembuhkan, namun untuk melakukan itu, dia harus menantang norma-norma budaya yang mengikatnya. Dia mengambil resiko yang besar. Bagaimana jika dia tidak disembuhkan? Bagaimana jika ia membuat Yesus dan murid-murid-Nya menjadi najis? Bagaimana jika dia dicap sebagai perempuan yang tak tahu malu oleh masyarakat? Rasa malu menahannya, tetapi iman mendorongnya. Ia pun mengambil langkah “win-win solution“. Dia mencoba untuk mencapai jubah Yesus, dan dia memastikan bahwa dia tidak akan membuat kontak dengan Yesus. Mukjizat terjadi. Dia disembuhkan, tetapi sayangnya, Yesus menemukannya. Dengan gemetar dan ketakutan, dia jatuh di hadapan Yesus dan mengaku. Dia takut bukan hanya karena dia “mengambil” kekuatan dari Yesus, tetapi karena dia telah melanggar norma-norma budaya Yahudi. Namun, tanggapan Yesus mengejutkan murid-muridnya dan semua yang menyaksikan peristiwa itu. Alih-alih menghukumnya karena perilaku yang tidak pantas, Yesus memuji imannya, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkanmu.”

Ini adalah imannya yang membuatnya menjadi protagonis yang proaktif dari cerita mukjizat ini. Dia menolak untuk menyerah pada keputusasaan dan membuat jalannya menuju ke Yesus. Kita melihat sebagian besar tindakan dalam cerita ini dilakukan oleh sang perempuan, dan Yesus ada di sana untuk meneguhkannya. Benar, Yesus menyebut dia “anak” karena Yesus mengakui dia juga sebagai keturunan Abraham, bapa iman yang besar. Kisah perempuan dengan pendarahan adalah perjalanan iman seorang perempuan yang terkurung dalam berbagai kondisi yang melemahkannya. Itu adalah iman yang tumbuh bahkan di tengah-tengah situasi tanpa harapan dari penyakit, krisis keuangan, dan masa depan yang tidak pasti. Ini adalah iman yang tumbuh di tengah keterbatasan manusia, dan melampaui batas-batas budaya. Itu adalah iman yang menggerakkan gunung. Ini adalah imam sang perempuan, dan ini adalah iman yang juga kita miliki.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


A Child as a Gift

Solemnity of the Nativity of John the Baptist [June 24, 2018] Luke 1:57-66, 80

“The Lord had shown his great mercy toward her, and they rejoiced with her.” (Lk. 1:58)

child in churchToday we are celebrating the birth of John the Baptist. Two figures emerge as the protagonists of our today’s Gospel, Elizabeth, and Zachariah. Luke describes the couple as “righteous in the eyes of God, observing all the commandments and ordinances of the Lord blamelessly. (Luk 1:6)”. But, they have no child. The possibility to have a child is close to zero as Elizabeth is perceived to be barren and Zachariah is already old. In ancient Jewish society, children are considered to be a blessing of the Lord and a source of honor, and barrenness is a curse and shame.

However, the archangel Gabriel appears to Zachariah and tells him that his wife will get pregnant despite her barrenness and his advanced age. Paying close attention to their names, we may discover even richer meaning. Zachariah, from the Hebrew word “Zakar” means to remember, and Elizabeth, a compound Hebrew words, “Eli,” and “Sabath” means God’s oath or promise. Thus, both names may mean God remembers His promise. In the Bible, when God remembers, it does simply mean God recalls something from memory, but it means God fulfills what He has promised. As God has fulfilled His promise to Zachariah’s ancestors, so God also remembers His promise to Elizabeth. The story of Elizabeth reverberate the stories of great women in the Old Testament: Sarah (Gen 15:3; 16:1), Rebekah (Gen 25:21), Rachel (Gen 29:31; 30:1), the mother of Samson and wife of Manoah (Jdg 13:2-3), and Hannah (1Sa 1:2).

What is God’s promise to Elizabeth and Zachariah, and eventually to all of us? St. Luke the evangelist points to us that God’s promise is to show His great mercy to Elisabeth and Zachariah (see Luk 1:58). The birth of John the Baptist is a sign of God’s mercy towards the righteous couple. Thus, the birth of every child is a sign of God’s promise fulfilled, a sign of God’s mercy to every parent. We recall that mercy is not something we deserve. Mercy is the embodiment of gratuitous love, the gift of love. Mercy is an utter gift. Through every child, God shows His great mercy to us, and together with Elizabeth and Zachariah, we shall rejoice because of this gift.

We are living in the world that is increasingly uncomfortable with the presence of the little children around us. There is this new fundamentalist mentality creeping into millennial generation. It is a mentality that promotes individual success as the prime and absolute value of happiness. Thus, anything that stands in its way has to be eradicated. This includes marriage, family life and finally children. They are no longer seen as a gift to be received with gratitude, but liabilities to be avoided. When I visited South Korea last year, my Dominican Korean friend told me that young generation of Korea is working very hard to the point that they longer consider marriage and having children as their priorities. Indeed, unlike in the Philippines or Indonesia, it was not easy to spot little children playing freely. I guess the decline in population growth is a problem in many progressive countries.

We deny neither the fact that it is a backbreaking responsibility to raise children nor the reality that not all of us are called to become parents. However, it is also true that children are a gift not only to the particular family, but to the entire humanity, and thus, every one of us has the sacred call to protect and take care of the wellbeing of our children. We shall protect our children from any form of child abuse, from the debilitating effects of poverty, from the egocentric and contraceptive mentality and from evil of abortion. To honor a gift is to honor the giver, and thus, to honor every child is to honor the God who gives them to us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Anak Sebagai Tanda Belas Kasih Allah

Hari Raya Kelahiran Yohanes Pembaptis [24 Juni 2018] Lukas 1:57-66.80

“Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.” (Lk. 1:58)

child in church 2Hari ini kita merayakan kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada dua tokoh protagonis pada Injil kita hari ini, Elizabeth, dan Zakharia. Santo Lukas mendeskripsikan pasangan itu sebagai “orang benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat.” (Luk 1: 6) ”. Tapi, mereka tidak memiliki anak. Kemungkinan memiliki anak juga mendekati nol karena Elizabeth adalah mandul dan Zakharia sudah tua. Dalam masyarakat Yahudi kuno, anak dianggap sebagai berkat Tuhan dan sumber kehormatan, dan kemandulan adalah kutukan dan rasa malu.

Namun, malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Zakharia dan mengatakan kepadanya bahwa istrinya akan hamil meskipun usia mereka yang lanjut. Melihat lebih dekat makna dari nama pasangan ini, kitapun bisa berefleksi lebih dalam. Zakharia dalam bahasa Ibrani berarti “mengingat”, dan Elisabet berasal dari dua kata Ibrani, “Eli” dan “Sabath” berarti janji Tuhan. Dengan demikian, kedua nama itu bisa berarti Tuhan mengingat janji-Nya. Dalam Kitab Suci, ketika Tuhan mengingat, ini bukan sekedar berarti Tuhan mengingat kembali sesuatu dari memori, tetapi ini berarti Tuhan memenuhi apa yang pernah dijanjikan-Nya. Karena Allah telah memenuhi janji-Nya kepada leluhur Zakharia, maka Allah juga mengingat janji-Nya kepada Elisabet. Kisah Elizabeth menggemakan kisah-kisah para wanita hebat dalam Perjanjian Lama: Sarah (Kej 15: 3; 16: 1), Ribka (Kej 25:21), Rahel (Kej 29:31; 30: 1), ibu dari Simson dan istri Manoah (Hak 13: 2-3), dan Hana (1 Sam 1: 2).

Apa janji Tuhan kepada Elizabeth dan Zakharia, dan juga bagi kita semua? St. Lukas menunjukkan kepada kita bahwa janji Allah adalah Dia akan menunjukkan rahmat dan belas kasihan-Nya kepada Elisabeth dan Zakharia (lihat Luk 1:58). Kelahiran Yohanes Pembaptis menjadi tanda rahmat dan belas kasihan Allah terhadap pasangan yang saleh ini. Dengan demikian, kelahiran setiap anak adalah tanda bahwa janji Allah digenapi, tanda belas kasihan Allah kepada setiap orang tua. Kita ingat bahwa rahmat belas kasihan bukanlah sesuatu yang pantas kita terima. Belas kasih adalah berkat dan anugerah. Melalui setiap anak, Tuhan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada kita, dan bersama-sama dengan Elizabeth dan Zakharia, kita juga akan bersukacita.

Namun, hal ini tidak mudah. Kita hidup di dunia yang semakin merasa tidak nyaman dengan kehadiran anak-anak kecil di sekitar kita. Ada mentalitas jahat yang merayap ke generasi zaman now. Ini adalah mentalitas yang mempromosikan kesuksesan individu sebagai nilai kebahagiaan yang utama. Jadi, apa pun yang menghalangi kesuksesan harus diberantas. Ini termasuk pernikahan, kehidupan berkeluarga dan akhirnya anak-anak. Mereka tidak lagi dilihat sebagai anugerah yang diterima dengan rasa syukur, tetapi beban yang harus dihindari. Ketika saya mengunjungi Korea Selatan tahun lalu, sahabat saya dari negeri tersebut mengatakan bahwa generasi muda Korea bekerja sangat keras sampai mereka tidak lagi membuat pernikahan dan memiliki anak sebagai prioritas mereka. Memang, tidak seperti di Filipina atau Indonesia, tidak mudah menemukan anak-anak kecil bermain dengan bebas di Seoul. Saya kira penurunan pertumbuhan penduduk adalah masalah di banyak negara yang maju.

Kita tidak menyangkal fakta bahwa untuk membesarkan anak-anak adalah tanggung jawab yang melelahkan, dan kita juga tidak menyangkal kenyataan bahwa tidak semua dipanggil untuk menjadi orang tua. Namun, adalah sebuah kebenaran bahwa anak-anak adalah anugerah tidak hanya bagi keluarga tertentu, tetapi untuk seluruh umat manusia, dan dengan demikian, kita semua memiliki panggilan suci untuk melindungi dan menjaga kesejahteraan anak-anak kita. Kita akan melindungi anak-anak kita dari segala bentuk pelecehan, dari efek melemahkan kemiskinan, dan dari mentalitas egosentris dan kontrasepsi. Menghargai sebuah pemberian berarti menghormati sang pemberi, dan dengan demikian, menghormati setiap anak berarti menghormati Tuhan yang memberi mereka kepada kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


The Death of Priesthood

(a reflection of a religious brother for three Filipino priests who recently martyred)

June 17, 2018

paez ventura niloThe Catholic Church in the Philippines is once again in profound grief after one of her priests was mercilessly murdered. Fr. Richmond Nilo, from the diocese of Cabanatuan was shot several times just before he celebrated the mass at a chapel in Zaragoza, Nueva Ecija. His body was laying on the floor at the foot of the image of Blessed Virgin, soaked with blood. Another disturbing and painful image. He becomes the third priest losing his life in a bloody attack in the past six months. On December 4, 2017, Fr. Marcelito Paez was ambushed in Jean, Nueva Ecija. Just a few weeks ago on April 29, Fr. Mark Ventura was also gunned down moment after celebrating the mass. We may also include Fr. Rey Urmeneta who was attacked by a hit man in Calamba, Laguna. He sustained a bullet in his body, yet he survived death.

Several weeks ago I wrote an emotional reflection on the death of Fr. Ventura (see “A Death of Priest) and I would never hope that I would write another one. Yet, just sometime after the priest was buried without justice being served, Fr. Nilo lost his life in the line of duty. Surely, this is not the first time a priest is killed in the Philippines. The history has witnessed the killing of both Filipino and foreign priests in this land, but to lose three lives in just six months is truly alarming. I was asking myself, “Are we now living in the perilous time for priests? Is to become a priest a dangerous vocation? What’s the point of becoming a priest if it brings nothing but persecution and death?” We have left everything for Christ, our family, our future. Should we give up our lives in this heinous manner as well?

These questions are valid, yet these questions also, I realize, spring from fear. Many priests and even seminarians, myself included, have lived in the comfort of our seminaries, parishes or convents. Provided with readily available basic necessities, with individual rooms, with good-quality education, with other facilities and even amenities, we are actually living as middle-class bachelors. These privileges are meant to make us better and well-formed priests for the service of the people, but getting used to these facilities, we often lose sight of their primary purpose. Our priesthood is called as the ministerial priesthood because the ordained priests are to serve the people of God, but sometimes, the priests end up being served by the people of God. At times, the virus of clericalism and careerism infect our minds. Ordinations and positions in the Church are seen as promotions, career, or prestige. A better position means better perks! If the priesthood is just another way to make us rich, we have lost the priesthood even before we die! The death of a priest is terrible sorrow, but the death of priesthood in our hearts is tragedy!

Bishop Pablo David, DD of Caloocan, Metro Manila, reminds seminarians who are aspiring to become priests, that if the deaths of the priests gave them discouragement, rather than inspiration, it is better for them to forget the priesthood and leave the seminary as soon as they can. Bishop David notes that they are not helpless victims, but rather martyrs that bravely choose to face the dangerous consequence of preaching the Gospel and working for justice.

Since the beginning of Christianity, to become Christians and especially priests are dangerous vocations because we follow Christ in His way of the Cross. Yet, the martyrdom of the three priests turns out to be a shock therapy that wakes us up from our comfortable slumber. It is a call for many of us, seminarians, religious, and priests to ask what the purpose of our priesthood is. Have we died every day to ourselves? Are we ready to give up our lives to God and His people? Are we ready to follow Christ till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Kematian Tiga Imam

(refleksi seorang frater atas kematian tiga romo di Filipina)

17 Juni 2018


paez ventura niloGereja Katolik di Filipina sekali lagi berduka setelah salah satu imamnya dibunuh. Rm. Richmond Nilo, dari keuskupan Cabanatuan ditembak beberapa kali sebelum dia merayakan misa di sebuah kapel di Zaragoza, Nueva Ecija. Tubuhnya terbaring di lantai di kaki patung Santa Perawan, bersimbah darah. Sebuah peristiwa yang sungguh menyakitkan. Dia menjadi imam ketiga yang kehilangan nyawanya dalam serangan berdarah dalam enam bulan terakhir di Filipina. Pada 4 Desember 2017, Rm. Marcelito Paez ditembak saat dia sedang mengadakan perjalanan di Jean, Nueva Ecija. Baru beberapa Minggu yang lalu pada 29 April, Rm. Mark Ventura juga ditembak mati setelah merayakan misa. Juga bisa kita mungkin doakan juga Rm. Rey Urmeneta yang diserang oleh pembunuh bayaran di Calamba, Laguna. Dia terkena peluru, dan harus dirawat intensif, namun dia selamat dari kematian.

Beberapa Minggu yang lalu saya menulis sebuah refleksi emosional tentang kematian Rm. Ventura (lihat “Kematian Seorang Imam) dan saya tidak akan pernah berharap bahwa saya akan menulis lagi tentang ini. Namun, hanya beberapa saat setelah sang imam dimakamkan tanpa keadilan, Rm. Nilo kehilangan nyawanya saat menjalankan tugas sucinya. Tentunya, ini bukan pertama kalinya seorang imam dibunuh di Filipina. Sejarah telah menyaksikan pembunuhan imam di negeri ini, tetapi kehilangan tiga nyawa hanya dalam kurun waktu enam bulan benar-benar mengkhawatirkan. Beberapa pertanyaan tersirat dalam benak saya, “Apakah kita (secara khusus umat di Filipina) sekarang hidup dalam waktu yang berbahaya bagi para imam? Apakah menjadi imam adalah panggilan yang berbahaya? Apa gunanya menjadi seorang imam jika hal ini tidak membawa apa pun kecuali penganiayaan dan kematian?” Kita telah meninggalkan segalanya bagi Kristus, keluarga kita, masa depan kita. Haruskah kita menyerahkan hidup kita dengan cara yang keji ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, tetapi saya sadari bahwa pertanyaan-pertanyaan ini juga muncul dari rasa takut. Banyak imam dan bahkan seminaris, termasuk saya, telah hidup dalam kenyamanan seminari, paroki, atau biara kita. Dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar, dengan kamar individu yang nyaman, dengan pendidikan berkualitas, dengan fasilitas lainnya, kita sebenarnya hidup sebagai bujangan kelas menengah atas. Hak-hak istimewa ini tentunya dimaksudkan untuk membuat kita menjadi imam yang lebih baik dalam pelayanan, tetapi terbiasa dan dimanjakan dengan fasilitas-fasilitas ini, kita sering kehilangan tujuan utama dari imamat suci. Imamat adalah sakramen yang ditujukan untuk pelayanan karena itu, imam ditahbiskan untuk melayani umat Allah secara khusus kebutuhan rohani mereka. Namun, alih-alih melayani, para imam akhirnya yang dilayani oleh umat Allah. Kadang-kadang, virus klerikalisme dan karierisme menginfeksi pikiran kita. Pentahbisan dan posisi di Gereja dilihat sebagai promosi, karier, atau prestise. Posisi yang lebih baik berarti tunjangan yang lebih baik! Jika imamat hanyalah sebuah cara untuk membuat kita kaya, kita telah kehilangan imamat bahkan sebelum kita mati! Kematian seorang imam adalah sebuah duka, tetapi kehilangan imamat adalah sebuah tragedi.

Uskup Pablo David, DD dari Caloocan, Metro Manila, mengingatkan para seminaris yang bercita-cita menjadi imam, bahwa jika kematian para imam ini memberi mereka keputusasaan, bukan inspirasi, lebih baik bagi mereka untuk melupakan imamat dan meninggalkan seminari sesegera mungkin. Uskup David menyatakan bahwa tiga imam ini bukanlah korban yang tidak berdaya, tetapi para martir yang dengan berani memilih untuk menghadapi konsekuensi berbahaya dari memberitakan Injil dan bekerja untuk keadilan.

Sejak permulaan agama Kristiani, menjadi seorang Kristiani dan terutama imam adalah panggilan yang berbahaya karena kita mengikuti Kristus di jalan salib-Nya. Namun, kematian ketiga imam ini ternyata merupakan terapi kejut yang membangunkan kita dari tidur yang nyaman. Ini adalah seruan bagi banyak dari kita, para seminaris, religius, dan imam untuk melihat kembali apa tujuan dari imamat kita. Apakah kita mati setiap hari pada diri kita sendiri? Apakah kita siap menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dan umat-Nya? Apakah kita siap mengikuti Kristus sampai akhir?


Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Jesus and His Family

10th Sunday in Ordinary Time [June 10, 2018] Mark 3:20-35

“For whoever does the will of God is my brother and sister and mother (Mrk 3:35).”

photo by Harry Setianto, SJ

In ancient Israel as well as in many Asian and African cultures, family and kinship are core to one’s identity. The family is practically everything. A person is born, growing, getting old and dying within a family and clan. In traditional Filipino and Indonesian settings, a house is meant for an extended and expanded family. Several generations are living in one house. When I ask some of my Filipino friends, “If your house is burning, what are the first things you will save?” Their answer is not money, important documents or jewelry, but family pictures! In 1977, the Tanzanian President Julius Nyerere, one of the most prominent African figures during that time, visited the US and talked before the African students who studied there. Before them, he criticized those Africans who received much support from their families and clan, yet refused to go back after their studies. It was an act of cowardice and betrayal to Africa.


However, closely reading today’s Gospel from Mark, a good family-oriented and devoted Catholic will be startled. Naturally, we would expect Jesus to welcome Mary, his mother, and his relatives who come and look for Him. Surprisingly, Jesus does not do what is expected, but rather He takes that occasion to show His new family, “looking around at those seated in the circle he said, ‘Here are my mother and my brothers. For whoever does the will of God is my brother and sister and mother.’” (Mk. 3:34-35) Jesus’ words seem to be harsh since Jesus appears to exclude Mary and Jesus’ relatives from the composition of His new family. Does it mean Jesus disrespect Mary, His parent? Does it mean that for Jesus, the biological and traditional family have no value?

The answer is plain no. Certainly, Jesus respects and loves His mother as He fulfills the fourth commandment of the Law, “Thou shall honor thy parents.” Jesus also upholds and teaches the sanctity of both marriage and family life (see Mat 5:31-32; Mat 19:19). The early Christians also follow Jesus’ teaching on the integrity of marriage and family life, as reflected in various letters of St. Paul and other apostles (see 1 Cor 7:1-17; Eph 6:1-5). We are sure that for Jesus, marriage and family are good, but the point of our Gospel is Jesus is calling all of us to go beyond this natural relationship. The new family of Jesus is not based on blood but rooted in following Jesus and doing the will of God. This is also the call that Jesus addresses to Mary and His relatives. Surely, Mary becomes the model of faith as she obeys the will of God in the Annunciation (Lk 2:26-38), follows Jesus even to the cross (Jn 19:25-26) and stays and prays together with the early Church (Acts 1:14). St. Augustine says about Mary in his homily, “It means more for her, an altogether greater blessing, to have been Christ’s disciple than to have been Christ’s mother.”

The family as a natural institution is good, but Jesus teaches that we need to be the good disciples of Jesus first before we become a good family member. Otherwise, the family will be exposed to evil and destruction. Corruption, nepotism, and cronyism are evil practices rooted in the natural family. Another extreme is when brothers fight, even kill, each other over inheritance as if they are not coming from the same womb. It is the will of God that we are faithful to one another, that we do justice, that we are merciful especially to the weak and poor. Without Christian values, the family will not become the source of goodness. Echoing the words of St. Augustine, it is a blessing to be part of a family, but it is an altogether a greater blessing to become Christ’s disciple.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Yesus dan Keluarga-Nya

Minggu ke-10 dalam Masa Biasa [10 Juni 2018] Markus 3: 20-35

“Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’ (Mrk 3:35).”

aku indonesia
picture by Harry Setiawan SJ

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang.


Ketika saya bertanya kepada beberapa teman Filipina saya, “Jika rumah kamu terbakar, apa hal pertama yang akan kamu selamatkan?” Jawaban mereka bukanlah uang, dokumen penting atau perhiasan, tetapi foto keluarga! Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus menyambut dengan baik Maria, ibu-Nya, dan saudara-saudaranya yang datang dan mencari Dia. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya, “Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata, ‘Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku’”(Mrk 3:34-35) Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dan saudara-saudara-Nya dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah orang tua-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria dan sanak saudara-Nya. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Korupsi, nepotisme, dan kronisme adalah praktik jahat yang berakar dalam keluarga. Sisi ekstrim lainnya adalah ketika saudara saling bertikai, bahkan membunuh, karena rebutan warisan seolah-olah mereka tidak berasal dari rahim yang sama. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Solemnity of the Body and Blood of Jesus Christ [June 3, 2018] Mark 14:12-16, 22-26

“Take it; this is my body” (Mk 14:22)

last supper africaWe often take for granted that we are created as a bodily creature. Our body is integral to our humanity and created by God as something good; we receive our body as a gift. We freely receive our body from our parents, and our parents from their parents and this goes on till we discover God as the source of this gift. Because our body is a gift from God, we are called to honor our body as we honor the Giver of the gift Himself.

Since the earliest time, the Church has fought against various false teachings that undermine the integrity and sanctity of the body. Early Christians stoutly defended the goodness of the body against the Gnostic sects that condemned the body as evil, a prison to our soul, and a curse to our existence. The Order of Preachers where I belong was founded for the salvation of souls. Some of my friends complain why we only save the soul and disregard other aspects of our humanity. I remind them that the Order was originally established to counter the Albigensian sect, and one of its basic teachings is that the body is evil, that suicide is a great means to achieve final liberation. To preach and fight for the goodness and integrity of our body is essential to the Dominican preaching, as it is to the Church’s preaching.

Unfortunately, the gnostic teaching grows and takes modern forms. Sanctity of our body is ever compromised as our body is trivialized and even commoditized. Human trafficking is one of the greatest abuses of our body. Young women, mostly from a poor background, are lured into prostitution and turned to be sex objects. Young children are forced to work in inhuman conditions in many countries. Organ harvesting has become most luxurious business involving the countless amount of money. There is a price for every organ we have. In fact, there is a nasty story in the social media of a teenager who sells his kidney to buy the latest model of iPhone. For some people, another additional ‘bodies’ in the wombs are just liabilities and hindrance to self-progress and career development, and thus, it is better to abort these ‘bodies’ before they grow and become bigger problems.

In celebrating the solemnity of the body and blood of Jesus Christ, we are invited through our Gospel reading, to go back to Jesus’ Last Supper. There, Jesus freely offers His body as a gift to His disciples, “Take it, this My body.”  He then asks these disciples to share His body they have received to the future generations of disciples. Jesus receives His body as a gift, and now, in His Supper, He passes this gift so that we may have a life. This is the foundation of the Eucharist, as well as the core of the Christian sexuality.

Husband and wife join together in marriage, and they are no longer “two but one body.” As both spouses face the altar of God, they recognize that their bodies are gifts from God, and by lovingly offering to their spouse, they honor God who created them. We oppose any pre-marital and extra-marital sex because unless our body is given freely and totally in lifetime marriage commitment, we are always exposed to objectify our body. A husband’s or wife’s body is not simply the “property” or object to satisfy sexual, psychological needs, but it is a gift from God that even leads us to a deeper appreciation of our own body. In marriage, husband and wife give their body as a gift to each other in love and honor, so that they may have life more abundantly and in fact, they may welcome a new body, a new life, a new gift, into their marriage.

Married life is one among several ways we may accept and offer our body as a gift. Even a celibate life dedicated to service of others is another way to offer our body as a gift. Like Jesus in the Last Supper, it is only by receiving our body as a gift and freely sharing it as a gift that we may have meaningful lives.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus [3 Juni 2018] Markus 14: 12-16, 22-26

“Ambil; inilah tubuhku ”(Markus 14:22)

african-last-supper-lukandwa-dominicTubuh kita adalah bagian integral dari kemanusiaan kita dan diciptakan oleh Tuhan sebagai sesuatu yang baik. Tubuh kita adalah sebuah karunia. Dengan cuma-cuma, kita menerima tubuh kita dari orang tua kita, dan orang tua kita dari orang tua mereka dan ini berlangsung terus sampai kita menemukan Tuhan sebagai sumber dari karunia ini. Karena tubuh kita adalah karunia dari Tuhan, kita dipanggil untuk menghormati tubuh kita sebagaimana kita menghormati Sang pemberi karunia.

Sejak awal mulanya, Gereja telah berjuang melawan berbagai ajaran sesat yang merongrong integritas dan kesucian tubuh. Gereja dengan gigih membela kebaikan tubuh melawan sekte Gnostik yang mengajarkan tubuh sebagai jahat, penjara bagi jiwa kita, dan kutukan bagi eksistensi kita. Saya adalah anggota Order of Pewarta (atau Dominikan), dan Ordo ini didirikan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Beberapa teman saya mengomentari mengapa kami hanya menyelamatkan jiwa dan mengabaikan aspek lain dari kemanusiaan kita. Saya mengingatkan mereka bahwa Ordo ini awalnya didirikan untuk memerangi sekte Albigensian, dan salah satu ajaran dasar mereka adalah bahwa tubuh adalah jahat, bahwa bunuh diri adalah sarana yang baik untuk mencapai pembebasan akhir. Untuk mewartakan dan berjuang bagi kebaikan dan integritas tubuh kita adalah mendasar bagi pewartaan Dominikan, seperti juga untuk pewartaan Gereja.

Sayangnya, ajaran gnostik tetap bertumbuh dan mengambil bentuk-bentuk baru di dunia modern. Kesucian tubuh kita terus diremehkan dan bahkan menjadi sebuah komoditas. Perdagangan manusia adalah salah satu pelanggaran terbesar terhadap tubuh kita. Perempuan muda, sebagian besar dari latar belakang miskin, terjebak ke dalam prostitusi dan menjadi objek seks belaka. Anak-anak muda dipaksa bekerja dalam kondisi yang tidak manusiawi di banyak negara. Pengambilan organ tubuh telah menjadi bisnis paling menggiurkan yang melibatkan jumlah uang yang luar biasa besar. Ada harga untuk setiap organ yang kita miliki. Bahkan, ada cerita di media sosial tentang seorang remaja yang menjual ginjalnya untuk membeli iPhone model terbaru. Tambahan ‘tubuh’ lain di dalam rahim menjadi sebuah beban dan hambatan untuk kemajuan diri dan pengembangan karier, dan dengan demikian, lebih baik untuk mengaborsi ‘tubuh’ ini sebelum mereka tumbuh dan menjadi masalah yang lebih besar.

Hari ini kita merayakan tubuh dan darah Yesus Kristus, dan kita diundang melalui bacaan Injil, untuk kembali ke Perjamuan Terakhir Yesus. Di sana, Yesus dengan bebas mempersembahkan tubuh-Nya sebagai karunia kepada murid-murid-Nya, “Ambillah, ini tubuh-Ku.” Dia kemudian meminta para murid ini untuk membagikan tubuh-Nya yang telah mereka terima kepada generasi murid-murid masa depan. Yesus menerima tubuh-Nya sebagai karunia, dan sekarang, dalam Perjamuan Terakhir-Nya, Dia memberikan karunia ini agar kita dapat memiliki kehidupan yang penuh. Ini adalah dasar dari Ekaristi, juga inti dari seksualitas Kristiani.

Di dalam sakramen pernikahan, suami dan istri tidak lagi “dua tetapi satu tubuh.” Ketika kedua pasangan menghadap altar Allah, mereka mengakui bahwa tubuh mereka adalah karunia dari Tuhan, dan dengan mempersembahkan tubuh mereka kepada pasangan mereka, mereka menghormati Tuhan yang telah menciptakan mereka. Kita menentang seks pra-nikah dan seks di luar nikah karena hanya saat tubuh kita diberikan secara bebas dan total dalam komitmen pernikahan, kita selalu akan selalu menghancurkan tubuh kita. Tubuh suami atau istri bukan sekadar “milik” atau objek untuk memuaskan kebutuhan seksual dan psikologis, tetapi itu adalah karunia dari Tuhan yang bahkan menuntun kita untuk menghargai tubuh kita sendiri. Dalam pernikahan, suami dan istri memberikan tubuh mereka sebagai karunia terhadap satu sama lain dalam kasih dan hormat, sehingga mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih berlimpah dan juga, mereka dapat menyambut tubuh baru, kehidupan baru, karunia baru, ke dalam pernikahan mereka.

Kehidupan pernikahan adalah salah satu di antara beberapa cara dimana kita bisa menerima dan mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Kehidupan selibat yang didedikasikan untuk melayani sesama adalah cara lain untuk mempersembahkan tubuh kita sebagai karunia. Seperti Yesus dalam Perjamuan Terakhir, hanya dengan menerima tubuh kita sebagai karunia dan dengan bebas mempersembahkannya sebagai karunia, kita memiliki kehidupan yang penuh dan bermakna.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Trinity and Us

The Solemnity of the Most Holy Trinity [May 27, 2018] Matthew 28:16-20

“Go, therefore, and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, (Matt. 28:19)”

big bang
photo by Harry Setianto, SJ

This Mystery of Trinity is rightly called the mystery of all the mysteries because the Holy Trinity is at the core of our Christian faith. Yet, the fundamental truth we believe is not only extremely difficult to understand, but in fact, it goes beyond our natural reasoning. How is it possible that we believe in three distinct Divine Persons, the Father, the Son and the Holy Spirit, and yet they remain One God? Some of the greatest minds like St. Augustine, St. Thomas Aquinas and Pope Emeritus Benedict XVI have attempted to shed a little light on the mystery. However, in the face of such immense truth, the best explanations would seem like a drop of water in the vast ocean.


I have no illusion that I could explain the mystery better than the brightest minds of the Church, but we may reflect on its meaning in our ordinary lives. The joyful Easter season ended with the celebration of the Pentecost Sunday last week, and we resume the liturgical season of the year or simply known as the ordinary season. As we begin once again the ordinary season, the Church invites us to celebrate the Solemnity of the Most Holy Trinity or the Trinity Sunday. The Church seems to tell us that the unfathomable mystery of Trinity is in fact intimately closed to our day-to-day living, to our daily struggles and triumphs, to our everyday pains and joys. How is our faith in the greatest mystery of all connected to our ordinary and mundane lives?

We often have false images of God. We used to think that God or Trinity is the greatest person (or three persons) among things that exist He is like a universal CEO that manages things from an undisclosed location or a super big and powerful being that controls practically everything. Yet, this is not quite right. He is not just one among countless beings. God is the ground of our existence. He is the very reason why anything exists rather than nothing. Thus, the act of creation is not what happened at the Big Bang 13.7 billion years ago. It is fundamentally God’s gift of existence to us. To be created means that we do not necessarily exist. Every single moment of our life is God’s gratuitous gift.

The Scriptures reveals the mystery of our God. He is not solitary and self-absorbed God, but our God is one God in three divine persons. Our God is a community founded on creative mutual love and constant self-giving. Therefore, our creation is not a mere accident, but God’s creative act and His gift of love. We exist in the world because God cannot but love us and wants us to share in the perfect life of the Trinity. St. Thomas Aquinas rightly says that we only believe two fundamental teachings, two credibilia : first, God exists, and second, we are loved in Jesus Christ.

We often take for granted our lives and immerse in daily concern of life; we rarely ask what the purpose of this life is. Yet, it does not diminish the truth that God lovingly sustains our existence and cares for us, even to the tiniest fraction of our atom. Whether we are busy doing our works, focus on our family affairs, or simply enjoying our hobbies, God is intimately involved. Thus, apart from God, our lives, our daily toils, and concerns, our sorrows and joys are meaningless and even revert to nothingness. Celebrating the Trinity Sunday means to rejoice in our existence as a gift, and to glorify God who is immensely loving and caring for us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Allah Tritunggal dan Kita

Hari Raya dari Tritunggal Mahakudus [27 Mei 2018] Matius 28: 16-20

Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. (Mat. 28:19)”

star gazing
photo by Harry Setianto, SJ

Hari ini kita merayakan Misteri Tritunggal Mahakudus. Misteri ini tepat disebut misteri dari semua misteri karena Tritunggal Mahakudus merupakan inti dari iman Kristiani kita. Namun, kebenaran mendasar ini tidak hanya sangat sulit untuk dimengerti, tetapi juga pada kenyataannya, melampaui penalaran manusiawi kita. Bagaimana mungkin kita bisa percaya pada tiga Pribadi Ilahi yang berbeda, Bapa, Putra dan Roh Kudus, namun mereka tetap satu Allah? Beberapa tokoh besar seperti St. Agustinus, St. Thomas Aquinas dan Paus Emeritus Benediktus XVI telah berusaha untuk memberi sedikit cahaya pada misteri ini. Namun, dihadapan kebenaran maha besar ini, penjelasan terbaik pun akan tampak seperti setetes air di samudra raya


Saya sendiri tidak memiliki ilusi bahwa saya dapat menjelaskan misteri ini dengan baik, tetapi kita mungkin merefleksikan bersama maknanya dalam kehidupan sehari-hari kita. Masa Paskah yang penuh sukacita berakhir dengan perayaan hari Pentakosta Minggu lalu, dan kitapun melanjutkan masa biasa tahun liturgi. Ketika kita melanjutkan masa biasa, Gereja mengundang kita untuk merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Gereja tampaknya mengajarkan kita bahwa misteri Trinitas yang melebihi segala nalar sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kita sebagai manusia, dengan perjuangan kita sehari-hari, dengan rasa sakit dan sukacita kita sehari-hari. Bagaimana iman kita dalam misteri terbesar dari semua misteri ini dapat terhubung dengan kehidupan sehari-hari dan bahkan duniawi kita?

Kita sering memiliki gambaran salah tentang Tuhan. Kita kadang berpikir bahwa Tuhan atau Allah Tritunggal adalah pribadi terbesar (atau tiga pribadi terbesar) di antara hal-hal yang ada. Dia seperti seorang CEO universal yang mengelola semua hal dari lokasi yang dirahasiakan atau makhluk super besar dan super kuat yang mengendalikan hampir segalanya. Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya benar. Ia bukan sekedar “satu” di antara makhluk yang tak terhitung jumlahnya. Tuhan adalah dasar dari segala yang ada. Dia adalah alasan mengapa sesuatu ada, daripada tidak ada sama sekali. Jadi, penciptaan bukanlah yang terjadi pada “Big Bang” 13,7 miliar tahun lalu. Penciptaan pada dasarnya adalah karunia keberadaan dari Allah bagi kita. Menjadi makhluk ciptaan berarti keberadaan kita tidak mutlak. Kita ada fana. Namun, saat kita tahu bahwa kita sungguh ada di dunia, kita menyadari bahwa setiap saat dalam hidup kita adalah karunia Tuhan.

Kitab Suci mengungkapkan misteri Allah kita. Dia bukan Tuhan yang menyendiri dan mementingkan diri sendiri, tetapi Tuhan kita adalah satu Tuhan dalam tiga pribadi ilahi. Tuhan kita adalah komunitas yang berdasarkan pada kasih hidup dan kreatif dan pada pemberian diri yang total dan konstan. Oleh karena itu, perciptaan kita bukanlah sekedar ketidaksengajaan semata, tetapi tindakan kreatif Allah dan karunia kasih-Nya. Kita ada karena kita adalah bagian dari rencana kasih-Nya. Kita ada di dunia karena Tuhan tidak dapat tidak mengasihi kita dan ingin kita berbagi dalam kehidupan yang sempurna dalam Tritunggal. St Thomas Aquinas pun mengatakan bahwa kita hanya percaya dua ajaran dasar, dua “credibilia”: pertama, Tuhan itu ada, dan kedua, kita dikasihi dalam Yesus Kristus.

Kita sering menerima begitu saja hidup kita dan terlarut dalam masalah sehari-hari; kita jarang bertanya apa tujuan dan makna kehidupan ini. Namun, hal ini tidak mengurangi kebenaran bahwa Tuhan dengan penuh kasih menopang keberadaan, bahkan sampai ke bagian terkecil dari atom kita, dan peduli kepada kita, setiap detik dari hidup kita. Apakah kita sibuk melakukan pekerjaan, fokus pada urusan keluarga, atau hanya menikmati hobi, Tuhan terlibat dan memperhatikan. Jadi, terlepas dari Tuhan, hidup kita, kerja harian kita, dan kekhawatiran, kesedihan dan sukacita kita tidak ada artinya dan bahkan kembali ke ketiadaan. Merayakan Tritunggal Mahakudus berarti bersuka-cita dalam keberadaan kita sebagai karunia, dan memuliakan Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


The Holy Spirit of Pentecost

Pentecost Sunday [May 20, 2018] Jn 20:19-23

“We hear them speaking in our own tongues of the mighty acts of God (Acts 2:11)”

small candle
picture by Harry Setianto SJ

Just a week ago, three churches in Surabaya, Indonesia were attacked by suicide bombers.  Fear immediately seized me knowing the bombing sites were not far from our Dominican community. Some of my good friends were from Surabaya, and they might have been harmed by the senseless explosions. I was somehow able to breathe upon knowing that they were safe, but part of my heart remained deeply hurt because many people, Christians and Moslems, police officers, ordinary citizen, and even children, died and were wounded. These were people with their hopes and dreams, their stories and faith, with family and friends. Yet, the brutal attacks instantly destroyed all. As we are now celebrating the Pentecost, we may ask ourselves: What does it mean to celebrate the outpouring of the Holy Spirit in a world chocked by fear and violence? How do we call ourselves the hopeful Pentecost People in the midst of persecution and death?


On the day of Pentecost, the Holy Spirit does appear in the form of the tongues of fire and rests on each apostle and disciple. They are filled with the Holy Spirit and begin to speak different languages and to proclaim the mighty acts of God to people coming from many nations. From the story, we discover that people from different languages and nations are able to understand, and begin to be one community as they listen to the mighty acts of God. Thus, the mission of the Holy Spirit is to become the principle of connection and unity among people separated by many walls and divisions.

We are coming from different languages, culture, and nations, having diverse upbringings, characters, and value system. We possess different convictions, beliefs, and faith. It is the work of the devil to sow the seed of fear and lies, and with so much fear and misconceptions of the others, it is easier to build higher fences and dig deeper trenches. These are the roots of fundamentalism and radicalism that kills rather than heals.

The Holy Spirit pushes us to go out from ourselves and reach to the others. If we are created in the image of the Holy Trinity, and if the Trinity is three unique divine persons living in the unity of love, we are designed to be unique individuals and yet we are also made as a person with others and for others. The Holy Spirit is like a mother eagle that when the right time comes, will throw its young brood from the cliff and let them learn how to fly gracefully like a mature eagles.

Hours after the bombing, people also flooded the hospitals where the terror victims were treated and offered themselves to be blood donors for the victims. One remarks that blood knows no ethnicity, religion or nation; it only knows type O, A, B or AB! The Holy Spirit works against the work of the devil, the father of lies. Thus, the Holy Spirit empowers us to proclaim the truth and the mighty acts of God. Minutes after the bombing, the social media was flooded by a graphic picture of people killed as to spread fear, but then the Indonesian netizens refused to share further the fear and began to place in their social media accounts hashtag #wearenotafraid.

The heroic stories also emerge. There is Aloysius Bayu, a parish volunteer, who died in the explosion. Had he not stopped the terrorists who tried to enter the church premises, countless people could have died that day. His death does not only end his life but also scatters the life of a woman who expects his husband to come home and a little baby who needs her father. Yet, it is not without hope. It succumbs to fear or anger, Bayu’s friends see his death as a sacrifice that leads to a new hope. One of his friends remarks, “We must not stop going to the Church because of fear. If we stop, Bayu would have died for nothing.” The Holy Spirit does not blind us to the harsh and ugly world we have, but the Holy Spirit empowers us to be brave and work for better future of this world.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Roh Kudus Pentekosta

Hari Raya Pantekosta [20 Mei 2018] Yohanes 20: 19-23

“kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah (Kisah 2:11).”

kami tidak takutSeminggu yang lalu, tiga gereja di Surabaya, Indonesia diserang oleh para pelaku bom bunuh diri. Ketakutan segera memenuhi hati saya karena lokasi pengeboman tidak jauh dari komunitas Dominikan di Surabaya. Beberapa teman baik saya juga berasal dari Surabaya, dan mereka mungkin terluka karena ledakan bom.  Namun, saya bisa bernapas lega setelah mengetahui bahwa mereka aman, tetapi bagian dari hati saya tetap sangat terluka karena banyak orang, baik umat Kristinani dan Muslim, polisi, warga biasa, dan bahkan anak-anak, menjadi kurban. Mereka adalah orang-orang yang dipenuhi harapan dan impian mereka, kisah dan iman mereka, dengan keluarga dan teman-teman mereka. Namun, serangan brutal itu langsung menghancurkan semuanya. Hari ini, kita bisa bertanya pada diri sendiri: Apa artinya merayakan Pentekosta, hari raya pencurahan Roh Kudus, di dunia yang dipenuhi rasa takut dan kekerasan?

Pada hari Pentakosta pertama, Roh Kudus datang dalam bentuk lidah nyala api dan hinggap pada setiap rasul dan murid lainnya. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus dan mulai berbicara bahasa yang berbeda, dan mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. Hari itu, orang-orang yang datang dari berbagai bangsa bisa mendengar dan mengerti karya Allah dan dipersatukan sebagai komunitas. Dari cerita ini, kita bisa melihat bahwa misi Roh Kudus sebagai prinsip kesatuan di antara kita yang dipisahkan oleh banyak tembok dan sekat-sekat perbedaan.

Kita datang dari berbagai bahasa, budaya, dan bangsa, dengan beragam latar belakang, karakter, dan sistem nilai. Kita memiliki kepercayaan, keyakinan dan iman yang berbeda. Ini adalah pekerjaan roh jahat untuk menabur benih rasa takut dan kebohongan, dan dengan ketakutan dan ketidakpahaman terhadap yang lain, lebih mudah bagi kita untuk membangun tembok yang lebih tinggi dan menggali parit yang lebih dalam. Ini menjadi akar fundamentalisme dan radikalisme yang mematikan.

Roh Kudus mendorong kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan menjangkau yang lain. Jika kita diciptakan menurut citra Allah yang adalah Tritunggal Mahakudus, dan jika Tritunggal adalah tiga pribadi ilahi yang unik, namun hidup dalam kesatuan kasih, kita juga dirancang untuk menjadi individu yang unik, namun kita juga diciptakan sebagai pribadi yang hidup dengan sesama dan bagi sesama. Roh Kudus seperti induk burung elang yang ketika waktunya tiba, akan melemparkan anak-anak mereka dari tebing tinggi dan memampukan mereka terbang.

Beberapa jam setelah pengeboman, masyarakat membanjiri rumah sakit tempat para korban teror dirawat, dan menawarkan diri untuk menjadi donor darah bagi para korban. Seorang relawan berkomentar bahaw darah tidak mengenal suku, agama atau bangsa; hanya tahu tipe O, A, B atau AB! Roh Kudus bekerja melawan pekerjaan roh kudus, bapa segala dusta. Dengan demikian, Roh Kudus memberdayakan kita untuk mewartakan kebenaran dan karya besar Allah. Beberapa menit setelah pemboman, media sosial dibanjiri oleh gambar-gambar kurban-kurban yang tewas untuk menyebarkan ketakutan, tetapi kemudian para pengguna internet Indonesia menolak untuk menyebarkan rasa takut, dan mulai memasang di akun media sosial mereka tagar #kamitidaktakut.

 Kisah-kisah heroik juga muncul. Ada Aloysius Bayu, seorang sukarelawan paroki Santa Maria Tak Bercela Surabaya, yang tewas dalam ledakan. Seandainya dia tidak menghentikan para teroris yang mencoba memasuki premis gereja, bisa tak terhitung orang menjadi korban hari itu. Kematiannya tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga menghancurkan kehidupan seorang wanita yang mengharapkan suaminya pulang dan seorang bayi kecil yang membutuhkan ayahnya. Namun, itu bukan tanpa harapan. Dari pada menyerah pada ketakutan atau kemarahan, teman-teman Bayu melihat kematiannya sebagai pengorbanan yang mengarah ke harapan baru. Salah seorang temannya menyatakan, “Kita tidak boleh berhenti pergi ke Gereja karena takut. Jika kita berhenti, Bayu akan mati sia-sia. ” Roh Kudus mendorong kita untuk berani mewartakan karya Allah dan membuat dunia yang penuh kejahatan menjadi tempat yang lebih baik.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Ascension and Mission

The Ascension of the Lord [May 13, 2018] Mark 16:15-20

“Jesus said to them, “Go into the whole world and proclaim the gospel to every creature.” (Mk. 16:15)

father and daughter at beach 2We normally do not want to part away from the people we love. The emotional bond that has grown makes it difficult and painful for us to be away from the persons whom we love. Parents do not want to be separated from their children. Couple hates when they have to be far from each other. Friends cry when they have to go separate ways.

However, Jesus does the opposite when He is ascending into heaven. The resurrected Jesus could have stayed, done more miracles and accompanied the disciples. His permanent physical presence could boost the disciples’ morale, give them comfort and protection. Yet, He chooses to go and leave His disciples on earth. Why does Jesus do that cruel thing?

When we read today’s Gospel closely, Jesus does not simply leave behind His disciples, but He sends them for the mission, “Go to the whole world and preach the Gospel to every creature.” (Mrk 16:15) In fact, the Ascension is more about sending rather than departing. He goes up so that the disciples may go forward. Jesus understands that to stay put means to infantilize the disciples and hinder the disciples to become the men they are meant to be. As they go, they grow to be the persons whom they never expect before. They have faith even more, and to gradually grow in hope and charity. Had Peter stayed behind, he would not have become a leader of the great Church. Had John gone home, he would not have become the elder of the Church in Ephesus and written the Fourth Gospel.

The story of faith begins with a mission. God called Abraham, asked him to go from in his land of Ur, and made his way to Canaan. He became the Father of great nations not in his homeland, his comfort, and his safe zone, but in the dangerous and unknown land. God called Moses and Israelites to go out from the land of Egypt, from the land that gave them cucumber, onion, and garlic. They became people free to worship their only God, not in Egypt, land of thousand gods, but in the land, God has promised them. St. Dominic de Guzman began the Order of Preachers by sending his small and fragile community into various cities. Some brothers doubted others resisted, and few objected his decision. Yet, his decision was proved to be a watershed for the Order. The mission of Order is not to be another ancient stable monastery, but a group of iterant preachers. Dominic’s faith has given birth to the Dominican family that is currently present in more than 100 countries.

I always thank my parents for allowing me to enter the seminary at the tender age of 14. I know it was a tough and painful decision, but their courage has made me a man who I am now. At first, both my parents and I were not sure what would come for me, what my particular mission in life be, but we are sure that I have been sent, from the comfort of my family into the midst of an immensely vast Church. Have we grown and become mature and courageous people? Have we allowed people we love to grow into the person they are meant to be? Have we entrusted ourselves and our loved ones into God’s mission?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Kenaikan dan Misi

Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga [10 Mei 2018/ 13 Mei 2018] Markus 16: 15-20

“Yesus berkata kepada mereka, ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.’ ”(Markus 16:15)

father and daughter at beachKita biasanya tidak ingin berpisah dari orang-orang yang kita cintai. Ikatan emosional yang telah terbangun membuat kita sulit untuk menjauh dari mereka yang kita cintai. Orang tua tidak ingin terpisahkan dari anak-anak mereka. Sepasang kekasih benci ketika mereka harus jauh dari satu sama lain. Kita sedih ketika mereka harus berpisah dengan sahabat kita.

Namun, hari ini kita melihat bahwa Yesus justru melakukan hal yang sebaliknya ketika Dia naik ke surga. Kristus yang telah bangkit bisa saja memilih tinggal dan menemani para murid. Kehadiran fisiknya yang permanen dapat meningkatkan semangat para murid, memberi mereka kenyamanan dan perlindungan. Namun, Dia memilih untuk pergi dan meninggalkan para murid-Nya di bumi. Mengapa Yesus melakukan hal yang tampaknya sangat kejam ini?

Ketika kita membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus tidak sekedar meninggalkan murid-muridNya, tetapi Dia juga mengutus mereka untuk menjalankan misi mereka, “Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada setiap makhluk.” (Mrk 16:15) Faktanya, Kenaikan Tuhan Yesus lebih banyak berbicara tentang pengutusan daripada perpisahan. Dia naik ke surga supaya murid-murid bisa bergerak maju. Yesus memahami bahwa jika Ia tinggal lebih lama, Ia menghalangi para murid untuk tumbuh dan berkembang. Ketika mereka diutus, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka memiliki iman yang bahkan lebih tinggi, dan secara bertahap tumbuh dalam harapan dan kasih. Seandainya Petrus tetap tinggal, dia tidak akan menjadi pemimpin Gereja. Seandainya Yohanes tidak diutus, dia tidak akan menjadi penatua Gereja di Efesus dan menulis Injil Keempat.

Kisah iman dimulai dengan sebuah misi. Tuhan memanggil Abraham, mengutusnya pergi dari tanahnya di Ur, dan pergi ke Kanaan. Dia menjadi Bapak dari bangsa-bangsa besar bukan di tanah airnya, dimana dia hidup dalam kenyamanan, tetapi di tanah yang berbahaya dan tidak dikenal. Allah memanggil Musa dan orang Israel untuk pergi keluar dari tanah Mesir, dari tanah yang memberi mereka mentimun, bawang, dan melon. Mereka menjadi orang-orang yang bebas untuk menyembah Tuhan mereka, bukan di Mesir, tanah seribu dewa, tetapi di tanah yang Tuhan telah janjikan kepada mereka. St. Dominikus de Guzman memulai Ordo Pewarta (OP) dengan mengirimkan komunitasnya yang kecil dan rapuh ke berbagai kota di Eropa. Beberapa saudaranya meragukannya, beberapa menolak, dan lainnya berkeberatan dengan keputusannya. Namun, keputusannya terbukti menjadi titik balik bagi Ordo. Misi Ordo Pewarta bukanlah untuk membangun pertapaan stabil seperti halnya ordo-ordo lainnya yang lebih dahulu ada, tetapi menjadi sekelompok pewarta yang hidup dalam pengembaraan. Iman St. Dominikus telah melahirkan sebuah keluarga Dominikan yang saat ini hadir di lebih dari 100 negara.

Saya selalu berterima kasih kepada orang tua saya karena mengizinkan saya masuk seminari pada usia muda 14 tahun. Saya mengerti bahwa ini adalah keputusan yang sulit dan menyakitkan, tetapi keberanian mereka telah menjadikan saya seorang manusia yang sekarang ini. Pada mulanya, kedua orang tua saya dan saya sendiri tidak yakin apa yang akan terjadi pada diri saya di seminari, tetapi kami yakin bahwa saya telah diutus, dari kenyamanan sebuah keluarga ke tengah-tengah Gereja yang sangat luas.

Sudahkah kita tumbuh dan menjadi orang yang dewasa dan berani? Beranikah kita mengutus orang yang kita cintai agar tumbuh menjadi orang yang lebih dewasa? Sudahkah kita mempercayakan diri kita dan orang-orang yang kita kasihi ke dalam misi Allah?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


The Death of a Priest

(for +Fr. Mark Anthony Ventura)

Sixth Sunday of Easter [May 6, 2018] John 15:9-17

mark venturaWe are living in the part of the world that violence and death have become our daily consumption. Every day, people’s lives are forcibly snatched away for unbelievably trivial reasons. Parents kill their babies. Brothers murder their brothers. Friends manipulate and sell their friends. Some of us used to go down on the street and cry for justice. Yet, many of us are just busy with daily pressing concerns like works, study and chores. We become numb or blind to the soil that has been painted red by the blood of our brothers and sisters. The life, precious in the eyes of God, turns out to be cheap at the hands of men.

However, few days ago, I was deeply troubled by the news of a young priest brutally murdered. His name is Fr. Mark Ventura, and he was just 37 years old when he was merciless gunned down. His life was taken moments after he celebrated his morning mass in Cagayan, Philippines. He was still inside the small chapel, had given his blessing to children and suddenly, an unidentified man shot him. His advocacy for justice and peace in his place may be the reason why he lived so short.

His death is less dramatic than of Archbishop Oscar Romero of San Salvador. The holy bishop was killed right after consecration of the body and blood of Christ, and he fell to the ground, his blood was mingled with the blood of Christ. Another bishop, a Dominican Bishop Pierre Claverie, OP of Oran, Algeria suffered the same fate. The terrorists planted a bomb in his car, and its explosion did not only kill Bishop Pierre, but also his young Muslim friend and driver. In a bloody scene, his flesh was mixed with the flesh of his Muslim friend. Yet, that is beside the point. Witnessing Fr. Mark’s body laying soulless on the ground and soaked with blood, is not only deeply disturbing, but is also deeply hurtful. It is enormously disturbing because it gives us the chilling effect that if these evil men could mercilessly kill a priest, the herald of forgiveness and mercy, now they may kill anyone who stands on their way. Yet, his death is also painful because his death is also our death as the People of God. His white soutane soiled and colored by blood, is our white garment we wore during our baptism. His lifeless hands used to bless the people and consecrate the holy hosts and wine, are also our hands that raise our children and build our society. His silenced mouth used to proclaim the Good News, to forgive sins, and to denounce evil, are also our mouth that receive the Holy Communion and teach wisdom to our children. The murder of Fr. Mark is a murder of a priest, and symbolically it is the killing of all of us, Christians.

The way of the priesthood is what some of us choose, the way that often provides us with earthly comforts, and unexpected bonuses; the way that catapults us from a rug to a rich kid; and the way that showers us with fame, success, and glory. Yet, it is the same way that confronts us with the face of evil; the way that challenges us to be at the side of the victims and to denounce injustice; and the way that gets us persecuted, mocked and killed. The choice is ours. To end my humble reflection, let me quote Archbishop Oscar Romero, “A church that doesn’t provoke any crises, a gospel that doesn’t unsettle, a word of God that doesn’t get under anyone’s skin, a word of God that doesn’t touch the real sin of the society in which it is being proclaimed — what gospel is that?”


Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Kematian Seorang Imam

Minggu Paskah ke-6 [6 Mei 2018] Yohanes 15:9-17

mark venturaKita hidup di belahan dunia dimana kekerasan dan kematian telah menjadi konsumsi sehari-hari kita. Setiap hari, kehidupan manusia secara paksa dirampas karena alasan yang sangat sepele. Orang tua membunuh bayi mereka. Saudara menghabisi saudara. Sahabat memanipulasi dan memanfaatkan sahabat. Beberapa dari kita mungkin turun ke jalan dan menuntut keadilan. Namun, banyak dari kita terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari, karena kita harus bekerja, belajar dan menjalankan tugas-tugas lainnya. Kita menjadi mati rasa atau buta terhadap tanah yang telah menjadi merah oleh darah saudara-saudari kita. Kehidupan, berharga di mata Tuhan, ternyata sangat murah di tangan manusia.

Namun, beberapa hari yang lalu, saya sangat terganggu oleh berita seorang imam muda yang dibunuh secara brutal. Namanya adalah Mark Antony Ventura, dan dia baru berusia 37 tahun ketika dia tanpa belas kasih ditembak mati. Hidupnya diambil beberapa saat setelah ia merayakan misa paginya di Cagayan, Filipina. Dia masih di dalam kapel kecil, sedang memberikan berkatnya kepada anak-anak, dan tiba-tiba, seorang pria tak dikenal datang dan menembaknya. Alasan kepada dia dihabisi belum jelas, namun advokasinya untuk keadilan dan kedamaian mungkin menjadi alasan utama.

Kematiannya mengingatkan akan kematian Uskup Agung Oscar Romero dari San Salvador. Uskup kudus ini dibunuh tepat setelah mengkonsekrasikan tubuh dan darah Kristus, dan saat dia jatuh ke tanah, darahnya bersatu dengan darah Kristus. Uskup lainnya, seorang Dominikan, Pierre Claverie, OP dari Oran, Aljazair mengalami nasib yang serupa. Para teroris meletakan bom di mobilnya, dan ledakannya tidak hanya membunuh Bishop Pierre, tetapi juga sahabat dan sopirnya yang beragama Islam. Dalam kejadian berdarah itu, dagingnya bersatu dengan daging teman Muslimnya.

Menyaksikan tubuh romo Mark yang terbaring tanpa nyawa di tanah dan bersimbah darah, tidak hanya sangat mengusik hati nurani, tetapi juga sangat menyakitkan. Hal ini sangat mengusik hati nurani karena memberi kita efek mengerikan bahwa jika orang-orang jahat ini bisa tanpa ampun membunuh seorang imam, duta pengampunan dan belas kasih, sekarang mereka bisa menghancurkan siapa saja yang menghalangi di jalan mereka. Namun, kematiannya juga menyakitkan karena kematiannya adalah juga kematian kita sebagai Umat Tuhan. Jubah putihnya yang bercampur tanah dan bersimbah darah, adalah pakaian putih kita yang kita kenakan saat kita dibaptis. Tangannya yang tidak lagi bernyawa, yang pernah memberkati orang-orang dan menguduskan roti dan anggur suci, adalah juga tangan kita yang membesarkan anak-anak kita dan membangun masyarakat. Mulutnya yang terbungkam yang pernah mewartakan Kabar Baik, mengampuni dosa, dan mengutuk kejahatan, adalah juga mulut kita yang menerima hosti kudus dan mengajarkan kebijaksanaan kepada anak-anak kita. Pembunuhan romo Markus adalah pembunuhan seorang imam, dan secara simbolis ini adalah pembunuhan kita semua, umat Allah.

Jalan imamat adalah jalan yang saya dan beberapa dari kita telah pilih. Ini adalah jalan yang sering memberi kita kenyamanan duniawi, dan bonus tak terduga. Ini adalah jalan yang menghujani kita dengan ketenaran, kesuksesan, dan kemuliaan. Namun, ini adalah jalan yang sama yang menghadapkan kita dengan wajah kejahatan. Ini adalah jalan yang yang menantang kita untuk berada di sisi para korban dan membela keadilan. Ini adalah jalan yang membuat kita dianiaya, diejek dan bahkan dibunuh. Pilihannya adalah milik kita. Untuk mengakhiri renungan kecil ini, izinkan saya mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah gereja yang tidak memprovokasi krisis apa pun, sebuah Injil yang tidak mengusik hati nurani, sebuah Firman Tuhan yang tidak ada masuk ke dalam jiwa siapa pun, sebuah Injil yang tidak berhadapan dengan dosa nyata dari masyarakat di mana Injil itu diwartakan – Injil macam apakah itu? ”

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


The Vine

Fifth Sunday of Easter [April 29, 2018] John 15:1-8

I am the true vine, and my Father is the vine grower. (John 15:1)”

running to crossIf Jesus is a carpenter, why does He speak about the vine in today’s Gospel? Does He have the competency to draw wisdom from a field that is not His expertise? We recall that Jesus grows and lives in Galilee, and in this northern region of Israel, the land is relatively fertile and agricultural industry is thriving. Some archeological findings suggest that in Nazareth, despite being a small village, the community members are engaged in small time farming, grapes press, and winemaking. A young Jesus must have been involved with this farming activities and perhaps even helped in a nearby vineyard. Thus, Jesus does not hesitate to teach wisdom using the imageries coming from the agricultural settings, like parables related to the vineyard (Mat 20:1-16), planting seeds (Mat 13:1-9), wheat and weed (Mat 13:24-30), and harvest (Mat 9:35).

In today’s Gospel, Jesus tells His disciples that He is the true vine and His Father is the vine grower. Like Jesus, the disciples are certainly familiar with grapes plantations and wine production. In fact, for the Jews, drinking wine is not mere merriment, but also an essential part of their ritual Passover meal in which they relive the experience of liberation from Egypt. Thus, the images of the vine, vine grower and vine branches are not only familiar to the disciples, but turn out to be potent means to deliver Jesus’ teaching.

The context of this teaching is Jesus’ Last Supper, and we imagine that as Jesus teaches this truth, the disciples are enjoying their meal and cup of wine. As they are drinking the wine, it is at the back of the disciples’ mind that the high-quality wine comes from superior-quality grapes, and these grapes are produced by the best vineyard with its healthy vine and hardworking vine growers. From the taste of the wine, one can assess not only the value of the wine but also the entire production, from the vineyard (viticulture) to the winemaking (vinification). Through this imagery, Jesus has assured His disciples that He and His Father have done their share in making the branches fruitful, and now it is the free choice of the disciples to bear the fruits. As branches, the only way to produce fruits is to remain united with the true vine.

The instruction of Jesus to remain in Him seems not difficult to follow. But, just hours after the Last Supper, Jesus will be arrested, and the disciples immediately forget everything that Jesus says. Judas betrays Him, Peter denies Him, and the rest run away and hide. Only a few disciples remain with Him, some women disciples, the Beloved Disciple, and His mother. The point is clear now. It is easy to remain with Jesus when things are easy and convenient, but when the things get tough, the disciples are facing an existential question whether to remain in Jesus or to abandon Him.

The question is now given to us. When our lives become desert-like and do not yield expected fruits, are we going to remain in Jesus? A friend told me how he was initially excited to serve the Church by joining an organization. Yet, after some time, he got frustrated by scandalizing attitudes of some members. He realized that the group was no different with other organizations that were plagued by gossips, intrigues, and factionalism. Naturally, I advised him to leave the group and look for a better group, like the Dominicans! Yet, he chose to remain and said to me that this difficult group provides him an opportunity to love Jesus more. Then, I realize that the mere fact that he stays, he has unexpectedly borne much fruits: patience, mercy, and understanding.

The same question now is addressed to us. Shall we remain in Christ in challenging times? Do we stay even when we do not feel the fruits? Do we remain faithful till the end?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

photo by Harry Setianto, SJ



Pokok Anggur

Minggu Paskah Kelima [29 April 2018] Yohanes 15: 1-8

 Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (Yoh 15:1)”

cross among bushJika Yesus adalah seorang tukang kayu, mengapa Ia berbicara tentang pokok anggur? Apakah Dia memiliki kompetensi untuk mengajar dari bidang yang bukan keahlian-Nya? Kita ingat bahwa Yesus tumbuh dan hidup di Galilea, dan di wilayah utara Israel ini, tanahnya relatif subur dan industri agrikultur cukup berkembang. Beberapa temuan arkeologi menunjukkan bahwa di Nazaret, meskipun adalah desa kecil, penduduknya terlibat dalam pertanian skala kecil, dan juga pembuatan anggur. Sebagai penduduk Nazaret, Yesus muda sedikit banyak terlibat dengan kegiatan pertanian ini, dan mungkin pernah membantu di kebun anggur terdekat. Karena pengalaman hidup ini, Yesus tidak ragu untuk mengajarkan kebijaksanaan menggunakan citra-citra yang berasal dari dunia agrikultur, seperti perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur (Mat 20: 1-16), menanam benih (Mat 13: 1-9), gandum dan lalang (Mat 13: 24-30), dan panenan (Mat 9:35).

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid-Nya bahwa Dia adalah pokok anggur yang benar dan Bapa-Nya adalah sang pengusaha anggur. Seperti Yesus, para murid tentu tidak asing dengan perkebunan anggur dan proses pembuatan anggur. Bahkan, bagi orang Yahudi, minum anggur bukan sekadar masalah kesenangan, tetapi juga bagian penting dari ritual perjamuan Paskah Yahudi yang menghidupkan kembali pengalaman pembebasan dari Mesir. Jadi, citra-citra seperti pokok anggur, penanam anggur dan ranting-ranting anggur tidak hanya akrab bagi para murid, tetapi juga menjadi sarana yang sungguh bermakna untuk menyampaikan ajaran Yesus.

Membaca Injil hari ini dengan seksama, Yesus dan para murid sedang merayakan Perjamuan Terakhir, dan kita membayangkan bahwa ketika Yesus mengajarkan kebenaran ini, para murid sedang menikmati makanan dan minuman anggur mereka. Ketika mereka sedang minum anggur, para murid menyadari bahwa anggur berkualitas tinggi berasal dari buah anggur unggulan, dan buah anggur ini diproduksi oleh kebun anggur terbaik yang memiliki pokok anggur yang sehat dan para pekerja yang tekun. Melalui citra ini, Yesus telah meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia dan Bapa-Nya telah melakukan yang terbaik untuk membuat ranting-ranting-Nya berbuah, dan sekarang adalah pilihan para murid untuk menghasilkan buah. Sebagai ranting, satu-satunya cara menghasilkan buah adalah dengan tetap bersatu dengan pokok anggur yang benar.

Instruksi Yesus untuk tinggal di dalam Dia tampaknya tidak sulit untuk diikuti. Tetapi, hanya beberapa jam berselang setelah Perjamuan Terakhir, Yesus akan ditangkap, dan para murid segera melupakan semua yang Yesus ajarkan. Yudas mengkhianati Dia, Petrus menyangkal Dia, dan sisanya melarikan diri dan bersembunyi. Hanya beberapa murid yang tetap tinggal bersama Dia: beberapa murid wanita, Murid yang dikasihi Yesus, dan ibu-Nya. Intinya jelas sekarang. Sangat mudah untuk tinggal di dalam Yesus ketika segala sesuatu mudah dan nyaman, tetapi ketika hal-hal menjadi sulit, para murid menghadapi pertanyaan eksistensial: apakah akan tetap tinggal di dalam Yesus atau pergi meninggalkan Dia?

Ketika hidup kita menjadi seperti gurun dan tidak menghasilkan buah yang diharapkan, apakah kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Seorang teman bercerita bagaimana dia awalnya bersemangat melayani Gereja dengan bergabung dengan sebuah organisasi. Namun, setelah beberapa waktu, ia frustrasi dan kecewa oleh sikap-sikap yang tidak menyenangkan dari beberapa anggota. Dia menyadari bahwa kelompoknya tidak berbeda dengan organisasi lain yang diganggu oleh gosip, intrik, dan perpecahan. Tentu saja, saya menyarankan dia untuk meninggalkan kelompoknya dan mencari kelompok yang lebih baik, seperti Ordo Dominikan! Namun, dia memilih untuk tetap tinggal dan mengatakan kepada saya bahwa kelompok yang sulit ini memberinya kesempatan untuk mengasihi Yesus lebih besar. Saya mulai menyadari bahwa saat dia memilih untuk tinggal, dia telah memiliki banyak buah, yakni kesabaran, belas kasihan, dan pengertian.

Pertanyaan yang sama sekarang ditujukan kepada kita. Apakah kita akan tetap tinggal di dalam Kristus pada masa-masa sulit? Apakah kita tetap tinggal bahkan ketika kita tidak merasakan buahnya? Apakah kita tetap setia sampai akhir?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Poto oleh Harry Setianto, SJ


The Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter [April 22, 2018] Jn 10:11-18

“I am the good shepherd. A good shepherd lays down his life for the sheep. (Jn. 10:11)”

good shepherd
photo by Harri Setianto, SJ

The Bible itself is filled with the good shepherd image. My personal favorite among the psalms is Psalm 23, The LORD is my shepherd; there is nothing I lack.”  Prophet Isaiah who consoles the Israelites in Babylonian Exile, speaks of God who is like a shepherd who gathers back the lost sheep and brings them back home from the land of exile (Isaiah 40:11) Some great leaders of Israel are shepherds. Moses is tending to his father-in-law flocks when he is called by God in the burning bush (Exo 3). David also is taking care of his father’s sheep when Samuel comes and anoints him king (1 Sam 16).  No wonder, Jesus takes the image of Himself and introduces Himself as the Good Shepherd.


 From today’s Gospel, we can learn several characters of a good shepherd. Firstly, Jesus distinguishes between the Good Shepherd and the bad shepherds. The good shepherd owns the flocks and is responsible for their lives. Meanwhile, those bad shepherds do not own the sheep, and they work primarily for the money, not for the sheep. That is why when the danger comes from the predators’ attack or the thieves’ ambush; the hired workers would run and save their own lives rather than to protect their sheep. The prophet Jeremiah criticizes the corrupt and abusive leaders of Israel during his time as he prophesies, “Woe to the shepherds who destroy and scatter the flock of my pasture (Jer 23:1).”

The second character of a good shepherd is he knows well his sheep and call them by name. I used to think that “calling sheep by name” is just exaggerated metaphorical language to show shepherd care to his sheep, but later on, I discover “calling by name” actually literally happens. The sheep in Judea are raised both for wool and for sacrifice. Especially those intended for wool production, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knows well each sheep, its characters, and even its unique physical features. He will call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears.’ Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd and will listen whenever he calls them. It reminds me of our pet-dog in our house. Our family calls it “cipluk,” and my mother and young brother take good care of it. Thus, every time my mother or brother calls its name, cipluk hastens to approach them. Yet, every time I go home and try to call its name, cipluk just won’t give any attention!

The third and more important character is the good shepherd will lay down his life for his sheep. This character seems to be an exaggeration. Why would you die for your sheep? If we recognize that the shepherd has a strong bond with his sheep and takes good care of them, he will have no second thought in defending his sheep from that attack of dangerous predators and robbers. At times, the robbers simply outnumber the shepherd and mercilessly beat the courageous shepherd to the death. The shepherd literally lays down his life for the sheep. This is not uncommon happening in the time of Jesus in Palestine, and in fact, still happening in our time in some parts of the world.

To have the Good Shepherd as our Lord means that we belong to God intimately for better and for worse. He knows each one of us personally, and He will not abandon us when our lives face serious problems and dangers. He will not only care for us as long as we produce “wool,” but He continues to love us even we have not been good sheep. In fact, Jesus lays down His life on the cross, so that we, His sheep, may have life, a life to the fullest. Have we become a good sheep? Do we recognize His voice? Do we listen to Him? Do we truly follow Him?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Gembala yang Baik

Hari Minggu Paskah keempat [22 April 2018] Yohanes 10: 11-18

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yoh 10:11).”

jesus good shepherd
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kitab Suci itu dipenuhi dengan citra gembala yang baik. Mazmur favorit saya adalah Mazmur 23, “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Nabi Yesaya yang menghibur bangsa Israel di pembuangan Babel, berbicara tentang Tuhan yang seperti gembala yang akan mengumpulkan kembali domba-domba Israel yang hilang dan membawa mereka pulang (Yes 40:11). Beberapa pemimpin besar Israel adalah gembala. Musa merawat kawanan domba ayah mertuanya ketika ia dipanggil oleh Allah (Kel 3). Daud juga sedang menjaga kawanan domba ayahnya ketika Samuel datang dan mengurapi dia sebagai raja (1 Sam 16). Tidak heran jika Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik.


 Dari Injil hari ini, kita dapat mempelajari tiga karakter gembala yang baik. Pertama, Yesus membedakan antara Gembala yang Baik dan para gembala yang buruk. Gembala yang baik adalah pemilik domba-dombanya dan bertanggung jawab atas hidup mereka. Sementara, para gembala yang buruk  merasa tidak memiliki domba, dan bekerja terutama untuk uang, bukan untuk domba. Inilah mengapa ketika bahaya datang dari serangan hewan buas atau pencuri, mereka akan lari dan menyelamatkan nyawa mereka sendiri daripada melindungi domba mereka. Nabi Yeremia mengkritik para pemimpin Israel yang korup dan tidak adil pada masanya dan iapun bernubuat, “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak (Yer 23:1)!”

Karakter kedua dari seorang gembala yang baik adalah dia mengenal dengan baik domba-dombanya dan memanggil mereka dengan nama mereka. Domba-domba di Yudea dipelihara untuk mendapatkan bulu domba atau wol dan untuk dikorbankan. Khususnya yang ditujukan untuk produksi wol, gembala akan hidup bersama dengan kawanannya selama bertahun-tahun. Tidak heran jika dia mengenal dengan baik setiap domba, karakternya, dan bahkan ciri-ciri fisiknya yang unik. Dia akan memanggil mereka dengan nama seperti ‘kaki kecil’ atau ‘telinga besar’. Karena ikatan erat antara keduanya, domba-domba itu begitu akrab dengan suara gembala dan akan mendengarkan setiap kali dia memanggil mereka. Ini mengingatkan saya pada anjing peliharaan kami di rumah. Kami menyebutnya “cipluk,” dan ibu dan adik saya merawatnya dengan baik. Jadi, setiap kali ibu atau adik saya memanggil namanya, cipluk segera lari mendekati mereka. Namun, setiap kali saya mencoba memanggil namanya, cipluk tidak memberi perhatian!

Karakter ketiga dan paling penting adalah gembala yang baik akan menyerahkan hidupnya bagi domba-dombanya. Karakter ini tampaknya berlebihan, namun hal ini sungguh terjadi. Kita ingat bahwa gembala yang baik memiliki ikatan yang kuat dengan domba-dombanya dan merawat mereka dengan baik, iapun tidak akan ragu-ragu dalam menjaga domba-dombanya dari serangan predator dan perampok yang berbahaya. Tidak jarang, gerombolan perampok tanpa belas kasih memukuli gembala yang berani bahkan sampai mati. Gembala-gembala ini secara harfiah menyerahkan hidupnya untuk domba-domba itu. Ini tidak jarang terjadi pada zaman Yesus di Palestina, dan masih terjadi di zaman kita di beberapa belahan dunia.

Tuhan kita adalah Gembala yang baik dan ini berarti bahwa kita adalah domba-domba milik-Nya. Dia mengenal kita masing-masing secara mendalam, bahkan lebih baik daripada kita mengenal diri kita sendiri. Dia tidak akan meninggalkan kita ketika hidup kita menghadapi masalah serius dan bahaya. Dia tidak hanya akan memperhatikan kita selama kita menghasilkan “wol,” tetapi Dia terus mengasihi kita bahkan saat kita tidak menjadi domba yang baik. Yesus Sang Gembala baik meletakkan hidup-Nya di kayu salib, sehingga kita, domba-domba-Nya, dapat memiliki hidup yang berkelimpahan. Pertanyaannya sekarang: Sudahkah kita menjadi domba yang baik? Apakah kita mengenali suara-Nya? Apakah kita mendengarkan Dia? Apakah kita benar-benar mengikuti Dia?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


My Flesh and My Bones

Third Sunday of Easter [April 15, 2018] Luke 24:35-48

Look at my hands and my feet, that it is I myself. Touch me and see, because a ghost does not have flesh and bones as you can see I have.” (Luke 24:39)

photo by Harry Setianto, SJ

We listen to the last story of risen Christ’s appearance to the disciples in the Gospel of Luke. His presences point to the fact that Jesus still has several missions to accomplish on earth before He ascends into heaven. Particularly in this episode, Jesus is out to dispel the disciples’ doubt on His bodily resurrection. Some disciples may have an idea that Jesus’ appearances are mere illusions as the disciples are coping with a terrible pain of losing and failure. Some others may think that it was just a disembodied spirit or a ghost that appeared like Jesus.


Jesus comes to them and proves that He is neither an illusion coming from their disciples’ mind nor a mere story concocted to give false hope. He shows them his hands and feet and eats a baked fish just like an ordinary and living man does. Even Jesus says that he possesses “flesh and bones.” The disciples who see and touch Jesus’ body would acclaim in their hearts, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” From this point, we begin to recognize that Jesus’ bodily resurrection is closely linked to the story of creation in the Book of Genesis.

If we go back to the story of human creation in Genesis 2, we read a beautiful image of God as a potter artist who fashioned humanity from clay with various details of perfection. God also gave the human life as He breathed His life-giving spirit. However, soon after creation, God said that it was not good for the human to be alone. He then made other animals, but no one was proven suitable companion for that human. Thus, God, acting like a surgeon, made the first human sleep, took the rib, and fashioned another human being. When Adam woke up and saw for the first time another being in his likeness, he shouted in joy, “This is, at last, the bone of my bones and the flesh of my flesh (Gen 2:23).” The story of human creation which is highly symbolic reaches its perfection in the creation of man and woman, and how they are going to be suitable and loving partners for each other.

Going back to Gospel of Luke, the story of the appearance of the risen Lord to the disciples turns to be a story of re-creation. After the disciples are disbanded, scattered and cowardly ran away, they are as weak as soil. Jesus gathers them together and fashions them once again as a community. After the disciples are hurt deeply and defeated, they are like a clay pot shattered into pieces. Jesus comes to breathe His Spirit and to bring healing and true peace. After the disciples are disoriented and lost meaning, they are like the lonely and incomplete first Adam. Jesus, the second Adam, continues to love them, and thus, restores their purpose, and fills what is fundamentally lacking in them. Being re-created, the disciples now are suitable partners of Jesus in bringing the message of resurrection and the gospel of love to wounded humanity.

Each one of us is wounded and struggles with many issues. Despite our good effort to become a good Christian, we acknowledge we are as weak as clay. We have been unfaithful to the Lord and each other. The risen Christ does not lose hope in us. He gathers us once again as His people, and in the Eucharist, He shows us His true “flesh and blood.” Partaking in Jesus’ resurrected body means that despite our fragile nature and weaknesses, we have been re-created as His suitable partners to bring the message of hope and fulfill the mission of love. Only in risen Christ, we find our true fulfillment, yet in being one in Jesus means we also continue loving as He loves us to the end.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Dagingku dan Tulangku

Minggu Paskah Ketiga [15 April 2018] Lukas 24: 35-48

“Lihatlah tangan dan kakiku, bahwa itu aku sendiri. Sentuhlah saya dan lihatlah, karena hantu tidak memiliki daging dan tulang seperti yang Anda lihat saya miliki. “(Lukas 24:39)

risen lord
foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita mendengarkan kisah penampakan terakhir Yesus yang bangkit kepada para murid dalam Injil Lukas. Kehadiran-Nya menunjukkan bahwa Yesus masih memiliki beberapa misi untuk diselesaikan di bumi sebelum Dia naik ke surga. Khususnya dalam episode ini, Yesus datang untuk menepis keraguan para murid tentang kebangkitan badan-Nya. Beberapa murid mungkin memiliki gagasan bahwa penampakan-penampakan Yesus hanyalah ilusi belaka yang lahir dari rasa kehilangan dan kegagalan. Beberapa murid lain mungkin berpikir bahwa itu hanya roh tanpa tubuh atau hantu yang tampak seperti Yesus.


Yesus datang kepada mereka dan membuktikan bahwa Dia bukanlah ilusi atau sebuah rumor yang dibuat untuk memberikan harapan palsu. Dia menunjukkan tangan dan kakinya kepada mereka dan memakan ikan yang dipanggang seperti manusia hidup lainnya. Bahkan Yesus berkata bahwa ia memiliki “daging dan tulang.” Para murid yang melihat dan menyentuh tubuh Yesus akan berseru di dalam hati mereka, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. (Kej 2:23).” Dari sini, kita mulai bisa melihat bahwa kebangkitan tubuh Yesus terkait erat dengan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian.

Jika kita kembali ke kisah penciptaan manusia dalam Kejadian bab 2, kita melihat gambar Allah sebagai seorang seniman yang membentuk umat manusia dari tanah liat. Allah juga memberikan kehidupan kepada manusia saat Dia menghembuskan roh kehidupan-Nya. Namun, segera setelah penciptaan, Allah berkata bahwa tidak baik bagi manusia seorang diri saja (Kej. 2:18). Dia kemudian membuat hewan-hewan lain, tetapi tidak ada satupun yang terbukti menjadi rekan yang sepadan bagi manusia itu. Dengan demikian, Tuhan, bertindak seperti seorang ahli bedah, membuat tidur sang manusia, mengambil tulang rusuknya, dan membentuk manusia lain. Ketika Adam bangun dan melihat untuk pertama kalinya makhluk lain yang serupa dengannya, dia bersorak, “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku (Kej 2:23).” Kisah tentang Penciptaan manusia yang sangat simbolis ini mencapai kesempurnaannya dalam penciptaan pria dan wanita, dan bagaimana mereka akan menjadi pasangan yang sepadan dalam misi untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kembali ke Injil Lukas, kisah tentang penampakan Tuhan yang bangkit kepada para murid ternyata adalah sebuah kisah penciptaan kembali. Setelah para murid membubarkan diri, menjadi pengecut yang melarikan diri, mereka menjadi sama lemahnya dengan tanah liat. Yesus datang untuk mengumpulkan mereka kembali dan membentuk mereka sekali lagi sebagai komunitas. Setelah murid-murid terluka secara mendalam dan kalah, mereka seperti pot tanah liat yang hancur berkeping-keping. Yesus datang untuk menghembuskan Roh-Nya dan membawa kesembuhan dan kedamaian sejati. Setelah para murid kehilangan arah dan makna, mereka seperti Adam pertama yang kesepian dan tidak lengkap. Yesus, sang Adam kedua, datang dan terus mengasihi mereka, dan dengan demikian, memulihkan tujuan mereka. Diciptakan kembali, para murid sekarang adalah pasangan Yesus yang sepadan dalam membawa pesan kebangkitan dan Injil kasih kepada umat manusia yang terluka.

Masing-masing dari kita adalah manusia terluka dan bergulat dengan banyak permasalahan. Terlepas dari usaha kita untuk menjadi murid Yesus yang baik, kita mengakui bahwa kita sama lemahnya dengan tanah liat. Kita tidak setia kepada Tuhan dan satu sama lain. Namun, Kristus yang bangkit tidak kehilangan harapan kepada kita. Ia mengumpulkan kita sekali lagi sebagai umat-Nya, dan dalam Ekaristi, Dia menunjukkan kepada kita “daging dan darah-Nya yang sejati.” Mengambil bagian dalam tubuh kebangkitan Yesus ini berarti bahwa, kita telah diciptakan kembali sebagai mitra-Nya yang sepadan untuk membawa pesan harapan dan memenuhi misi cinta kasih, terlepas dari kemanusiaan kita yang rapuh dan lemah. Hanya di dalam Kristus yang telah bangkit, kita menemukan penggenapan sejati kita, namun dalam menjadi satu di dalam Yesus berarti kita juga terus mengasihi sesama sebagaimana Dia mengasihi kita sampai akhir.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Jesus’ Shalom

Second Sunday of Easter (Divine Mercy Sunday) [April 8, 2018] John 20:19-31

“Jesus came and stood in their midst and said to them, “Peace be with you.”  (Jn. 20:19)

jesus n people
photo by Harry Setianto SJ

Fear is a natural and basic human emotion. Fear plays an important role in human survival because it alerts us of impending dangers or evil, and moves us to avoidance. The science of anatomy would locate the source of this emotion inside our amygdala, a primitive part of our brain that we share with other animals. Yet, unlike animals that simply flee in the presence of a predator, with our complex brain, we also face a complex kind of fear as we perceive a complex meaning of danger. We do not only fear predators, but we fear also losing our jobs, sickness, and our terror teachers or bosses. We are afraid of height (acrophobia), of small spaces (claustrophobia), and even of banana (Bananaphobia)! Because of our superior mind, our fear is even enlarged as we can anticipate far away dangers or even that does not exist yet. This creates anxiety and worriedness.


In the Gospel, we discover that Jesus’ disciples are afraid. They fear the “Jews.” They may be accused of stealing the body of Jesus by the Roman soldiers and Jewish authorities who discover the empty tomb. Or, simply the disciples are anxious about their future, of what will be of them after the death and the news of Jesus’ resurrection. Shall they disband themselves, go back to their former way lives, or shall they remain together? Will Jesus come and get even with them? Overcome by fear and uncertainty, they lock themselves. They are paralyzed, their hearts shrink, and they glue themselves to safe yet fragile things. Like the disciples, fear freezes us and lock us in our comfort zone. Fear of getting hurt, we stop loving. Fear of failures, we no longer pursue our dreams. Fear of being manipulated, we refuse to help others. Fear of betrayal, we shun commitments.

However, fear does not have the last say. Despite the locked room, the Lord enters in their midst. The first word He says is Peace, in Hebrew, “Shalom.” Then, Jesus shows his wounds to them, a proof that He is truly Jesus, their teacher, who was crucified and risen. Seeing the Lord, joy explodes in their hearts, and they fear no more. Jesus’ Shalom is powerful and empowering. Jesus’ Shalom gives inner strength in the face of uncertain future. Jesus’ Shalom gives the courage to embrace sufferings and trials.

Jesus is truly risen and appears to the disciples, but this does not change the disciples’ situations. Their future remains uncertain. The hostile Jewish authorities still attempt to shut them down. The Roman soldiers may arrest them. They do not know yet how to sustain their small community. Their situations remain bleak, but one thing has changed. They are no longer afraid. With His Shalom in their hearts, Jesus breathes His Holy Spirit on them and sends them on a mission to forgive. As they have been forgiven and received mercy, they become the missionaries of peace, as they bring forgiveness to others. As the stone door of the tomb cannot stop the risen Lord, now the locked doors cannot hinder the empowered disciples.

Jesus’ Shalom is the grace of resurrection for all of us. True that our situations and problems do not change much, but fear can no longer freeze us. We are called to go out from our locked rooms and become the missionaries of peace and mercy. Despite the pain, failure, and frustration, we continue to love, serve and commit because this is who we are, the people who have received Jesus’ Shalom, God’s mercy and the Holy Spirit. We are not afraid because we are Easter People!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Minggu Paskah Kedua (Minggu Kerahiman Ilahi) [8 April 2018] Yohanes 20: 19-31

“Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!. ” (Yoh. 20:19)

Jesus n moon
photo by Harry Setianto, SJ

Ketakutan adalah emosi manusia yang alami dan mendasar. Takut memainkan peran penting dalam kelangsungan hidup manusia karena emosi ini memperingatkan kita akan datangnya bahaya, dan menggerakkan kita untuk menghindarnya. Ilmu anatomi menunjukan bahwa sumber emosi ini ada di dalam amygdala, bagian primitif dari otak yang juga dimiliki oleh hewan lain. Namun, tidak seperti binatang yang melarikan diri di hadapan predator, dengan otak yang lebih kompleks, kita juga menghadapi jenis ketakutan yang kompleks. Kita tidak hanya takut pada pemangsa, tetapi kita juga takut kehilangan pekerjaan, akan penyakit, dan kehilangan orang yang kita kasihi. Ada yang takut akan ketinggian (acrophobia), akan ruang kecil (claustrophobia), dan bahkan terhadap pisang (Bananaphobia)! Karena pikiran kita yang superior, ketakutan kita bahkan membesar karena kita bisa mengantisipasi bahaya yang masih jauh atau bahkan yang sesungguhnya belum ada. Inilah dasar dari kecemasan dan kekhawatiran.


Dalam Injil, para murid Yesus ketakutan. Mereka takut pada “orang Yahudi.” Mereka mungkin takut akan ditangkap karena dituduh mencuri tubuh Yesus oleh tentara Romawi dan penguasa Yahudi yang menemukan kuburan yang kosong. Para murid juga mungkin cemas akan masa depan mereka, apa yang akan terjadi setelah kematian dan berita tentang kebangkitan Yesus. Haruskah mereka membubarkan diri, kembali ke kehidupan mereka sebelumnya, atau apakah mereka akan tetap bersama? Akankah Yesus datang dan membalas mereka? Dikuasai oleh rasa takut dan ketidakpastian, mereka mengunci diri. Mereka lumpuh, hati mereka mengkerut, dan mereka merekatkan diri pada hal-hal yang aman namun rapuh. Seperti para murid, rasa takut membekukan kita dan mengunci kita di zona nyaman kita. Takut terluka, kita berhenti mengasihi. Takut akan kegagalan, kita tidak lagi mengejar impian kita. Takut dimanipulasi, kita menolak membantu orang lain. Takut pengkhianatan, kita menghindari komitmen.

Namun, rasa takut tidak memiliki kata terakhir akan hidup kita. Meskipun ruangan terkunci, Tuhan masuk di tengah-tengah mereka. Kata pertama yang Dia katakan adalah “Damai”, dalam bahasa Ibrani, “Shalom.” Kemudian, Yesus menunjukkan luka-lukanya kepada mereka, sebuah bukti bahwa Dia benar-benar Yesus, guru mereka, yang disalibkan dan bangkit. Melihat Tuhan, sukacita memenuhi hati mereka, dan mereka tidak takut lagi. Shalom Yesus mengampuni dan memberdayakan. Shalom Yesus memberikan kekuatan batin dalam menghadapi masa depan yang tidak pasti. Shalom Yesus memberikan keberanian untuk menerima penderitaan dan cobaan.

Yesus benar-benar bangkit dan menampakkan diri kepada para murid, tetapi ini tidak mengubah situasi para murid. Masa depan mereka tetap tidak pasti. Otoritas Yahudi masih berusaha untuk menghancurkan mereka. Para prajurit Romawi setiap saat dapat menangkap mereka. Komunitas mereka sangat kecil dan lemah. Situasi mereka tetap suram, tetapi satu hal telah berubah. Mereka tidak takut lagi. Dengan Shalom-Nya di dalam hati para murid, Yesus menghembuskan Roh Kudus-Nya kepada mereka dan mengirim mereka dalam misi untuk mengampuni. Karena mereka telah diampuni dan menerima belas kasihan, mereka menjadi misionaris perdamaian dan mereka membawa pengampunan kepada orang lain. Seperti pintu batu kubur tidak dapat menghentikan Tuhan yang bangkit, sekarang pintu yang terkunci tidak dapat menghalangi para murid yang diberdayakan.

Shalom Yesus adalah anugerah kebangkitan bagi kita semua. Benar bahwa situasi dan masalah kita tidak banyak berubah, tetapi rasa takut tidak bisa lagi membekukan kita. Kita dipanggil untuk keluar dari kamar kita yang terkunci dan menjadi misionaris perdamaian dan belas kasihan. Meskipun sakit, gagal, dan penuh dengan frustrasi, kita terus mengasihi, melayani dan berkomitmen karena ini adalah siapa kita sesungguhnya, orang-orang yang telah menerima Shalom Yesus, belas kasihan Tuhan dan Roh Kudus. Kita tidak takut karena kita adalah umat yang tertebus!


Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Resurrection and Love

Easter Sunday [April 1, 2018] John 20:1-10

… he saw and believed (Jn. 20:8)

light and child
photo by Harry Setianto, SJ

Today is the Easter morn! Today is the day the Lord has risen! Today is the day death has been defeated! Today is the day of resurrection! Yet, how do we understand Jesus’ resurrection and our resurrection? What does it mean when we say that death has been conquered?


We all know that we are going to die. We just do not know when, where and how, but we are sure that death will come. We remain anxious and afraid of the reality of suffering and death. It seems that death has not been defeated? It is true that sometimes death can be a liberation. A pious lady in her fifties once told a priest that she prayed that the Lord would take her when she was still beautiful. Then, the priest remarked, “How come you are still here!”

The usual occasion preachers speak of resurrection is the funeral mass! The resurrection has become a kind of pain reliever for the bereaved families and relatives. We are assured that the death of our beloved ones is not the final destiny. There is the blissful afterlife waiting, and we shall join our Lord in the resurrection. Though our preachers speak the consoling truth, the way we preach it tends to reduce the eternal life as a permanent retirement place, and the resurrection as extremely remote reality. Another priest once admitted that he was not that handsome, and thus he planned that in the day of resurrection, he would quickly snatch the body of handsome Canadian singer, Justin Bieber! The resurrection is only good for the dead, and it does not mean much for us the living. But, resurrection is really for all of us, here and now.

Going back to the first resurrection in the garden, no Gospel describes how the resurrection takes place. It simply cannot. Yet, there is an empty tomb, and Jesus’ body is missing. Peter is greatly puzzled. Mary Magdalene is weeping bitterly. Only one disciple understands. He is the disciple who loves dearly Jesus and whom Jesus loves. Despite death and emptiness, love endures. Through the eyes of love, the disciple is able to see the resurrection.

Love and its relation to the resurrection go back to the story of human creation in the book of Genesis. We are created in the image of God (Gen 1:26). If God is love (1 Jn 4:8), then we are made in the image of love. More than other creatures, we are designed with the ability to love and to receive love. Not only having the ability to love one another, our nature is even gifted with the ability to be loved by God and to love God. No other creation on earth is able to participate in this most beautiful love affair with the Lord. Unfortunately, sin destroys this love relationship with God and seriously damages our ability to love and be loved. The history of humankind turns to be the history of sins, suffering, and death. Husband and wife hurt each other, brothers kill each other, men exploit women, women sell their children, and men destroy nature. We need redemption.

Out of His immense love, God becomes man so that He may begin His work of redemption. This redemption culminates in Jesus’ resurrection. One of the greatest graces of resurrection is our ability to love God and to receive God’s love is restored. Thus, John the Beloved Disciple is able to see through the empty tomb and believe in the risen Lord. Just as the grace of resurrection heals John, so the same grace heal us and restore our ability to love God. In the midst of emptiness of life, we are empowered to see the risen Lord. Despite the absurdity of life, we are enabled to transform our sorrows and pains into the opportunity to love more and serve better. Despite pain and death, love endures.

Blessed Easter! Happy Resurrection!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Arti Kebangkitan bagi Kita yang Hidup

Minggu Paskah [1 April 2018] Yohanes 20: 1-10

… dia melihat dan percaya (Yoh 20: 8)

jump of joy
Photo by Harry Setianto, SJ

Tuhan telah bangkit! Kematian telah dikalahkan! Paskah adalah kemenangan kita semua! Ini adalah sukacita Hari Raya Paskah, dan pada hari ini, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kita memahami arti sebuah kebangkitan? Apa artinya ketika kita mengatakan bahwa kematian telah ditaklukkan?


Walaupun maut telah dikalahkan, kita semua tetap akan mati. Kita hanya tidak tahu kapan, di mana dan bagaimana, tetapi kita yakin bahwa kematian akan datang. Kita tetap cemas dan takut akan realitas penderitaan dan kematian. Tampaknya kematian belum sungguh-sungguh dikalahkan? Memang benar bahwa terkadang kematian bisa menjadi sebuah pembebasan. Seorang wanita paruh baya yang saleh bercerita kepada pastor parokinya bahwa dia berdoa agar Tuhan akan memanggilnya ketika dia tampak masih cantik dan sebelum dia terlihat tua, keriput dan jelek. Kemudian, sang pastor pun berkomentar, “Lalu, kenapa kamu masih di sini!”

Jika kita perhatikan, para imam biasanya berkhotbah tentang kebangkitan saat misa arwah! Kebangkitan telah menjadi semacam penghilang rasa sakit bagi keluarga dan kerabat yang berduka. Kita yakin bahwa kematian mereka yang kita cintai bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan baru yang menanti, dan kita akan bergabung dengan Allah kita dalam hari kebangkitan. Meskipun para pastor kita berkhotbah tentang kebenaran yang menghibur, cara kita mewartakan kebangkitan cenderung menjadikan kehidupan kekal sebagai tempat pensiun yang permanen, dan kebangkitan sebagai realitas yang sangat jauh dari kehidupan yang sekarang. Seorang imam pernah menyatakan bahwa dia diciptakan tidak begitu tampan, dan karena itu dia merencanakan bahwa pada hari kebangkitan, dia akan segera mengambil tubuh penyanyi Kanada yang terkenal, Justin Bieber! Kebangkitan itu hanya untuk mereka yang sudah meninggal, dan itu tidak berarti banyak bagi kita yang masih hidup. Namun, kebangkitan Yesus di hari Paskah benar-benar untuk kita semua yang masih hidup di dunia.

Jika kita membaca kembali ke kebangkitan Yesus, Injil tidak menjelaskan bagaimana kebangkitan itu terjadi. Namun, ada kubur yang kosong, dan tubuh Yesus hilang. Petrus sangat bingung. Maria Magdalena menangis dengan sedih. Hanya ada satu murid yang mengerti. Dia adalah murid yang sangat mengasihi Yesus dan yang dikasihi Yesus. Meskipun menghadapi kematian dan kekosongan, cinta kasih tidak pernah hilang. Melalui mata kasih, murid ini dapat melihat kebangkitan.

Kasih dan kebangkitan memiliki hubungan yang erat, bahkan jejaknya kembali ke kisah penciptaan manusia dalam kitab Kejadian. Kita diciptakan menurut citra Allah (Kej 1:26). Jika Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8), kita diciptakan menurut citra kasih. Oleh karena itu, melebihi makhluk-makhluk lain, kita dirancang dengan kemampuan untuk mengasihi dan dikasihi. Tidak hanya memiliki kemampuan untuk mengasihi satu sama lain, kita juga dikaruniai kemampuan untuk dikasihi oleh Tuhan dan untuk mengasihi Tuhan. Tidak ada ciptaan lain di bumi yang dapat berpartisipasi dalam kisah kasih paling indah dengan Tuhan. Sayangnya, dosa menghancurkan kisah kasih dengan Tuhan ini, dan secara serius merusak kemampuan kita untuk mengasihi dan dikasihi. Sejarah umat manusia berubah menjadi sejarah dosa, penderitaan, dan kematian. Suami dan istri saling menyakiti, saudara saling membunuh, pria mengeksploitasi wanita, wanita menjual anak-anak mereka, dan manusia merusak alam. Manusia membutuhkan penebusan.

Sungguh, Allah dalam kasih-Nya menjadi manusia untuk memulai karya penebusan, dan penebusan Yesus ini mencapai puncaknya dalam kebangkitan-Nya. Salah satu anugerah yang terbesar dari kebangkitan adalah kemampuan kita untuk mengasihi Allah dan dikasihi Allah dipulihkan. Saat Yohanes sang murid terkasih mampu melihat lebih jauh dari sekedar kubur yang kosong, dan percaya kepada Tuhan yang bangkit, Injil memberikan kita sebuah tanda bahwa rahmat kebangkitan telah bekerja. Jika Yohanes disembuhkan, karunia yang sama menyembuhkan kita juga dan memulihkan kemampuan kita untuk mengasihi Allah. Di tengah-tengah kekosongan hidup, kita diberdayakan untuk melihat Tuhan yang bangkit. Terlepas dari absurditas kehidupan, kita dimampukan untuk mengubah kesedihan dan rasa sakit kita menjadi kesempatan untuk mencintai lebih banyak dan melayani dengan lebih baik. Meskipun sakit dan mati, cinta tetap bertahan. Ini adalah kebangkitan Tuhan dalam hidup kita, Ini adalah hari Paskah!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Ups and Downs of Life

Palms Sunday of the Lord’s Passion [March 25, 2018] Mark 11:1-10; Mk 14:1—15:47

“Though he was in the form of God…Rather, he emptied himself, taking the form of a slave…” (Phil. 2:6-7)

photo by Harry Setianto, SJ

We are celebrating the Palm Sunday of the Lord’s Passion. In today’s celebration, we have the only liturgical celebration in which two different Gospel readings are read. The first Gospel, usually read outside the Church, is about the triumphal entry of Jesus into Jerusalem, and the second Gospel narrates the Passion of Jesus Christ. Reflecting on the two readings, we listen to two different and even opposing themes: triumph and defeat. These are two fundamental themes, not only in the life of Jesus, but in our lives as well.


The triumphal entry into Jerusalem represents our times of success and great joy. It is when we achieve something precious in our lives. These are moments like when we accomplish our studies, when we gain new and promising work, or when we welcome the birth of a family’s newest member. These are the “Up” events of life. While the Passion story speaks of times of defeat and great sorrow. It is when we experience great losses in our lives. There are moments like when we fail decisive examinations or projects, whenwe lose our jobs, or we experience death in the family. These are the “Down” events of life. Passing through these Upsand Downs of life, Jesus teaches us valuable lessons.  In times of triumph, like Jesus riding on the colt, we are challenged to remain humble and grateful. In moments of defeat, like Jesus who embraces His sufferings, we are invited to patiently bear these moments and offer them to the Lord.

However, there is something more than this. If we read the second reading from the letter of Paul to the Philippians (2:6-11), we listen to one of the most beautiful hymns in the New Testament that affirms both the divinity and humanity of Christ. If we believe that Jesus is God become man , then God does not only give us success or allow us to undergo suffering but in Jesus, God experiences what it means to be successful as well as to fail. This point is a radical departure from an image of God that is distant yet controlling, or a kind of a teddy bear that we can hug during crying moments, or a trophy we can parade in our victorious time. Our God is one with us in all our experience of joy and sadness, of triumph and defeat.

In the Book of Genesis chapter 3, we read the first story of human failure. Adam and Eve were deceived by the serpent and disobeyed God. It is true that our first parents failed God, and they had to leave the Garden of Eden. Yet, God did not cease to care for them. God made them garments of skin to cloth them, as to cover their nakedness and give them protection. God prepared them to face the harsh life outside the Garden. However, there is something even more remarkable. After Genesis 3, we will never read again about the Garden and what happens inside, but rather the stories of Adam, Eve and their descendants. Why? Because God did not choose to stay in the Garden, and just watch things through a giant LCD monitor, but rather He followed our first parents and walked with them. He accompanied them, struggled with them, cried with them and shared their happiness. Truly, the Bible is a book about God and His people.

As we enter the Holy Week, may we find time to reflect: How is God sharing in our ups and downs? Have we become a good companion to our friends in their ups and downs? Do we accompany Jesus in his way of the cross and resurrection?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Pasang Surut Kehidupan

Minggu Palma, Mengenang Sengsara Tuhan [25 Maret 2018] Markus 11: 1-10; Markus 14: 1—15: 47

walaupun dalam rupa Allah…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia (Fil. 2: 6-7)”

cross afar
foto oleh Harry Setianto SJ

Kita merayakan Minggu Palma. Hari ini adalah satu-satunya perayaan liturgis di mana dua Injil yang berbeda dibacakan. Injil pertama, biasanya dibacakan di luar Gereja, adalah tentang masuknya Yesus ke Yerusalem, dan Injil kedua menceritakan tentang sengsara dan wafatnya Yesus. Merenungkan pada dua bacaan ini, kita mendengarkan dua tema yang berbeda dan bahkan bertentangan, yakni tentang kemenangan dan kekalahan. Ini adalah dua tema dasar, tidak hanya dalam kehidupan Yesus, tetapi dalam kehidupan kita juga.


Yesus yang disambut saat Ia masuk ke Yerusalem melambangkan saat-saat kesuksesan dan sukacita kita. Itu adalah ketika kita meraih sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Ini adalah saat-saat ketika kita menyelesaikan sekolah kita, ketika kita mendapatkan pekerjaan baru, atau ketika kita menyambut kelahiran anggota keluarga terbaru. Ini adalah peristiwa “pasang” kehidupan. Sementara, kisah sengsara Yesus berbicara tentang saat-saat kekalahan dan kesedihan kita. Saat inilah kita mengalami kehilangan besar dalam hidup kita. Ada saat-saat seperti ketika kita gagal dalam ujian atau proyek yang menentukan, kita kehilangan pekerjaan kita, dan kita mengalami kematian dalam keluarga. Ini adalah peristiwa “surut” kehidupan. Melewati masa-masa pasang dan surut kehidupan, Yesus mengajarkan kita pelajaran berharga. Pada masa kemenangan, kita ditantang untuk tetap rendah hati dan bersyukur, seperti Yesus yang naik keledai. Di saat-saat kekalahan, kita diajak untuk dengan sabar menanggung saat-saat ini dan mempersembahkannya kepada Tuhan, seperti Yesus yang merangkul salib-Nya.

Namun, ada sesuatu yang lebih dari ini. Jika kita membaca bacaan kedua dari surat Paulus kepada jemaat di Filipi (2: 6-11), kita mendengarkan salah satu madah yang paling indah dalam Perjanjian Baru. Madah ini menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus. Jika kita percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, Allah tidak hanya memberi kita kesuksesan atau mengizinkan kita mengalami penderitaan, tetapi di dalam Yesus, Allah mengalami sendiri apa artinya menjadi sukses dan juga gagal. Ini menjadi titik perubahan radikal dari citra Allah sebagai Tuhan yang jauh, tapi tidak tersentuh. Dia juga bukan seperti boneka teddy bear yang dapat kita peluk saat kita sedih. Dia juga bukan piala yang kita pamerkan di saat kemenangan kita. Allah kita adalah satu dengan kita dalam semua pengalaman kita, baik sukacita maupun kesedihan, baik kemenangan maupun kekalahan.

Dalam Kitab Kejadian bab 3, kita membaca kisah pertama tentang kegagalan manusia. Adam dan Hawa ditipu oleh ular dan merekapun tidak taat kepada Tuhan. Memang benar bahwa mereka gagal, dan mereka harus meninggalkan Taman Eden. Namun, Tuhan tidak berhenti mengasihi mereka. Tuhan membuatkan mereka pakaian dari kulit untuk menutupi ketelanjangan mereka dan memberi mereka perlindungan. Tuhan mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan yang keras di luar Taman. Namun, ada sesuatu yang bahkan lebih luar biasa. Setelah Kejadian bab 3, kita tidak akan pernah membaca lagi tentang Taman Eden dan apa yang terjadi di dalam, melainkan kisah-kisah Adam, Hawa dan keturunan mereka. Mengapa? Karena Tuhan tidak memilih untuk tinggal di Taman Eden, dan memisahkan diri dari para manusia yang lemah, tetapi Dia mengikuti Adam dan Hawa dan berjalan bersama mereka. Dia menemani mereka, bergulat bersama, menangis bersama dan berbagi kebahagiaan mereka. Sungguh, Kitab Suci adalah buku tentang Tuhan dan umat-Nya.

Sata kita memasuki Pekan Suci, semoga kita menemukan waktu untuk merefleksikan: Bagaimana Tuhan menjadi bagian dalam pasang surut kehidupan kita? Sudahkah kita menjadi teman berbagi bagi saudara-saudari dalam pasang surut kehidupan mereka? Apakah kita sungguh menemani Yesus di jalan salib dan kebangkitannya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Die and Live

Fifth Sunday of Lent [March 18, 2018] John 12:20-33

“Amen, amen, I say to you, unless a grain of wheat falls to the ground and dies, it remains just a grain of wheat; but if it dies, it produces much fruit. (Jn. 12:24)”

by Harry Setianto SJ

The hour of Jesus’ suffering and death has come. Jesus knows well that Jewish leaders want him dead, and there is no other punishment worse than crucifixion. Yet, Jesus does not see His suffering and death as defeat and shame, but in fact, it is the opposite. His crucifixion shall be the hour that He will be glorified and draw all men and women to Himself. It is the moment of victory because Jesus sees Himself as a grain of wheat that falls to the ground and dies, and then bears many fruits. It is not a kind of positive thinking technique to vilify the suffering or a pep talk to ignore the pain, but rather Jesus chooses to embrace it fully and make it meaningful and fruitful.


In the theological level, Jesus’ suffering, death, and resurrection are the summits of the work of redemption, our salvation. Jesus is the resurrection and life so that whoever knows and believes in Him may have the eternal life. Jesus’ choice of a grain of wheat, a basic material for making bread, may allude to the sacrament of the Eucharist through which Jesus gives the fullness of Himself to us in the form of a bread. Thus, through our participation in the Eucharist, we share this fruit of salvation.

However, through His sacrifice and death, Jesus also offers us a radical way to live this life. Truly, there is nothing wrong in pursuing wealth, success and power because these are also gifts from God and necessary for our survival and growth. Yet, when we are too captivated by these alluring things, and make other things and people simply tools to gain these, we choose to live the way of the world. Since the dawn of humanity, the world has offered us an inward-looking and self-seeking way of life. It is “Me First,” my success, my happiness at the expense of others and nature. Some people exploit nature and steal other people’s hard-earned money to enrich themselves. Some objectify and abuse even their family members, people under their care, just to have an instant pleasure. Some others manipulate their co-workers or friends to have more power for themselves. These are precisely what the world offers. These are good as far as they fulfill our transitory needs as a human being, but when we make them as the be-all and end-all, we begin losing our lives. Science calls this effect the hedonic treadmill: We work hard, advance, so we can afford more and nicer things, and yet this doesn’t make us any happier. We fail to find what truly makes us human and alive, and despite breathing, we already dying.  As Jesus says, “Whoever loves his life, loses it (Jn 12:25).”

Paradoxically, it is in dying to ourselves and in giving ourselves, our lives to others that we may find life and bear fruits. Sometimes, we need to offer our lives literally.  St. Maximillian Kolbe offered his life in exchange for a young man who had children in the death camp Auschwitz. Later Pope John Paul II canonized him and declared him as a martyr of charity. Not all of us are called to make the ultimate sacrifice like St. Maximillian, and we can die to ourselves in our little things, and give ourselves for others in simple ways. The questions then for us: how are we going to die to ourselves? How shall we give ourselves to others? What makes our lives fruitful for ourselves and others?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Photo by Harry Setianto SJ


Mati dan Hidup

Minggu kelima Prapaskah [18 Maret 2018] Yohanes 12:20-33

“Amin, amin, saya katakan kepada Anda, kecuali satu butir gandum jatuh ke tanah dan mati, itu tetap hanya sebutir gandum; Tapi jika mati, itu menghasilkan banyak buah. (Yoh 12:24) “

small candle
oleh Harry Setianto SJ

Saat penderitaan dan kematian Yesus telah tiba. Yesus mengerti bahwa para pemimpin Yahudi menginginkan dia mati, dan tidak ada hukuman lain yang lebih keji daripada penyaliban. Namun, Yesus tidak melihat penderitaan dan kematian-Nya sebagai kekalahan dan aib, namun justru sebaliknya. Penyaliban-Nya akan menjadi saat dimana Dia akan dimuliakan. Inilah saat kemenangan karena Yesus melihat diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, dan kemudian menghasilkan banyak buah. Ini bukanlah semacam teknik berpikir positif untuk melupakan penderitaan atau mengabaikan rasa sakit, namun Yesus memilih untuk merangkul penderitaan-Nya sepenuhnya dan membuatnya bermakna dan berbuah.


Di tingkat teologis, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus adalah puncak dari karya penebusan, keselamatan kita. Yesus adalah kebangkitan dan hidup dan siapapun yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup yang kekal. Pilihan biji gandum oleh Yesus, yang adalah bahan dasar pembuatan roti, mungkin berbicara tentang sakramen Ekaristi dimana Yesus memberikan kepenuhan diri-Nya kepada kita dalam bentuk roti. Jadi, melalui partisipasi kita dalam Ekaristi, kita menikmati buah-buah keselamatan yang telah dimenangkan oleh Kristus.

Namun, melalui pengorbanan dan kematian-Nya, Yesus juga memberi kita cara radikal untuk menjalani kehidupan ini. Sungguh, tidak ada yang salah dalam mengejar kekayaan, kesuksesan dan kekuasaan karena ini juga merupakan anugerah dari Tuhan. Namun, ketika kita terlalu terpukau, dan sampai membuat sesama hanyalah sebagai alat untuk mendapatkan hal-hal ini, kita memilih jalan dunia. Sejak awal, dunia telah menawari kita jalan hidup yang berwawasan sempit dan egois. Ini adalah mentalitas “Me First,” kesuksesanku, kebahagiaanku, bahkan dengan mengorbankan sesama dan alam. Beberapa orang mengeksploitasi alam dan mencuri uang orang lain untuk memperkaya diri mereka sendiri. Beberapa orang melecehkan bahkan anggota keluarga mereka hanya untuk mendapatkan kesenangan instan. Beberapa orang lainnya memanipulasi rekan kerja atau teman mereka untuk memiliki lebih banyak kekuasaan. Inilah yang ditawarkan dunia.

Hal-hal ini sebenarnya baik sejauh mereka memenuhi kebutuhan sementara kita sebagai manusia, tapi ketika kita menjadikannya sebagai segalanya, kita mulai kehilangan hidup kita. Beberapa ilmuwan menyebut efek ini sebagai “treadmill hedonis”: Kita terus bekerja keras, maju, dan mampu menghasilkan banyak hal yang lebih baik, namun hal ini tidak membuat kita lebih bahagia. Kita gagal menemukan apa yang kita benar-benar membuat kita manusia dan hidup, dan meski bernapas, kita sudah kehilangan hidup. Tidak salah jika Yesus berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya (Yoh 12:25).”

Paradoksnya adalah saat kita mati terhadap diri kita sendiri dan memberikan hidup kita kepada sesama, kita menemukan hidup dan berbuah. Terkadang, kita perlu mengorbankan hidup kita secara radikal. St. Maximilianus Kolbe menawarkan hidupnya sebagai pengganti bagi seorang pemuda yang akan dieksekusi di kamp Auschwitz. Saat dia dikanonisasi, Paus Yohanes Paulus II menyatakannya sebagai martir cinta kasih. Tidak semua dari kita dipanggil untuk membuat pengorbanan radikal seperti St. Maximilianus, tetapi kita dapat mati terhadap diri kita sendiri dalam hal-hal kecil, dan memberikan diri kita kepada sesama dengan cara-cara yang sederhana. Pertanyaan sekarang: bagaimana kita akan mati terhadap diri kita sendiri? Bagaimana kita memberi diri kita kepada sesama? Apa yang membuat hidup kita sungguh berbuah bagi diri kita dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Foto oleh Harry Setianto SJ


Beholding the Crucified Christ

Fourth Sunday of Lent [March 11, 2018] John 3:14-21

“Just as Moses lifted up the serpent in the desert, so must the Son of Man be lifted up, (Jn. 3:14)”

beholding cross
photo by Harry Setianto, SJ

As early as chapter 3 of the Gospel of John, Jesus is aware that he is going to suffer and die on the cross. The crucifixion is the worst kind of punishment in the ancient time. It is reserved for the rebels and foulest criminals. For the Jews, death on the tree is considered accursed by God Himself (Deu 21:22-23). By dying on the cross, Jesus may be seen by Jewish contemporaries as an evil criminal, a great dishonor to the family and the nation, and an accursed by God.


However, Jesus sees His death on the cross, not in these horrible perspectives, but rather He likens himself to the bronze serpent lifted up by Moses in the desert. In the book of Numbers (21:4-9), the Israelites complain against the Lord and Moses in the desert. They particularly do not like the manna despite being freely and miraculously given by God. So, God sends serpents to punish the Israelites. When the Israelites repent, Moses lifts a bronze serpent on the pole, so those who behold it, will be healed from the snake’ bite and live. We notice that the serpent that becomes the instrument of punishment and death turns to be the instrument of healing and life. Like the serpent, the cross is originally a means of torture and death, but God transforms it into the means of forgiveness and salvation. Therefore, like the Israelites who see the bronze serpent, those who behold the crucified Jesus and believe in Him will have the eternal life.

The faith in the Crucified Man is fundamental in the life of every Christian. Yet, we, Catholics, seem to take this faith and Gospel verses pretty passionately. We do not only have faith in the Jesus Crucified; we literally behold Him on the cross.  In every church, we see the cross both inside and outside the building. In Catholic schools, hospitals, and homes, the crucifix (cross with the body) is hanging on practically every wall. The crucifix is also inseparable from our religious and liturgical activities. The General Instruction of the Roman Missal no. 270 even states, “There is to be a crucifix, clearly visible to the congregation, either on the altar or near it.” Our rosaries always begin with holding the crucifix and ends by kissing it. During the Way of the Cross, we literally genuflect before the cross, and proclaim, “We adore You, O Christ, and we praise you. Because, by Your holy cross, You have redeemed the world.” Even, during the exorcism rite, a priest finds the crucifix, especially St. Benedict’s cross, as a powerful means against the evil spirits. Finally, we make the sign of the cross every time we pray because we acknowledge that our salvation comes the Jesus Crucified.

Like the Israelites in the desert behold the bronze serpent, we too behold Jesus on the cross. As the Israelites are healed and live, we are also saved and have eternal life in the Son of Man that is lifted up on the cross. This Lenten season, we are invited once again to reflect the meaning of the cross in our lives. Is the cross a mere cute accessory or ornament? Is making the sign of the cross a meaningless repeated practice? Are we ashamed of the cross of Christ? What does it mean for us to be the men and women who behold the cross?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Lihatlah Kristus yang Tersalib

Minggu Keempat Prapaskah [11 Maret 2018] Yohanes 3: 14-21

“sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan (Yoh 3:14)”

before the cross
foto oleh Harry Setianto SJ

Sudah dari bab 3 Injil Yohanes, Yesus menyadari bahwa Ia akan menderita dan wafat di kayu salib. Penyaliban adalah hukuman terburuk pada zaman dahulu. Hukuman ini diperuntukkan bagi para pemberontak dan kriminal yang paling jahat. Bagi orang Yahudi, kematian di atas pohon dianggap terkutuk oleh Allah (Ul 21: 22-23). Dengan mati di kayu salib, Yesus dilihat oleh orang-orang sezaman-Nya sebagai penjahat, aib besar terhadap keluarga dan bangsa, dan telah dikutuk oleh Allah.


Namun, Yesus melihat kematian-Nya di kayu salib, bukan dalam perspektif negatif ini, melainkan Ia menyamai diri-Nya seperti ular tembaga yang diangkat Musa di padang gurun. Dalam kitab Bilangan (21: 4-9), orang Israel mengeluh kepada Tuhan dan Musa di padang gurun. Mereka tidak suka Manna meski telah diberikan Tuhan secara cuma-cuma dan penuh Mujizat. Tuhan pun mengirim ular-ular tedung untuk menghukum orang Israel. Ketika orang Israel bertobat, Musa mengangkat ular tembaga di atas tiang, sehingga orang-orang yang melihatnya, akan disembuhkan dari gigitan ular dan hidup. Kita melihat bahwa ular yang menjadi alat penghukuman dan kematian ternyata menjadi alat penyembuhan dan kehidupan. Seperti ular, salib pada awalnya merupakan alat penyiksaan dan kematian, tetapi Tuhan mengubahnya menjadi sarana pengampunan dan penyelamatan. Oleh karena itu, seperti orang Israel yang melihat ular tembaga, mereka yang melihat Yesus yang tersalib dan percaya kepada Dia akan memiliki hidup yang kekal.

Iman kepada Yesus tersalib sangat penting dalam kehidupan setiap orang Kristiani. Namun, kita, umat Katolik, tampaknya menghidupi iman ini dan ayat-ayat Injil dengan penuh semangat. Kita tidak hanya memiliki iman kepada Yesus yang tersalib; Kita benar-benar memandang Dia di kayu salib. Di setiap gereja, kita melihat salib baik di dalam maupun di luar gedung. Di sekolah-sekolah Katolik, rumah sakit, dan rumah, salib tergantung di hampir setiap dinding. Salib juga tidak dapat dipisahkan dari kegiatan keagamaan dan liturgis kita. Pedoman Umum Misale Romawi no. 117 bahkan menyatakan, “Hendaknya ada sebuah salib dengan sosok Kristus tersalib yang dipajang pada altar atau di dekatnya.” Rosario kita selalu dimulai dengan salib dan diakhiri dengan menciumnya. Selama Jalan Salib, kita berlutut di depan salib, dan menyatakan, “Kita memuji Engkau, ya Kristus. Karena, oleh salib-Mu kudus, Engkau telah menebus dunia.” Bahkan, selama ritual exorsisme, seorang imam menggunakan salib, khususnya salib St. Benediktus, sebagai sarana yang sangat kuat melawan roh-roh jahat. Akhirnya, kita membuat tanda salib setiap kali kita berdoa karena kita mengetahui bahwa keselamatan kita berasal dari  Yesus yang disalibkan.

Seperti orang Israel di padang gurun melihat ular tembaga, kita juga melihat Yesus di kayu salib. Saat orang Israel disembuhkan dan hidup, kita juga diselamatkan dan memiliki hidup yang kekal karena kita beriman kepada Anak Manusia yang diangkat ke atas kayu salib. Masa Prapaskah ini, kita diajak sekali lagi untuk merefleksikan makna salib dalam kehidupan kita. Apakah salib hanyalah sekedar aksesori atau ornamen cantik untuk rumah kita? Apakah membuat tanda salib merupakan sebuah rutinitas yang tidak berarti? Apakah kita malu dengan salib Kristus? Apakah artinya bagi kita hidup sebagai orang yang menatap salib Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Business as Usual

Third Sunday of Lent [March 4, 2018] John 2:13-25

“Take these out of here, and stop making my Father’s house a marketplace.” (Jn. 2:16}

inside the chuch
photo by Harry Setianto SJ

The presence of the animal vendors and money-changers in the Temple of Jerusalem comes out of practical necessity. When Jews from all over Palestine come to Jerusalem, especially during the important days like Passover, they will fulfill their religious obligation to offer their sacrifices in the Temple. Since it is impractical to bring a sacrificial animal like oxen, lambs, or turtledoves from their hometowns, the Jews prefer an easier solution by buying them in Jerusalem. It does not only save those Jewish pilgrims the hassle, but it gives the assurance also that the animals will be unblemished as the Law of Moses has prescribed. Therefore, many vendors have the authorization from the Temple elders that their animals are unblemished and ready for sacrifice. The Jews are also required to support the upkeep the Temple and the priests through so-called “Temple tax.” Yet, they are not allowed to pay the Temple tax with the Roman money because it bears the image of Caesar as a god, a blasphemy. Thus, they need to change their money with more acceptable currency. Here the role of money-changers comes in. It is a kind of win-win solution for the pilgrims, the vendors, and the Temple authorities. We could imagine that with so many people visiting the Temple, the business must be buzzing and thriving.


When Jesus comes and drives them all out of the Temple, surely it angers not only the vendors and the money-changers but also the Jewish authority and even ordinary Jewish pilgrims. The disappearance of this vendors and money-changers may mean that some people lose their earnings, some people find their profit disappear, and most people are irked by the inconveniences it causes. Jesus tells the reason behind his action, “the Jews making His Father’s house a marketplace.”  The very core of the Temple of Jerusalem is the encounter between God and his chosen people, between God the Father and His children, but with so many activities, trading, and noise, this essence of the Temple is lost. The Temple means usual business. The priests certify the sacrificial animals for the vendors, the vendors sell them to the pilgrims, and the pilgrims give the animals to the priests for the slaughter. Everyone goes home happy! Jesus’ action is to break this vicious cycle of “normalcy” that makes people’ worship shallow. Jesus criticizes the structure that exploits the Temple for mere profit and superficial fulfillment of religious obligation, and for making God’s house into the marketplace.

In this season of Lent, we ask ourselves, if Jesus comes to our church, diocese, parish, congregation, religious organization, and even our family, what will Jesus do? Will He drive us out like He drives out the vendors from the Temple? Or, will He make His home among you? Financial resources are important in helping our Church grow but do we not make the Church an income-generating institution? While the leadership structure is essential in the Church and our smaller groups, do we serve others, or exploit people? Do we find peace and joy in our communities, or are they full of intrigues, gossips, unhealthy competitions? Do encounter God in our Church, or simply find ourselves? We thank the Lord if we discover God, our Father, in our Church and community, but if we do not, we better call on Jesus to drive us away from His Father’s house.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP




Hari Minggu Ketiga dalam Masa Prapaskah [4 Maret 2018] Yohanes 2: 13-23

“Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. (Yoh 2:16).”

foto oleh Harry Setianto SJ

Kehadiran pedagang hewan dan penukar uang di Bait Allah Yerusalem berasal dari kebutuhan praktis. Ketika orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru Palestina datang ke Yerusalem, terutama pada hari-hari penting seperti Paskah, mereka akan memenuhi kewajiban religius mereka untuk mempersembahkan korban di Bait Allah. Karena tidak praktis membawa hewan kurban seperti lembu, anak domba, atau burung tekukur dari daerah asal mereka, orang-orang Yahudi lebih memilih solusi mudah dengan membelinya di sekitar Bait Allah. Ini tidak hanya menghemat usaha, tapi juga memberi jaminan bahwa binatang-binatang itu tidak bercacat seperti yang telah ditentukan oleh Hukum Musa. Oleh karena itu, banyak penjual yang memiliki otorisasi dari para tetua Bait Allah bahwa hewan mereka tidak bercacat dan siap dikorbankan. Orang-orang Yahudi juga diminta untuk mendukung pemeliharaan Bait Allah dan para imam melalui “pajak Bait Allah.” Namun, mereka tidak diperbolehkan untuk membayar pajak Bait Allah dengan uang Romawi karena uang ini memiliki citra Kaisar sebagai dewa, sebuah penghujatan. Dengan demikian, mereka perlu menukar uang mereka dengan mata uang yang lebih dapat diterima. Ini adalah semacam “win-win solution” bagi para peziarah, para pedagang, penukar uang dan otoritas Bait Allah. Kita bisa membayangkan bahwa dengan begitu banyak orang yang mengunjungi Bait Allah, pergerakan uang, komoditas dan usaha sangat cepat dan dalam volume besar.


Ketika Yesus datang dan mengusir mereka semua keluar dari Bait Allah, pastinya Yesus membuat tidak senang hampir semua orang. Yesus mengatakan alasan di balik tindakannya, “orang-orang Yahudi telah menjadikan rumah Bapa-Nya sebagai pasar.” Fungsi inti dari Bait Allah Yerusalem adalah sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan umat pilihannya, antara Allah Bapa dan anak-anak-Nya. Namun dengan begitu banyak aktivitas, perdagangan, dan kebisingan, esensi Bait Allah ini hilang. Bait Allah berarti bisnis manusia biasa. Para imam mengesahkan hewan korban untuk para pedagang, para pedagang menjualnya kepada peziarah, dan para peziarah memberi hewan itu kepada para imam untuk disembelih. Semua senang!

Yesus datang dan mematahkan lingkaran setan “normalitas” yang membuat kegiatan ibadat di Bait Allah dangkal. Yesus mengkritik struktur yang mengeksploitasi Bait Allah hanya untuk mendapatkan keuntungan dan pendangkalan sebuah peribadahan kudus. Ini semua membuat rumah Allah menjadi pasar.

Di masa Prapaskah ini, kita bisa bertanya, jikalau Yesus datang ke Gereja, keuskupan, paroki, kongregasi, kelompok, dan bahkan keluarga kita, apa yang akan Yesus lakukan? Akankah Dia mengusir kita keluar seperti Dia mengusir para pedagang dari Bait Allah? Atau, apakah Dia akan membuat rumah-Nya di antara kita? Benar bahwa uang dan sumber daya lain adalah penting dalam membantu pertumbuhan Gereja kita, tetapi apakah kita menjadikan Gereja sebagai lembaga yang ‘profitabel’? Benar bahwa struktur kepemimpinan sangat penting dalam Gereja dan kelompok kita yang lebih kecil, tetapi apakah kita diberdayakan untuk melayani orang lain, atau sekedar mengeksploitasi orang lain? Apakah kita menemukan kedamaian dan sukacita dalam komunitas kita, atau apakah ini penuh dengan intrik, gosip, kompetisi yang tidak sehat? Apakah kita menjumpai Tuhan di Gereja kita, atau hanya menemukan diri kita sendiri? Kita bersyukur jika kita menemukan Tuhan, Bapa kita, di dalam Gereja dan komunitas kita, tetapi jika tidak, sebaiknya kita memanggil Yesus untuk mengusir kita dari rumah Bapa-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Jesus, Moses, and Elijah

Second Sunday of Lent [February 25, 2018] Mark 9:2-10

Then Elijah appeared to them along with Moses, and they were conversing with Jesus.  (Mk. 9:4)

photo by Harry Setianto, SJ

We are entering the second Sunday of Lent, and we read from the Gospel that Jesus is transfigured before His three disciples on the mountain. We may wonder why the Church select this reading for the liturgical season of Lent. The season is associated with the atmosphere of repentance and mortification as we intensify our prayer, fasting, and abstinence. Yet, we have a reading that depicts a glorious moment of Jesus on earth, and this surely brings an extremely edifying experience for the three disciples. It does not seem really proper for this Lenten season. Does it?


When Jesus is transfigured, two great figures of Israel, Moses, and Elijah come and converse with Jesus. The two figures represent two foundations of Israelite religious life: the Law and the Prophet. Yet, looking closely at the stories of these great persons, we may discover some interesting facts. Moses sees the burning bush at the Mount Horeb and receives the holy name of God of Israel (Exo 3). He also fasts for 40 days before he receives the Law from God in the mount of Sinai (Exo 34:28). Elijah on his part fasts from food when he walks 40 days to see God in the mount of Horeb (1 King 19:8). Both climb a mountain to witness the presence of God and receive their missions there. Like them, Jesus fasts for 40 days in the desert and goes up to the mountain to listen to the affirming voice of His Father.

However, the holy mountain does not simply lead them to the blissful encounter with the Divine, but it also reveals their life-changing mission. In Horeb, Moses is to deliver Israel from the slavery of Egypt. As a consequence, he has to deal courageously with the ruthless and stubborn Pharaoh. Not only with Pharaoh, but Moses also has to bear with his own people, Israel who keep complaining and blaming Moses for bringing them out of Egypt. Elijah receives task to anoint Hazael as a king of Aram, Jehu as a king of Israel, and Elisha as a prophet. Going down the mountain also means Elijah has to once again face Ahab, the king of Israel, and his vengeful and violent queen, Jezebel. As Jesus is leaving the mountain, He lets His disciples know that He has to suffer and die on the cross. From the mount of transfiguration, Jesus begins His way of the cross and marches toward another mount, the Calvary.

With today’s Gospel, the Church reminds us that the transfiguration is intimately linked to Jesus’ passion and resurrection. Thus, it is properly placed within the context of Lent. Like Jesus and His disciples, we also have our moments of transfiguration. It is where we encounter God, and His presence fills us with joy. One friend shared his experience of an unexpected utter peacefulness when he visited the Blessed Sacrament. He visited the Adoration Chapel often, yet only that day, he encountered the Lord, so alive in his heart. It was the day when he lost his job, had a big quarrel with his wife, and his father got a serious illness. Though he wanted to linger forever in that experience, he then realized that he had to go back to his life and struggle with the problems. He has a mission, and he has to continue his way of the cross. We have our own transfiguration and allow this precious moment empower us to carry our daily crosses.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Yesus, Musa, dan Elia

Minggu Kedua Prapaskah [25 Februari 2018] Markus 9: 2-10

Lalu Elia menampakkan diri kepada mereka bersama dengan Musa, dan mereka bercakap-cakap dengan Yesus. (Mrk 9: 4)

foto oleh Harry Setianto, SJ

Kita memasuki hari Minggu kedua dalam masa Prapaskah, dan kita membaca dari Injil bahwa Yesus diubah rupa di hadapan ketiga murid-Nya di atas gunung. Kita mungkin bertanya-tanya mengapa Gereja memilih bacaan ini untuk masa Prapaskah? Musim ini dikaitkan dengan suasana pertobatan dan mati raga, dan kitapun diajak untuk mengintensifkan doa, puasa, dan pantangan. Namun, kita memiliki bacaan yang menggambarkan kemuliaan Yesus di bumi, dan ini pastinya membawa pengalaman yang sangat meneguhkan bagi ketiga murid tersebut. Rasanya bacaan ini tidak begitu tepat untuk masa Prapaskah ini. Benarkah demikian?


Ketika Yesus berubah rupa, dua tokoh besar Israel, Musa, dan Elia datang dan berbicara dengan Yesus. Dua tokoh tersebut mewakili dua pilar dasar kehidupan religius Israel: Hukum dan Nabi. Namun, melihat dari dekat kisah orang-orang hebat ini, kita mungkin menemukan beberapa fakta menarik. Musa melihat semak duri yang terbakar di Gunung Horeb dan menerima nama suci Allah Israel (Kel 3). Dia juga berpuasa selama 40 hari sebelum dia menerima Hukum Taurat dari Allah di gunung Sinai (Kel 34:28). Elia sendiri berpuasa ketika dia berjalan 40 hari untuk melihat Tuhan di gunung Horeb (1 Raja 19:8). Keduanya mendaki gunung untuk berjumpa Tuhan dan menerima misi mereka di sana. Seperti mereka, Yesus berpuasa selama 40 hari di padang gurun dan naik ke gunung untuk mendengarkan suara yang menguatkan dari Bapa-Nya.

Namun, gunung kudus tidak hanya membawa mereka ke pertemuan bahagia dengan Yang Ilahi, namun juga mengungkapkan misi yang mengubah hidup mereka. Di Horeb, Musa menerima tugas untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan Mesir. Sebagai akibatnya, dia harus berurusan dengan Firaun yang kejam dan keras kepala. Tidak hanya dengan Firaun, tapi Musa juga harus bersabar dengan bangsanya sendiri, Israel yang terus mengeluh dan menyalahkan Musa karena telah membawa mereka keluar dari Mesir. Elia menerima tugas untuk mengurapi Hazael sebagai raja Aram, Yehu sebagai raja Israel, dan Elisa sebagai seorang nabi. Turun ke gunung juga berarti Elia sekali lagi berurusan dengan Ahab, raja Israel, dan ratunya, Izebel yang penuh dendam dan kejam. Sewaktu Yesus meninggalkan gunung, Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia harus menderita dan mati di kayu salib. Dari gunung transfigurasi, Yesus memulai jalan salib-Nya yang panjang, dan berjalan menuju gunung berikutnya, Kalvari.

Dengan Injil hari ini, Gereja mengingatkan kita bahwa transfigurasi berhubungan erat dengan sengsara dan kebangkitan Yesus. Jadi, tidak salah jika bacaan ini di tempatkan dalam konteks Prapaskah. Seperti Yesus dan murid-murid-Nya, kita juga memiliki momen-momen transfigurasi kita. Di situlah kita berjumpa Tuhan, dan kehadiran-Nya memenuhi kita dengan sukacita. Seorang sahabat menceritakan pengalamannya tentang kedamaian yang tak terduga saat dia mengunjungi Sakramen Mahakudus. Dia sering mengunjungi Kapel Adorasi, namun baru pada hari itu, dia bertemu dengan Tuhan yang sangat hidup di dalam hatinya. Itu adalah hari ketika dia kehilangan pekerjaannya, bertengkar hebat dengan istrinya, dan ayahnya sakit serius. Meskipun ia ingin bertahan selamanya dalam pengalaman damai itu, ia kemudian menyadari bahwa ia harus kembali ke kehidupannya dan bergulat dengan masalah-masalah di depannya. Dia memiliki sebuah misi, dan dia harus meneruskan jalan salibnya. Kita memiliki transfigurasi kita sendiri dan membiarkan momen berharga ini memberdayakan kita untuk membawa salib kita sehari-hari.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Lebih dari Sekedar Talenta

Minggu Biasa ke-33 [19 November 2017] Matius 25: 14-30

“… Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah…” (Mat 25:25)

talentTalenta adalah satu dari sedikit kata-kata dari Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari bahasa kita sehari-hari. Talenta sering diartikan sebagai bakat yang diberikan Tuhan atau keterampilan yang unik seperti memiliki suara yang indah, kemampuan memecahkan persoalan matematika yang rumit, atau kemampuan berolahraga, namun belum sepenuhnya dikembangkan. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menggunakan dan memanfaatkan talenta kita untuk mencapai potensi maksimal kita dan memberikan kontribusi pada kemajuan masyarakat.

Kembali ke Injil kita, kata talenta memiliki artian yang sedikit berbeda. Bahasa Yunani “talanta” dalam Injil kita hari ini berarti jumlah uang yang luar biasa besar. Mungkin, talenta itu bernilai lebih dari lima belas miliar rupiah dalam perhitungan saat ini. Dari perumpamaan kali ini, kita tahu sang tuan adalah sangat kaya sehingga dia bisa dengan mudah mempercayakan talentanya pada para hambanya. Dan ketiga hamba tersebut diharapkan bisa memanfaatkan talenta yang mereka terima, dan menghasilkan lebih banyak talenta. Dalam waktu singkat, kedua hamba pertama menggandakan talenta, dan sang tuan pun memuji mereka. Hamba ketiga tidak melakukan apapun, dan mengubur talentanya. Hal ini menyulut kemarahan sang tuan dan dia langsung menghukum sang hamba karena ketidakmampuan dan kemalasannya. Kita pun setuju dengan keputusan sang tuan, dan menarik pelajaran dasar dari perumpamaan ini bahwa kita juga harus mengembangkan “talenta” kita dan menghindari kemalasan.

Namun, tidak seperti perumpamaan tentang sepuluh gadis (kita mendengarkan hari Minggu yang lalu), Yesus tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa kita harus meniru sang tuan atau dua hamba yang sukses. Ada sesuatu yang lebih rumit di sini. Dengan membaca perumpamaan hari ini lebih seksama, kita mungkin bertanya apakah sungguh hamba ketiga malas, atau ada hal yang lain? Jika dia memiliki begitu banyak uang di tangannya, mengapa dia menguburkannya dan menunggu penghakiman yang berat? Dia bisa saja lari dengan uang itu ke tempat yang jauh dan mencari keuntungan di tempat lain? Jawabannya terungkap dalam pembelaan hamba ketiga ini. Hamba tersebut sadar bahwa tuannya adalah manusia yang kejam yang “menuai di mana dia tidak menabur, dan mengumpulkan di mana dia tidak menanam.” Ini berarti bahwa dia tahu bahwa tuannya memperoleh kekayaannya melalui cara-cara yang tidak jujur. Anehnya, alih-alih menyangkal tuduhan tersebut, dengan angkuh, sang tuan mengakui kesalahannya. Dia adalah manusia yang kejam dan tidak jujur, dan mungkin, dia ingin para hambanya meniru cara-cara tidak jujurnya dalam melipatgandakan talenta mereka. Dengan demikian, untuk membungkam hambanya yang jujur ini, dia melemparkannya ke dalam kegelapan yang paling gelap.

Hamba ketiga mengatakan bahwa dia takut dan karenanya, dia mengubur talenta tersebut. Dia mungkin takut pada tuannya, tapi mungkin dia lebih takut kepada Tuhannya yang benar. Dengan melakukan perbuatan tidak jujur, dia melakukan ketidakadilan, dan membuat orang lain menderita. Dia mungkin dihakimi sebagai hamba malas, tapi dia berpihak kepada kebenaran. Meski hidup dalam budaya kebohongan, ia tetap teguh dalam kejujurannya dan apa yang benar.

Mungkin interpretasi perumpamaan kali ini tidak biasa, tapi pelajaran yang kita petik lebih radikal dan mendalam daripada hanya sekedar mengembangkan talenta kita. Melalui hamba ketiga, Yesus mengundang kita untuk menjadi tanda Kerajaan Allah di dunia. Dengan merajalelanya hoax dan kebohongan di sekitar kita, kita diajak untuk mencari dan berbicara kebenaran. Dengan begitu banyaknya ketidakadilan dan kemiskinan, kita dipanggil untuk melakukan apa yang benar namun tetap berbelas kasih. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah Gereja yang tidak memprovokasi suatu krisis, sebuah Injil yang tidak meresahkan, sebuah Firman Tuhan yang tidak menantang hati nurani siapa pun, Injil macam apakah itu? Pewarta yang menghindari isu-isu sensitif agar ia selalu aman, dia tidak menerangi dunia.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Be Wise in Small Things

32nd Sunday in Ordinary Time. November 12, 2017 [Matthew 25:1-13]

“The foolish ones, when taking their lamps, brought no oil with them, but the wise brought flasks of oil with their lamps. (Mat 25:3-4)”

In the Jewish patriarchal society, an unmarried woman has to stay with her father. Then, when she gets married, she will move to her husband’s house. This transition from her family of origin to her new family is ritualized by an elaborate wedding procession. The groom will fetch the bride from her father’s house, and together they march back to the groom’s house where usually the wedding celebration is held. For practical reason, the procession takes place after sunset, and thus, men and women who are involved in the procession shall bring their torch or lamp.

Within this context, the presence of the ten virgins have to be understood. They are assigned to welcome the groom and the bride, and join community in the procession of light. Since there are no means communications like cellular phone with GPS, they are not able to track the location of the couple, and yet, they need to be ready with their lamps anytime the procession comes. There is element of surprise and expectation, and the virgins have to prepare themselves well for this.

Jesus compares the five wise virgins and the five foolish virgins. The wisdom of the five virgins manifests in their ability to foresee some practical considerations like the estimated distance between the house of the groom and bride, the possible delay, and the expected slow-pacing procession. Thus, bringing along extra oil for the lamp is something sensible, and in fact, necessary. Extra oil might be just a simple thing compare to the entire wedding celebration, but its absence proves to be costly for the five virgins. It is just “foolish” to miss the entire celebration just because they fail to bring simple thing like an oil. Jesus likens this to the preparation for the Kingdom of Heavens. It begins with practicality of life, to prepare apparently simple things in life and yet proved to be important for those who are welcoming Jesus and His Kingdom.

Many great saints are those who are most humble. What basically Mother Teresa of Calcutta did was to serve the poorest of the poor in India. Sometimes, she and her sisters had something to give, but often they only had themselves to share. Yet, for the lonely, sick and dying, Mo. Teresa’s loving company was what mattered most. Then, she advised us, “Not all of us can do great things. But we can do small things with great love.” When sister Breda Carroll, a Dominican nun from Drogheda, Ireland, was asked by a journalist, “Isn’t life in the monastery is completely useless? And how do you become a preacher if you never go out and preach?”  She replied, “The greatest preaching is to make people think of God, and our mere presence and constant prayer cannot but disturb people and make them think of God.” For all we know, their simple ways of life and constant prayer have saved countless souls in purgatory.

We are invited to act like this practical and wise virgins. We prepare ourselves for Jesus by faithfully doing seemingly simple and ordinary things in our lives. Preparing breakfast every morning seems nothing special, but for a mother of five children, that is her share in the Kingdom. Working hard every day looks to be normal for a young man aiming for a bright future, but for a poor and old man who needs to support his family, it is his share in the Kingdom. What are our share in the Kingdom? Are we faithfully doing simple things with love? Are we ready to welcome Christ?

  Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP