Featured

Injil dan Keselamatan

Minggu Kedua Adven [10 Desember 2017] Markus 1: 1-8

“Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus (Mar 1:1).”

antonio de montesinosHari ini, kita membaca permulaan dari Injil menurut Markus. Di antara para penginjil, hanya Markus yang secara eksplisit memperkenalkan karyanya sebagai “Injil”. Kata “Injil” berarti “Kabar Baik”, atau dalam bahasa Yunani, “Evangelion”. Biasanya, kita memahami sebuah Injil sebagai karya tertulis tentang hidup dan sabda Yesus Kristus. Gereja telah menetapkan empat karya sebagai Injil kanonik. Kita memiliki Injil menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

Tapi, apa arti sebenarnya sebuah Injil? Kembali ke zaman Yesus, “Evangelion” sebenarnya adalah istilah teknis bagi proklamasi lisan dari keputusan kerajaan yang secara signifikan akan mempengaruhi kehidupan banyak orang. Seorang utusan akan berdiri di tengah alun-alun dan mengumumkan bahwa perang telah dimenangkan, dan kota tersebut telah diselamatkan. Ini adalah kabar baik, sungguh kabar yang besar dan menggembirakan. St. Paulus adalah orang pertama yang mengadopsi istilah Injil ke dalam Gereja, dan ini menandakan sebuah proklamasi lisan tentang buah-buah karya penyelamatan yang dimenangkan melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (lih. 1 Kor 15:1-4). Jadi, ketika kita membaca bahwa St .Paulus mewartakan Injil, ini bukan berarti dia membaca bagian dari Injil menurut Markus atau Yohanes, namun ia mewartakan secara lisan bahwa telah kita selamatkan oleh Yesus. Injil harus diproklamasikan karena hanya dengan percaya dan hidup melalui Injil, kita akan diselamatkan (lih. Rom 10:13-15).

Karena kita semua telah dibaptis, kita semua memiliki kewajiban untuk mewartakan Injil dan bekerja untuk keselamatan. Namun, kita mungkin bertanya, “Bagaimana kita akan memberitakan dan menyelamatkan jiwa-jiwa jika kita tidak dapat memberikan sakramen?” Benar bahwa memberikan sakramen dan homili hanya bagi kaum tertahbis, yakni diakon, imam, dan uskup, tetapi kita semua dipanggil untuk mewartakan Injil. Tapi bagaimana caranya? Kita ingat bahwa kita mewartakan Injil demi keselamatan, dan keselamatan yang Yesus berikan tidak terbatas dalam pengertian spiritual, tapi bersifat holistik. Ini adalah keselamatan bukan hanya dari dosa, tapi yang menyentuh semua aspek kemanusiaan kita. Yesus tidak hanya mengampuni dosa, tapi Ia menyembuhkan orang sakit, mengajar orang-orang, memberdayakan orang miskin, dan menentang struktur yang tidak adil dan membuat orang-orang tertindas.

Mengikuti teladan Tuhan dan Gurunya, Gereja bekerja untuk keselamatan yang holistik. Kita mengelola banyak rumah sakit di seluruh dunia untuk menyembuhkan orang sakit. Kita mengelola banyak sekolah di seluruh dunia untuk mendidik manusia dan membangun karakter. Banyak ilmuwan Katolik terlibat dalam banyak jenis penelitian terobosan. Rm. Georges Lemaitre, seorang imam dari Belgia, adalah astronom di balik teori Big Bang. Louis Pasteur, penemu proses pasteurisasi, adalah seorang awam yang rajin berdoa rosario. Kita membangun dan memperjuangkan juga masyarakat yang adil dan damai. Antonio de Montessinos, seorang Dominikan dari Spanyol, adalah salah satu imam pertama yang secara terbuka berkhotbah menentang perbudakan di Amerika. Untuk menunjukkan komitmennya terhadap keadilan dan perdamaian, Ordo Dominikan telah menempatkan delegasi permanennya di Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa dan secara aktif terlibat dalam resolusi adil dan damai mengenai berbagai isu-isu global.

 Musim Adven ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan makna Injil, dan bagaimana kita mewartakan Injil. Apa sarana yang kita gunakan untuk memberitakan Injil? Apakah kita menjadikan pewartaan Injil sebagai prioritas kita? Apakah kita bekerja dengan tekun untuk keselamatan kita sendiri dan orang lain?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advertisements
Featured

Advent and Liturgical Year

First Sunday of Advent. December 3, 2017 [Mark 13:33-37]

“Be watchful! Be alert! You do not know when the time will come. (Mrk 13:33)”

watchful servantThe Season of Advent has begun. This season marks the beginning of the new Church’s liturgical year as well as of the four Sundays preparation for Christmas. A curious mind may ask: why the liturgical year has to be opened by the season Advent? Why not Christmas, Lenten or Easter seasons?

It has something to do with the liturgical year itself. Yet, what is the liturgical year? Simply put, liturgy is the official and public worship of the Church. Thus, it is through the liturgical year or calendar, the Church wishes to worship God every single day all around the year, and thus fulfilling St. Paul’s instruction to pray without ceasing (1 The 5:17). There is no single moment in the life of the Church and Christians that is not ordained for worshiping the Lord.

Yet, to worship God every moment of our lives is rather a tall order, if not impossible. For some of us, we just go to the Church on Sundays and perhaps pray privately once in a while. Some of us have freer time and commitment to the Church, so we attend Mass daily and join parish organizations. For Dominican religious brothers like myself, daily Eucharist and the Liturgy of the Hours have been integrated into our life structure in the convent, and thus easier to pray every day. But, for many of us who are working for a living, and studying for the future, more time in the Church is simply not possible. Even for me, without the structure of convent, I am often lost and have a hard time to pray.

From this perspective, the Advent season becomes even more crucial for us in shaping our right attitude and predisposition in entering this liturgical new year. The Catechism of the Catholic Church reminds us, “When the Church celebrates the liturgy of Advent each year, she makes present this ancient expectancy of the Messiah, for by sharing in the long preparation for the Savior’s first coming, the faithful renew their ardent desire for his second coming (CCC 524).” The first Christians possessed this “eschatological fervor” because they believed that Jesus was going to come very soon. They were so eager to welcome Christ as much as they would live as if they were not of this world. As Paul would say, “our citizenship is in heaven (Phil 3:20)”. Many of them sold their belongings so that they may focus on those truly important: the teaching of the apostles, communal life, breaking of the bread, and prayers (Act 2:42). Even the pagans would be so amazed and say, “See how they love one another!” It may be true that Jesus did not come in their lifetime, but their lifestyles have transformed their communities and societies to better places to live. Jesus did not come, but they brought Jesus in the midst of the world.

It is the call of Advent season to rekindle this “eschatological fervor” in us. To see that we are all pilgrims and sojourners on this earth and we walk towards our true home in Christ. Our happiness is not rooted in the things of this earth, money, gadgets, popularity, and success. It is true that we need to work for a living, and often our works leave a little time to worship God, but it is always possible to live as the sign of the Kingdom of God, to make our very lives a worship to God. To be honest in our workplaces or schools, to spend more quality time with our families, and to love the poor are some ways we live this fervor. Advent is not about waiting, but it is about engagingly bringing Jesus in our midst.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Adven dan Tahun Liturgi

Minggu Pertama Adven. 3 Desember 2017 [Markus 13: 33-37]

“Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba.  (Mar 13:33)”

keep watchingMasa Adven telah dimulai. Masa ini menjadi tanda dimulainya tahun liturgi Gereja dan juga empat hari Minggu persiapan menuju Natal. Kita mungkin bertanya, “Mengapa tahun liturgi harus dibuka oleh masa Adven? Mengapa tidak Natal, Prapaskah atau Paskah?

Ini ada kaitannya dengan tahun liturgi itu sendiri. Namun, apakah makna dari itu tahun liturgi? Secara sederhana, liturgi adalah perayaan ibadat Gereja sebagai bentuk pemujaan terhadap Allah yang benar. Jadi, melalui tahun liturgi, Gereja ingin menyembah Tuhan Allah setiap hari tanpa henti, dan dengan demikian memenuhi instruksi Santo Paulus untuk berdoa tanpa henti (1 Tes 5:17). Tidak ada momen dalam kehidupan Gereja dan umat Kristiani yang tidak dipersembahkan untuk menyembah Tuhan.

Namun, untuk menyembah Tuhan setiap saat dalam hidup kita adalah tuntutan yang sangat tinggi, dan bahkan mustahil. Beberapa dari kita, kita hanya pergi ke Gereja pada hari Minggu, dan mungkin berdoa secara pribadi sesekali waktu. Beberapa dari kita memiliki waktu luang yang lebih banyak sehingga kitapun bisa menghadiri misa setiap hari dan menjadi bagian dengan organisasi paroki. Bagi anggota biarawan Dominikan seperti saya, Ekaristi harian dan ibadat harian telah terintegrasi dalam struktur kehidupan kami di biara, dan dengan demikian lebih mudah bagi kami untuk berdoa setiap hari. Tapi, bagi banyak dari kita yang bekerja untuk mencari nafkah, dan belajar untuk masa depan, lebih banyak waktu di Gereja bukanlah hal yang memungkinkan. Bahkan bagi saya pribadi, tanpa struktur biara, saya masih mengalami kesulitan berdoa.

Dari perspektif ini, masa Advent menjadi semakin penting bagi kita dalam membentuk sikap dan disposisi hati kita dalam memasuki tahun baru liturgi ini. Katekismus Gereja Katolik mengingatkan kita, “Ketika Gereja merayakan liturgi Adven setiap tahun, dia membuat harapan kuno tentang Mesias ini, karena dengan berbagi dalam persiapan untuk kedatangan pertama Juruselamat, umat dengan setia memperbarui keinginan mereka yang penuh semangat untuk kedatangannya yang kedua (No. 524).Umat Kristiani perdana memiliki “semangat eskatologis” karena mereka percaya bahwa Yesus akan segera datang. Mereka ingin menjadi layak menyambut Kristus sehingga mereka hidup seolah-olah mereka bukan bagian dari dunia ini. Seperti yang yang Paulus katakan, Karena kewargaan kita adalah di dalam surga (Flp 3:20). Banyak dari mereka menjual harta benda mereka sehingga tidak ada yang miskin di antara mereka (diakonia) dan mereka bisa fokus pada apa yang benar-benar penting: pengajaran para rasul (didake), persekutuan (koinonia), pemecahan roti (eukaristia), dan doa (proseuke) (Kis 2:42; 4:32-36). Bahkan orang-orang yang bukan anggota Gereja takjub dan berkata, “Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi!” Mungkin benar bahwa Yesus tidak datang dalam waktu hidup mereka, namun gaya hidup mereka telah mengubah komunitas dan masyarakat di sekitar mereka menjadi tempat tinggal  yang lebih baik. Yesus tidak datang, tetapi mereka membawa Yesus di tengah dunia.

Ini adalah panggilan masa Adven untuk menghidupkan kembali “semangat eskatologis” ini di dalam diri kita. Semangat yang membuat kita menyadari bahwa kita semua adalah peziarah di bumi ini dan kita berjalan menuju rumah kita yang sejati di dalam Kristus. Dunia ini bukanlah yang tempat tinggal kita yang permanen, dan karenanya, kebahagiaan kita tidak berakar pada hal-hal di bumi ini seperti uang, gadget, popularitas, dan kesuksesan. Memang benar bahwa kita perlu bekerja untuk mencari nafkah, dan seringkali karya-karya kita meninggalkan sedikit waktu untuk beribadah, tapi hidup kita selalu bisa menjadi tanda Kerajaan Allah, menjadi sebuah bentuk menyembah kepada Tuhan yang benar. Kita bisa jujur di tempat kerja atau sekolah, bisa menghabiskan lebih banyak waktu berkualitas bersama keluarga kita, dan bisa mengasihi orang miskin. Masa Adven bukan sekedar tentang penantian, tapi ini bagaimana kita dengan semagat membawa Yesus di tengah kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Bukan Raja Biasa

Hari Raya Kristus Raja. 26 November 2017 [Matius 25: 31-45]

“Sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku (Mat 25:45).”x-default

Menjadi bagian dari generasi modern, kita hidup pada alam demokrasi dan tidak mengerti secara penuh apa artinya menjadi hamba seorang raja yang berkuasa mutlak. Raja dan ratu masa kini, seperti Kaisar Jepang dan Ratu Inggris, adalah raja dan ratu konstitusional. Kekuasaan mereka tidak lagi mutlak, tapi berdasarkan dan diatur oleh Konstitusi negara. Beberapa negara bahkan memilih untuk menghapus sistem pemerintahan monarki secara total, dan sang raja hanya menjadi simbol budaya masa lalu. Mungkin, salah satu gambaran terbaik dari seorang raja yang berkuasa secara mutlak bisa kita lihat pada acara televisi Game of Thrones. Dalam acara ini, dia yang duduk di Tahta Besi adalah raja yang memiliki kekuatan hampir absolut. Ribuan tentara mematuhinya dan semua penduduk memberi hormat. Dia adalah hukum itu sendiri, dan dia bisa melakukan apa saja yang dia mau. Tak heran jika kisah Game of Thrones berputar pada Tahta Besi, dan bagaimana para karakter saling berlomba untuk mengklaim takhta tersebut.

Injil hari ini memberi gambaran tentang kedatangan Anak Manusia pada akhir zaman. Yesus akan duduk di atas takhtanya dan memberikan penghakiman-Nya atas segala bangsa. Mendengarkan bagian Injil ini, kita bisa membayangkan bahwa Yesus seperti seorang raja di atas Tahta Besi dengan mahkota emasnya, dikelilingi oleh malaikat yang perkasa. Namun, membaca Injil lebih lanjut, gambaran dahsyat ini segera diimbangi oleh gambaran lain. Yesus memperkenalkan dirinya sebagai seseorang yang dipenjara, seorang pria tuna wisma yang lapar, haus dan telanjang. Dia berubah dari seorang manusia yang berkuasa penuh menjadi manusia yang miskin dan tak berdaya.

Dalam sejarah dunia, kita mungkin mengenal beberapa raja yang jatuh ke dari kekuasaan mereka. Raja Louis XVI dari Prancis adalah raja dengan kekuasaan absolut yang akhirnya dieksekusi dengan guillotine. Pu Yi, kaisar terakhir Tiongkok, dilayani oleh banyak hamba bahkan untuk menyikat giginya, tapi akhirnya dia kehilangan segalanya dan menjadi tukang sapu jalanan di Beijing. Namun, Yesus bukanlah raja-raja yang semacam ini, melainkan Dia memilih dengan bebas untuk menjadi satu dengan kita semua, terutama dengan mereka yang paling miskin dan tidak disukai oleh masyarakat. Kerajaan-Nya bukanlah berdasarkan kekuasaan dan kontrol, melainkan kerajaan orang miskin, lemah, dan terpinggirkan.

Sekarang, apakah kita bersedia masuk ke dalam Kerajaan orang-orang miskin ini? Seperti karakter dalam Game of Throne, kita ingin duduk di Tahta Besi versi kita sendiri. Namun, ini bukanlah Kerajaan Yesus. Sering kali kita merasa sudah menolong orang lain dengan memberi sesuatu kepada para pengemis, tapi ini tidak cukup. Jika Yesus adalah Raja kita, kita diajak melihat saudara dan saudari kita yang kurang beruntung ini sebagai mereka yang adalah empunya kerajaan, mereka yang duduk di tahta. Melayani Yesus Sang Raja berarti kita perlu melayani mereka dengan cara yang lebih signifikan. Ini adalah kerajaan yang didefinisikan oleh keadilan dan kebenaran, bukan kekuasaan dan kesuksesan.

Minggu yang lalu, Paus Fransiskus mendirikan Hari Dunia Kaum Miskin yang pertama, dan dalam homilinya dia berpesan, “Kita mungkin sering menganggap orang miskin hanya sebagai penerima manfaat dari perbuatan murah hati kita. Betapapun baiknya dan berguna tindakan semacam ini, mungkin karena mereka membuat kita peka terhadap kebutuhan mereka dan ketidakadilan yang sering menjadi penyebab kemiskinan, tindakan-tindakan ini seharusnya mengarah pada perjumpaan sejati dengan orang miskin dan berbagi yang menjadi cara hidup kita … Jika kita benar-benar ingin bertemu dengan Kristus, kita harus menyentuh tubuh-Nya di tubuh penderitaan orang miskin, sebagai tanggapan terhadap persekutuan sakramental yang dianugerahkan dalam Ekaristi.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Lebih dari Sekedar Talenta

Minggu Biasa ke-33 [19 November 2017] Matius 25: 14-30

“… Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah…” (Mat 25:25)

talentTalenta adalah satu dari sedikit kata-kata dari Kitab Suci yang telah menjadi bagian dari bahasa kita sehari-hari. Talenta sering diartikan sebagai bakat yang diberikan Tuhan atau keterampilan yang unik seperti memiliki suara yang indah, kemampuan memecahkan persoalan matematika yang rumit, atau kemampuan berolahraga, namun belum sepenuhnya dikembangkan. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menggunakan dan memanfaatkan talenta kita untuk mencapai potensi maksimal kita dan memberikan kontribusi pada kemajuan masyarakat.

Kembali ke Injil kita, kata talenta memiliki artian yang sedikit berbeda. Bahasa Yunani “talanta” dalam Injil kita hari ini berarti jumlah uang yang luar biasa besar. Mungkin, talenta itu bernilai lebih dari lima belas miliar rupiah dalam perhitungan saat ini. Dari perumpamaan kali ini, kita tahu sang tuan adalah sangat kaya sehingga dia bisa dengan mudah mempercayakan talentanya pada para hambanya. Dan ketiga hamba tersebut diharapkan bisa memanfaatkan talenta yang mereka terima, dan menghasilkan lebih banyak talenta. Dalam waktu singkat, kedua hamba pertama menggandakan talenta, dan sang tuan pun memuji mereka. Hamba ketiga tidak melakukan apapun, dan mengubur talentanya. Hal ini menyulut kemarahan sang tuan dan dia langsung menghukum sang hamba karena ketidakmampuan dan kemalasannya. Kita pun setuju dengan keputusan sang tuan, dan menarik pelajaran dasar dari perumpamaan ini bahwa kita juga harus mengembangkan “talenta” kita dan menghindari kemalasan.

Namun, tidak seperti perumpamaan tentang sepuluh gadis (kita mendengarkan hari Minggu yang lalu), Yesus tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa kita harus meniru sang tuan atau dua hamba yang sukses. Ada sesuatu yang lebih rumit di sini. Dengan membaca perumpamaan hari ini lebih seksama, kita mungkin bertanya apakah sungguh hamba ketiga malas, atau ada hal yang lain? Jika dia memiliki begitu banyak uang di tangannya, mengapa dia menguburkannya dan menunggu penghakiman yang berat? Dia bisa saja lari dengan uang itu ke tempat yang jauh dan mencari keuntungan di tempat lain? Jawabannya terungkap dalam pembelaan hamba ketiga ini. Hamba tersebut sadar bahwa tuannya adalah manusia yang kejam yang “menuai di mana dia tidak menabur, dan mengumpulkan di mana dia tidak menanam.” Ini berarti bahwa dia tahu bahwa tuannya memperoleh kekayaannya melalui cara-cara yang tidak jujur. Anehnya, alih-alih menyangkal tuduhan tersebut, dengan angkuh, sang tuan mengakui kesalahannya. Dia adalah manusia yang kejam dan tidak jujur, dan mungkin, dia ingin para hambanya meniru cara-cara tidak jujurnya dalam melipatgandakan talenta mereka. Dengan demikian, untuk membungkam hambanya yang jujur ini, dia melemparkannya ke dalam kegelapan yang paling gelap.

Hamba ketiga mengatakan bahwa dia takut dan karenanya, dia mengubur talenta tersebut. Dia mungkin takut pada tuannya, tapi mungkin dia lebih takut kepada Tuhannya yang benar. Dengan melakukan perbuatan tidak jujur, dia melakukan ketidakadilan, dan membuat orang lain menderita. Dia mungkin dihakimi sebagai hamba malas, tapi dia berpihak kepada kebenaran. Meski hidup dalam budaya kebohongan, ia tetap teguh dalam kejujurannya dan apa yang benar.

Mungkin interpretasi perumpamaan kali ini tidak biasa, tapi pelajaran yang kita petik lebih radikal dan mendalam daripada hanya sekedar mengembangkan talenta kita. Melalui hamba ketiga, Yesus mengundang kita untuk menjadi tanda Kerajaan Allah di dunia. Dengan merajalelanya hoax dan kebohongan di sekitar kita, kita diajak untuk mencari dan berbicara kebenaran. Dengan begitu banyaknya ketidakadilan dan kemiskinan, kita dipanggil untuk melakukan apa yang benar namun tetap berbelas kasih. Izinkan saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip Uskup Agung Oscar Romero, “Sebuah Gereja yang tidak memprovokasi suatu krisis, sebuah Injil yang tidak meresahkan, sebuah Firman Tuhan yang tidak menantang hati nurani siapa pun, Injil macam apakah itu? Pewarta yang menghindari isu-isu sensitif agar ia selalu aman, dia tidak menerangi dunia.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Menjadi Bijak dalam Hal Kecil

Minggu Biasa ke-32 [12 November 2017] Matius 25: 1-13

“Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak (Mat 25:3).”

ten virgins - africaPada zaman Yesus, seorang perempuan yang belum menikah harus tinggal dengan ayah dan keluarganya. Hanya saat dia menikah, dia akan pindah ke rumah suaminya. Peralihan dari keluarga asalnya ke keluarga barunya ini dilambangkan oleh perarakan pernikahan yang melibatkan hampir semua orang di desa. Pengantin laki-laki akan menjemput sang istri dari rumah ayahnya, dan bersama-sama mereka diarak kembali ke rumah pengantin laki-laki di mana biasanya perayaan pernikahan diadakan. Untuk alasan praktis, perarakan berlangsung setelah matahari terbenam, dan dengan demikian, pria dan wanita yang terlibat dalam perarakan harus membawa obor atau pelita mereka.

Dalam konteks inilah kehadiran sepuluh gadis harus dipahami. Mereka ditugaskan untuk menyongsong pengantin pria dan wanita, dan bergabung dengan komunitas dalam perarakan cahaya. Karena belum ada sarana komunikasi seperti handphone dengan GPS, mereka tidak dapat melacak lokasi perarakan, tetapi mereka harus siap dengan pelita mereka kapan pun perarakan datang. Ada unsur kejutan dan penantian, dan para gadis ini harus mempersiapkan diri dengan baik.

Yesus membandingkan lima gadis yang bijaksana dan lima gadis bodoh. Kebijaksanaan kelima gadis tersebut terletak pada kemampuan mereka untuk melihat beberapa pertimbangan praktis seperti perkiraan jarak antara rumah mempelai pria dan wanita, kemungkinan keterlambatan, dan perarakan yang berjalan dengan lambat. Dengan demikian, membawa tambahan minyak untuk lampu adalah sesuatu yang masuk akal dan sebenarnya diharuskan. Minyak tambahan mungkin hanya hal yang sederhana dibandingkan dengan keseluruhan perayaan pernikahan, tetapi kegagalan untuk mempersiapkannya terbukti membawa bencana bagi kelima gadis lain. Tentu saja hal yang “bodoh” tidak bisa mengikuti seluruh perayaan hanya karena mereka gagal membawa hal sederhana seperti minyak. Bagi Yesus, hal ini seperti mempersiapkan Kerajaan Surga. Semua dimulai dengan kemampuan kita untuk menentukan dan mempersiapkan hal-hal yang tampaknya sederhana dalam hidup, tetapi terbukti penting bagi kita yang menyambut Yesus dan Kerajaan-Nya.

Orang-orang kudus yang paling besar adalah mereka yang paling rendah hati dan sederhana. Bunda Teresa dari Kalkuta memberikan hidupnya melayani orang-orang miskin di India. Terkadang, dia dan para susternya memiliki sesuatu untuk diberikan kepada orang miskin, tapi sering kali mereka tidak memiliki apa-apa kecuali belas kasih. Namun, bagi mereka yang sakit, miskin dan menjelang ajal mereka, persahabatan dan kasih Bunda Teresa adalah yang paling penting. Bunda Teresa pun mengatakan, “Tidak semua dari kita bisa melakukan hal besar, tetapi kita bisa melakukan hal-hal kecil dengan kasih yang besar.” Ketika suster Breda Carroll, seorang rahib Dominikan dari Drogheda, Irlandia, ditanya oleh seorang wartawan, “Bukankah kehidupan di dalam pertapaan sama sekali tidak berguna? Dan bagaimana Anda menjadi seorang pewarta jika Anda tidak pernah pergi keluar dan berkarya?” Dia menerangkan, “Pewartaan terbesar adalah untuk membuat orang-orang merasakan dan berpikir tentang Tuhan, dan kehadiran kami sebagai petapa dan doa-doa kami mengundang mereka untuk melihat sesuatu yang lebih dari mereka, untuk memikirkan Tuhan.”

Kita diundang untuk bertindak seperti gadis-gadis bijaksana ini. Kita mempersiapkan diri kita untuk Yesus dengan kesetiaan melakukan hal-hal yang tampak sederhana dan biasa dalam hidup kita. Mempersiapkan sarapan pagi bagi anak-anaknya setiap hari tampaknya tidak istimewa, tapi bagi ibu dengan lima anak, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Bekerja keras dan jujur setiap hari terlihat biasa-biasa saja, tapi bagi pria miskin dan tua yang perlu menghidupi keluarganya, ini adalah caranya mempersiapkan diri menyambut Kerajaan. Apakah kita lakukan untuk mempersiapkan diri kita untuk menyambut Kerajaan? Apakah kita melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar? Apakah kita siap untuk menyambut Kristus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Pergulatan Seorang Pewarta

Minggu Biasa ke-30 [5 November 2017] Matius 23: 1-12

“Karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. (Mat 23: 3)”

walktlk1Membaca Injil Minggu ini, saya merasa bahwa Yesus menegur para imam dan pewarta sabda-Nya karena “mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Sayangnya, banyak dari kita gagal dalam hal ini. Kita memberitakan pengampunan, namun beberapa imam hidup dalam pertengkaran berkepanjangan dengan rekan imam lainnya atau dengan beberapa umat mereka. Kita mengajarkan kebaikan dan persahabatan dengan Tuhan, namun beberapa dari kita tidak pernah tersenyum dan tampak sombong. Kita memberitakan keadilan, tapi terkadang kita gagal memberi keadilan kepada mereka yang bekerja di paroki atau biara.

Saya sendiri bergulat dengan hal ini. Sering kali saya berkhotbah atau menulis meminta umat untuk mengambil bagian yang lebih aktif di Gereja atau terlibat dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, namun saya sendiri kesulitan untuk mewujudkan ajakan tersebut. Saya pernah menjadi anggota KADAUPAN di rumah formasi kami di Manila. Ini adalah kelompok kerasulan para frater Dominikan yang terinspirasi oleh St. Martinus de Porres, seorang bruder Dominikan yang mempersembahkan hidupnya untuk melayani kaum miskin. Salah satu tugas dasar kami adalah membantu orang-orang miskin yang datang ke tempat kami. Terkadang, kami membantu secara finansial, tapi sering kali kita menyediakan makanan, air minum dan pakaian. Harus kuakui bahwa setiap kali orang miskin datang, aku bergulat untuk menemui dan membantu mereka karena aku lebih mudah bagi saya untuk tinggal di perpustakaan dan membaca buku.

Namun, terlepas dari ketidakkonsistenan ini, saya percaya bahwa Yesus penuh belas kasihan kepada kita, para pewarta Sabda-Nya dan pekerja di ladang anggur-Nya, karena Dia mengerti bahwa terlepas dari niat kudus kita, kita terus jatuh karena kelemahan manusiawi kita. Bahkan St. Paulus memahami pergulatan kita dengan kelemahan kita, “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging karena keduanya bertentangan sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Gal 5:17)”

Tuhan Yesus akan sangat berbelaskasihan kepada kita yang bergulat untuk menghidupi apa yang kita wartakan, tetapi Dia tidak akan mentolerir jika pewartaan hanya untuk pamer atau keuntungan pribadi. Inilah konteks Injil hari ini. Yesus mengkritik beberapa orang Farisi dan ahli Taurat yang berkhotbah tentang Hukum Taurat dan mengajarkan penerapannya yang rumit karena ingin memamerkan kelihaian mereka, dan dengan demikian, mendapatkan kehormatan. Tujuan mereka adalah untuk mendapatkan gelar kehormatan, “Rabi” atau “Bapa”, dan diperlakukan sebagai VIP di masyarakat Yahudi. Mereka tidak melayani Tuhan, tapi mereka memanipulasi Hukum Allah untuk melayani kepentingan mereka pribadi. Yesus sangat geram karena ini adalah pelecehan serius terhadap panggilan suci mereka untuk mewartakan dan melayani Allah Israel yang telah memilih mereka.

Pesan yang sama berlaku bagi kita, para pewarta dan pelayan Firman Allah. Apakah ada niat tersembunyi dan egois dalam pewartaan dan pelayanan kita? Apakah kerasulan kita hanya mendapatkan ketenaran dan kepuasan? Apakah kita menimbun kekayaan dan mencari kehidupan yang lebih nyaman? Apakah kita menjadikan panggilan suci kita sebagai pewarta sebuah karir untuk mencapai sukses dan kemuliaan? Dalam suratnya kepada para imam Filipina, Uskup Agung Socrates Villegas dari Lingayen-Dagupan memiliki poin kuat untuk kita refleksikan bersama baik sebagai imam maupun para awam pewarta Sabda-Nya, “Merupakan sebuah skandal bagi seorang imam untuk meninggal kaya raya … Inilah satu-satunya tugas kita – untuk menjadi Yesus dan untuk memberi Yesus yang adalah harta kita yang sejati.”

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Hukum yang Terutama

Minggu Biasa ke-30 [29 Oktober 2017] Matius 22: 34-40

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Mat 22:37)”

greatest commandment

Apa itu cinta kasih? Jika kita bertanya kepada pasangan muda yang sedang jatuh cinta, cinta berarti lebih banyak waktu bersama dan terhubung online bahkan sampai larut malam. Bagi para imam muda, cinta kasih adalah mendengarkan pengakuan dosa dengan sabar selama berjam-jam. Bagi pasangan yang baru mendapatkan bayi mereka, cinta kasih bisa berarti siap menggantikan popok sang bayi bahkan di tengah malam. Cinta kasih adalah semangat, dedikasi dan pengorbanan.

Namun, cinta juga menjadi salah satu kata yang paling disalahgunakan dalam sejarah manusia. Atas nama cinta, seorang pemuda membawa kekasihnya kepada perbuatan yang tidak pantas. Demi cinta kepada negara dan ras mereka, beberapa orang menganiaya kelompok etik lain dan membakar desa mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan agama, beberapa orang meledakkan diri dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah, termasuk anak-anak yang mereka anggap musuh-musuh dari Tuhan mereka.

Anehnya, situasi ini tidak jauh berbeda dengan zaman Yesus. Demi cinta kepada Hukum Taurat, orang-orang Farisi mematuhi Hukum Taurat bahkan dalam segala aspek dalam kehidupan sehari-hari mereka. Demi cinta kepada Tuhan dan bangsa mereka, orang-orang Zelot melawan dan bahkan membunuh orang-orang Romawi dan mereka yang bekerja untuk penjajah. Demi cinta kepada Tuhan, kelompok Essen memisahkan diri dari dunia yang mereka anggap tidak lagi murni dan membangun komunitas eksklusif mereka sendiri di gurun. Demi cinta kepada Bait Suci, para imam bekerja keras untuk mempersembahkan korban setiap hari dan siap untuk mati bagi Bait Suci.

Ketika orang-orang Farisi bertanya kepada Yesus apa hukum yang terbesar, ini bukan hanya tentang sekedar wacana teologis, tetapi ini akan mengungkapkan sikap fundamental Yesus terhadap Allah dan Hukum Yahudi. Apakah Yesus sama seperti orang Farisi yang lebih mengasihi Hukum daripada sesama, atau seperti orang Zelot yang mencintai bangsa mereka sampai mati, atau Yesus adalah lebih dari mereka? Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Yesus mengutip bagian dari Shema atau Kredo dasar Yahudi yang setiap orang Yahudi daraskan setiap hari (lihat Deu 6: 4-5). Namun, Yesus tidak berhenti sampai di situ saja. Dia melengkapi hukum pertama dan terbesar dengan hukum kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ini juga berasal dari Perjanjian Lama (lihat Im 19:18). Sesungguhnya, jawaban Yesus pada dasarnya adalah ajaran yang ortodoks bagi orang Yahudi yang mendengar. Namun ada juga sesuatu yang baru.

Hubungan antara hukum pertama dan kedua menjadi kunci ajaran Yesus. Bagi Yesus, cinta kasih sejati kepada Tuhan harus diwujudnyatakan dalam cinta kasih kepada sesama, dan cinta sejati kepada sesama harus berorientasi kepada Tuhan. Jadi, sungguh tidak terpikirkan jika Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk membunuh demi cinta akan Allah. Atau, Yesus tidak akan senang jika para pengikutnya hanya sibuk melakukan peribadatan, namun buta dengan ketidakadilan yang terjadi di dalam komunitas mereka.

Pernahkah saya bertanya kepada seorang frater yang sedang belajar Hukum Kanonik atau Hukum Gereja, “apakah hukum tertinggi dalam Hukum Kanonik?” Dia segera menjawab, suprema lex, semua hukum berpedoman dan bermuara pada keselamatan jiwa-jiwa. Kode Hukum Kanonik berisi lebih dari 2 ribu ketentuan yang mengatur berbagai aspek kehidupan Gereja, dan semua ini tidak masuk akal jika bukan karena cinta kasih kepada Tuhan dan sesama.

Sekarang sebagai murid-murid Yesus, apakah cinta kita kepada Tuhan, doa dan perayaan-perayaan sakramen membawa kita lebih dekat ke sesama kita, untuk lebih berkomitmen dalam memperjuangkan keadilan, untuk lebih bertanggung jawab sebagai anggota keluarga dan masyarakat? Apakah cinta kita kepada sesama, kasih sayang bagi anak cucu kita dan teman-teman kita, semangat kita dalam pelayanan membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Pajak

Hari Minggu Biasa ke-29 [22 Oktober 2017] Matius 22: 15-22

“… Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:21)

ceasar coinBenjamin Franklin pernah berkata, “Di dunia ini tidak ada yang pasti, kecuali kematian dan pajak.” Sungguh, pajak adalah fakta yang tidak menyenangkan dan juga tidak dapat dihindari dalam hidup kita sebagai warga negara. Sebagian dari penghasilan yang diperoleh dari jerih payah kita tiba-tiba diambil, dan hanya Tuhan yang tahu ke mana itu pergi. Praktek perpajakan sebenarnya sudah terjadi sejak komunitas manusia pertama di bumi. Ide dasarnya adalah bahwa pajak akan menyediakan sumber daya yang untuk kemajuan bersama, seperti membangun jalan, pendidikan dan perawatan kesehatan berkualitas. Namun, hal ini sering disalahgunakan. Di zaman dulu, para raja dan kepala suku menarik pajak agar mereka bisa membangun istana megah mereka dari pada membangun rakyatnya. Sayangnya, situasi tersebut tidak banyak berubah di zaman sekarang. Para pejabat korup menarik pajak hanya untuk membangun “istana” mereka yang megah, dan bukannya membangun rakyat.

Pada masa Yesus, pajak adalah isu yang sangat sensitif. Orang-orang Yahudi sederhana dikenai pajak oleh penjajah Romawi, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar, mereka akan dipenjara, harta-benda mereka akan disita dan bahkan menghadapi hukuman mati. Ini membuat para petani dan pekerja Yahudi sederhana semakin miskin dan tak berdaya. Baik Yesus maupun orang Farisi juga menjadi korban dari sistem perpajakan yang menindas dan tidak adil ini.

Tidak ada yang suka membayar pajak kepada penjajah Romawi, namun sebagian besar orang Yahudi akan memilih untuk mematuhi peraturan dan membayar pajak karena mereka tidak menginginkan masalah datang. Orang-orang Farisi dan orang-orang Yahudi saleh lainnya membenci menggunakan koin Romawi karena di dalamnya, ada gambar Kaisar yang diukir sebagai dewa. Seluruh sistem perpajakan adalah penyembahan berhala. Namun, banyak orang Farisi tetap membayar pajak agar mereka tetap hidup.

Pesan yang biasanya kita dengar dari Injil hari ini adalah Yesus yang cerdik mengalahkan para Farisi dan Herodian yang ingin menjebak Dia dengan pertanyaan yang rumit. Namun, sebenarnya, ada banyak hal yang dipertaruhkan di sini. Meskipun pertanyaan itu ditujukan kepada Yesus, pertanyaan yang sama berlaku untuk semua orang Yahudi yang terpaksa membayar pajak kepada bangsa Romawi. Dengan demikian, jika mereka menuduh Yesus sebagai penyembah berhala, mereka juga menuduh mayoritas orang Yahudi untuk membayar pajak.

Jawaban Yesus bukanlah jawaban kategoris ya atau tidak, tetapi ini dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak hanya menyelamatkan-Nya dari perangkap, tapi juga menyelamatkan setiap orang yang terpaksa membayar pajak dari tuduhan sebagai penyembah berhala. Orang-orang Yahudi yang sederhana harus bekerja sangat keras bagi keluarga mereka, dan terpaksa membayar pajak demi keselamatan diri mereka. Tidak cukup, para Farisi menuduh mereka sebagai penyembah berhala karena membayar pajak. Ini sungguh kejam karena para Farisi ini yang seharusnya menjadi contoh kekudusan, justru menjauhkan banyak orang jadi Tuhan. Syukurlah, jawaban Yesus menyingkirkan rasa bersalah ini dari orang-orang Yahudi yang berjuang untuk memberi makan keluarga mereka. Ini bukanlah sekedar membayar pajak, tetapi sungguh menjadi kudus di hadapan Tuhan.

Dalam hidup kita sehari-hari, kita mungkin taat membayar pajak kita kepada pemerintah dan hidup sebagai warga negara yang patuh hukum, tetapi sekali lagi Injil hari ini bukanlah sekedar tentang membayar pajak. Apakah kita, seperti orang-orang Farisi, hanya mau menjadi suci sendiri dengan menjadi sangat aktif di Gereja dan memberi kolekte besar, tetapi malah menghalangi sesama yang ingin menjadi kudus? Apakah kita sekedar menghakimi dan mencibir mereka yang tidak bisa aktif di Gereja karena harus bekerja keras menghidupi keluarga mereka? Apakah kita membawa orang lain lebih dekat kepada Tuhan atau malah melakukan hal yang sebaliknya?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sang Raja dan Citra Allah

Hari Minggu Biasa ke-28 [15 Oktober 2017] Matius 22: 1-14

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu!” (Mat 22:9)

king's banquetYesus sudah berada di Yerusalem. Konfrontasi antara Yesus dan pemimpin bangsa Yahudi semakin memanas. Yesus pun mendekati hari-hari terakhir-Nya. Dengan konteks ini, perumpamaan hari ini tidak terlalu sulit untuk kita pahami. Tamu yang diundang mewakili elit Israel yang menolak Yesus, dan dengan demikian, menolak Allah sendiri. Pembakaran kota mungkin mengarah pada invasi Kekaisaran Romawi dan penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Orang-orang biasa yang kemudian diundang dan datang, mewakili orang-orang dari semua bangsa yang menerima Kristus. Namun, beberapa orang yang sudah ada di pesta pernikahan tidak memakai baju pernikahan yang diharapkan.  Pakaian yang tepat menjadi pertanda bahwa para tamu menghormati sang tuan rumah, dan juga ini menjadi simbol iman, perbuatan baik dan kehidupan kudus kita. Bagi mereka yang gagal menghormati Raja melalui pakaian mereka akan diusir dari perjamuan.

Pada tahapan ini, perumpamaan ini memang mudah untuk dipahami. Kita dipanggil untuk tidak meniru beberapa elit Israel yang menolak Yesus, tapi untuk menerima undangan Allah dengan penuh suka cita. Mengenai pakaian yang layak, kita juga diharapkan bisa menghidupi iman kita sepenuhnya. Namun, ada sesuatu yang terus mengganjal dalam hati saya. Apakah itu? Penafsiran ini menyajikan dua citra Raja yang bertentangan. Di satu sisi, sang raja sangat murah hati, gigih untuk mengundang para tamunya, dan terbuka untuk menerima orang-orang biasa. Tapi, di sisi lain, dia adalah raja yang otoriter dan menuntut keadilannya dengan cara-cara kekerasan. Seperti raja di zaman dahulu, dia akan menghancurkan orang-orang yang mencemarkan nama baiknya, sampai-sampai membakar kota mereka atau melemparkan mereka ke dalam kegelapan. Jika kita tidak cukup hati-hati, kita bisa mengidentifikasi raja ini dengan citra Allah yang kita miliki. Kita mungkin mulai percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang suka menghukum orang-orang yang jahat bahkan dengan cara-cara yang keras. Dia adalah Allah mudah tersinggung oleh kesalahan-kesalahan sederhana, dan tidak berbelas kasih untuk memaafkan.

Kita ingat bahwa kita diciptakan menurut citra Allah. Sekarang jika kita memiliki Allah yang pendendam dan tak kenal ampun, kita secara tidak sadar berperilaku seperti citra Allah yang penuh kekerasan ini. Di Filipina, di mana mayoritas adalah orang Katolik dan Kristen, pembunuhan tanpa proses hukum terhadap para terduga kriminal meningkat dengan tajam. Anehnya, beberapa orang tampaknya menyetujui dan bahkan senang dengan kejadian berdarah ini. Sikap ini mungkin merupakan cerminan dari citra Allah yang penuh dendam dan kekerasan.

Citra Allah semacam ini bisa mempengaruhi kita juga dengan cara yang lebih halus. Meskipun sudah minta maaf secara tulus, sulit bagi kita untuk memaafkan seorang teman yang telah menyakiti kita, suami yang telah mengkhianati kita, atau atasan yang telah bertindak tidak adil. Sebagai seorang ayah dan suami, kita bertindak otoriter dan bahkan tak mau mendengarkan pendapat anggota keluarga lain. Sama halnya dengan pastor, suster, atau atasan yang bertindak sendiri tanpa mau menerima koreksi. Terkadang, Kita fokus pada kelemahan orang lain, dan bukan pada usaha mereka untuk menjadi lebih baik. Dari pada membantu mereka bangkit dari kegagalan mereka, kita memilih untuk menertawakan mereka dan membuat gosip. Citra Allah seperti ini hanya menghambat pertumbuhan iman kita, tapi juga merusak hubungan kita yang sehat dengan sesama.

Saya percaya bahwa beberapa aspek perumpamaan tetap benar dan relevan, seperti keterbukaan radikal Allah bagi semua orang, dan iman kita yang harus dihidupi sepenuhnya. Namun, dalam tahapan yang lebih mendalam, perumpamaan ini menantang citra Allah kita yang tidak benar, seperti Allah yang penuh dendam dan kekerasan. Injil mengundang kita untuk menemukan kembali citra Allah di dalam pribadi Yesus yang mengasihi kita sampai akhir, dan mati agar kita bisa hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP