Featured

Weep

 Fifth Sunday of Lent. April 2, 2017 [John 11:1-45]

Raising-of-Lazarus-2 Today’s Gospel contains my personal favorite verse: Then, Jesus wept. It is the shortest verse in the Bible, yet it is also one of the most powerful. However, its strength does not rest on any superhuman power that can multiply bread or calm the storm, but on the humanity of Jesus.

The death of Lazarus must have been overwhelming for the family. In the ancient Jewish society, man was responsible for the survival of the family. If presumably, Lazarus was the only bread winner, Martha and Mary would have a serious problem in surviving in that troubled and difficult times. But, more than any economic difficulty, a loss of a family member due to sickness and death had always crushed the entire family. Not only Martha and Mary were uncertain of their future, they also had to endure the terrible pain of losing someone they loved dearly, a brother with whom they shared a lot of good memories, and a friend to whom they could trust and rely on. Anyone of us who has lost a beloved family member can easily commensurate with Martha and Family.

When Jesus saw Martha and Mary were grieving and weeping, Jesus was groaned and was troubled. And when He saw the tomb, He began to shed tears as well. He did not pretend that He was Ok, or He did not appear as if nothing happened. He got affected by the overwhelming emotion and suffering, and He wept. We see today Jesus who is truly human and becomes one with our humanity with its all pains, sufferings, and grief. The revelation is that before Jesus does any miracle or sign, He first becomes part of our sorrow, our humanity. This very consoling.

We are living at a time where success and happiness are the determinants of a fulfilled life. No wonder, the books or seminars on ‘positive thinking’, ‘greatness’, ‘self-help’ or ‘success’ are mushrooming. Even we and some other churches follow suit and preach the ‘Gospel of Prosperity’. I guess there is nothing wrong with being successful and rich, all are a blessing of God. It becomes problematic when we tend to focus on the happy only emotions and suppress ‘negative’ emotions by reciting ‘positive thinking mantra’ or attending praise and worship. In the face of sufferings, failures, and loss of someone we love or we are crushed by burden of life, it is but natural to feel sorrow. Many psychologists would agree that suppression of this feeling will do more harm than good. In the animation film ‘Inside Out’, life of Riley, the main protagonist, turns to be a little mess when Sadness is pushed aside, and Joy is always at the helm. But, when Joy gives away to Sadness, things begin to fall in their places. God created Sadness also, and it is for a good purpose.

Certainly Jesus does not teach us to be melancholic, nor to dwell in our grief for eternity. He teaches us what it means to be fully and truly human, with all love, joy, sorrow, hope, fear, and anger. Our faith tells us that Jesus is not only fully divine, but also fully human, and this means that when we strive to know Jesus, not only we know more about God, but also about humanity. The more we love Jesus, the more we become truly human.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Advertisements

Maka Menangislah Yesus

Kelima Prapaskah Minggu. 2 April 2017 [Yohanes 11: 1-45]

jesus-weptPada Injil hari ini ada ayat favorit pribadi saya: Maka Menangislah Yesus. Ini adalah ayat terpendek dalam Alkitab, namun juga salah satu yang paling kuat. Namun, dayanya tidak terletak pada kekuatan super Yesus yang dapat memperbanyak roti atau menenangkan badai, tetapi justru pada kemanusiaan Yesus.

Kematian Lazarus sepertinya sangat memukul keluarga. Dalam masyarakat Yahudi kuno, seorang pria bertanggung jawab penuh untuk kelangsungan hidup keluarganya. Jika Lazarus adalah satu-satunya pria di keluarga tersebut, Marta dan Maria akan menghadapi masalah serius dalam kelangsungan hidup mereka. Tapi, lebih dari kesulitan ekonomi, hilangnya anggota keluarga karena sakit dan kematian selalu selalu membenamkan seluruh keluarga. Tidak hanya Marta dan Maria ragu akan masa depan mereka, tetapi mereka juga harus menanggung rasa sakit dari kehilangan seseorang yang mereka kasihi, saudara yang mereka andalkan, dan memori-memori indah bersamanya. Siapa pun dari kita yang telah kehilangan anggota keluarga tercinta dapat dengan mudah bersimpati dengan Martha dan Maria.

Ketika Yesus melihat Marta dan Maria yang berduka dan menangis, Yesus mengerang dan sangat terharu. Dan ketika Dia melihat kubur Lazarus, Ia mulai meneteskan air mata. Dia tidak berpura-pura bahwa ia baik-baik saja, atau Ia tidak tampak seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia terlibat di dalam emosi dan penderitaan Martha dan Maria, dan diapun menangis. Kita melihat sekarang Yesus yang benar-benar manusia dan menjadi satu dengan kemanusiaan kita dengan segenap rasa sakit, penderitaan, dan kesedihan. Dan Kabar gembira bagi kita semua adalah sebelum Yesus melakukan mukjizat, Dia pertama-pertama menjadi bagian dari kesedihan dan kemanusiaan kita. Dan ini sungguh sebuah penghiburan.

Kita hidup dalam zaman di mana kesuksesan dan kebahagiaan menjadi penentu hidup. Tak heran, banyak buku atau seminar tentang ‘positive thinking’, ‘self-help’ atau ‘sukses’ tumbuh seperti jamur. Bahkan kita dan beberapa gereja lainnya ikut arus dan memberitakan ‘Injil Kemakmuran’. Saya kira tidak ada yang salah dengan menjadi sukses dan kaya, semua adalah berkat dari Tuhan. Tetapi, ini menjadi bermasalah ketika kita cenderung untuk fokus pada perasaan senang dan bahagia, tetapi menekan emosi-emosi ‘negatif’ dengan mengucapkan mantra ‘positive thinking’ atau menghadiri Praise and Worship. Dalam menghadapi penderitaan, kegagalan, dan kehilangan serta saat diterpa badai kehidupan, sangatlah alamiah untuk merasa sedih. Banyak psikolog setuju bahwa menekan perasaan ini sebenarnya berdampak tidak baik pada kesehatan kita secara menyeluruh. Dalam film animasi Inside Out, kehidupan Riley, sang protagonis utama, ternyata menjadi berantakan ketika Sadness dikesampingkan, dan Joy selalu diunggulkan. Tapi, ketika Joy memberikan tempat bagi Sadness, hidup Riley mulai berjalan dengan baik. Tuhan tidak hanya menciptakan emosi bahagia saja tapi juga emosi sedih, dan ini adalah untuk tujuan yang baik.

Tentu saja Yesus tidak mengajarkan kita untuk menjadi melankolis, atau untuk terus bersedih sepanjang masa. Dia mengajarkan kita apa artinya menjadi manusia yang penuh dan sejati, dengan semua kasih, sukacita, kesedihan, harapan, ketakutan, dan kemarahan. Iman kita mengajarkan bahwa Yesus tidak hanya sepenuhnya ilahi, tetapi juga sepenuhnya manusia, dan ini berarti bahwa ketika kita berusaha untuk mengenal Yesus, tidak hanya kita tahu lebih banyak tentang Allah, tetapi juga tentang kemanusiaan kita. Semakin kita mengasihi Yesus, semakin kita menjadi benar-benar manusia.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kebutaan dan Visi Iman

Minggu Keempat Prapaskah. 26 Maret 2017 [Yohanes 9: 1-41]

“karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (Yoh 9:3)”

jesus-heals-blind-manKebutaan adalah cacat yang paling mengerikan. Kita akan kehilangan penglihatan, hidup dalam kegelapan total untuk seluruh kehidupan kita. Ketidakmampuan untuk melihat keindahan dunia dan orang-orang yang kita cintai. Dalam Perjanjian Lama, kebutaan memberikan seseorang kelemahan besar. Kita tahu cerita Ishak yang ditipu oleh Yakub, anaknya sendiri sehingga ia bisa mendapatkan berkat, dan ini semua dimulai ketika Ishak kehilangan penglihatannya. Menjadi buta juga menghambat mereka untuk memenuhi kewajiban agama. Hukum Musa mengatur bahwa orang buta tidak bisa mempersembahkan korban kepada Tuhan, bahkan hewan kurban pun tidak boleh buta (lihat Im 21-22). Orang-orang berdosa juga dikaitkan dengan kebutaan (lihat Ul 28:29). Itulah sebabnya murid-murid Yesus bertanya apakah kebutaan seseorang disebabkan oleh dosanya sendiri atau orang tuanya.

Penyembuhan orang buta dalam Perjanjian Lama jarang terjadi, namun para nabi menubuatkan bahwa jaman Mesianik akan ditandai dengan penyembuhan orang buta dan lumpuh. Dengan demikian, dalam Injil, kita membaca banyak cerita dari orang buta disembuhkan Yesus, dan ini memberitahukan kita bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama diharapkan dan kerajaan-Nya telah dimulai. Dalam Injil Yohanes, kisah penyembuhan orang buta jarang terjadi, namun Yohanes mengabdikan seluruh bab 9 untuk satu orang buta yang tak bernama. Orang itu disembuhkan oleh Yesus pada hari Sabat. Sayangnya, penyembuhan dalam Sabbath dilarang oleh Hukum Taurat, dan orang-orang Farisi pun mencerca sang pria denga serangkaian pertanyaan, terutama mempertanyakan otoritas Yesus. Pria itu yakin bahwa meskipun melanggar Sabat, Yesus adalah orang kudus karena tidak ada orang yang berdosa dapat menyembuhkan. Cerita berakhir dengan dia diusir dari rumah ibadat. Sebuah ironi terjadi dalam cerita ini, dimana orang buta bisa melihat dan percaya kepada Yesus, tetapi beberapa orang Farisi terus hidup dalam kegelapan dan tidak percaya kepada Yesus.

Kisah orang buta ini mengingatkan saya akan Louis Braille. Louis kehilangan penglihatannya pada usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan dan benda tajam menusuk matanya. Namun, ia bertekad untuk terus belajar dengan indranya yang tersisa. Ayahnya membuatnya tongkat, saudaranya mengajarinya echolocation, pastor di desanya mengajarinya untuk mengenali pohon dengan sentuhan dan burung dengan suara mereka, dan ibunya mengajarkan dia untuk bermain domino dengan menghitung titik-titik dengan ujung jarinya. Dia ingin membaca dan belajar lebih banyak, tapi itu praktis tidak mungkin. Setelah beberapa waktu, ia menerima kabar bahwa Charles Barbier, seorang komandan militer menemukan kode komunikasi militer menggunakan pola titik-titik untuk mewakili suara. Louis mengadopsi sistem ini untuk dirinya sendiri, namun ia merasa kode itu terlalu lambat. Jadi, bukannya mewakili suara, ia merekayasa sistem titik ini untuk mewakili huruf. Dia menekan titik-titik di atas kertas dengan alat penusuk yang tajam dan kecil, seperti alat yang menyebabkan kebutaannya. Pada usia 15, ia menemukan abjad Braille. Tekadnya ini telah membantu banyak orang dengan kebutaan dan visibilitas rendah, untuk membaca dan melihat dunia.

Tentu saja, mata kita baik-baik saja karena kita mampu membaca refleksi ini! Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah, di Masa Pra-Paskah ini, apakah mata kita membantu kita untuk melihat apa yang paling penting dalam hidup. Apakah kita menghargai karunia penglihatan kita? Apakah visi kita membawa kita kepada iman yang lebih dalam? Apakah kita membantu orang lain untuk melihat Yesus?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Jesus and the Samaritan Woman

Third Sunday of Lent. John 4:5-42 [March 19, 2017]

“Many of the Samaritans of that town began to believe in him because of the word of the woman (Jn 4:39)”

samaritan-woman-at-the-wellMany of us will see Jesus’ conversation with the Samaritan woman as something ordinary, a chat between a man and a woman. But, if we go back to the time of Jesus, we will discover it as unthinkable. This Samaritan woman embodied what the Jews hated most. Firstly, despite their common ancestry, the Samaritans and the Jews were excommunicating each other. Despite worshipping the same God, they condemned one another as religious heretics and they proclaimed their own religion as the true one. No wonder, sometimes, the encounter between the two turned violent and the Romans had to quell the riots.

Secondly, this Samaritan is a woman. The ancient Jewish society, just like many ancient cultures, placed women as second class citizens. They were treated as objects, either owned by the patriarch or the husband. They could be easily divorced by their husbands if they could not bear a child. Despite some outstanding and exceptional women due to their noble birth and wealth, women generally were discriminated from the public and religious sphere. Many could neither study the Torah nor have a voice of their own. No wonder, many Jews praised the Lord because they were born not as a woman!

However, in today’s Gospel, Jesus talked to a Samaritan woman. Not only talking, He asked for water. Not only did he asked for water, He revealed Himself for the first time as the Living Water as well as the Messiah. The conversation transformed her.  While many Jews refused to believe in Jesus, the Samaritan woman believed. Not only did she become a believer, she turned to be a preacher of faith. She spread the Good News to her townsfolk and they came to Jesus because of her. The Gospel of John narrates to us that even a Samaritan and a woman can be chosen by Jesus to be His preacher. The effects of her preaching were unprecedented. The Samaritans began to make peace with other Jews, the disciples who also believe in Jesus.

We are living in a better world. Women can enjoy the same rights that men enjoy almost in all aspects. Indonesia, a country with the largest Muslim population in the world, used to have a woman president. In the Philippines, many major positions are occupied by women, like Chief Justice, Senators, and even military general. Yet, still many women are subject to various forms of exploitation: human trafficking, prostitution, domestic violence, and abuses. Following Jesus means standing up against injustice against women.

The Gospel also points out to us that women are capable of preaching the faith. Surely, women cannot preach in the pulpit, but many of them are responsible for faith growth in many Christ-centered communities. I still remember how my mother taught me the basic prayers and the rosary. She also encouraged me as an altar server to love the Eucharist. In Indonesia, it is a practice in many parishes for priests to receive their daily meals from the people, and many women are doing their best to provide for the priests. Some religious sisters and lay women have contributed to my philosophical and theological formation, and they were great professors. Over and above these, many women have generously supported the Church and her Evangelization mission, through their resources, time, effort and prayer. From the depth of our hearts, we thank them.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Yesus dan Perempuan Samaria

Minggu Prapaskah Ketiga. Yohanes 4: 5-42 [19 Maret 2017]

 “Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu (Yoh 4:39)”

 Banyak dari kita akan melihat percakapan antara Yesus dengan perempuan Samaria sebagai sesuatu yang biasa, percakapan antara seorang pria dan seorang wanita. Tapi, jika kita kembali ke zaman Yesus, kita akan menemukan hal ini sebagai hal yang tak terbayangkan. Perempuan Samaria ini menjadi symbol dari apa yang orang-orang Yahudi paling benci. Pertama, walaupun berasal dari nenek moyang yang sama, orang-orang Samaria dan Yahudi saling mengucilkan satu sama lain. Meskipun menyembah Tuhan yang sama, mereka mengutuk satu sama lain sebagai bidah dan mereka mengklaim bahwa agama mereka sendirilah sebagai yang benar. Tidak heran, kadang-kadang, pertemuan antara keduanya berubah menjadi kekerasan dan tentara Romawi harus turun tangan untuk menghentikan kerusuhan ini.

Kedua, orang Samaria ini adalah seorang wanita. Masyarakat Yahudi tempo dulu, seperti banyak kebudayaan kuno, menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua. Mereka diperlakukan sebagai objek, baik yang dimiliki oleh bapak keluarga atau suami. Mereka bisa dengan mudah diceraikan oleh suami mereka jika mereka tidak bisa memiliki anak. Meskipun ada beberapa pengecualian, wanita umumnya didiskriminasi dari ruang publik dan agama. Banyak perempuan tidak mempelajari Taurat atau memiliki suara mereka sendiri untuk menentukan masa depan mereka. Tak heran, banyak orang Yahudi tempo dulu memuji Tuhan karena mereka dilahirkan bukan sebagai seorang wanita!

Namun, dalam Injil hari ini, Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. Tidak hanya berbicara, Dia meminta air. Tidak hanya dia meminta air, Ia menyatakan diri-Nya untuk pertama kalinya sebagai Air Kehidupan serta Mesias. Percakapan ini mengubah sang perempuan. Sementara banyak orang Yahudi menolak untuk percaya kepada Yesus, wanita Samaria percaya. Tidak hanya percaya, ia berubah menjadi seorang pewarta iman. Dia menyebarkan Kabar Baik kepada warga di desanya dan mereka datang kepada Yesus karena dia. Injil Yohanes menceritakan kepada kita bahwa bahkan seorang Samaria dan seorang wanita dapat dipilih oleh Yesus untuk menjadi pewarta iman-Nya. Buah dari pewartaanya pun luar biasa. Orang Samaria mulai berdamai dengan orang-orang Yahudi, secara khusus para murid yang juga percaya pada Yesus.

Kita hidup di dunia yang lebih baik. Perempuan dapat menikmati hak yang sama seperti laki-laki hampir dalam semua aspek kehidupan. Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, pernah memiliki seorang presiden perempuan. Di Filipina, banyak posisi utama diduduki oleh perempuan, seperti Ketua MA, Senator, dan bahkan jenderal militer. Namun, masih banyak wanita yang tunduk pada berbagai bentuk eksploitasi: perdagangan manusia, prostitusi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kejahatan seksual. Mengikut Yesus berarti kita berdiri melawan ketidakadilan terhadap perempuan.

Injil juga menunjukkan kepada kita bahwa perempuan mampu memberitakan iman. Tentunya, perempuan tidak bisa berkhotbah di mimbar, tapi banyak dari mereka yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan iman di banyak komunitas. Saya masih ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya doa-doa dasar dan rosario. Dia juga mendorong saya aktif di Gereja dan mencintai Ekaristi. Di Indonesia, di banyak paroki, para imam menerima ‘rantangan’ dari umat, dan banyak wanita yang terlibat dalam menyediakan makanan bagi para imam ini. Beberapa suster dan awam perempuan telah memberikan kontribusi bagi formasi filosofis dan teologis saya, dan mereka ada para guru yang handal. Akhirnya, banyak perempuan telah bermurah hati untuk mendukung Gereja dan misi Evangelisasi, melalui sumber daya mereka, waktu, tenaga dan doa. Dari kedalaman hati kita, kita berterima kasih kepada para perempuan ini.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The God of Transfiguration

Second Sunday of Lent (Year A). March 12, 2017 [Matthew 17:1-9]

“They were coming down from the mountain… (Mat 17:9)”

transfiguration-jesusmafa-438In the Bible, the mountain is the place where God meets His people. On Mount Horeb, Moses saw the burning bush and received his calling to lead Israel out of Egypt’s slavery (see Exo 3). On Mount Sinai, after the liberation of the Hebrews, Moses met the Lord and received the Law in the Mount Sinai (see Exo 19). Again on Mount Horeb, Elijah discovered the gentle presence of God (1 Kings 19:11-15).

Psalmists also considered the mountain as the Lord’s dwelling place (like Psa 3:5; 24:3). In fact, one of the titles of the Lord is El Shaddai, and one of its probable meaning is: the Lord, the strong mountain (Gen 17:1).

In today’s Gospel, Jesus led the three disciples up to the high mountain. There, he was transfigured. His face was shining like a sun and his cloth turned to be white as light. Then two great figures of Old Testament, Moses and Elijah appeared and conversed with Jesus. Finally, the bright cloud covered them and a voice was heard, “This is my beloved Son, with whom I am well pleased; listen to him.” The disciples were so terrified and overwhelmed. Turning back to the ordinary form, Jesus touched them and assured them, “Rise and do not be afraid.” Then they went down from the mountain and continued their journey to Jerusalem.

The Old Testament motif takes place once again in the New Testament, but looking closely, there are several striking differences. Firstly, people climb the Mountain to see God, but when the disciples were there, they saw Jesus transfigured instead. The episode becomes an early sign of Jesus’ divinity in the New Testament. Secondly, Moses and Elijah were representing the best of Old Testament: the Law and the Prophet. Yet, Moses and Elijah were also the very characters that encountered God on the mountain. They reappeared in the transfiguration because they wanted to tell us that Jesus was the God they had encountered in the mountains. Thirdly, Jesus did not stay forever on the mountain, but He went down and continued His life among His disciples and other Israelites. This is a life-changing revelation: our God does not stay and sit nicely on the high mountain, but He goes down and is staying with us, in our ordinariness of life.

Sometimes we are expecting to encounter the glorious God only on the high mountain. For some feel God in the charismatic worship meetings. Others encounter God in the great retreats and long recollections. Nothing’s wrong with these noble devotions and religious practices. Yet, the danger is that we begin to dichotomize the religious life that is limited to the church or rituals and our daily lives outside the church. We must not forget the point of transfiguration that our God is also dwelling among us. Jesus is with us in our family and our efforts in raising our children. The Lord is present in our workplaces as we toil for our daily bread. He embraces us in the moment of trials and pains. He is never far, and we are never alone. And He is our God.

 Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Allah Transfigurasi

Minggu Prapaskah kedua (Tahun A). 12 Maret 2017 [Matius 17: 1-9]

tumblr_inline_njjg9wzNYO1qkqzlvDalam Alkitab, gunung adalah tempat di mana Allah bertemu umat-Nya. Musa melihat semak duri yang menyala dan menerima panggilannya untuk memimpin Israel keluar dari perbudakan Mesir di Gunung Horeb (lihat Kel 3). Setelah pembebasan, Musa bertemu dengan Tuhan dan menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai (lihat Kel 19). Elia menemukan kehadiran Allah yang lembut di Gunung Horeb (1 Raja 19:11-15). Pemazmur juga melihat gunung sebagai tempat Tuhan bersemayam (seperti Mzm 3:5; 24:3). Bahkan, salah satu gelar Tuhan adalah El Shaddai, yang  mungkin berarti Tuhan adalah gunung yang kuat (Kej 17:1).

Dalam Injil hari ini, Yesus dan ketiga murid naik ke gunung yang tinggi. Di sana, ia berubah rupa. Wajahnya bersinar seperti matahari dan kain nya berubah menjadi putih seperti cahaya. Kemudian dua tokoh besar dari Perjanjian Lama, Musa dan Elia muncul dan berbicara dengan Yesus. Akhirnya, awan terang menaungi mereka dan suara berkata, Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Para murid sangat ketakutan. Beralih kembali ke bentuk biasa, Yesus menyentuh mereka dan meyakinkan mereka, Berdirilah, jangan takut.” Kemudian mereka turun dari gunung dan melanjutkan perjalanan ke Yerusalem.

Motif Perjanjian Lama berlangsung sekali lagi dalam Perjanjian Baru, tetapi jika kita mencermati lebih dekat, ada beberapa perbedaan mencolok di sini. Pertama, manusia mendaki gunung untuk melihat Allah, tapi ketika para rasul berada di sana, mereka melihat Yesus berubah. Episode menjadi salah satu tanda dari keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru. Kedua, Musa dan Elia yang mewakili yang terbaik dari Perjanjian Lama: Hukum dan Nabi. Namun, Musa dan Elia adalah juga tokoh Perjanjian Lama yang ditemui Allah di gunung. Mereka muncul kembali di transfigurasi karena mereka ingin memberitahu kita bahwa Yesus adalah Tuhan yang mereka temui di gunung tinggi. Ketiga, Yesus tidak tinggal selamanya di gunung, tetapi Dia turun dan meneruskan hidup-Nya di antara para murid-Nya dan bangsa Israel. Ini adalah wahyu yang sejatinya menggegerkan: Allah kita tidak tinggal dan duduk manis di atas gunung yang tinggi, tetapi Dia turun dan tinggal bersama kita, di hiruk-pikuk hidup kita.

Kadang-kadang kita mengharapkan untuk menemukan Allah yang mulia hanya pada gunung yang tinggi. Beberapa dari kita merasakan Allah hanya dalam pertemuan ibadah karismatik, dengan musik yang kuat dan doa-doa yang sangat ekspresif. Lainnya berjumpa dengan Allah dalam retret agung dan rekoleksi yang panjang. Tidak ada yang salah dengan praktik-praktik keagamaan ini. Namun, bahayanya adalah bahwa kita mulai memisahkan kehidupan beragama yang terbatas di dalam gereja, dan kehidupan sehari-hari di luar gereja. Kita tidak boleh lupa makna dari transfigurasi adalah bahwa Allah kita juga tinggal di antara kita. Yesus bersama kita dalam keluarga kita dan upaya kita dalam membesarkan anak-anak kita. Tuhan hadir di tempat kerja kita saat kita bekerja keras untuk mencari sesuap nasi. Dia memeluk kita di saat kita mengalami penderitaan. Dia tidak pernah jauh, dan kita tidak pernah sendirian. Dan Dia adalah Allah kita, Allah transfigurasi.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Why Temptation?

First Sunday of Lent (Year A). March 5, 2017 [Matthew 4:1-11]

“Then Jesus was led by the Spirit into the desert to be tempted by the devil. (Mat 4:1)”

jesus-temptation-2The reality of temptation has taken place even since the dawn of time. In the book of Genesis, we read that our first parents were tempted by the serpent and unfortunately, they were tricked, fell and sinned. Then one after another a biblical character was put into temptation and fell. Cain committed the first murder and fratricide. David was involved in adultery. Solomon worshipped and built temples for other pagan gods. Fortunately, not all fell during the time of trials. Job was pounded by all kinds of woes, but he never sinned and in fact, praised the Lord in the most miserable situation. And we have Jesus who triumphed over Satan and his temptations in the desert. Yet, why are we tempted? Why are we susceptible to this reality that lures us to sin?

The book of Genesis narrates to us that we were created on the sixth day (see Gen 1:24ff). We were the summit of creation as we were made in the image of God. Yet, the Bible says that we were not alone on the sixth day. God also fashioned the animals in this day. We were situated between the animals and the image of God. This is a symbolic narrative that we have both the animal side and the spiritual side. Yet, I am not saying that animals are bad. The animal-lovers will rally against me! This means we share what are common to animals: our physical body, emotions, and instinct. A Greek Philosopher, Aristotle correctly defined human being as ‘rational animal’. The purpose of creation is that we nurture all our humanity, both physical and spiritual, so that we may enter into the rest with God on the seventh day.

Unfortunately, that is not the end of the story. The evil forces also will not let us enter God’s rest effortlessly. They will continue to feed the ‘animal’ in us to the point that our spiritual aspect is neglected and overcome. The temptation is an attempt by the Satan and his cohorts to drag us way below the situation of an animal.

In the Gospel, we learn that Satan tempted Jesus to use His divine power to produce bread; to wield his might to amaze the crowd and draw praise to Himself; to submit to Satan so that He receives all glory and honor. Satan was tempting Jesus to yield to His physical, emotional and psychological needs by manipulating His spiritual power. As Satan did to Jesus, he will do to us. We all need food, security, and recognition, and the devil and his army will make sure that we will sacrifice our spiritual identity for these basic needs.

How to counter temptation? Jesus gives us the answer: the Word of God. We need to continue to feed our spiritual life with His Word. I am elated that more and more people, even the laity, study the Sacred Scriptures. Yet, we should be cautious as well since Satan also uses the Bible to deceive us and achieve his end. Thus, Lenten season calls us to intensify our efforts to study the Word of God together and within the Church. In Jesus, the Word of God, we shake off the devil and all his works.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kenapa Pencobaan?

Minggu Prapaskah pertama (Tahun A). 5 Maret 2017 [Matius 4: 1-11]

“Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis (Mat 4:1)”

jesus-temptationPencobaan telah terjadi bahkan sejak awal sejarah umat manusia. Dalam kitab Kejadian, Adam dan Hawa tergoda oleh sang ular dan sayangnya, merekapun tertipu dan berdosa. Kemudian satu demi satu tokoh di Alkitab mengalami pencobaan dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Kain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia saat dia menghabisi saudaranya sendiri. Daud terlibat dalam perzinahan. Salomo menyembah dan membangun kuil untuk berbagai berhala. Syukurlah, tidak semua jatuh pada pencobaan ini. Diterpa oleh segala jenis malapetaka, tapi Ayub tidak pernah berdosa dan memuji Tuhan bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan. Dan kita memiliki Yesus yang menang atas Iblis dan godaannya di padang gurun. Namun, mengapa kita terus masuk ke dalam pencobaan? Mengapa kita rentan terhadap godaan sang Jahat yang memikat kita untuk berbuat dosa?

Kitab Kejadian menceritakan bahwa kita diciptakan pada hari keenam (lihat Kej 1: 24-31). Kita adalah puncak dari segala ciptaan terutama karena kita diciptakan menurut citra Allah. Namun, Alkitab mengatakan bahwa kita tidak sendirian di hari keenam. Tuhan juga memciptakan berbagai binatang di hari ini. Kita terletak antara binatang dan citra Allah. Ini adalah narasi simbolik bahwa kita sebagai manusia memiliki sisi hewan dan sisi spiritual. Namun, saya tidak mengatakan bahwa hewan adalah buruk. Ini berarti kita sebagai manusia memiliki beberapa kesamaan dengan hewan seperti: tubuh jasmani kita, emosi dan insting. Tidak salah jika Filsuf Yunani Aristoteles mendefinisikan manusia sebagai ‘hewan rasional.’ Kedua sisi ini, jasmani dan rohani, perlu dikembangkan bersama-sama sehingga kita mencapai tujuan dari penciptaan adalah bahwa kita, dengan semua kemanusiaan kita, bisa masukkan ke dalam peristirahatan dengan Allah di hari ketujuh.

Namun, kekuatan jahat juga tidak akan membiarkan kita untuk masuk ke dalam peristirahatan Allah dengan mudah. Mereka akan terus memberi makan ‘hewan’ di dalam kita sampai pada titik bahwa aspek spiritual kita terabaikan. Godaan merupakan upaya oleh Setan dan para malaikatnya untuk menyeret kita ke dalam situasi yang lebih rendah dari binatang.

Dalam Injil, kita mengerti bahwa Setan mencobai Yesus untuk menyalahgunakan kuasa ilahi-Nya untuk menghasilkan roti; untuk menggunakan kekuasaan-Nya untuk memukau orang banyak dan menarik pujian bagi diri-Nya; untuk menyembah Setan sehingga Ia menerima semua kemuliaan dan hormat di dunia. Setan menggoda Yesus untuk mememunuhi kebutuhan fisik, emosional dan psikologis-Nya dengan memanipulasi kekuatan rohani-Nya. Dengan strategi yang sama, dia akan mencobai kita. Kita semua membutuhkan makanan, keamanan dan pengakuan, dan ia dan pasukannya akan memastikan bahwa kita akan mengorbankan identitas rohani kita untuk memenuhi kebutuhan dasar ini.

Bagaimana untuk menghadapi godaan? Yesus memberi jawabannya: Firman Allah. Kita perlu terus memberi nutrisi bagi kehidupan rohani kita dengan firman-Nya. Saya gembira bahwa semakin banyak orang, bahkan kaum awam, mempelajari Kitab Suci. Namun, kita perlu berhati-hati juga karena Setan juga menggunakan Alkitab untuk menipu kita dan mencapai tujuannya. Dengan demikian, masa Pra-paskah memanggil kita untuk mengintensifkan upaya kita untuk memdalami Firman Tuhan bersama-sama dan di dalam Gereja. Hanya dalam Yesus, Sang Firman Allah yang hidup, kita mengusir setan dan semua karya-karyanya.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP