Kebangkitan dan Spiritualitas Dominikan

(Edisi Khusus Paskah)

Minggu Paskah. 16 April 2017 [Yohanes 20:1-10}

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur (Joh 20:1).”

women at the tomb 2Jika kita membaca narasi Kebangkitan di keempat Injil, kita akan menemukan bahwa setiap Penginjil memiliki cerita unik tersendiri. Namun, walaupun berbeda, ada beberapa hal-hal serupa di dalam narasi Kebangkitan, seperti kubur yang kosong, kehadiran para wanita, hadirnya malaikat diikuti oleh Yesus yang bangkit, dan para wanita mewartakan Kabar Baik bagi murid-murid lainnya. Mari kita fokus pada satu fitur yang biasanya luput dari perhatian kita. Saksi pertama dari kebangkitan bukanlah seorang laki-laki, tapi para perempuan. Pertanyaanya sekarang: Di mana para murid laki-laki? Di mana para pria yang berjanji untuk mengorbankan nyawa mereka demi Yesus? Jawabannya: Mereka bersembunyi, lari dan ketakutan.

Saat Yesus dikhianati dan ditangkap, para murid laki-laki menyelamatkan diri, tetapi para murid perempuan setia mengikuti jalan salib Yesus. Mereka berada di sekitar Yesus yang tersalib. Mereka menyaksikan kematian-Nya. Mereka membawa-Nya ke kubur. Mereka kembali ke kubur untuk memberi-Nya ritus penguburan yang layak. Karena kesetiaan mereka, mereka menerima kehormatan menjadi saksi-saksi pertama kebangkitan-Nya. Tidak hanya saksi, mereka adalah para pewarta pertama kebangkitan-Nya.

Fitur ini menjadi bagian penting dari spiritualitas Dominikan. Salah satu orang kudus pelindung dari Ordo Pengkhotbah adalah St. Maria Magdalena, dan dia dipilih karena kita menghormatinya sebagai pewarta pertama kebangkitan Yesus, seorang rasul kepada para rasul, seorang pewarta kepada para pewarta. Dengan menjadikannya sebagai santa pelindung Ordo, kita mengakui bahwa tugas pewartaan tidak hanya terbatas pada kaum tertahbis, tapi ini adalah misi milik semua, baik pria maupun wanita, baik kaum tertahbis maupun orang awam. Biara pertama yang St. Dominikus didirikan berada di Prouille, Perancis, dan ini adalah sebuah biara bagi wanita. Bagi kita, pewartaan merupakan usaha keluarga. Semua saudara-saudari mengambil bagian dan berkontribusi dalam misi pewartaan yang adalah mengartikulasikan rahmat di antara kita.

Sementara hanya para imam Dominikan yang dapat memberikan homili dalam Misa, ini tidak berarti bahwa para bruder, suster, frater maupun awam tidak bisa mewartakan. Kami, para frater di formasi di Manila, aktif terlibat dalam memberi retret dan rekoleksi, memproduksi video katekese di media sosial, dan memiliki kelompok band untuk lagu-lagu rohani. Para susters kami adalah pengajar-pengajar unggul. Beberapa dari mereka Sr. Mary Catherine Hilkert, OP dan Sr. Helen Alford, OP adalah profesor di universitas-universitas besar di Amerika Serikat dan Eropa. Banyak juga Dominikan awam yang menjadi pewarta awam, aktif di pelayanan katekesis Gereja dan kampus ministri. Namun yang paling penting, mereka menjadi pewarta kepada anak-anak mereka dan mendidik mereka untuk menjadi seorang Katolik yang dewasa dan berkomitmen.

Namun, bagi Dominikan, pewartaan tidak terbatas dalam pelayanan Firman, tetapi juga mengambil berbagai bentuk, tergantung pada kebutuhan umat Allah. Rm. Mike Deeb, OP adalah delegasi permanen Ordo bagi PBB di Genewa. Dengan posisinya, dia mengingatkan perwakilan negara-negara yang teruskan mengabaikan berbagai isu keadilan seperti perdagangan manusia, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, dan banyak lagi. James MacMillan adalah seorang Dominikan awam dan komposer terkenal dari Skotlandia. Dia mengarang lagu-lagu misa ketika Paus Benediktus XVI mengunjungi Inggris pada tahun 2010. Sr. Katarina Pajchel, OP adalah seorang suster dan juga fisikawan. Dia terlibat dalam projek ATLAS, percobaan fisika partikel di Large Hadron Collider. Ini hanya beberapa nama Dominikan yang menjadi pewarta dengan cara unik mereka sendiri, tentunya masih banyak lagi.

Inti dari spiritualitas Dominikan adalah keyakinan bahwa kita masing-masing dipanggil untuk menyaksikan Kebangkitan-Nya dan untuk membawa Kabar Baik ini ke semua orang. Kabar yang lebih baiknya adalah anda tidak perlu menjadi anggota keluarga Dominikan untuk menjadi pewarta kebangkitan. Kita semua, baik kaum tertahbis maupun awam, baik lelaki maupun perempuan, Dominikan ataupun bukan memiliki misi yang sama, dan bersama-sama kita mewujudkan misi ini sebagai satu keluarga Allah.

Selamat Paskah!

 

Frater Valetinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advertisements

The Spirit Connects!

Pentecost Sunday. May 15, 2016 [John 14:15-16,23-25]

“They were all filled with the Holy Spirit and began to speak in different tongues, as the Spirit enabled them to proclaim (Acts 2:4).”

pentecost 2My first time to attend a Catholic Charismatic prayer meeting was around 10 years ago in Singapore. It was a gathering characterized by upbeat music and intensified prayers. As the prayer was getting intense, suddenly I witnessed some of participants began to experience kind of trance and utter unintelligible words. For a while I was dumbfounded, but soon realized that they may actually speak in tongue. This may refer to the one of the Holy Spirit’s charismatic gifts, described no less than St. Paul himself.  “For one who speaks in a tongue does not speak to human beings but to God, for no one listens; he utters mysteries in spirit (1 Cor 14:2)”

All the way, I thought that this speaking of tongue phenomenon was what took place on the Pentecost Sunday. When mother Mary and the disciples gathered fifty days after Jesus’ resurrection and the Holy Spirit started to descend upon them and filled them with His power. They began to speak in different languages. Yet, I was mistaken, they did not speak in tongue. The Holy Spirit bestowed on them a different kind of gift. That was the gift of understanding and language. The Apostles did speak different tongues but this gift empowered to communicate clearly the Gospel of Jesus Christ. People from different regions like Syria, Asia Minor (present-day Turkey), Arab peninsula, North Africa, even Europe, certainly speaking in multitude of languages, were able to comprehend the apostles who were native Palestinian. The Spirit enabled them to connect.

The Pentecost and the gift of language speaks deeper reality about the Holy Spirit. He is the Spirit that unites us. He heals our brokenness and cures our tendency to be selfishly autonomous. In Pentecost, the Spirit undid the curse of the Tower of Babylon in Genesis 11. This is a symbolical story on human egocentric desire to usurp God, to be equal with God, by building a super-tall tower that can reach God with their own efforts and cunningness. Yet, human ambition and greed for power brought divisions and ruins to human race itself. Perhaps, one of the modern depictions of the Tower of Babel is the best-seller novel and most-anticipated TV series Game of Thrones. The novel smartly narrates how men’s unquenchable passion for the Iron Throne moves various characters in the novel to employ various cunning and dirty tricks to destroy their rivals. The seven Kingdoms, formerly united, divided, falls and they are at each others’ throats.

John Maxwell in his book, Everyone Communicates, Few Connects, argues that everything rises and falls on leadership, and yet, leadership is only possible with the leaders’ ability to connect with others. United States president Abraham Lincoln once also said, “If you would win a man to your cause, first convince him that you are his sincere friend.”  Yet, fundamental to a genuine connecting is all about others. It means setting aside our vain ambition and untamed desire to gain all the attention to ourselves and we make others, their concerns, their struggles as ours.

The Holy Spirit comes to bring us that original connection with God and each other. It is true that often we do not get always the ‘high feeling’ of indwelling of the Spirit, just like in the charismatic prayer meetings, but it does not mean the Holy Spirit is absent. In fact, most of the time, He is working in silence and ordinary ways. He is working when we become more persevering in the sufferings of life. He is working when we are more patient in loving people who often give us problems. He gave us little joy in small realization of various blessing we receive today. I believe fruitful and meaningful reading of this reflection is His work in us.

As we celebrate the Pentecost, we pray that we may continue to open ourselves to the grace of the Holy Spirit and allow Him to make our lives ever fruitful.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Roh Koneksi

Hari Raya Pentakosta. 15 Mei 2016 [Yohanes 14: 15-16,23-25]

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (Kisah Para Rasul 2: 4).”

pentecostPertama kalinya saya menghadiri pertemuan doa Karismatik Katolik adalah sekitar 10 tahun yang lalu di Singapura. Pertemuan ini ditandai dengan musik yang upbeat dan doa yang intensif. Di tengah ibadat dan disaat doa-doa semakin intens, tiba-tiba saya menyaksikan beberapa peserta mulai mengalami sesuatu yang tidak biasa dan mengucapkan kata-kata tidak jelas. Awalnya, saya tercengang, tapi saya segera menyadari bahwa mereka sedang berbicara dalam bahasa roh. Phenomena ini merujuk pada seseorang yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus dan mulai bernubuat sesuai kehendak Roh. Fenomena ini sudah ada sejak Gereja berdiri. St. Paulus sendiri menulis “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. (1 Kor 14: 2)”

Awalnya, saya berpikir bahwa fenomena bahasa Roh ini adalah apa yang terjadi pada hari Pentakosta pertama. Ketika Bunda Maria dan para murid berkumpul di hari ke-lima puluh setelah kebangkitan Yesus dan Roh Kudus turun atas mereka dan memenuhi mereka dengan kuasa-Nya. Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun, saya salah, mereka tidak berbicara dalam bahasa roh. Roh Kudus menganugerahkan karunia yang berbeda. Ini adalah karunia bahasa pengertian dan pemahaman. Para Rasul tidak berbicara bahasa yang aneh tapi diberdayakan untuk mengkomunikasikan dengan jelas Injil Yesus Kristus. Umat dari berbagai daerah seperti Suriah, Asia Kecil (Turki), Semenanjung Arab, Afrika Utara, bahkan Eropa, tentu berbicara dalam banyak bahasa, tapi mereka mampu memahami para rasul yang sebenarnya orang asli Palestina. Roh memampukan mereka untuk membangun koneksi.

Pentakosta dan karunia bahasa berbicara realitas yang lebih dalam tentang Roh Kudus. Dia adalah Roh yang menyatukan kita. Dia menyembuhkan perpecahan dan kecenderungan kita untuk menjadi egois. Dalam Pentakosta, Roh menghapus kutukan Menara Babel dalam Buku Kejadian 11. Ini adalah kisah simbolis tentang keinginan egosentris manusia untuk mengalahkan Tuhan, untuk menjadi setara dengan Allah, dengan membangun sebuah menara super tinggi yang dapat mencapai Tuhan dengan upaya mereka sendiri. Namun, ambisi manusia dan keserakahan akan kekuasaan membawa perpecahan dan keruntuhan bagi umat manusia. Mungkin, salah satu pencitraan modern dari Menara Babel adalah TV series yang paling diantisipasi Game of Thrones. Seri ini dengan cerdas menceritakan bagaimana nafsu manusia untuk menjadi raja di Tahta Besi membuai berbagai karakter dalam seri tersebut untuk menggunakan berbagai trik licik dan kotor untuk menghancurkan saingan mereka. Tujuh Kerajaan, sebelumnya bersatu, terbagi, jatuh dan mereka pun saling menghancurkan.

John Maxwell dalam bukunya, Everyone Communicates, Few Connects, berpendapat bahwa kepemimpinan sejati hanya mungkin jika sang pemimpin memiliki kemampuan sang untuk membangun koneksi dengan orang lain. Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah juga mengatakan, “Jika Anda ingin memenangkan seseorang untuk tujuan Anda, meyakinkanlah dia bahwa Anda adalah temannya yang tulus.” Namun, fondasi dari kemampuan membangun koneksi adalah kita mau menjadikan orang lain sebagai tujuan kita dan bukan diri kita sendiri. Ini berarti menyisihkan ambisi kosong dan hasrat kita untuk mendapatkan semua hal bagi diri kita sendiri dan kita membuat orang lain, kekhawatiran mereka, perjuangan mereka menjadi bagian dari hidup kita. Ini adalah karya Roh Kudus: menyembuhkan, mempersatukan dan memberdayakan kita.

Roh Kudus datang agar kita sekali lagi mampu membangun koneksi dengan Tuhan dan satu sama lain, koneksi yang rusak oleh dosa Adam dan Menara Babel. Memang benar bahwa tidak selalu kita mengalami bahasa roh atau perasaan ‘high’ seperti yang dialami pada pertemuan doa karismatik, tetapi ini tidak berarti Roh Kudus tidak berkerja. Bahkan, kebanyakan, Dia bekerja dalam keheningan dan cara-cara yang sederhana. Dia bekerja ketika kita menjadi lebih tekun dan tabah dalam penderitaan hidup. Dia bekerja ketika kita lebih sabar mengasihi mereka yang sering memberi kita masalah. Dia memberi kita kegembiraan sederhana dalam realisasi-realisasi kecil dari berbagai berkat yang kita terima saat ini. Saya percaya saat anda membaca refleksi ini dan menemukan makna, ini adalah pekerjaan-Nya di dalam kita.

Saat kita merayakan Pentakosta, kita berdoa agar kita dapat terus membuka diri kepada kasih karunia Roh Kudus dan mengijinkan Dia untuk membuat hidup kita berbuah.

  Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Blessing, a Difference We Make

The Ascension Sunday. May 8, 2016 [Luke 24:46-53]

“As he blessed them he parted from them and was taken up to heaven (Luk 24:32).”

The Ascension - Luke 24:50-51
The Ascension – Luke 24:50-51

The best way to say goodbye is to bless. Every time I would leave for the Philippines and continue my formation, my parents would hug and bless me as they mark my forehead with a small sign of the cross. My Filipino friends have this ‘Mano Po’ tradition at the beginning and the end of an encounter with their elderly or people they respect. They will hold the hand of their elders, and place it on their forehead.  This is, I believe, a beautiful sign of honor and blessing. The Dominicans in Europe used to have this habit of asking blessing to their prior before they leave for mission. Indeed, it is the motto of Dominican to ‘praise, bless and preach’. Ultimately, every Eucharist celebration ends with the final blessing.

Yet, what is blessing all about? In Latin, blessing is ‘benedicere’. The word is a composition of two other Latin words: ‘bene (good)’ and ‘dicere (to speak)’. Thus, to bless is to speak good word. Since the word tends to become flesh, we wish that the good word we utter for our beloved turn to be a reality as well. If we look closely the story of creation in Genesis 1, we discover God did threefold acts: creating, seeing goodness and blessing the creations. When God created the universe, God made sure that His creations were good and because of this goodness, He blessed them. Blessing is not simply human act, but also divine. It is not simply saying good, but also discovering good. It is not only wishing good and nice words, but hoping good things to happen.

As the Father has blessed the creations before He rested in the seventh day, the Son also blessed His beloved disciples before He ascended into His resting abode. When God blessed Adam and Eve, He said, “Be fertile and multiply! (Gen 1:28)” God’s blessing names, affirms and rejuvenates the goodness in us. Because of our goodness is reaffirmed, it empowers man and woman to be fruitful, joyful and generous. God’s blessing transforms us into blessing also for others.

 To bless is our vocation as the disciples of Christ. Catherine Marie Hilkert, OP once said that preaching is naming grace, then it is also true that preaching is naming goodness. Unfortunately, instead blessing, we choose to curse. In Latin, cures is ‘maledicere’, to speak bad. Just like blessing, bad words tend to become flesh. Families are broken because we forget to say blessing, and focus on blaming. Religious intolerance, violence and even terrorism begin at the holy pulpit. Sadly, in time of election, from far West, the United States to the far East, Indonesia and the Philippines, politicians running for the offices engage in mudslinging, trade accusations, and employ nasty tricks. Defying reason, the people turn to be fanatic, frantic and partial supporters, willing to do anything for the candidate they admire.

Our world has been fractured and disfigured due to the curses we utter. Adam and Eve said no to God and passed the blame to each other. As their offspring, we continue this destructive curse. We desperately need blessing to undo this vicious cycle. Then, Jesus came and embraced all the bad things in His cross and made them fruitful again in His resurrection. Now, He ascends into Heaven and before He goes, He makes sure that His blessing remains. Ascension reminds us that we have the mission to name goodness and allow ourselves to become blessings to others. Only by becoming a blessing, we may heal ourselves, our family, our society and our world.

Bro. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Berkat

Pesta Kenaikan Tuhan Yesus. 5 Mei 2016 [Lukas 24: 46-53]

“Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Luk 24:51).”

ascension n cross

Cara terbaik untuk mengucapkan selamat jalan adalah dengan memberkati. Setiap kali saya berangkat ke Filipina dan melanjutkan formasi, orang tua saya akan memeluk dan memberkati saya dengan menandai dahi dengan tanda salib kecil. Rekan-rekan Filipina memiliki tradisi ‘Mano Po’ di awal dan akhir perjumpaan dengan orang-orang yang dituakan. Mereka akan memegang tangan orang tua mereka, dan menempatkannya di dahi mereka. Hal ini, saya percaya, adalah sebuah tanda dari berkat dan hormat. Setiap kali seorang frater Dominikan di Manila akan ditahbiskan, malam sebelumnya ia akan menerima berkat dari komunitas dan ia akan berlutut dan semua frater dan romo berdoa bersama dan memberkati dia. Pada akhirnya, setiap perayaan Ekaristi berakhir dengan berkat dan perutusan.

Namun, apa arti dari memberkati? Dalam bahasa Latin, memberkati adalah ‘benedicere’. Kata ini berasal dari dua kata Latin lainnya: bene (baik) dan dicere (mengucapkan). Dengan demikian, untuk memberkati adalah untuk mengucapkan kata yang baik. Karena kata cenderung menjadi daging, kita berharap bahwa kata-kata baik yang kita ucapkan pada giliran akan menjadi kenyataan juga. Jika kita teliti dengan seksama kisah penciptaan dalam Kejadian bab 1, kita melihat Allah melakukan tiga tindakan terhadap ciptaan-Nya: menciptakan, melihat kebaikan dan memberkati. Ketika Allah menciptakan alam semesta, Allah memastikan bahwa ciptaan-Nya adalah baik dan karena kebaikan ini, Iapun memberkati mereka. Memberkati tidak hanya tindakan manusia, tetapi juga ilahi. Memberkati tidak hanya mengucapkan yang baik, tetapi juga menemukan hal yang baik. Memberkati ini tidak hanya bersabda dengan kata-kata yang baik dan bagus, tetapi berharap hal-hal baik ini menjadi kenyataan.

Seperti Bapa telah memberkati ciptaan-Nya sebelum Ia beristirahat di hari ketujuh, sang Putra juga memberkati para murid yang dikasihi-Nya sebelum Ia naik ke surga. Ketika Tuhan memberkati Adam dan Hawa, Ia mengatakan, “Jadilah subur dan bertambah banyaklah! (Kej 1:28 – terjemahan sendiri)” Berkat Tuhan mengartikulasikan, menegaskan dan meremajakan kebaikan dalam diri kita. Karena kebaikan kita ditegaskan kembali, berkat memberdayakan pria dan wanita untuk berbuah, bahagia dan bermurah hati dengan sesama. Berkat Tuhan mengubah kita menjadi berkat juga bagi sesama.

Untuk memberkati adalah panggilan kita sebagai murid-murid Kristus. Catherine Marie Hilkert, OP pernah berkata bahwa ‘pewartaan’ adalah mengartikulasikan rahmat, maka tidak salah jika pewartaan dimengerti sebagai mengartikulasikan kebaikan. Sayangnya, bukannya berkat, kita memilih untuk mengutuk. Dalam bahasa Latin, mengutuk adalah ‘maledicere’, untuk berbicara buruk. Sama seperti berkat, kata-kata buruk cenderung menjadi daging. Keluarga rusak karena kita lupa untuk mengatakan berkat, dan fokus pada saling menyalahkan. Intoleransi, kekerasan dan bahkan terorisme berlatar belakang agama mulai di mimbar suci. Sayangnya, di saat pemilu, dari Amerika Serikat sampai ke Indonesia dan Filipina, para politisi yang mengejar posisi saling mengumpat, saling tuduh, dan mempekerjakan trik jahat. Seolah-olah kehilangan akal sehat, para pemilih berubah menjadi pendukung fanatik dan emotional, rela melakukan apa saja untuk calon yang mereka kagumi.

Dunia kita telah rusak dan cacat akibat kutukan yang kita ucapkan. Adam dan Hawa mengatakan tidak kepada Allah dan menyalahkan satu sama lain. Sebagai keturunan mereka, kita meneruskan kutukan yang menghancurkan ini. Kita sangat membutuhkan berkat untuk membatalkan lingkaran setan ini. Kemudian, Yesus datang dan memeluk segala kutuk di salib-Nya dan membuat kita berbuah lagi dalam kebangkitan-Nya. Sekarang, Ia naik ke surga dan sebelum Dia pergi, Dia memastikan bahwa berkat-Nya tetap tinggal. Kenaikan-Nya mengingatkan kita bahwa kita memiliki misi untuk mengartikulasikan kebaikan dan membiarkan diri kita menjadi berkat bagi sesama. Hanya dengan menjadi berkat, kita dapat menyembuhkan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan dunia ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

God’s Love Transforms

Sixth Sunday of Easter. May 1, 2016 [John 14:23-29]

“Whoever loves me will keep my word, and my Father will love him, and we will come to him and make our dwelling with him (Jn 14:23).”

god love never failsOne day, I had an opportunity to converse with one of our security personnel at our convent of Santo Domingo. I asked him if he sees God, what question would he ask of God? His answer went beyond my expectation. In Filipino, he would say, ‘Panginoon, Mahal mo ba ako?’ [Lord, do you love?] Surprised by his question, I inquired further, ‘Why that question?’ He replied in Filipino, ‘Brother, I am poor person with a lot of problems. Sometimes, I don’t really feel His presence and love.’ I realized that his question is not only single isolated case, but question of many people.

At times, we are asking the good Lord, why is life full of suffering and problems despite our faithfulness to God. We attend mass every Sunday, we pray the rosary everyday, and we never fail to be good Catholics, yet our lives seems never getting better. We continue to face many problems, from financial problems, health issues to relationship brokenness. We then ask God, ‘Lord, do you love me?’

The Gospel constantly tells us that God loves us. But, often we do not see how God loves us. Why? Because we expect a different kind of love. We expect that if we are good, we are obeying His rules, then everything will be fine. But, God is not like a spiritual ATM that grants instantly our wishes as we insert correct spiritual card of prayers and place the right spiritual code of living. But rather, God’s love works deep inside us and transforms us into His own love. God is not created in our image, then we need to stop forcing Him to be like us. Our prayers, our good works, and our faithfulness to God does not mean to give us an instant solution to our problems, but they are God’s ways to gradually form us to be like Him.

Jesus’ love did not liberate Israelites from the oppressions of the Roman Empire, nor He give them prosperity that the Jews longed for. His love rather transformed those people around Him to love like God. The disciples, despite their weakness and sufferings, gradually became more and more loving, and finally made a final sacrifice for the love of Jesus and others. Peter, the leader as well the most problematic apostle, denied and ran away from Jesus, but he progressively learned to love like Jesus. When the final moment came, he gave also his life for Christ and the Christians in Rome.

As I bide a goodbye to Manong guard and went back to seminary, I handed him a food I brought from the mall. Upon receiving the food, he said to me, “Can I share this food with some of the poor kids outside the Church?” His gesture astounded me and yet was heartwarming. Being a security guard in Metro Manila, was a dangerous job with little earning, plus so many problems I had to carry, yet his poverty did not prevent him to share a little blessing he had, a little love he received. He questioned the love of God, but he himself never stopped loving others. This simple man has become the embodiment of God’s love for others. The love of God transforms us more and more into His image, and without realizing it, we also have become the embodiment of His love to others.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Menjadi Kasih Allah

Minggu Paskah Keenam. 1 Mei 2016 [Yohanes 14: 23-29]

Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia (Yoh 14:23).”

keep calm jesus loves youSuatu hari, saya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan salah satu personel keamanan di biara kami Santo Domingo. Saya bertanya jika dia melihat Tuhan saat ini, pertanyaan apa yang akan ia berikan kepada Allah? Pertanyaan di luar dugaan saya. Dalam bahasa Tagalog, ia akan mengatakan, Panginoon, Mahal mo ba ako? [Tuhan, apakah Engkau mengasihi aku?] Terkejut dengan pertanyaannya, saya bertanya lebih lanjut, Mengapa pertanyaan itu? Dia menjawab, ‘Frater, saya orang miskin dan hidup dengan banyak permasalahan. Kadang-kadang, saya tidak merasakan kehadiran dan cinta-Nya. Saya menyadari bahwa pertanyaannya adalah valid dan juga pertanyaan dari banyak orang.

Kadang-kadang, kita bertanya kepada Tuhan, mengapa hidup penuh dengan penderitaan dan masalah meskipun  kita setia kepada-Nya. Kita menghadiri misa setiap hari Minggu, kita berdoa rosario setiap hari, dan kita tidak pernah gagal menjadi seorang Katolik yang baik, namun hidup kita tampaknya tidak pernah menjadi lebih baik. Kita terus menghadapi banyak masalah, dari keuangan, kesehatan dan juga relasi. Kita kemudian bertanya kepada-Nya, ‘Tuhan, apakah engkau mengasihi aku?

Injil terus mengatakan kepada kita bahwa Allah mengasihi kita. Tapi, seringkali kita tidak melihat bagaimana Allah mengasihi kita. Mengapa? Karena kita mengharapkan kasih yang berbeda. Kita berharap bahwa jika kita baik, kita menaati aturan-Nya, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan tidak seperti ATM spiritual yang memberikan langsung keinginan kita asalkan kita memasukkan kartu doa yang benar dan kode hidup yang baik. Melainkan, kasih Allah bekerja jauh di dalam kita dan mengubah kita menjadi kasih-Nya sendiri. Allah tidak diciptakan dalam gambar kita, maka kita harus berhenti memaksa-Nya untuk menjadi seperti kita. Doa kita, perbuatan baik kita, dan kesetiaan kita kepada Tuhan bukan berarti memberi kita solusi instan untuk masalah kita, tapi ini adalah cara Allah untuk secara bertahap membentuk kita menjadi seperti Dia.

Kasih Yesus tidak membebaskan Israel dari penindasan Kekaisaran Romawi, atau Dia tidak memberi mereka kemakmuran yang orang-orang Yahudi merindukan. Namun, kasih-Nya merubah orang-orang di sekeliling-Nya untuk mengasihi seperti Allah. Para murid, meskipun kelemahan dan penderitaan mereka, secara bertahap menjadi penuh kasih, dan akhirnya membuat pengorbanan akhir bagi Yesus dan sesama. Petrus, sang pemimpin tapi juga rasul yang paling bermasalah, menyangkal dan lari dari Yesus. Namun dia perlahan-lahan belajar untuk mengasihi seperti Yesus. Ketika saat-saat terakhir datang, ia memberi hidupnya Kristus dan orang-orang Kristen di Roma.

Di akhir pembicaraan saya dengan sang satpam, saya memberikan dia sebungkus makanan yang saya bawa dari mal. Setelah menerima makanan, dia berkata kepada saya, ‘Bolehkah saya berbagi makanan ini dengan beberapa anak-anak miskin di luar Gereja?’ Tindakannya membuat saya terkejut tapi sangat menyejukan hati. Menjadi seorang satuan pengamanan di Metro Manila, adalah pekerjaan yang berbahaya dengan penghasilan kecil, ditambah lagi begitu banyak masalah yang ia harus hadapi, namun kemiskinannya tidak mencegah dia untuk berbagi berkat sederhana yang ia memiliki, kasih yang ia terima. Memang, dia mempertanyakan kasih Allah, tetapi ia sendiri tidak pernah berhenti mengasihi orang lain. Pria sederhana ini telah menjadi perwujudan kasih Allah bagi sesama. Kasih Allah mengubah perlahan-lahan sesuai dengan citra-Nya, dan tanpa kita sadari, kita juga telah menjadi perwujudan dari kasih-Nya kepada sesama.

 Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

A New Commandment: Love

Fifth Sunday of Easter. April 24, 2016 [John 13:31-33a, 34-35]

 “I give you a new commandment: love one another. As I have loved you, so you also should love one another (Jn 13:34).”

love one anotherThe first time God gave His commandment was on the Mount Sinai. To Moses and the Israelites, He made His covenant that He will be their God and they will be His People. And to live as a Holy People, God gave them the Law, famously called the Ten Commandment (Exo 19-20). Then, centuries after Moses, at the Upper Room, in old city Jerusalem, God gave His new commandment. This time, His Law is simpler and yet, more radical than the old one. Jesus handed to them the greatest command: Love one another as He has loved them.

John was called the beloved. Perhaps, it is because he was loved by Jesus in special way, but I believe, it is because among other disciples, John is the one who struggled the most to understand Jesus’ love for him and for all of us. Jesus’ love is extremely puzzling. In the culture of tooth-for-tooth retaliation, to forgive an enemy is unthinkable, but Jesus asked them to forgive them seventy times seven, to love them and pray for them! When society abhorred sinners, tax-collectors, and law-breakers, Jesus welcome them. Yet, He Himself demanded from them to repent and be perfect as the Father is perfect. When He was left alone, tortured and crucified, He manifested His greatest love as He forgave His tormentors. It does not stop there. The risen Lord came back and precisely to renew His love for His scattered and hopeless disciples. John then concluded in his letter, indeed God is love (1 John 4:8). He is not only loving, merciful, and forgiving, but love itself.

Why did God create universe, despite He is actually perfect and self-sufficient? Because Love cannot but share itself. Why did God trouble Himself by taking close care of His creations? Because Love means caring. Why did God make us human in his image? Because lLve begets another love. Why did God give us freedom despite the fact that we tend to abuse this freedom? Because Love cannot be true unless there is freedom.

Love is difficult and indeed, often full of sacrifices. Parents are struggling to understand and caring their teenage kids who are involved in drug addiction. A wife is fighting for her marriage that begins to crumble because of her husband’s secret affair. A parish priest is giving his best effort to educate his parishioners in faith despite so many criticism and misunderstanding against him. The movie Of Gods and Of Man is a true story of a community of French Trappist monks in Algeria, and they were eventually kidnapped and murdered in1996 by the terrorists. In one meeting, they were arguing whether to leave the monastery and the Muslim villagers they served, or stay and face uncertain future. One of the younger monks said to the Prior, “I did not become a monk to die.” And the prior answered back, “But you have already given away your life.” They finally decided to stay and continue to love until the end.

One time, I faced a profound crisis in my vocation. Honestly, I was confused: both to be a lay and a priest are holy and dignified call. Then, my formator would give this precious advice: “Bayu, choose the path that offers you more sufferings, because there, you may love more.” Indeed, love is tough and demanding, but only through loving, we can become the Disciples of Christ, that reflects His very image.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Perintah Baru: Kasih

Minggu Paskah Kelima. 24 April 2016 [Yohanes 13: 31-33a, 34-35]

 “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh 13:34).”

god-is-loveAllah memberikan Hukum-Nya yang pertama di Gunung Sinai. Dengan Musa dan bangsa Israel, Dia membuat perjanjian bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Dan agar bisa hidup sebagai Jemaat yang kudus, Allah memberi mereka hukum dan perintah. Hukum ini terkenal sebagai Sepuluh Perintah Allah (Kel 19-20). Kemudian, beberapa abad setelah Musa, di kota tua Yerusalem, Allah memberikan perintah baru-Nya. Kali ini, Hukum-Nya lebih sederhana namun jauh lebih radikal. Yesus memberikan kepada para murid-Nya perintah teragung: saling mengasihi, seperti Dia telah mengasihi mereka.

Yohanes disebut sebagai murid yang terkasih. Mungkin, ini karena ia dikasihi oleh Yesus dengan mendalam, tapi saya percaya, hal ini juga karena di antara para murid, Yohanes lah yang paling bergulat untuk memahami kasih Yesus baginya dan bagi kita semua. Kasih Yesus sangat mencengangkan. Dalam budaya Isreal yang berasaskan gigi ganti gigi, mengampuni musuh tidaklah terpikirkan, tapi Yesus meminta murid-Nya untuk mengampuni tujuh puluh kali tujuh, untuk mengasihi dan berdoa bagi musuh-musuh mereka! Ketika masyarakat Israel membenci orang-orang berdosa, pemungut pajak, dan pelanggar hukum Taurat, Yesus menyambut mereka. Namun, Ia sendiri menuntut dari mereka untuk bertobat dan menjadi sempurna seperti Bapa adalah sempurna. Ketika Dia ditinggalkan sendirian, disiksa dan disalibkan, Ia memanifestasikan kasih terbesar-Nya saat Dia mengampuni kita semua. Ini tidak berhenti di situ. Yesus yang bangkit dan memperbaharui kasih-Nya bagi para murid-Nya yang rapuh dan gagal mengasihi-Nya. Yohanes kemudian menyimpulkan di dalam suratnya, sungguh Allah adalah kasih (1 Yoh 4:8). Dia tidak hanya penuh kasih, penuh pengampunan dan kemurahan hati tapi Ia adalah kasih itu sendiri.

Mengapa Tuhan menciptakan alam semesta, meskipun Dia sempurna dan mandiri? Karena kasih sejati itu berarti berbagi. Mengapa Allah terus menjaga dan memelihara ciptaan-Nya? Karena kasih berarti peduli. Mengapa Allah membuat kita manusia menurut citra-Nya? Karena kasih melahirkan kasih yang lain. Mengapa Allah memberi kita kebebasan meskipun kita cenderung menyalahgunakan kebebasan ini? Karena kasih tidaklah nyata kecuali ada kebebasan.

Mengasihi sungguh sulit dan penuh pengorbanan. Orang tua berjuang untuk memahami dan peduli dengan anak remaja mereka yang terlibat dalam kecanduan narkoba. Seorang istri berjuang mempertahankan pernikahannya yang mulai runtuh karena suaminya yang tidak setia. Seorang imam paroki berusaha untuk mendidik jemaatnya dalam iman meskipun begitu banyak kritik dan kesalahpahaman yang harus ia hadapi. Film Of Gods and Of Man adalah kisah nyata dari komunitas rahib Trappist di Aljazair, dan mereka akhirnya diculik dan dibunuh pada 1996 oleh teroris. Dalam satu pertemuan, mereka berdebat apakah akan meninggalkan biara dan penduduk desa Muslim yang mereka layani, atau tetap bertahan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Salah satu  rahib muda berkata kepada Prior, “Saya tidak menjadi seorang rahib untuk mati.” Dan sang Prior menjawab kembali, Tapi kamu telah memberikan kehidupan kamu saat masuk biara. Mereka akhirnya memutuskan untuk tinggal dan terus mengasihi sampai akhir.

Suatu kali, saya menghadapi krisis yang mendalam tentang panggilan saya. Jujur, saya bingung: baik menjadi awam maupun imam adalah panggilan suci dan bermartabat. Kemudian, formator saya akan memberikan nasihat berharga: Bayu, pilihlah jalan yang menuntunmu pada penderitaan dan pengorbanan yang lebih besar, karena disana kamu akan mengasihi lebih besar.” Sungguh, mengasihi adalah sulit, tetapi hanya melalui kasih, kita bisa menjadi Murid Kristus, dan mencerminkan citra-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Be a Good Shepherd

Fourth Sunday of Easter. April 17, 2016 [John 10:27-30]

“My sheep hear my voice; I know them, and they follow me (Jn 10:27).”

good shepherdOne of the loveliest images of Jesus is the Good Shepherd. It is even more beautiful when we try to bring ourselves to Palestine in the time of Jesus.  Life as a shepherd is tough and tiresome. Grass was scarce and the sheep constantly wondered. Since there was not protective fence, the shepherd was bound to watch his sheep for all time, otherwise the sheep would go astray. The terrain in Judea was rough and rocky, and these forced the shepherd to exert extra energy. Not only constant, shepherd’s duty was also dangerous. Wild animals, especially wolfs, were ready to attack and devour the meek sheep. Not only wild predators, robbers and thieves were eager to pirate the sheep.

The sheep in Judea were raised primarily for wool. Thus, the shepherd shall live together with his flock for years. No wonder if he knew well each individual sheep, its characters, and even its unique physical features. He would call them by name like ‘small-feet’ or ‘large-ears’. Because of the intimate bond between the two, the sheep were so familiar with the voice of the shepherd. H.V. Morton, a bible scholar, once narrated his encounter with two shepherds who shared the same cave to shelter their flocks at night. How would they sort them out? In the morning, one shepherd stood some distance and simply voiced a peculiar sound. His sheep recognized the sound immediately, and they ran toward him, while the sheep belonged to the other shepherd remained in the cave!

 Good shepherd is a symbol of providential care, sacrifice, and true love. No wonder if ancient Israelites saw God as their shepherd. Psalm 23 is one of the loveliest poems in the bible, describing God as the Good Shepherd. Remember that some great leaders of Israel were actually shepherds. Moses was tending to his father-in-law flocks when he was called by God in the burning bush (Exo 3). David also was taking care of his father’s sheep when Samuel came and anointed him king (1 Sam 16).

Jesus understood this and He took this identity upon himself. Not only any shepherd, He is the Good Shepherd. He knows us individually as unique and precious. He takes care of us constantly, and search us if we go astray. He protects us from any harm and danger. Even He is willing to give up His life just to save us.

Now, we are not merely animals just like any other sheep. We are human being, with intellect and freedom. To be the sheep of Christ takes another profound form. It means that we are also called to become a good shepherd. A priest is a good shepherd to his faithful. A husband or wife is a good shepherd to each other. Parents are good shepherds to their children. Fr. Gerard Timoner, OP, our provincial, once reminded us that ‘brother-shepherding-brother’ should be our spirit of our formation.

Being a good shepherd is never easy, just like Christ, we shall give our all to others. But, only in giving ourselves that our lives finds its meaning. John Maxwell, leadership guru, once said that the success of man is not how many people serve him, but how many people whom he serves. Meanwhile Zig Ziglar, great American inspirational speaker, reminds us that we can get everything in life we want if we help enough people get what they want. Fundamentally, we were created in the image of God, and if our God is the Good Shepherd, we are the image of the Good Shepherd. It is our purpose and mission in life to be a good shepherd and grow our sheep.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP