Ash: a Biblical Reflection

Ash Wednesday 2018 [February 14, 2018] Matthew 6:1-6, 16-18

“For you are dust, and to dust, you shall return. (Gen. 3:19)”

dustAsh Wednesday is the beginning of the liturgical session of Lent in the Catholic Church. Its name derives from an ancient tradition of the imposition of the ashes. Every Catholic who attends the mass on this day will receive a sign of the cross made of ashes on his or her forehead. The ashes are ordinarily coming from the burned palm leaves blessed at the Palm Sunday of the previous year.

Why ashes? Is it in the Bible?

In the Bible, ash (or dust) symbolizes our mortal and fragile humanity. We recall how God created humanity from the dust of the earth (Gen 2:7). Indeed, after Adam committed the first act of disobedience, God reminded Adam of his finite nature, “For you are dust, and to dust, you shall return. (Gen. 3:19)” Because of sin, death upset the creation and brought Adam and all his children back to the ground. Thus, when a priest imposes ashes on our foreheads with the same formula, it becomes a poignant reminder of who we are. Human as we are, relying on our own strength and ability, despite our success, glory, and pride, will die and go back to the earth.

Ash is also a mark of grief, humility, and repentance. After the preaching of Jonah, the people of Nineveh repented, and they wore sackcloth and sat on ashes, begging forgiveness (Jon 3:5-6). Under the leadership of Nehemiah, the citizen of Jerusalem assembled and asked for God’s forgiveness. They all gathered together “while fasting and wearing sackcloth, their heads covered with dust (Neh 9:1).  That explains why the priest also says, “repent and believe in the Gospel!” while imposing the ashes on our foreheads. Just like the ancient Israelites, it is a sign and invitation for us to change our lives and seek God’s mercy and forgiveness.

The cross of ash is the sign of our finite humanity, and even death. Paradoxically, however, it also turns to be a symbol of our true strength and life. When we realize and acknowledge that we are mere ashes in God’s hands, it is also the time we become once again truly alive. Just as God breathed His spirit in the first human made of dust, so God gives us His grace that enables us to participate in His divine life. We are truly alive precisely because we are now sharing in God’s life. The cross of ashes turns to be the moment of our re-creation. As St. Paul says, it is no longer I who live, but it is Christ who lives in me.  (Gal. 2:20)

Sometimes, the ash of repentance brings us sadness and gloominess as we reflect our sinfulness and frailty. As today is the day of fasting and abstinence, we also feel hungry and lethargic. Yet, it must not stop there. It should lead us to the Gospel, the Good News. It is Good News because we are now saved and alive! When we repent, we remove all things make our lives heavy, things that turn us away from God. We become once again light and energetic. As we turn ourselves to God, who is the source of life, we cannot but become alive and full of joy. It is ash that leads us to the Gospel, the joy of the Gospel.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Rabu Abu 2018 [14 Februari 2018] Matius 6: 1-6, 16-18

pope francis ashesRabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.

Mengapa  harus abu? Apakah ini sesuai dengan Kitab Suci? Dalam Alkitab, abu (atau debu) melambangkan kemanusiaan kita yang fana dan rapuh. Kita ingat bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari debu bumi (Kej 2:7). Dan, ketika Adam jatuh dalam dosa, Tuhan mengingatkan kembali Adam akan kemanusiaannya yang fana, “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kej 3:19).” Karena dosa, kematian masuk ke dalam hidup manusia, dan membawa Adam dan semua keturunannya kembali ke tanah. Jadi, ketika seorang imam menandai dahi kita dengan abu, kita diingatkan tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kita adalah manusia, dan hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, terlepas dari segala kesuksesan dan keberhasilan, kita akan mati dan kembali ke bumi.

Abu juga merupakan tanda kerendahan hati dan pertobatan. Setelah Yunus bernubuat, orang-orang Niniwe kemudian bertobat, dan sebagai bentuk pertobatan, mereka memakai kain kabung dan duduk di atas abu (Yun 3: 5-6). Di bawah pimpinan Nehemia, warga Yerusalem berkumpul dan meminta pengampunan dari Tuhan. Mereka semua berkumpul “sambil berpuasa dan memakai kain kabung, kepala mereka tertutup debu (Neh 9: 1).” Hal ini menjelaskan mengapa imam mengatakan, “bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” saat menandai kita dengan abu. Sama seperti bangsa Israel di masa lalu, abu ini adalah tanda dan ajakan bagi kita untuk mengubah hidup kita dan memohon belas kasih dan pengampunan dari Tuhan.

Salib abu adalah tanda kemanusiaan kita yang terbatas. Namun, abu ini juga adalah simbol kekuatan sejati dan sukacita kita. Ketika kita menyadari dan mengakui bahwa kita hannyalah abu di tangan Tuhan, inilah juga saat kita menjadi sekali lagi benar-benar hidup. Salib abu berubah menjadi momen penciptaan kembali bagi kita. Sama halnya seperti Tuhan yang menghembuskan roh-Nya pada manusia pertama yang terbuat dari debu, Tuhan juga menghembuskan rahmat-Nya kepada kita yang mengakui bahwa kita adalah debu, bahwa kita tidak berdaya tanpa Dia. Dengan rahmat-Nya, kita menjadi benar-benar hidup karena kita sekarang mengambil bagian dalam hidup Tuhan. St. Paulus berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20).” Debu menjadi sebuah paradoks kepenuhan hidup.

Terkadang, abu membawa kita pada suasana sedih dan suram karena kita mulai menyadari dosa dan kelemahan kita. Karena kita menjalankan pantang dan puasa pada hari ini, kita juga merasa lapar dan lesu. Namun, kita tidak boleh berhenti di situ saja. Salib abu yang sejati harus membawa kita kepada Injil, yang adalah Kabar Baik. Saat kita bertobat, kita menghapus semua hal yang membebankan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Kita menjadi sekali lagi ringan dan energetik. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, yang adalah sumber kehidupan, kita tidak bisa tidak menjadi hidup dan penuh dengan sukacita. Ini adalah abu yang membawa kita kepada Injil, sukacita Injil. Ini adalah Kabar Baik karena kita sekarang telah diselamatkan!

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



The Sixth Sunday in Ordinary Time [February 11, 2018] Mark 1:40-45

“Moved with pity, he stretched out his hand, touched him, and said to him, ‘I do will it. Be made clean.” (Mk. 1:41)

touch the poor
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

One of the greatest gifts that humanity has received is the gift of touch. We are created as bodily being, and biology tells us that practically all our body surface is covered by fabric nerve that receives the external stimulates like heat, pleasure, and pain. It is the first step in our survival mechanism as it helps us to identify the approaching dangers or threats. Yet, it is the first step also in our authentic growth as human beings. A baby will feel loved when she is embraced by her parents. A toddler who learns to walk will feel a sense of guidance and security when his father holds his hand. Even a grown-up man will need comfort and warm coming from his family.


If there is one thing that destroys this gift of touch, this is leprosy.  The disease will practically create a “walking death.”  Leprosy or also known as Hansen’ disease is caused by Mycobacterium leprae that bring about severe, disfiguring skin sores and nerve damages around the body. The greatest injury that this disease inflicts is that a person loses the ability to feel external stimulates like pain. As a consequence, a leper gradually loses its limbs like his fingers, hair, nose, arms, and feet because of the unnoticed repeated injuries or untreated wounds. Yet, the most painful about this disease is that the stigma the lepers receive from their community. In the time of Jesus, lepers are expelled from their community because people fear to contract the infectious disease. Even, people consider leprosy as God’s punishment (see 2Chro 26:20). Because of that, a leper is not only biologically sick but ritually unclean, meaning he is not able to worship God as he is barred from entering the synagogue or the temple (see Lev 13). He must cry “Unclean, unclean!” to remind the people nearby not touch him, otherwise, the persons may become unclean as well. A person with leprosy is not only losing the gift of touch from his body, but also from his community and his God. No wonder, leprosy is the most dreaded disease in the ancient Israel society.

With this background, we may fully appreciate what Jesus does to the leprous man. He is stretching his hands and making a deliberate effort to touch him. Jesus does not only risk of contracting the disease, but Jesus may become ritually unclean. Yet, Jesus insists because He knows that the gift of touch is what the man needs most. Indeed, Jesus’ touch brings healing and restores the lost gift of touch. The man is able once more to feel the goodness of life, to re-enter his community, and to worship his God.

When we call Jesus as the savior, it means that by sacrificing His life, Jesus reestablishes the lost connection between us and our deepest selves, between us and our neighbors, and between us and our God. How does Jesus do it? With the gift of touch. Our God is indeed a spirit, but our God is not abstract. He becomes flesh so that we may fully experience His love, His touch. As His disciples, we are called to participate in God’s concrete love by expanding this love to others. Do we dare to touch people with modern-day leprosies, like poverty? Are we willing to restore the broken relationship in our lives? Are we eager to meet our God in prayer? Do we want to touch those who have been away from God and bring them back?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP




Minggu di Biasa ke-6 [11 Februari 2018] Markus 1: 40-45

“Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, ‘Aku mau, jadilah engkau tahir. (Mrk 1:41)”

touch the mother
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Salah satu karunia terbesar yang dimiliki manusia adalah sebuah sentuhan. Kita diciptakan sebagai makhluk bertubuh, dan ilmu biologi mengajarkan bahwa hampir semua permukaan tubuh kita dipenuhi oleh sistem saraf untuk menerima stimulan eksternal melalui kontak sentuh, seperti kehangatan dan rasa sakit. Ini adalah langkah pertama dalam mekanisme kelangsungan hidup kita karena ini membantu kita untuk mengidentifikasi bahaya atau ancaman yang mendekat. Namun, ini juga adalah langkah pertama dalam pertumbuhan autentik kita sebagai manusia. Seorang bayi akan merasa dicintai saat dipeluk oleh orang tuanya. Seorang balita yang belajar berjalan akan merasakan bimbingan dan keamanan saat ayahnya memegang tangannya. Bahkan orang dewasa pun butuh kenyamanan dan kehangatan dari keluarganya.


Di dalam Kitab Suci, jika ada satu hal yang menghancurkan karunia sentuhan ini, ini adalah kusta. Kusta atau yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang menyebabkan kerusakan kulit dan saraf di sekitar tubuh. Cedera terbesar yang ditimbulkan penyakit ini adalah seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan stimulan eksternal seperti rasa sakit. Sebagai konsekuensinya, penderita kusta secara berangsur-angsur kehilangan anggota tubuhnya seperti jari, rambut, hidung, lengan, dan kakinya karena luka berulang yang tidak terdeteksi atau luka yang tidak diobati.

Namun, yang paling menyedihkan mengenai penyakit ini adalah stigma yang diterima orang kusta dari komunitas mereka. Pada zaman Yesus, orang kusta diusir dari komunitas mereka karena orang takut untuk tertular penyakit ini. Bahkan, orang menganggap kusta sebagai hukuman Tuhan (lihat 2 Taw 26:20). Karena itu, penderita kusta tidak hanya sakit secara biologis tapi secara ritual adalah najis, artinya dia tidak dapat beribadah dan menyembah Tuhan karena dia dilarang masuk ke rumah ibadat atau ke Bait Allah (lihat Im 13). Dia harus seru “najis, najis!” untuk mengingatkan orang-orang di dekatnya tidak menyentuhnya, jika tidak, orang tersebut mungkin menjadi najis juga. Seseorang dengan kusta tidak hanya kehilangan karunia sentuhan dari tubuhnya, tapi juga dari komunitasnya dan Tuhannya. Tak heran, kusta adalah penyakit yang paling ditakuti masyarakat Israel kuno.

Dengan latar belakang ini, kita dapat sepenuhnya menghargai apa yang Yesus lakukan terhadap orang kusta. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyentuhnya. Yesus tidak hanya menghadapi risiko tertular penyakit ini, namun Yesus bisa menjadi najis. Namun, Yesus bersikukuh karena Dia tahu bahwa karunia sentuhan adalah apa yang paling dibutuhkan manusia. Sungguh, sentuhan Yesus membawa penyembuhan dan mengembalikan karunia sentuhan yang hilang. Penderita kusta itu sekali lagi bisa merasakan kebaikan hidup, bisa masuk kembali ke komunitasnya, dan bisa menyembah Tuhannya.

Saat kita memanggil Yesus sebagai juru penyelamat, ini berarti bahwa dengan mengorbankan diri-Nya, Yesus membangun kembali hubungan yang hilang antara kita dan diri kita sendiri, antara kita dan sesama kita, dan di antara kita dan Allah. Bagaimana Yesus melakukannya? Dengan karunia sentuhan. Allah kita adalah roh, tapi Allah kita tidaklah abstrak. Dia menjadi daging sehingga kita bisa merasakan kasih-Nya secara total, yakni sentuhan-Nya. Sebagai murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk berpartisipasi dalam kasih nyata Allah ini dengan memperluas sentuhan Allah ini kepada sesama. Apakah kita berani menyentuh orang-orang yang menderita kusta modern, seperti kemiskinan? Apakah kita rela memulihkan hubungan yang telah rusak dalam hidup kita? Apakah kita mau menyentuh orang-orang yang juah dari Gereja dan membawa mereka kembali kepada Tuhan? Apakah kita berani menjadi sarana kasih dan sentuhan Allah dalam hidup kita?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP



Fifth Sunday in Ordinary Time [February 4, 2018] Mark 1:29-39

“He came and took her by the hand and lifted her up. Then the fever left her, and she began to serve them.  (Mk 1:31)”

touching nazareno
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

In today’s Gospel, we listen to the first healing miracle of Jesus, and the first person whom Jesus heals is actually a woman, Peter’s mother-in-law. Notice also Jesus’ threefold actions to this woman: comes nearer, takes her by the hand, and raises her up. These three actions are powerful not only because it brings immediate healing, but through them, Jesus empowers the woman to stand on her feet and serve (Diakonia). After the angels ministered to Jesus in the desert (Mrk 1:13), the first human who ministers to Jesus is a woman and mother.

We are human beings, and the sense of touch is the most basic in our nature. Our eyes need to be in contact with light particles to see, our ears have to receive sound wave to ears, and all our body is covered by nerve fabric just right under our skin that recognizes basic information like heat, pain, and pleasure. It is beautifully designed for us not just to survive, but also to live life to the fullest. Thus, the touch or physical contact is fundamental to human life and relationship.

We indeed learn the first values and the beauty of life through touch. As a baby, we are embraced by our parents; we begin to grow in comfort, security, and love. Yet, touch is not only needed by babies and children, but also by mature men and women. A brother who is doing ministry in one of the hospitals in Manila is once told by his mentor that an adult person needs at least a quality hug a day. He might not cure the disease, but by being physically present to the patients, he may bring hope and comfort. We shake hands to express trust to one another, we kiss as a sign of love, and even in very physical sports and games, we nurture our friendships and camaraderie.

Sadly, because of our sins and weakness, we change this powerful touch into an instrument of destruction and dehumanization. Many of our brothers and especially our sisters become victims of this inhuman touch. Many women and children receive physical and sexual abuses even inside their own houses. Many fall victim into prostitution, modern-day slavery, and child labor. Young children, instead of going to school and receiving kisses from their parent, are holding weapons to kill other children. Young women, instead of finishing their education and enjoying their youth, have to offer their bodies to feed their families. Young men, instead of taking care of their families, get into drug-addiction as to cope with joblessness and poverty.

Jesus shows us how powerful our touch is and He invites us to reclaim this power as to bring healing and empowerment, especially to those who have been suffering from this dehumanizing touch. Do our touch and action bring healing to our family and society? Does our touch empower people around us? Does our touch lead others to serve God?

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Sebuah Sentuhan

Minggu di Biasa ke-5 [4 Februari 2018] Markus 1: 29-39

“Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. (Mrk 1:31) “

touch the sick
foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Dalam Injil hari ini, kita mendengarkan kisah mukjizat penyembuhan Yesus yang pertama, dan orang pertama yang disembuhkan Yesus adalah seorang perempuan, ibu mertua Petrus. Perhatikan juga tiga tindakan Yesus terhadap wanita ini: mendekati, mengangkat tangannya, dan membangunkan dia. Ketiga tindakan ini sangat simbolis bukan hanya karena mereka membawa penyembuhan, tetapi juga melalui tindakan ini, Yesus memberdayakan perempuan tersebut untuk berdiri di atas kakinya dan melayani (Diakonia). Setelah malaikat melayani Yesus di padang gurun (Mrk 1:13), manusia pertama yang melayani Yesus adalah seorang wanita dan ibu.

Kita sebagai manusia, memiliki indra perasa sebagai yang paling mendasar bagi kita. Mata kita perlu bersentuhan dengan partikel cahaya untuk bisa melihat, telinga kita perlu menerima gelombang suara untuk mendengar, tetapi seluruh tubuh kita diselimuti oleh jaringan saraf yang berfungsi untuk mengenali informasi dasar seperti suhu, rasa sakit, dan tekanan. Ini dirancang dengan indah bagi kita bukan hanya untuk bertahan hidup, tapi juga untuk menjalani hidup secara sepenuhnya. Dengan demikian, sentuhan atau kontak fisik sangat mendasar bagi kehidupan dan relasi kita sebagai manusia.

Kita belajar keutamaan-keutamaan dasar pertama dan keindahan hidup melalui sentuhan. Sebagai bayi, kita dipeluk oleh orang tua kita; kitapun mulai tumbuh dalam kenyamanan, keamanan, dan cinta. Namun, sentuhan tidak hanya dibutuhkan oleh bayi dan anak-anak, tapi juga oleh pria dan wanita dewasa. Seorang frater kami yang sedang melakukan pelayanan di salah satu rumah sakit di Manila pernah dinasihati oleh seniornya bahwa orang dewasa setidaknya membutuhkan satu pelukan berkualitas setiap hari. Dia mungkin tidak bisa menyembuhkan penyakit, tapi ketika ia secara fisik hadir untuk pasien, dia akan membawa harapan dan kenyamanan. Kita berjabat tangan sebagai ungkapan saling percaya dengan satu sama lain, kita memberi ciuman sebagai tanda kasih, dan bahkan dalam olahraga dan permainan yang memerlukan kontak fisik, kita menumbuhkan rasa persahabatan dan persaudaraan kita.

Sayangnya, karena dosa dan kelemahan kita, kita mengubah karunia sentuhan ini menjadi alat penghancur kemanusiaan kita. Banyak saudara dan saudari kita menjadi korban sentuhan tidak manusiawi ini. Banyak perempuan dan anak-anak menerima pelecehan fisik dan seksual bahkan di dalam rumah dan keluarga mereka sendiri. Banyak juga yang terjerat dalam prostitusi, perbudakan modern, dan pekerja anak. Anak kecil, alih-alih pergi ke sekolah dan menerima pelukan dari orang tua mereka, memegang senjata untuk membunuh anak-anak lainnya. Perempuan muda, alih-alih menyelesaikan pendidikan mereka dan menikmati masa muda, harus menjajakan tubuh mereka untuk sesuap nasi bagi keluarga mereka. Laki-laki muda, alih-alih bekerja dan menjadi ayah yang baik, bergulat dengan kecanduan obat-obatan untuk mengatasi depresi disebabkan oleh kemiskinan.

Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuatnya sentuhan kita dan Dia mengundang kita untuk merebut kembali kekuatan ini untuk membawa penyembuhan dan pemberdayaan, terutama bagi mereka yang telah menderita karena sentuhan yang tidak manusiawi ini. Apakah sentuhan dan tindakan kita membawa kesembuhan bagi keluarga dan masyarakat kita? Apakah sentuhan kita memberdayakan orang di sekitar kita? Apakah sentuhan kita mengarahkan orang lain untuk melayani Tuhan?

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


To Teach, to Exorcise, to Heal

4th Sunday in Ordinary Time [January 28, 2018] Mark 1:21-28

 “Then they came to Capernaum, and on the sabbath he entered the synagogue and taught. (Mk. 1:21)”

healing ministry
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

After calling the disciples, Jesus begins his ministry proper in Capernaum. There, Jesus performs a threefold task: teaching, exorcism (driving away the evil spirits) and healing. On the Sabbath, He immediately enters the synagogue and teaches with authority. He faces the unclean spirits who possess a man and rebukes them to leave. And in the next Sunday’s reading, he heals Peter’s mother-in-law (Mk. 1:29-39). All these he does with authority.


This threefold task is fundamental to the ministry of Jesus, and in the succeeding Sundays, we will listen to many of these actions. Why are these fundamental to Jesus? The answer is because these three aspects make Jesus’ ministry a holistic one. Teaching is to form a sound mind, to drive away evil spirits is to build a holy spiritual life, and healing is to empower our bodies. It is precisely the Good News because the salvation Jesus brings covers all aspects of our humanity. As His disciples, we are all called to preach, drive evil spirits, and to heal.

Healing deals with the health of our bodies. It is true that we do not have the gift of healing, but all are called to respect our bodies and thus, to live a healthy lifestyle and avoid those things that will make us sick, like unnecessary stress and unhealthy food. To respect our bodies flows from the recognition that our bodies are the gift of God and as St. Paul says, “the Temple of the Holy Spirit.” Thus, abuse of our bodies means disrespecting the God who created us, and the Holy Spirit who gives us life. Yet, healing is not limited to our bodies but also includes healing our neighbors. It is to make sure that our brothers and sister have something to eat, something to clothe their bodies and a place to rest their bodies. It is not only to heal our own bodies but our society as well.

Exorcism is truly a special ministry in the Church, and only delegated to few people under the authority of the bishops, but every Christian is called to drive away evil spirits in their lives and hearts. It is our sacred duty to live holy lives, to receive the sacraments frequently, and to pray fervently. These are the ways to get closer to God, and thus, enable us to have healthy spiritual lives. To drive away evils also means to free ourselves from the bondage of sins and vices. It is a kind of spiritual healing. The devil sometimes possesses our bodies, but most of the time, he possesses our hearts. Our excessive attachment to things, like money, sexual pleasure, prestige, is a manifestation of evil spirits working in our hearts.

It is true that not all are teachers by profession, but we are called to form our minds and other peoples’ mind as well. It is fundamental for the parents to teach the basic Christian values, like honesty, fidelity, and compassion, to their young children. It is also important to habitually reflect on our characters, to correct bad habits, and to improve ourselves. After all, education is not only transfer of information, but the formation of characters. Thus, a right understanding of self will affect the way we act. I have been faithfully attending the Eucharist since my childhood, but when I learn more about its theology, history and its rootedness in the Scriptures and Christ Himself, the more I fall in love with the Eucharist.

We are the disciples of Christ, and it is our sacred mission and honor to participate in His threefold ministry in our sown ways and lives: to teach, to drive evil spirits and to heal.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Mengajar, Mengusir Roh Jahat, dan Menyembuhkan

Minggu di Biasa ke-4 [28 Januari 2018] Markus 1: 21-28

“Mereka tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. (Mk. 1:21)”

photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Setelah memanggil murid-murid-Nya, Yesus memulai misi-Nya di Kapernaum. Di sana, Yesus melakukan tiga tugas dasar: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki seorang pria dan mengusir mereka. Dan dalam bacaan hari Minggu berikutnya, dia menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mrk 1: 29-39).


Tiga tugas pokok ini sangat penting bagi pelayanan Yesus, dan di hari-hari Minggu yang akan datang, kita akan mendengarkan banyak penggenapan dari tiga tugas ini. Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.

Yang pertama adalah penyembuhan. Ini berhubungan dengan kesehatan tubuh kita. Memang benar bahwa kita tidak memiliki karunia penyembuhan, tapi semua dipanggil untuk menghormati tubuh kita dan dengan demikian, menjalani gaya hidup sehat dan menghindari hal-hal yang membuat kita sakit, seperti stres yang berlebihan dan makanan yang tidak sehat. Ini bersumber pada sebuah pengakuan bahwa tubuh kita adalah anugerah Allah dan seperti yang dikatakan oleh St. Paulus, “Tubuh adalah Bait Roh Kudus.” Dengan demikian, pelecehan terhadap tubuh kita berarti tidak menghargai Tuhan yang menciptakan kita, dan Roh Kudus yang memberi kita hidup. Namun, penyembuhan tidak terbatas pada tubuh kita saja, tapi juga penyembuhan orang-orang di sekitar kita. Ini adalah tugas kita juga bahwa saudara-saudari kita memiliki sesuatu untuk dimakan, pakaian untuk membalut tubuh mereka dan tempat tinggal. Bukan hanya untuk menyembuhkan tubuh kita sendiri tapi juga masyarakat kita.

Eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.

Memang benar bahwa tidak semua berprofesi sebagai guru, tapi kita semua dipanggil untuk membentuk pikiran kita dan sesama. Sangat mendasar bagi orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai dasar Kristiani, seperti kejujuran, kesetiaan, dan kasih sayang kepada anak-anak kita. Penting juga untuk biasa merefleksikan karakter kita, memperbaiki kebiasaan buruk, dan mengembangkan diri. Toh, pendidikan tidak hanya sekedar transfer informasi, tapi juga pembentukan karakter. Dengan demikian, pemahaman diri yang benar akan mempengaruhi cara kita bertindak. Saya telah menghadiri Ekaristi sejak masa kecil saya, namun ketika saya belajar lebih banyak tentang teologi, sejarah dan fondasinya dalam Kitab Suci dan Kristus sendiri, semakin saya jatuh cinta dengan Ekaristi.

Kita adalah murid Kristus, dan inilah misi dan kehormatan kita untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristus: mengajar, mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan.

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP


Come after Me!

3rd Sunday in Ordinary Time (Feast of Sto. Niño in the Philippines) January 21, 2018 [Mark 1:16-20*]

“Come after me, and I will make you fishers of men (Mar 1:17)”

gazing cross
photo by Harry Setianto Sunaryo, SJ

Jesus begins His public ministry by calling His first disciples to follow Him. In ancient Palestine, to become a student of a particular teacher means to follow him wherever he goes and stays. In fact, the Greek words used is “deute hopiso”, that means “come after me” because the disciples are expected to literally walk few steps behind Jesus. No wonder, that when the four first disciples, Peter, Andrew, James and John, are called, they have to leave practically everything behind, their works, their family and their hometowns. Thus, to become Jesus’ disciples are a radical commitment that entails great sacrifices.

However, if we bring back the life of radical discipleship to our time, who among us will be able to follow that call? How many among us will be willing to leave behind our work, family, and hometown for the sake of Christ? Not many. Only a few people are entering the monasteries or the convents. Even, those who are already members of religious congregations, we are allowed to keep in touch with their family. I myself am able to have a vacation every year and visit my family. It seems that the total discipleship remains a far-reached ideal for many of us.

While it is true that this kind of life is genuinely difficult and rare, yet we believe that the life of a true disciple is also available for all of us. The Gospel tells us that the first disciples leave many things behind, but actually, the disciples do also bring something with them when they decide to walk after Jesus. They carry “themselves”, the totality of their own persons. Within this person are their characters, knowledge, skills, ideals, and dreams. In short, they also carry with them their profession, their family, and homeland. This is why Jesus does not only call Simon, Andrew, James, and John to follow Him, but He also is going to make them “the fishers of men.” Jesus knows that these guys are one of the best fishermen in the Galilee, and now Jesus invites them to offer the best they have for God’s purposes. To follow Jesus is not leaving everything behind as much as offering ourselves to the Lord.

When St. Dominic de Guzman preached against the heresy in the Southern French, he left the comfort of his church in Osma, Spain. Yet, when he preached, he brought along all the skills and knowledge he learned as a canon in Osma, and as a student at the University of Valencia. He left everything and yet, paradoxically, he brought everything when he founded the first religious Order that was dedicated for preaching in the Church.

We may not be able to leave our family, our profession, and hometown because we are responsible for the lives of our family and relatives, but with the same spirit, we can radically follow Jesus, by offering ourselves for God’s purposes. As parents in the family, what do we give to God, which may build a solid Christian family? As part of the Church, what do we surrender to Jesus, which may help her growth in the world? As members of society, what do we offer to the Lord, which may contribute to a just and growing society?

Today, the Church in the Philippines is celebrating the feast of Sto. Niño, or the Child Jesus. The image of Sto. Niño is the first to be introduced to the Filipino people, and His intercession has been very instrumental to the evangelization of this country. We pray to Sto. Niño that our self-offering may bear fruits wherever we are sent and live.

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

*the reading is taken from the 3rd Sunday of Ordinary Time


Ikutlah Aku!

Minggu di Biasa ke-3 [21 Januari 2018] Markus 1:14-20

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.(Mar 1:17)”

foto oleh Harry Setianto Sunaryo, SJ

Yesus memulai pelayanan publik-Nya dengan memanggil empat murid yang pertama untuk mengikuti Dia. Di Palestina zaman Yesus, untuk menjadi murid berarti mengikutinya ke mana pun sang guru pergi. Bahkan, kata-kata Yunani yang digunakan adalah “deute hopiso”, itu berarti “Ikutilah di belakangku” karena para murid benar-benar berjalan beberapa langkah di belakang Yesus, sang Guru. Tidak mengherankan, bahwa ketika empat murid pertama, Petrus, Andreas, Yakobus dan Yohanes, dipanggil, mereka harus meninggalkan segala sesuatu, pekerjaan, keluarga dan kampung halaman. Jadi, untuk menjadi murid Yesus adalah sebuah komitmen radikal yang memerlukan pengorbanan besar.

Namun, jika kita mengaplikasikan kehidupan para murid pertama Yesus ke zaman kita, siapa di antara kita yang bisa mengikuti panggilan ini? Siapa di antara kita bersedia meninggalkan pekerjaan, keluarga dan tempat tinggal kita demi Kristus? Jawabannya tidak banyak. Hanya sedikit orang yang memasuki pertapaan atau biara. Bahkan, mereka yang sudah menjadi anggota kongregasi religius pun, diijinkan untuk tetap berhubungan dengan keluarga mereka. Saya sendiri sebagai seorang biarawan bisa berlibur setiap tahun dan mengunjungi keluarga saya di Bandung. Tampaknya kehidupan sebagai murid yang total tetap menjadi ideal yang jauh bagi kita.

Meskipun memang benar bahwa kehidupan seperti ini benar-benar sulit dan langka, namun kita percaya bahwa kehidupan murid sejati juga mungkin bagi kita semua. Injil mengatakan kepada kita bahwa murid pertama meninggalkan banyak hal, namun sebenarnya para murid juga membawa sesuatu bersama mereka ketika mereka memutuskan untuk berjalan dengan Yesus. Mereka sebenarnya membawa “diri mereka sendiri.” Di dalam totalitas pribadi ini ada karakter, pengetahuan, keterampilan, cita-cita, dan impian mereka. Singkatnya, mereka juga membawa serta profesi mereka, keluarga dan tanah air mereka. Inilah sebabnya mengapa Yesus tidak hanya memanggil Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes untuk mengikut Dia, tetapi Dia juga akan menjadikan mereka “penjala manusia.” Yesus tahu bahwa orang-orang ini adalah salah satu nelayan terbaik di Galilea, dan sekarang Yesus mengundang mereka untuk mempersembahkan yang terbaik yang mereka miliki bagi Allah. Mengikuti Yesus tidak berarti meninggalkan segalanya, tetapi  mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.

Ketika St. Dominikus de Guzman berkhotbah menentang ajaran sesat di Prancis Selatan, dia meninggalkan kenyamanan hidupnya di gereja di Osma, Spanyol. Namun, ketika dia berkhotbah, dia membawa semua keterampilan dan pengetahuan yang dia dapat sebagai kanon di Osma, dan sebagai mahasiswa di universitas Valencia. Dia meninggalkan segalanya, tetapi dia membawa semuanya saat dia mendirikan Ordo religius pertama yang didedikasikan untuk berkhotbah di Gereja. Sungguh sebuah paradoks!

Kita mungkin tidak dapat meninggalkan keluarga, profesi dan tempat tinggal kita karena kita bertanggung jawab atas kehidupan keluarga dan saudara-saudari kita, namun dengan semangat yang sama, kita dapat secara radikal mengikuti Yesus. Bagaimana? dengan mempersembahkan diri kita bagi Allah dan rencana-Nya. Sebagai orang tua, apa yang kita berikan kepada Tuhan, yang bisa mendidik anak-anak kita dan membangun keluarga Kristiani yang baik? Sebagai bagian dari Gereja, apa yang kita serahkan kepada Yesus, yang dapat membantu pertumbuhan Gereja di dunia ini? Sebagai anggota masyarakat, apa yang kita persembahkan kepada Tuhan, yang dapat memberikan kontribusi pada masyarakat yang adil dan makmur?

Frater. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP