The Spirit of Pentecost

Pentecost Sunday. June 4, 2017 [John 20:19-23]

“Receive the Holy Spirit. Whose sins you forgive are forgiven them… (Jn 20:22-23)”

pentecost holy spiritPentecost is the commemoration of the descent of the Holy Spirit upon the first disciples in the upper room. The usual images we have in our mind are usually dramatic and vivid. The disciples gathered in the upper room, suddenly the strong wind filled the room, followed by the appearance of the tongues of fire. Inspired by the Holy Spirit, the disciples began to speak various languages, and proclaimed the Gospel. This depiction of Pentecost comes from the Acts of Apostles (our first reading today). The same Acts tells us that Pentecost took place 50 days after Easter Sunday (Pentecost itself simply means ‘50’ in Greek).

However, the outpouring of the Holy Spirit in today’s Gospel from John gives us a slightly different image from that of the Acts. It is less dramatic, less lively, and less miraculous. There was no strong wind, no tongues of fires that rested on the disciples’ heads, no awesome ability to speak various languages. Only Jesus and His disciples. Yet, if we look closely on Jesus’ actions and words as well as the context of the story, the Pentecost that it represents is a poignant and transformative image.

The disciples locked themselves inside the room because of fear of the Jews. Their master just was executed, and they were afraid that the Jewish authorities and the Roman soldiers would also arrest them. But, it is also possible that they were actually afraid that risen Jesus would get back on them. They deserted Jesus when He was seized, persecuted and sentenced to death. They ran away when He was humiliated on the cross and died as a shameful criminal. It was a payback time, and Jesus could throw them to fire of hell in an instant. Yet, Jesus came not to exact vengeance, but to offer peace. He came not to satisfy His wrath, but to give them the Holy Spirit. This Spirit is the spirit of forgiveness, the power to heal, and the energy to unity. It also the Spirit of mission, of their being sent by Jesus. Indeed, Jesus bore the wounds in His body, but despite His wounds and pains, Jesus forgave them and empowered them to forgive in His Holy Spirit. Jesus showed them that violence only breeds violence, and vengeance causes more harm, and only forgiveness can bring true peace.

In our world today, many of us are hurt by violent words and actions of others, aggravated by the silence of good people. The natural tendency is to be angry and seek for justice. Yet, often, what happens is that we nurture the anger and hatred, and wait until the right time to vent this wrath in even more violent ways. But, keeping anger and hatred destroys nobody except ourselves. We become restless, stressed, and sick. Without realizing it, we become just like those who have hurt us. Pentecost is not just a commemoration of what happened in early Christianity, we need Pentecost right now and here. We pray for the Holy Spirit who empowers us to forgive others and ourselves, for the Spirit of Jesus who brings true peace and justice, for the Spirit of God who heals our brokenness.

Blessed Pentecost!

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Advertisements

Roh Pentakosta

Hari Raya Pentakosta. 4 Juni 2017 [Yohanes 20: 19-23]

Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni (Yoh 20: 22-23).”

apperance of jesusPentakosta adalah peringatan turunnya Roh Kudus atas para murid di ruang atas. Gambaran yang ada di dalam pikiran kita biasanya dramatis dan nyata. Murid-murid berkumpul di ruang atas, tiba-tiba angin kencang memenuhi ruangan, diikuti oleh munculnya lidah-lidah api. Terinspirasi oleh Roh Kudus, para murid mulai berbicara dalam berbagai bahasa, dan memberitakan Injil. Gambaran Pentakosta ini benar adanya karena ini berasal dari Kisah Para Rasul (bacaan pertama kita hari ini). Sebenarnya, Kisah Para Rasul juga mengatakan bahwa Pentakosta terjadi 50 hari setelah hari Minggu Paskah (Pentakosta sendiri berarti ’50’ dalam bahasa Yunani).

Namun, pencurahan Roh Kudus dalam Injil hari ini yang berasal dari Injil Yohanes memberi kita gambaran yang sedikit berbeda dengan Kisah Para Rasul. Gambarannya kurang dramatis, kurang hidup, dan kurang menakjubkan. Tidak ada angin kencang, tidak ada lidah api yang melayang di kepala murid-murid, tidak ada kemampuan mengagumkan untuk berbicara dalam berbagai bahasa. Hanya Yesus dan murid-murid-Nya. Namun, jika kita melihat secara dekat tindakan dan kata-kata Yesus serta konteks cerita ini, Pentakosta dalam Injil Yohanes adalah sangat kuat dan transformatif.

Para murid mengunci diri di dalam ruangan karena takut pada orang Yahudi. Guru mereka baru saja dieksekusi, dan mereka takut bahwa penguasa Yahudi dan tentara Romawi juga akan menangkap mereka. Tapi, mungkin saja mereka benar-benar takut karena Yesus yang bangkit akan kembali kepada mereka dan membuat perhitungan. Mereka meninggalkan Yesus saat Ia ditangkap, dianiaya dan dijatuhi hukuman mati. Mereka lari dan menyangkal-Nya saat Dia dipermalukan di kayu salib dan mati sebagai penjahat yang memalukan. Itu adalah saatnya bagi Yesus untuk menuntut balas, dan Yesus bisa saja melemparkan mereka ke api neraka dalam sekejap. Namun, Yesus datang tidak untuk membalas dendam, tapi untuk membawa kedamaian. Dia datang untuk tidak memuaskan murka-Nya, tetapi untuk memberi mereka Roh Kudus. Roh ini adalah roh pengampunan, kekuatan untuk menyembuhkan, dan energi yang menyatukan kesatuan. Memang, Yesus menanggung luka-luka di tubuh-Nya, namun terlepas dari luka dan penderitaan-Nya, Yesus mengampuni mereka dan memberdayakan mereka untuk mengampuni diri-sendiri dan satu sama lain di dalam kekuatan Roh Kudus-Nya. Yesus menunjukkan kepada mereka bahwa kekerasan hanya melahirkan kekerasan, dan balas dendam menyebabkan lebih banyak kerugian, dan hanya pengampunan yang dapat membawa kedamaian sejati.

Di dunia kita saat ini, banyak dari kita terluka oleh kata-kata dan tindakan orang lain. Kecenderungan alamiah kita adalah marah dan mencoba mencari keadilan. Namun, seringkali, yang terjadi adalah kita menumbuhkan kemarahan dan kebencian, dan menunggu sampai waktu yang tepat untuk melampiaskan kemarahan ini dengan cara yang lebih jahat lagi. Tapi, sesungguhnya menyimpan kemarahan dan kebencian tidak menghancurkan siapa pun kecuali diri kita sendiri. Kita menjadi gelisah, stres, dan sakit. Tanpa disadari, kita menjadi seperti orang yang telah menyakiti kita.

Pentakosta bukan hanya peringatan tentang apa yang terjadi di awal Gereja, kita membutuhkan Pentakosta sekarang. Kita berdoa agar Roh Kudus memberdayakan kita untuk mengampuni orang lain dan diri kita sendiri, karena hanya Roh Yesus yang membawa kedamaian dan keadilan yang sejati, karena hanya Roh Allah yang menyembuhkan luka-luka kita. Kita berdoa agar Roh Kudus memampukan kita menjadi murid-murid-Nya yang juga membawa pengampunan dan damai, karena hanya dengan Roh Kebenaran, keluarga kita, lingkungan kita, masyarakat kita, bangsa kita dan dunia kita akan menjadi tempat yang lebih baik.

Salam Pentakosta!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Featured

Leaving Jesus

Ascension Sunday. May 28, 2017 [Matthew 28:16-20]

“Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit (Mat 28:18)”

ascension 2

However, in the Gospel of Matthew, we have a fundamentally different story of Ascension. In fact, Matthew has technically no story of Ascension. In the last part of Matthew’a Gospel, neither Jesus was taken into heaven nor did He leave. What Jesus did was to send the disciples to make disciples of all nations, to baptize them and to teach them. It is actually the disciples who are moving away from Jesus. The Gospel of Matthew ends with Jesus’ promise that He will be with His disciples until the end of time. It is clear that in Matthew, Jesus never left His disciples. As the disciples were moving on with their new lives as apostles, Jesus remained and journey together with them.

I entered the minor seminary as early as 14. As I was leaving my home, it was not easy both for me and my parents. There were psychological anxieties and emotional longings to go home. But, the feelings subsided after some time, and a big factor was that my parents allowed and supported my decision to be away from them. They set me free and allowed me to go as a mature man creating his own destiny. Yet, I also realize that they actually never leave me. Biologically speaking, I have in my body the genes of my parents. Not only that, my actions reflect the upbringing that they provided me. From them, I learn the love for God and the Church, discipline and hard work, and basic leadership skills. What people see is me, but what I give them are coming from my parents.

In Ascension, Jesus does not keep us under His arms, He does not suppress our growth, and He does not want that we remain childish permanently. Jesus sets us, His disciples, free and empowers us to become men and women who forge our own paths. We need to leave Jesus so we may become His mature and free apostles. Yet, He never leaves us. We bring Jesus with us because Jesus has formed us in His image. As we receive Jesus from our parents, teachers, catechists, and priests, and after living with Jesus as His disciples, now it is our turn to preach and share Jesus to others, as we make all nations His disciples.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Meninggalkan Yesus

(Edisi Khusus Kenaikan Yesus Kristus)

28 Mei 2017 [Matius 28: 16-20]

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus…(Mat 28:19)”

ascension koreanGambaran tentang Kenaikan Yesus yang ada dalam benak kita adalah Yesus yang diangkat ke langit, sementara para murid dengan penuh doa memperhatikan-Nya menghilang secara perlahan-lahan. Tidak salah jika disebut ‘Kenaikan’ Yesus karena Kristus yang telah bangkit akhirnya naik ke surga, kembali kepada Bapa-Nya. Di dalam film Risen, Kenaikan Yesus digambarkan sedikit berbeda. Yesus tidak diangkat ke surga, tapi Dia hanya berdiri di hadapan para murid-Nya, dan tiba-tiba cahaya yang menyilaukan datang dan menelan Yesus, dan Diapun menghilang dari pandangan mereka. Meskipun memiliki rincian yang berbeda, Kenaikan Yesus berbicara kepada kita tentang Yesus yang memisahkan diri dari murid-murid-Nya, dan meninggalkan mereka karena Ia harus kembali kepada Bapa-Nya.

Namun, dalam Injil Matius, kita memiliki kisah Kenaikan yang berbeda. Sebenarnya, secara teknis, Matius tidak memiliki kisah Kenaikan. Di bagian terakhir Injil Matius, Yesus tidak naik ke surga atau Ia pergi meninggalkan para murid-Nya. Apa yang Yesus lakukan adalah mengutus murid-murid untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka dan mengajar mereka. Yang terjadi sebenarnya adalah murid-murid yang meninggalkan Yesus. Injil Matius berakhir dengan janji Yesus bahwa Ia akan menyertai murid-murid-Nya sampai akhir zaman. Jelas bahwa di dalam Injil Matius, Yesus tidak pernah meninggalkan murid-murid-Nya, tetapi para murid lah yang meninggalkan Yesus untuk mewartakan Injil. Saat para murid melanjutkan hidup baru mereka sebagai rasul, Yesus terus berjalan bersama mereka.

Saya memasuki seminari menengah Mertoyudan sejak usia 14 tahun. Permisahan tidaklah mudah bagi saya dan orang tua saya. Ada kecemasan psikologis dan kerinduan emosional untuk pulang ke rumah. Tapi, syukurlah perasaan itu mereda, dan faktor besar yang membuat saya bertahan adalah orang tua saya mengizinkan dan mendukung keputusan saya untuk meninggalkan mereka. Mereka membebaskan saya pergi agar saya bisa menjadi pria dewasa yang akan membentuk hidup dan masa depannya sendiri. Namun, saya juga menyadari bahwa mereka sebenarnya tidak pernah meninggalkan saya. Secara biologis, saya memiliki gen dari orang tua saya. Secara rohani, saya selalu ada dalam doa mereka. Tidak hanya itu, berbagai tindakan saya mencerminkan didikan yang mereka berikan. Dari mereka, saya belajar untuk mencintai Tuhan dan Gereja, disiplin dan kerja keras. Apa yang orang lihat adalah saya, tapi apa yang saya berikan berasal dari orang tua saya. Mereka tidak pernah meninggalkan saya walaupun saya meninggalkan mereka.

Dalam Kenaikan, Yesus tidak mengekang kita, Dia tidak menekan pertumbuhan kita, dan Dia tidak ingin kita menjadi kanak-kanak selamanya. Yesus membebaskan kita, murid-murid-Nya, dan memberdayakan kita untuk menjadi pria dan wanita yang mampu menempa jalan kita sendiri di dunia. Kita harus meninggalkan Yesus supaya kita bisa menjadi rasul-Nya yang dewasa, bebas dan inovatif. Namun, sejatinya Dia tidak pernah meninggalkan kita. Kita membawa Yesus bersama kita karena Yesus telah membentuk kita menurut gambar-Nya. Sewaktu kita menerima Yesus dari orang tua, guru, katekis, dan imam, dan setelah hidup bersama Yesus sebagai murid-murid-Nya, sekarang giliran kita untuk mewartakan dan membagikan Yesus kepada orang lain. Ini adalah saatnya bagi kita untuk menjadikan semua bangsa murid-murid-Nya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Meet the Holy Spirit

Sixth Sunday of Easter. May 21, 2017 [John 14:15-21]

“I will ask the Father, and he will give you another Advocate to be with you always, (Joh 14:15)”

paraclete 2Have you seen a spirit? When the word ‘spirit’ is mentioned, what image does appear in your mind? Perhaps, scary ghosts from some urban legends or Hollywood horror movies. The word ‘spirit’ conjures terrifying and often creepy images because it is related with the dead, the afterlife, and unexplained paranormal phenomenon. The Church herself warrants the existence of evil spirit or the demons, as the Church fights them through the ministry of exorcism.

However, in the bible, spirit is not frightening, and in fact, it is a fundamental concept and reality. In Hebrew language, spirit is ‘ruah’. This word ‘ruah’ is closely related to breath, air or wind. Spirit is like an air. It is formless and invisible, but all things are filled and surrounded by it. Spirit is like a wind. It cannot be controlled, but it is a powerful force that shapes nature. And spirit is like a breath. We cannot see and touch it, yet it fills us with life. Early in the story of creation, the Spirit of God was already introduced, as this Spirit swept over the waters (Gen 1:2). This ‘breath’ appeared once again in the story of human creation. God then breathed to his nostril the breath of life and man came to life (Gen 2:7). Then, when men and women became wicked, God would take away His ‘spirit’ from them and they would go back to earth (see Gen 6:3). From here, we can learn that the spirit is the power behind creation. It is the source of life in us. Moreover, it connects us with the Divine. Yet, because of sins, it might be lost, and man and woman shall go back to earth.

In today’s Gospel, Jesus taught that this Spirit of God is not just an inanimate force, but He is also a person. Jesus introduced Him as another Advocate. The word ‘another’ is significant, because the first Advocate is actually Jesus Himself (see 1 John 2:1). When Jesus went to the Father, the Spirit shall continue the works of Jesus and stand as His witness. As the divine Advocate, He will help, defend, strengthen, console and teach those who have faith in Jesus. It is important also to note that the Spirit is given in the context of keeping Jesus’ commandment. What is the new and greatest commandment of Jesus? “Love one another. As I have loved you, so you also should love one another (Jn 13:34).” The Spirit aids us in loving God and one another. In fact, He is our very power and capacity to love. Without Him, it is just impossible to love like Jesus.

Now we learn that the presence of the Holy Spirit is not only during the charismatic prayer meetings where someone begins to speak in tongue, but His presence and activity are permeating our lives. When we wake up in the morning and we are reminded to pray, He is in us. When we are hated and persecuted, yet we still proclaim the truth, He is in us. When living becomes laborious and painful, but we continue to love, He is in us. He is our Advocate, the third person in the holy Trinity, the Holy Spirit

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP.

Featured

Inilah Roh Kudus

Minggu Paskah keenam. 21 Mei 2017 [Yohanes 14: 15-21]

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya (Yoh 14:15).

paraclete3Pernahkah kamu melihat roh? Atau, jika anda kata roh disebutkan, gambaran apa yang muncul di benak Anda? Mungkin, hantu-hantu menakutkan dari beberapa cerita-cerita atau film horor Hollywood, atau sesuatu yang diluar kekuatan manusia dan tidak bisa dijelaskan. Kata ‘roh’ seringkali memunculkan gambaran yang mengerikan dan menyeramkan karena selalu berhubungan dengan kematian, dunia akhirat, dan fenomena paranormal yang tidak dapat dijelaskan.

Namun, dalam Alkitab, roh sejatinya tidak menakutkan, dan faktanya, ini adalah konsep dan kenyataan yang mendasar. Dalam bahasa Ibrani, roh adalah ‘ru’ah’. Kata ‘ru’ah’ ini erat kaitannya dengan nafas, udara atau angin. Roh itu seperti udara. Ini tidak berbentuk dan tak terlihat, tapi semua benda terisi dan dikelilingi olehnya. Roh itu seperti angin. Ini tidak bisa dikendalikan, tapi adalah kekuatan dahsyat yang membentuk alam. Dan roh itu seperti nafas. Kita tidak bisa melihat dan menyentuhnya, namun ini memenuhi kita dengan kehidupan. Pada awal kisah penciptaan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (lih. Kej 1: 2). ‘Nafas ilahi’ ini muncul juga dalam kisah penciptaan manusia. Tuhan kemudian menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidungnya dan manusia menjadi hidup (lih. Kej 2:7). Kemudian, ketika pria dan wanita menjadi jahat, Tuhanpun mengambil kembali ‘roh’-Nya dari mereka dan mereka akan kembali menjadi debu (lih. Kej 6: 3). Dari sini, kita bisa mengerti bahwa roh adalah kekuatan di balik ciptaan. Roh adalah sumber kehidupan kita. Selain itu, roh juga menghubungkan kita dengan Yang Ilahi. Namun, karena dosa, roh akan diambil, dan manusia akan kembali menjadi debu.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan bahwa Roh Allah ini bukan hanya sebuah kekuatan alamiah yang tak bernyawa, tapi Roh Allah ini adalah juga pribadi yang hidup. Yesus memperkenalkan Dia sebagai Penolong yang lain. Kata ‘yang lain’ sangat penting, karena Sang Penolong pertama sebenarnya adalah Yesus sendiri (lih. 1 Yoh 2: 1). Ketika Yesus pergi kepada Bapa, Roh Kudus akan melanjutkan misi Yesus dan menjadi saksi-Nya. Sebagai Penolong ilahi, Dia akan membantu, membela, menguatkan, menghibur dan mengajarkan kita yang memiliki iman kepada Yesus. Penting juga untuk dicatat bahwa Roh ini diberikan untuk membantu kita mematuhi perintah Yesus. Apakah perintah Yesus yang baru dan terbesar? “supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh 13:34).” Roh Kudus ada untuk membantu kita dalam mengasihi Allah dan sesama. Sesungguhnya, Dia adalah kekuatan dan kemampuan kita untuk mengasihi. Tanpa Dia, tidak mungkin bagi kita untuk mengasihi seperti Yesus.

Sekarang kita mengerti bahwa kehadiran Roh Kudus tidak hanya selama pertemuan doa karismatik di mana seseorang mulai berbicara dalam bahasa roh, namun kehadiran dan aktivitas-Nya memenuhi kehidupan kita. Saat kita bangun di pagi dan kita diingatkan untuk berdoa, Dia ada di dalam kita. Bila kita dibenci dan dianiaya, namun kita terus menyatakan kebenaran, Dia ada di dalam kita. Saat mencintai menjadi sulit dan menyakitkan, tapi kita terus mencintai, Dia ada di dalam kita. Dia adalah Penolong kita, pribadi ketiga dalam Tritunggal Mahakudus, Sang Roh Kudus.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP.

Faith and the Image of God

Fifth Sunday of Easter. May 14, 2017 [John 14:1-12]

 “Do not let your hearts be troubled. You have faith in God; have faith also in me (Joh 14:1)”

 have faith 1Jesus was about to leave His disciples and go back to His Father. The disciples were confused and failed to understand. Some were afraid of losing their Messiah. Some were puzzled by the actions of Jesus. Yet, despite this confusion and fear, Jesus reminded them not be troubled and to have faith in God and in Him.

The situation of the disciples almost two thousand years ago is actually our situation also here and now. We are troubled and perplexed by many problems. There are a lot of things that come our way and we do not understand why. We do not know why so much suffering and evil are afflicting our nation. We do not understand why good people are oppressed and those who have committed evil acts seem to have a good life. We do not understand why we are losing our job or business; why we are having so much financial troubles; why we are losing our family members; why we are having health issues. We keep asking why.

Today’s Gospel reminds us not to be troubled and have faith in God and in Jesus. Yes, we profess that we have faith in God. Yet, do we truly have faith in God or we actually believe in the images of a god we simply created in our minds? Perhaps, we tend to see God as an instant troubleshooter, who will handle all our problems anytime we need Him, or as a supreme law-giver who must be obeyed at all time. Yet, in difficult times, we see God does not solve our problems instantly or we observe those myriad injustices in our world that God seems to be inactive. We become troubled because our God or our images of God do not fit the reality.

If our faith is the stubbornness of a will to cling to particular images of God, then it is not true faith, but fundamentalism. Either we will eventually lose faith in God or we will begin to force to ourselves and other people to adhere to our image of God. Through trials and difficulties in life, our old, inadequate even false images of God are challenged and we are invited to rediscover the true God once again, more alive, more liberating. We will lose our faith in God if we simply cling to these old images and refuse to open ourselves to ‘many rooms’ God prepares for us. Jesus asks us to believe in God, and not in ourselves nor in the images of God we created. True faith means knowing that God will destroy our images of Him and yet, trust that it is all for our good. It is true, often we do not understand, but as we continue to have faith, and we may discover God who is more alive and liberating. He may come to him as the God of silence, who allows us to keep asking; as the God of surprises, who touches us in the most unexpected moments; as God of the ordinary, who walks with us in our daily struggles; and much more genuine images beyond our imagination.

What are trials and challenges that we have now? What are the images of God we have in our hearts now? Do we have faith in God or in ourselves?

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Iman dan Citra Allah

Minggu Paskah kelima. 14 Mei 2017 [Yohanes 14: 1-12]

 “ Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku (Yoh 14: 1)”

faithYesus hendak meninggalkan murid-murid-Nya dan kembali kepada Bapa-Nya. Para murid bingung dan tidak mengerti. Beberapa takut kehilangan Mesias dan guru mereka. Beberapa tidak mengerti dengan tindakan dan perkataan Yesus. Namun, terlepas dari kebingungan dan ketakutan ini, Yesus mengingatkan mereka agar tidak merasa cemas dan tetap memiliki iman kepada Allah dan kepada-Nya.

Situasi yang dialami para murid Yesus ini sebenarnya adalah situasi yang kita alami juga saat ini. Kita menghadapi banyak permasalahan dan kitapun gelisah. Ada banyak hal yang datang mencobai kita dan kita tidak mengerti mengapa. Kita tidak tahu mengapa begitu banyak penderitaan dan kejahatan menimpa bangsa kita. Kita tidak mengerti mengapa orang baik ditindas dan mereka yang telah melakukan perbuatan jahat tampaknya memiliki kehidupan yang baik. Kita tidak mengerti mengapa kita kehilangan pekerjaan atau usaha kita; mengapa kita mengalami masalah keuangan; mengapa kita kehilangan anggota keluarga kita; Mengapa kita bergulat dengan masalah kesehatan. Kita terus bertanya mengapa.

Injil hari ini mengingatkan kita untuk tidak gelisah dan percaya kepada Allah dan Yesus. Ya, kita mengaku sebagai orang beriman, sudah dibaptis dan ke gereja setiap minggu. Namun, apakah kita benar-benar memiliki iman kepada Allah atau kita sebenarnya beriman kepada citra Allah yang kita ciptakan di dalam hati kita? Mungkin, kita cenderung melihat Tuhan sebagai sang pemecah masalah instan yang akan menangani semua masalah kita kapan saja kita membutuhkan-Nya, atau sebagai sang pemberi hukum tertinggi yang harus dipatuhi setiap saat. Namun, di masa-masa sulit, kita melihat Allah tidak menyelesaikan masalah kita secara instan, atau kita terus mengalami ketidakadilan dan Dia tampaknya tidak berbuat apa. Kita gelisah karena Allah kita atau citra Allah kita tidak sesuai dengan harapan kita.

Jika iman kita adalah keteguhan hati untuk berpegang pada citra Allah tertentu, ini bukanlah iman yang benar, tapi fundamentalisme. Entah kita pada akhirnya akan kehilangan iman kepada Allah atau kita akan mulai memaksa diri kita dan orang lain untuk memiliki citra Allah kita. Melalui pencobaan dan kesulitan dalam hidup, citra Allah kita yang lama dan tidak lagi memadai ditantang oleh Allah sendiri dan kita diundang untuk menemukan kembali Allah yang benar sekali lagi, yang lebih hidup dan membebaskan. Kita akan kehilangan iman kita kepada Tuhan jika kita hanya berpegangan pada citra-citra tua dan menolak untuk membuka diri kita kepada ‘banyak tempat tinggal’ yang Tuhan siapkan untuk kita. Yesus meminta kita untuk percaya kepada Allah, dan bukan di dalam diri kita sendiri maupun dalam citra Allah yang kita ciptakan. Iman yang benar berarti mengetahui bahwa Tuhan akan menghancurkan citra-citra kita tentang Dia namun, tetap percaya bahwa ini semua untuk kebaikan kita. Memang benar, seringkali kita tidak mengerti, tapi karena kita terus memiliki iman, dan kita akan menemukan Tuhan yang lebih hidup dan membebaskan. Dia mungkin datang sebagai Tuhan yang diam, yang memungkinkan kita untuk terus bertanya; sebagai Allah yang penuh kejutan, yang menyentuh kita pada saat yang paling tak terduga; sebagai Tuhan yang bersahaja, yang berjalan bersama kita dalam perjuangan sehari-hari kita; dan masih banyak lagi citra-Nya di luar imajinasi kita.

Apa pencobaan dan tantangan yang kita hadapi sekarang? Apa citra Allah yang kita miliki di dalam hati kita sekarang? Apakah kita memiliki iman kepada Allah atau dalam diri kita sendiri?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Access  

 

Fourth Sunday of Easter. May 7, 2017 [John 10:1-10]

 “I am the gate. Whoever enters through me will be saved, and will come in and go out and find pasture (Joh 10:1)”

gate of the sheep 1Jesus is not the gatekeeper, but Jesus is the gate Himself. A gate or a door gives a passage or access to a sheepfold, a house, a building or a room. It both separates and connects the insiders and the outsiders. In fact, the gate is as essential as the house itself. What is the building without a door or an entry point? It is either a construction error or it is not a sheepfold or a house at all. The gate is not only an accessory to the house, but it also defines the house itself. Is it an accessible house, locked house or not a house at all?

 Being part of the digital generation, we have our own ‘gateway’. In our familiar terms, this is the access, the connection or the networking. We use this access to communicate, to work and even to make important decisions. It turns to be part of who we are, as we crave for it, demand it, and fight for it. Sometimes, I get upset because the connection is poor inside the formation house that I cannot communicate with my family in Indonesia. A child as young as one year old knows how to manipulate an iPhone, and cries loudly when the parents try to take it away from him. Many researchers conclude that Facebook has become another new kind of addiction, as more and more millennials are spending more time on FB.  Lesley Alderman of The New York Times said that we check our cellular phone at an average of 47 to 82 times a day precisely because the access it gives us to almost everything.

Yet, it is not only about addiction or having fun. It is about our lives. A lot companies, jobs and workers are now dependent on this access, something which did not exist twenty years ago. Better connection means faster transaction, the richer the company becomes. The same access is used to control remotely unmanned machines, like drone. Some drones are used for photography, fun and researches, but others can be used to carry powerful explosives. Now, the access can either make us or destroy us.

In today’s Gospel, Jesus introduces Himself as the gate, the access or the connection to the fullness of life. Now, it is up to us whether we enter this gate and use this access, or refuse to enter and waste the connection. If we examine our daily lives, how many hours do we avail of this divine access? We might be upset if we lose our internet connection, but do we get the same feeling when we miss the connection with God? How many hours do we spend for browsing the internet, and eagerly chat with our online friends, compared to the time we use to read the Bible and worship Jesus in the Eucharist? We might be surprised that we actually only remember God on Sunday. And in fact, within the Mass, we are also preoccupied with what inside our phone!

It is one of the fundamental reasons why many of us are unhappy, restless, and at a lost despite the success, riches and other access we possess. Perhaps, it is good to disconnect first from the many connections we have, and connect to the true source of joy. If we are not finding lives meaningful, it is because we are not entering that gate that leads us to the fullness of life.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Akses

Minggu Paskah keempat. 7 Mei 2017 [Yohanes 10: 1-10]

“Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput (Yoh 10: 1).”

gate of the sheep 2Yesus bukanlah sekedar penjaga pintu gerbang, tetapi Yesus adalah sang pintu gerbang. Pintu gerbang atau pintu memberi jalan atau akses ke kandang domba, rumah, bangunan atau ruangan. Pintu memisahkan sekaligus menghubungkan orang dalam dan orang luar. Pintu sama pentingnya dengan rumah itu sendiri. Apa jadinya jika bangunan tanpa pintu masuk? Ini adalah kesalahan konstruksi atau bukan sebuah gedung sama sekali. Pintu bukan hanya aksesori dari sebuah rumah, tapi adalah definisi sebuah rumah. Melalui pintunya, kita bisa menilai apakah rumah ini yang mudah diakses, rumah terkunci atau bukan rumah sama sekali?

 Menjadi bagian dari generasi digital, kita memiliki ‘pintu gerbang’ kita sendiri. Dalam istilah harian kita, inilah akses, koneksi atau jaringan. Kita menggunakan akses untuk berkomunikasi, bekerja dan bahkan membuat keputusan penting. Koneksi telah menjadi bagian dari diri kita, karenanya kita menginginkannya, menyanyanginya, dan memperjuangkannya. Terkadang, saya kesal karena koneksi buruk di dalam rumah formasi sehingga saya tidak dapat berkomunikasi dengan keluarga saya di Indonesia. Seorang anak berumur satu tahun bahkan sudah tahu bagaimana cara memanipulasi iPhone, dan menangis saat orang tuanya mencoba untuk mengambil iPhonenya tersebut. Banyak peneliti menyimpulkan bahwa Facebook telah menjadi jenis kecanduan baru, karena semakin banyak kaum milenial menghabiskan lebih banyak waktu di FB lebih dari hal-hal esensial lainnya. Lesley Alderman dari The New York Times mengatakan bahwa kita mengecek telepon seluler kita rata-rata 47 sampai 82 kali per hari. Ini karena akses yang diberikan bagi kita ke hampir semua hal.

Namun, bukan hanya tentang kecanduan atau bersenang-senang. Akses adalah hidup kita. Banyak perusahaan, profesi dan pekerja sekarang bergantung pada akses internet ini, sesuatu yang tidak terbayangkan dua puluh tahun yang lalu. Adik saya bekerja sebagai coordinator lapangan di sebuah perusahan nasional, dan dia mengkoordinasi anak buahnya, mengecek perkerjaan mereka, dan membeli kebutuhan di lapangan. Semua ini dilakukan di depan laptopnya! Koneksi yang lebih baik berarti transaksi lebih cepat, semakin kaya perusahaan tersebut. Akses yang sama digunakan untuk mengendalikan mesin tak berawak jarak jauh, seperti drone. Beberapa drone digunakan untuk fotografi, hobi dan penelitian, namun beberapa lainnya membawa bahan peledak yang kuat. Sekarang, akses ini bisa membantu kita atau menghancurkan kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai pintu, akses atau koneksi menuju kepenuhan hidup. Sekarang, terserah kita apakah kita mau masuk ke pintu ini dan menggunakan akses ini, atau menolak untuk memasuk dan menyia-nyiakan koneksi ini. Jika kita memeriksa kehidupan kita sehari-hari, berapa jam kita memanfaatkan akses ilahi ini? Kita mungkin kesal jika kita kehilangan koneksi internet, tapi apakah kita kesal saat kita kehilangan koneksi dengan Tuhan? Berapa jam kita habiskan untuk browsing internet, dan dengan penuh semangat chatting dengan teman-teman online kita? Tetapi berapa jam kita gunakan untuk membaca Alkitab dan menyembah Yesus dalam Ekaristi? Kita mungkin terkejut bahwa kita sebenarnya hanya mengingat Tuhan pada hari Minggu. Dan faktanya, dalam Misa, kita juga sibuk dengan apa yang ada di dalam HP kita!

Ini adalah salah satu alasan mendasar mengapa banyak dari kita tidak bahagia, gelisah, dan tersesat meski sukses, kaya, dan akses lainnya yang kita miliki. Mungkin, sebaiknya lepaskan dulu banyak koneksi yang kita miliki, dan hubungkan diri kita kembali ke sumber sukacita sejati. Jika kita tidak menemukan hidup bermakna, ini karena kita tidak memasuki pintu yang membawa kita pada kepenuhan hidup.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP