Eli, Eli, lema sabachthani?

Palm Sunday of the Lord’s Passion

April 9, 2017

Matthew 26:14—27:66

“Eli, Eli, lema sabachthani?” which means, “My God, my God, why have you forsaken me? (Mat 27:46)”

holy week 1Many theologians and ordinary Christians alike are baffled by these words of Jesus on the cross. If Jesus is God, how is it possible for Him to be separated from God? Why does the most compassionate God abandon His beloved Son? It simply does not make any sense. The Catechism of the Catholic Church tries to explain that it is a consequence of sin. Not that Jesus had committed any sin, but He endured the sin of the world on the cross. The greatest effect of sin is separation from God. Thus, carrying the heaviest burden of sin, Jesus could not but feel the chilling effect of alienation from His own Father.

However, for early Christians and Jews who listened to the last words of Jesus on the cross, they understood that Jesus was actually reciting the beginning line of Psalm 22. The tradition considers this as a psalm of lamentation. In fact, the Book of Psalms contains a lot of psalms of lament. Despite its sorrowful nature, this kind of psalm remains true to its form, which is a prayer inspired by the Holy Spirit. Reading closely Psalm 22, we discover that the psalmist tried to express his desperate situation because of the enemies’ assault. The attack was so intense and brutal that he felt that even God abandoned him. Yet, despite the feeling of abandonment, he kept lamenting to God as if He was just near. Indeed, the psalmist was frustrated and complaining, but even this, he turned it into a prayer. Though it was the only prayer he could utter, it was an authentic prayer, without any pretension and pride. This is the paradox: when the psalmist became honest with himself and sufferings, God was closest to him.

In the cross, Jesus felt an excruciating pain both on physical and emotional levels. His triumphal entrance to Jerusalem in which He was welcomed as the King, the Son of David and Prophet, was a jubilant event, yet in a matter of days, many people who had followed Him turned to be His enemies and shouted, “Crucify Him!”. All his great successes as a preacher, teacher and wonder maker, were scattered. He was about to die as a criminal, a shame to Himself and His family. In this extreme sorrow, He decided to pray. Not any prayer, but the prayer that is most fitting to a suffering faithful Jew: a Psalm of Lament. This is the paradox of the cross: He felt abandonment and frustration, but in this prayer, this was the moment Jesus was closest to His Father.

We share also this experience of the cross in our lives. We might face terrible financial situation and uncertainty in our works. We might have health conditions that drain our resources. We might fail in our marriages or friendships. We might just lose our beloved family member. We are misunderstood and accused of wrongdoings we never committed. We might be wronged unjustly. We suddenly lose the works or the ministries we have built on for years. It seems we cannot see any light at the end of the tunnel. Yet, even in the horrifying experiences of the cross, Jesus teaches us to pray. Not any prayer, but a prayer of lamentation, a sincere prayer that expresses deepest desires, angst and pains. It is true that our situations might not change at all, but as we articulate ourselves and our situations, we are helped to find meanings, consolation, and hope. This is the paradox: in the prayer of lament, as we strip our pride and pretentiousness, even when we are in the lowest pit of our lives, God is actually closest to us.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Advertisements

“Eli, Eli, lama sabakhtani?”

Hari Minggu Palma – Hari Minggu Prapaskah VI – Mengenangkan Sengsara Tuhan

April 9, 2017

Matius 26: 14-27: 66

“Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat 27:46)”

holy week 2Banyak teolog maupun umat awam kesulitan untuk memahami kata-kata Yesus di kayu salib ini. Jika Yesus adalah Tuhan, bagaimana mungkin Dia bisa terpisahkan dari Allah? Lalu, mengapa Allah yang penuh kasih bisa-bisanya meninggalkan Putra-Nya? Ini tidak masuk akal. Katekismus Gereja Katolik mencoba menjelaskan bahwa ini adalah konsekuensi dari dosa. Bukan karena Yesus telah melakukan dosa, tetapi Dia menanggung dosa dunia di kayu salib. Efek terbesar dari dosa adalah terpisahnya kita dari Allah. Dengan demikian, membawa beban terberat dari dosa, Yesus tidak bisa tidak merasakan efek mengerikan keterasingan dari Bapa-Nya sendiri.

Namun, bagi umat Kristiani perdana yang mendengarkan kata-kata terakhir Yesus di kayu salib ini, mereka mengerti bahwa Yesus sejatinya mendaraskan Mazmur 22. Tradisi mengkategorikan Mazmur 22 sebagai mazmur ratapan. Bahkan, Kitab Mazmur mengandung banyak mazmur ratapan. Meskipun bersifat sedih, jenis mazmur ratapan tetap merupakan sebuah doa yang terinspirasi oleh Roh Kudus. Jika kita membaca Mazmur 22 dengan teliti, kita menemukan bahwa sang pemazmur mencoba untuk mengekspresikan situasi gentingnya karena serangan musuh. Serangan itu begitu intens dan brutal sehingga ia merasa bahwa bahkan Tuhan telah meninggalkan dia. Namun, meskipun merasakan ditinggalkan, ia terus meratap dan berdoa kepada Allah seolah-olah Dia dekat dan tak pernah meninggalkannya. Memang, sang pemazmur frustrasi dan mengeluh, tapi ia mengubahnya menjadi sebuah doa. Meskipun itu satu-satunya doa yang dia daraskan, itu tetap yang doa otentik, tanpa pretensi dan keangkuhan. Inilah sebuah paradoks: ketika sang pemazmur menjadi jujur dengan dirinya sendiri, Allah menjadi sungguh dekat dengannya.

Di kayu salib, Yesus merasakan sakit yang luar biasa baik di secara fisik dan emosional. Saat Ia memasuki kota Yerusalem di mana Ia disambut sebagai Raja, Anak Daud dan Nabi, adalah peristiwa luar biasa, namun dalam hitungan hari, banyak orang yang mengikuti Dia berubah menjadi musuh-Nya dan berteriak, “Salibkan Dia!” Semua keberhasilan besar sebagai seorang pengkhotbah, guru dan pembuat muzijat, hilang dalam sekejap. Ia mati sebagai seorang kriminal, menjadi aib bagi keluarga-Nya dan bangsa-Nya. Dalam kesedihan ekstrim ini, Ia memutuskan untuk berdoa. Bukan sekedar doa, tetapi doa yang paling tepat bagi seorang Yahudi yang sedang menderita: sebuah Mazmur Ratapan. Kata-kata Mazmur 22 mengungkapkan frustrasi dan perasaan ditinggalkan oleh Allah, tetapi sebagai doa, ini sejatinya momen di mana Yesus menjadi paling dekat dengan Bapa-Nya. Ini adalah paradoks salib!

Kita juga memiliki pengalaman salib dalam hidup kita. Kita mungkin menghadapi situasi keuangan yang terpuruk dan ketidakpastian dalam pekerjaan kita. Kita mungkin memiliki kondisi kesehatan yang menguras kekuatan kita. Kita mungkin gagal dalam pernikahan atau persahabatan kita. Kita mungkin kehilangan anggota keluarga tercinta. Kita disalahpahami dan dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah kita perbuat. Kita mungkin diperlakukan dengan tidak adil. Kita tiba-tiba kehilangan proyek atau karya yang telah kita bangun selama bertahun-tahun. Kita tidak dapat melihat cahaya di ujung terowongan gelap ini. Namun, bahkan dalam pengalaman salib ini, Yesus mengajarkan kita untuk berdoa. Tidak sekedar doa, tapi doa ratapan, doa yang tulus yang mengungkapkan keinginan, kecemasan dan sakit kita yang terdalam. Memang benar bahwa situasi kita mungkin tidak berubah sama sekali, tapi saat kita bisa mengartikulasikan diri kita dan situasi kita, kita dibantu untuk menemukan makna, penghiburan, dan harapan. Dalam doa ratapan, kita melucuti pretensi dan keangkuhan kita. Inilah paradoks: bahkan di dalam doa ratapan, ketika kita berada di jurang terdalam kehidupan kita, Tuhan sebenarnya paling dekat dengan kita.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP